
Membuka matanya perlahan, Lara terkejut mendapati dirinya tengah terbaring di sebuah brankar. Tak salah lagi, ia pasti berada di rumah sakit. Ruangan bernuansa putih serta punggung tangan yang tertancap jarum infus itu sebagai bukti.
Bagaimana bisa terjadi? Apakah dirinya pingsan?
Mendengkus lirih, ia hendak bangun dari baringnya. Lara tak menyukai tempat ini. Sayangnya, kepala yang berdenyut nyeri menghalangi pergerakannya kali ini. Meringis, ia mengurungkan niat dan memijat pelan pelipisnya.
"Lara. Kau sudah siuman, Nak?" Seseorang langsung menghampiri dan berdiri di sisi ranjang. Memegangi tangannya dengan sigap dan penuh perhatian.
Papa?
Lara menautkan kedua alisnya selagi menatap Narendra yang tersenyum lembut padanya. Rupanya pria itu ada di sini. Bisa-bisanya Lara berpikir jika dia sendirian. Gadis itu tak menyadari keberadaan sang papa yang rupanya duduk di sofa panjang.
"Lepas." Berucap sengit, Lara menepis keras tangan Narendra yang hendak menyentuh keningnya. Wajah pucat itu masih menyisakan sejejak kemarahan. Seketika kepahitan yang ia rasakan semalam kembali hinggap membuat dadanya sesak.
__ADS_1
"Lara. Apa yang ingin kau lakukan?" Alih-alih membantu, Narendra justru menatap bingung pada putrinya yang susah payah mencoba bangun.
"Pulang. Aku bukanlah gadis pesakitan. Untuk apa aku harus dirawat di sini!" Lara menyibak selimut lalu bangkit dan menurunkan kaki. Duduk di tepi ranjang tangannya hendak mencabut selang infus yang menancap, tetapi Narendra dengan cepat menahannya.
"Jangan gegabah, Nak. Kau masih belum sehat benar."
"Apa peduli Anda?" Lara bertanya sambil melempar tatapan sinis. Narendra terdiam. Namun, sesaat kemudian ia berucap penuh penyesalan.
"Aku adalah papamu. Tentu saja Papa peduli. Papa mohon, mengertilah posisi Papa sekali ini saja, Nak."
Luka hati yang dirasakan Lara begitu dalam. Ia mengira Narendra telah menemukan Alisha sejak lama dan dengan sengaja mencurahkan kasih sayang yang tidak sama. Jelas dirinya merasa Narendra tidak adil memperlakukan mereka.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Nak," sahut Narendra dengan nada lemah menahan sesal. "Semuanya terjadi di luar kendali Papa, Lara. Mamamu tahu sebelum menikahi dia Papa pernah menikahi wanita lainnya. Sejak saat itu kami tidak pernah bertemu. Entah kamu percaya atau tidak, tetapi nyatanya Papa baru menemukan mereka kemarin lusa."
__ADS_1
"Bohong," bantah Lara tanpa memandang muka. Ia sengaja menyembunyikan lukanya yang berwujud air mata.
"Alisha telah menderita seumur hidupnya. Dia hidup dalam kemiskinan. Berbanding terbalik dengan kamu yang hidup dalam kemewahan. Papa mohon, izinkan Papa menebus kesalahan ini kepada mereka, Nak."
"Apa!"
Pekikan itu bukanlah suara Lara, melainkan berasal dari luar. Sosok Helena yang selalu tampil anggun kini memasang wajah marah ketika memasuki ruangan perawatan putri tunggalnya.
"Menebus kesalahan? Apa yang mau kamu lakukan?"
"Helena." Narendra kemudian terdiam. Ia urung menjelaskan pada wanita yang tengah menatapnya seperti menantang. Kemunculan Helena yang terlihat berang itu sudah menunjukkan jika dia sudah mendengar semua pembicaraan dirinya dengan Alisha. Ketika mengabarkan jika putri mereka masuk rumah sakit tadi Narendra juga sudah memberi penjelasan singkat.
"Jawab!" desak Helena. Namun, jawaban Narendra kemudian berhasil membuatnya tercengang dengan tangan mengepal.
__ADS_1
"Tentu saja membuat hidup mereka layak seperti dirimu dan juga Lara."