
Sekitar pukul satu siang mobil Alisha yang dikendarai Lisa melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan area kampus. Ia memutuskan pulang setelah berpisah dengan Marcel yang sedang ada perlu di tempat itu.
Ini masih terlalu siang untuk pulang. Alisha mengajak Lisa untuk mampir ke sebuah pusat perbelanjaan untuk sekadar jalan-jalan dan makan. Gadis itu selalu patuh dengan apa yang dikatakan Alisha. Tetapi juga tak jarang menolak jika permintaan nonanya tidak masuk akal.
"Kamu mau beli apa? Aku yang traktir pakai ini." Sambil berjalan Alisha menunjukkan sebuah kartu yang diberikan Narendra beberapa hari lalu. Karena ia belum membutuhkan apa pun, sampai kini kartu itu belum digunakan sama sekali.
"Tidak, Nona. Terima kasih. Saya nggak butuh apa pun, kok," tolak Lisa dengan halus tetapi tetap tersenyum sopan pada Alisha.
"Jangan nolak. Ini perintah," ujar Alisha tanpa memandang muka. Membuat Lisa yang berjalan di samping kirinya hanya bisa mengangguk pasrah.
Alisha benar-benar bersenang-senang siang itu. Makan apa saja dan jalan-jalan ke mana saja. Wajar. Sebelum bertemu dengan Narendra ia hanya menghabiskan waktu untuk sekolah dan mencari rupiah. Kesenangan seperti ini jarang sekali ia dapatkan. Mengunjungi tempat seperti tentu saja merogoh koceknya agak dalam.
"Nona tidak ingin membeli sesuatu?" tanya Lisa suatu waktu. Sejak datang sang nona hanya sibuk mengunjungi satu persatu stand makanan dan sama sekali tak menyentuh barang-barang. Malahan gadis itu memaksanya membeli sepasang sepatu dengan harga sangat mahal.
"Aku tidak butuh apa-apa, Lisa. Aku hanya ingin jalan-jalan saja."
Lisa hanya bisa geleng kepala sambil mengikuti langkah kaki nonanya. Alisha seperti anak kecil yang baru mengenal taman bermain. Ke sana kemari sesuka hati dengan wajah ceria dan apa adanya. Meski begitu tidak terlihat kampungan seperti baru pertama kali mengenal. Kali ini ia malah membeli es krim rasa cokelat setinggi lima senti. Untuk Lisa dan juga dirinya sendiri.
Lisa tersenyum miris menatapi es krimnya. Menang terlihat lucu kalau Alisha yang makan. Tapi kalau body guard seperti dia? Ah, sama sekali tidak elegan.
Kenyang makan dan lelah jalan-jalan Alisha memutuskan untuk pulang. Gadis itu mengajak Lisa mengobrol ketika sedang berdiri di eskalator. Awalnya, keduanya sama sekali tak mempedulikan keadaan sekitar. Namun, setelah sebuah paper bag kecil terjatuh tepat di sebelah kakinya, mau tak mau Alisha memungut dan mengedarkan pandangan untuk mencari pemiliknya.
"Itu punya saya." Seorang wanita dewasa yang berdiri beberapa tangga di atas mereka memberi isyarat pada Alisha. Wanita dengan balutan dress polos warna toska itu buru-buru melangkah turun menyusul Alisha. Agak kesulitan memang. Mengingat kedua tangan yang dipenuhi paper bag dan ditambah ada pengguna eskalator yang menghalangi. Alisha bisa melihat wanita itu sedikit kepayahan.
"Terima kasih ya, Nak. Untung isinya nggak menggelinding jauh." Wanita itu menerima dari tangan Alisha lalu buru-buru memeriksa isinya.
Alisha memerhatikan wanita itu lalu mengulas senyum saat melihat wanita itu bernapas lega.
__ADS_1
"Syukurlah, isinya baik-baik saja. Ini adalah cincin tunangan untuk putra saya dan pasangannya. Cantik, kan?" Ia menunjukkan pada Alisha dengan wajah berbinar senang.
"Cantik, Tante. Calon tunangan anak Tante pasti sangat menyukai itu," timpal Alisha ramah. Sayangnya, wanita di depannya itu justru mendesah lelah.
"Kalau calon tunangan anak Tante sih sudah pasti suka. Tapi entah kalau anak Tante sendiri."
"Loh, kok bisa, Tan?" tanya Alisha sebab air muka wanita itu mendadak keruh.
"Mereka bertunangan lantaran dijodohkan, Nak. Sepertinya anak Tante belum sepenuh hati mencintai calon tunangannya."
"Oh begitu?" Alisha pura-pura terperangah, lalu kemudian berujar sopan untuk memberi dukungan. "Mungkin karena belum mengenal makanya belum mencinta, Tante. Nanti juga ada saatnya anak Tante itu tergila-gila pada calon tunangannya."
"Owh, begitu ya?"
Entah. Tentu saja jawaban itu hanya dalam hati Alisha. Yang jelas gadis itu hanya bisa tersenyum tanpa tahu hendak menjawab apa.
"Alisha, Tante. Dan ini Lisa, teman saya." Ia menepuk pelan bahu Lisa untuk memperkenalkan.
Obrolan berlanjut di sebuah kafe di lantai dasar mall. Wanita bernama Niken itu mengaku kehausan dan menunggu keponakan yang mendadak terpisah darinya. Karena ramah dan banyak bicara membuat Alisha suka dan lupa pada rencana pulangnya. Ia memutar haluan untuk menemani Niken sampai keponakannya itu datang.
Sayangnya, hingga setengah jam berlalu orang yang ditunggu-tunggu tak juga muncul. Lebih-lebih lagi Niken tak memiliki akses untuk menghubungi lantaran ponselnya tertinggal entah di mana.
"Lisa, nggak masalah kan kalau kita antar Tante Niken sebentar?" Alisha meminta pendapat pada Lisa, dan gadis itu langsung menyanggupinya.
"Tentu saja nggak masalah."
"Wah, kalian sangat baik hati. Entah apa jadinya Tante nanti kalau lama-lama nunggu di sini. Tante nggak terbiasa naik taksi online soalnya," ujar Niken tak enak hati.
__ADS_1
"Ah biasa aja, Tante. Kita sekalian pulang kok."
Di dalam mobil, ketiganya pun banyak bercerita. Ralat. Sebenarnya hanya berdua, sebab Lisa lebih banyak diam memposisikan diri sebagai pendengar.
Niken banyak bercerita mengenai keluarga dan putranya tanpa menyebutkan nama. Sedangkan Alisha hanya bercerita seperlunya saja. Sampai di depan sebuah hunian mewah yang sangat besar, Niken meminta Lisa mengehentikan mobilnya.
"Berhenti di rumah itu ya, Nak. Itu rumah Tante." Jari Niken menunjuk.
Lisa buru-buru mengurangi kecepatan dan berhenti tepat di depan gerbang. Sejak awal ia sudah mengira jika wanita yang diantarnya itu bukan berasal dari kalangan biasa. Kini terbukti dari hunian yang terpampang di depan mata. Sedangkan Alisha memilih tak begitu memperhatikan sebab mengira kelak belum tentu kembali berjumpa.
"Mampir dulu, yuk. Tante bakal suguhin kalian kue terlezat bikinan Tante."
"Makasih banyak, Tante. Tapi sayangnya kami sedang buru-buru," tolak Alisha halus tanpa sedikitpun mengurangi rasa hormat.
"Yah, padahal Tante masih pengen ngobrol sama kalian," sesal Niken. "Ya udah deh, tapi lain kali mampir ya."
"Pasti, Tante." Alisha menyahuti.
"Janji?"
Gadis itu mengangguk. Dan seketika membuat Niken tersenyum lega.
Alisha sudah hendak turun dari mobil guna membantu Niken membawa belanjaannya, tetapi dua orang berpakaian serba hitam datang menghampiri seperti sedang menyambutnya. Seketika Alisa dan Lisa bisa mengambil kesimpulan jika mereka adalah orang-orang Niken sendiri. Hal itu terlihat dari sikap hormat dan cekatan mereka mengambil alih barang bawaan Niken.
"Kami langsung pamit, Tante. Permisi." Lara yang buka suara. Gadis itu memacu mobilnya setelah mendapat anggukan dari Niken.
Niken masih setia berdiri di tepi jalan hingga mobil Alisha menghilang dari pandangan. Wanita itu tanpa sadar menyunggingkan senyum. Entah apa kelebihan dari gadis itu. Yang jelas, ia merasa senang bisa jumpa dan berkenalan dengan dia.
__ADS_1
Seandainya saja calon mantuku seperti Alisha.