
Langkah kaki yang awalnya penuh percaya diri itu perlahan berubah gontai setelah jauh dari tempat Dante berdiri. Air matanya juga luruh seiring senyuman palsu yang memudar. Ia tak mungkin menoleh ke belakang. Apalagi berbalik badan dan berlari kembali ke sana.
Alisha tahu pemuda itu kecewa. Bahkan mungkin hancur sehancur-hancurnya. Namun, hanya ini satu-satunya cara untuk membuat Dante bahagia. Dengan sedikit bumbu kebohongan dan sejumput pengorbanan.
Mungkin sesederhana ini definisi bahagia bagi Alisha. Adalah dengan melihat prianya bahagia. Tak peduli dengan siapa pemuda itu hidup bersama.
Ia sadar, dirinya dan Dante memang saling cinta. Akan tetapi keadaan mereka sangat tak sama. Perbedaan kasta menjadi jurang pemisah yang sangat dalam bagi hubungan keduanya. Jelas, mereka tak bisa bersama.
Jika ditanya apakah ia sedih?
Sudah barang pasti. Yang tersisa darinya sekarang hanyalah jiwa yang rapuh. Hatinya kosong dan hampa. Seperti raga tanpa nyawa. Alisha bahkan tak yakin kelak bisa melanjutkan hidup dengan baik tanpa sosok Dante di sampingnya.
__ADS_1
Lalu apakah dia ingin mati?
Jawabannya tentu tidak. Ia manusia waras dan masih mampu mengingat Tuhan-Nya. Mungkin kedepannya Alisha hanya butuh sedikit perubahan cara menjalani hidupnya, yaitu dengan memperbanyak tawakal dan bahagia menikmati luka. Miris memang.
Tak apa. Toh ia sudah terbiasa.
Entah ke mana Alisha membawa kakinya melangkah. Ia tak memikirkan arah tujuan. Suara klakson yang begitu nyaring sukses membuatnya tersentak. Disusul kata-kata makian yang meluncur dari mulut seseorang di balik kemudi dengan geram.
Alisha tak peduli sekalipun kini dirinya berada tepat di tengah jalan. Di antara puluhan kendaraan yang lalu lalang. Ia tetap melangkah menyeberang jalan tanpa melihat kiri kanan. Terik matahari yang membakar kulit bahkan tak lagi ia rasakan. Hingga perlahan ia mulai menjauh dari keramaian jalan raya. Alisha terus melangkah dengan ekspresi datar.
"Hai Neng. Sendirian aja?" sapa salah satu dari mereka.
__ADS_1
Alisha hanya bergeming, membuat dua pemuda berpenampilan seperti berandal itu bangkit dari duduk dan berjalan mendekati.
"Cantik! Kok sendirian aja?" Yang satu lagi kembali menyapa, tetapi Alisha tak menyahutinya. Ia seperti berada pada dimensi yang berbeda, tak terpengaruh oleh apa pun yang ada di sekitarnya. Membuat kedua pemuda berandal itu mengernyit heran.
Lagi keduanya saling pandang sesaat, lalu kemudian mengangguk bersamaan. Seperti mendapat komando, mereka bergerak bersamaan mencekal dua lengan Alisha. Gadis itu seperti tersadar saat merasakan suatu tekanan. Benar saja, dua orang berwajah garang tengah mencekalnya dari sisi kiri dan kanan.
Otaknya langsung bekerja cepat meneriakkan alarm peringatan. Kepanikan langsung menjalar menyadari dirinya berada dalam bahaya.
"Apa-apaan ini? Lepas! Lepaskan saya!" Ia memekik. Dengan gerakan Alisha memberontak. Namun, apalah daya dirinya yang hanyalah gadis lemah. Tenaganya tak cukup kuat untuk melakukan perlawanan. Ia kalah telak dalam kungkungan dua pemuda kuat yang kini tengah terbahak-bahak.
Layaknya karung kapas, tubuh Alisha begitu mudahnya dijatuhkan. Pada rerumputan ia terkulai tak berdaya. Bahkan tangisannya tak dipedulikan berandal itu. Mental yang lemah membuatnya begitu mudah dikuasai. Hingga Alisha hanya bisa pasrah saat salah satu dari mereka mulai menindih tubuhnya tanpa belas kasihan.
__ADS_1
"Hentikan!" Sebuah teriakan terdengar disusul suara pukulan bertubi-tubi dan pekikan kesakitan. Tubuh Alisha yang awalnya merasakan berat oleh tekanan tubuh berandal itu tiba-tiba merasa ringan menyusul sebuah tarikan. Saat membuka mata, ia dibuat terperangah oleh dua berandalan yang sudah terkapar.
Siapa yang telah menghajar mereka?