
"Tutup matanya! Jangan sampai dia tahu arah dan tujuan kita!" Pemuda di sisi kiri Alisha memberi instruksi, sementara di belakang Alisha bergerak cepat mengikatkan kain warna hitam menutupi mata Alisha. Gadis yang semula masih memiliki harapan itu seketika merasa putus asa.
Tak ada pilihan lain selain pasrah. Menghadapi empat orang bertubuh kekar bukanlah perkara gampang.
Entah berapa lama mobil melaju, hingga pada akhirnya mesin mobil berhenti dan Alisha mulai mendengarkan pergerakan dari ke empat pria. Ia mendengar pintu dibuka, lalu pria di sisi kanan yang tadi mengikat tangannya ke belakang, memberi instruksi agar dirinya turun dengan nada tinggi.
Dalam keadaan tangan terikat dan mata tertutup, apa yang bisa Alisha lakukan untuk bisa cepat turun? Gadis itu beringsut sedikit demi sedikit ke arah kanan, tetapi justru malah memantik kemarahan si pria.
"Dasar lambat! Turun dari mobil saja tidak becus! Kamu sengaja mau mengulur waktu!"
"Hey, jangan membentak!" Itu suara pemuda yang tadi mengelabui Alisha. "Bos bilang jangan lukai dia! Jangan buat dia tertekan!"
"Halah, jangan buat dia tertekan gimana? Dengan nyuruh kita nyulik dia aja udah bikin dia tertekan! Pake sok-sokan larang ngomong keras segala. Udah buruan! Keburu ada yang lihat kita!"
Alisha hanya bisa diam sambil menerka-nerka siapa dalang dibalik penculikannya. Sangat aneh. Apakah mungkin Dante? Entahlah. Yang jelas sekarang ia merasakan seseorang membantunya turun dari mobil. Kemudian ia merasa digiring untuk berjalan ke suatu tempat. Ia tak tahu ini di mana, sebab yang ada hanya kegelapan.
Beberapa saat kemudian Alisha merasakan langkahnya dihentikan. Tak lama, sebab setelah itu ia mendengar suara pintu berderit kemudian salah satu di antaranya memerintahkan untuk jalan, tetapi tidak lama. Alisha akhirnya meyakini mereka sudah sampai di tempat setelah seseorang membuka ikatan tangan serta penutup matanya.
"Untuk sementara kau akan melakukan segala aktivitas di sini."
__ADS_1
Meski pandangannya buram, Alisha meyakini pria di depannya adalah pemuda tadi. Dialah yang lebih halus ketika berbicara dan memperlakukan Alisha. Pemuda itu kemudian mengintruksikan kepada temannya melalui kedikkan di dagu untuk menyita ponsel Alisha.
"Kenapa harus diambil? Aku tidak akan menghubungi siapapun. Aku bahkan sangat penasaran siapa dalang di balik penculikan ini." Alisha berbicara sangat tenang pada para penculik itu. Namun, yang dikatakannya bukanlah kebohongan. Ia tidak berniat menghubungi siapa pun demi bisa melihat siapa yang menculiknya.
"Benar, tidak akan menghubungi siapa pun?" Pria yang menyita ponsel Alisha menanyakan itu seperti memastikan. Terang saja Alisha langsung mengangguk yakin. Namun, ternyata Alisha harus menelan kecewa lantaran dia hanya mengerjainya saja. Orang itu menarik kembali ponsel Alisha ketika gadis itu hendak meraihnya. "Enak saja mau diambil lagi. Mana aku tau kalau ternyata kamu nggak akan nepati janji!"
Alisha hanya mendengkus lirih menanggapi orang itu. Lagi pula dirinya sendiri yang aneh. Mana ada orang korban penculikan diperbolehkan pegang ponselnya. Yang ada dia bakal hubungi polisi.
Semula Alisha mengira empat orang itu akan pergi setelah menguncinya sendiri di sebuah bilik, tetapi ternyata tidak. Mereka tetap berada di sana untuk berjaga-jaga.
Alisha menatap sekeliling ruangan. Di sana ada ranjang dan satu set meja kursi yang masing-masing hanya sebiji. Alisha juga tak bisa menjadikan panggilan alam sebagai alasan untuk keluar, sebab di sana juga tersedia pintu yang menghubungkan kamar dengan toilet. Ditambah lagi setengah bagian dari dinding yang terbuat dari kaca, sehingga segala aktivitasnya di dalam kamar bisa dipantau oleh orang luar. Menyebalkan.
Alisha terduduk sebal di tepian ranjang. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah untuk sekarang. Sejak kecil ia memang terlatih kuat mental, tetapi tidak dengan adu kekuatan. Jikapun harus melawan empat orang di luar sana, ia yakin itu hanya sia-sia. Yang ada menyakiti diri sendiri iya.
Benar. Keyakinan itu tertanam kuat di hati Alisha. Ia percaya, pertolongan Tuhan itu nyata. Seketika itu juga, ia membetulkan posisi duduk lalu mengangkat tangan untuk melangitkan pengharapan, sangat khusyuk dan dengan segala kerendahan hati.
Tiba-tiba terdengar dentuman keras dari arah luar. Seketika empat orang yang menjaganya berdiri bersamaan. Semuanya merasa terkejut, tak terkecuali Alisha. Gadis itu seketika berdiri usai berdoa. Suara keributan di luar sana sukses membuatnya penasaran.
Mata Alisha mendelik tak percaya. Di ambang pintu yang dibuka paksa, terlihat seorang pemuda tengah berdiri dengan gagah berani. Tangan kanannya memegangi sebuah besi. Pandangannya mengedar seperti mencari sesuatu, dan langsung terhenti setelah bersirobok dengan matanya.
__ADS_1
"Alisha." Ia mendesis lega.
"Dante?" balas Alisha tak percaya. Ia bergerak mendekati dinding kaca dan menempelkan tangannya di sana. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Tentu saja untuk membebaskan kamu."
Tak membalas dengan kata, mata berkaca-kaca Alisha sudah mewakili semuanya. Bibirnya mengulas senyum penuh haru. Hatinya dibuat trenyuh oleh tindakan pemuda itu.
Rupanya Dante tidak sendirian. Beberapa pemuda lain tampak muncul dari belakangnya dan mulai baku hantam dengan para penjaga, tak terkecuali Dante sendiri. Ia mendapatkan lawan pemuda yang mengelabui Alisha saat di kampus. Dengan penuh amarah Dante menghajar pemuda itu. Meninju, menendang, hingga pemuda itu bersimbah darah dan terkulai lemah.
Dengan tatapan ngeri, Alisha membungkam mulutnya yang ternganga. Bukan dia merasa kasihan pada lawan Dante, melainkan khawatir Dante akan membunuhnya. Ia tak pernah menyangka Dante memiliki ilmu bela diri yang mumpuni seperti itu. Dante mendapatkan lawan yang tak seimbang. Takluk hanya dalam beberapa pukulan. Dante memang menyerang di titik rawan, sehingga dengan mudah musuhnya jatuh menggelepar.
Seolah-olah belum puas, Dante menindih dada si pemuda dengan lututnya. Menumbuk wajahnya dengan beberapa kali pukulan keras.
Dari tempatnya berdiri, Alisha menyaksikan hal itu dengan ngeri. Namun, sesaat kemudian ia mendelikkan mata melihat sesuatu yang dilihatnya. Dari arah belakang Dante, seseorang melangkah dengan pisau di tangannya. Spontan Alisha memekik memberi peringatan.
"Dante awas!"
Dante spontan menoleh ke belakang. Otaknya meneriakkan alarm peringatan. Bahaya mengancamnya. Seketika ia menggulingkan badan ke arah kanan, tepat ketika orang itu menancapkan pisau yang tajam.
__ADS_1
"Aaaa!" Pekikan kesakitan terdengar pilu. Darah segar menyembur dari dada kiri. Si penusuk mendelik terkejut lantaran ia salah sasaran. Tangannya spontan melepaskan gagang pisau yang menancap tepat di dada sang teman. Ia terduduk dengan bawah yang memucat.
Seketika tubuhnya membeku dengan tatapan penuh sesal. Matanya menyaksikan sendiri bagaimana tubuh sang teman mengejang. Bau anyir memenuhi indra penciuman.