Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Rencana Dante


__ADS_3

Dante membantu Alisha masuk ke mobil lalu memberikan gadis itu air minum. Kasihan. Alisha masih terlihat syok oleh peristiwa beberapa saat lalu. Ia berusaha menenangkan gadis itu sebelum mengantarkannya pulang. Ada banyak urusan yang masih harus ia selesaikan.


Untuk sementara para penculik itu sudah ia amankan. Satu korban penusukan juga tengah mendapatkan penanganan. Ia hanya perlu memastikan Alisha aman agar bisa melanjutkan rencananya.


"Dante ... bagaimana kamu tau kalau aku diculik orang-orang itu?" tanya Alisha lemah ketika mereka masih dalam perjalanan. Kehadiran Dante dan teman-teman di sana benar-benar mengejutkannya. Tentu saja ia penasaran bagaimana Dante bisa mengetahui semuanya. Mengingat jika Dante tiba tak berselang lama dengan waktu penculikan, ia bisa memastikan jika pemuda itu sudah memantau segalanya.


Benar dugaan Alisha. Dante menatapnya lekat-lekat sebelum memberikan pengakuan. "Aku sengaja ngawasin kamu, Alisha. Aku suruh orang buat ngikutin kamu. Maaf. Aku nggak mau terjadi hal buruk sama kamu."


Alisha ternganga. "Memangnya kamu tau siapa dalang di balik ini, Dante?"


"Tau. Aku sangat tau. Aku yakin juga kamu pasti tau."


Alisha menelan ludah. Ia kemudian menyebutkan satu nama dengan nada menebak. "Apa itu Lara?"


Alisha kemudian membelalakkan mata setelah Dante menganggukkan kepala. "Astaga." Ia membungkam mulutnya yang ternganga.


Dante hanya tersenyum tipis dengan pandangan fokus ke jalan raya. Ia sudah menyangka bagaimana reaksi Alisha mengetahui yang sebenarnya.


"Apa lagi yang kau ketahui tentang Lara?" Alisha menatap Dante dengan ekspresi seperti mendesak.


"Ada banyak. Tapi aku nggak bisa ceritakan sekarang."


"Lalu?"


"Nanti. Setelah semuanya beres, aku akan ceritakan ke kamu. Aku janji." Tangan kiri Dante terulur meraih jemari Alisha lalu menggenggamnya dengan erat. Matanya menatap seperti meyakinkan.


Tak ada yang bisa Alisha lakukan. Mendesak Dante mengatakan sekarang juga percuma. Pemuda itu memiliki pendirian yang teguh. Mana mungkin akan goyah hanya karena permintaannya.


Lara? Seketika Alisha terpikirkan sesuatu hal. Jika memang dalang di balik penculikannya adalah Lara, tentu saja hal ini bukanlah perkara biasa. Ia menoleh pada Dante di sampingnya, dan seketika merinding melihat aura gelap dari wajah tegas pemuda itu.

__ADS_1


"Dante. Sekarang apa rencana kamu selanjutnya?" tanyanya takut-takut, tapi juga penasaran.


"Kenapa, Alisha?" Dante balik bertanya sebab menangkap ekspresi berbeda di wajah gadis itu.


"Kau tidak berniat melaporkan Lara ke polisi, kan?"


Dante menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan Alisha. "Tindakan Lara ini merupakan kejahatan besar, Alisha. Kita nggak bisa menoleransi begitu saja."


"Tapi itu bisa mencoreng nama baik papa aku, Dante. Aku nggak mau itu terjadi! Kamu nggak ngerti gimana hubungan aku dan Lara sudah sangat buruk? Aku mohon Dante, jangan buat hubungan kami semakin buruk." Mata Alisha menatap Dante seperti mengiba.


"Al, percayalah sama aku. Aku cuma mau kasih efek jera ke Lara aja. Ini semua harus diakhiri, Alisha. Aku nggak mau Lara terus menindas kamu selamanya."


Tenggorokan Alisha seperti tercekat. Ia tak mampu berkata-kata. Bagaimana Dante tau kalau Lara selalu berusaha menindasnya sedangkan dirinya sendiri tak pernah bercerita. Tak ada yang tahu selain dirinya sendiri dengan Lara.


Dante mengembuskan napas pelan melihat mata Alisha berkaca-kaca. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak membelai pipi gadis itu dengan lembut.


Alisha hanya bisa tersenyum haru menerima perlakuan manis dari Dante. Entah bagaimana caranya berterima kasih pada pemuda itu.


Alisha membeliak saat mobil Dante ternyata melaju melewati rumahnya. Dengan wajah bingung ia pun bertanya pada si pemuda.


"Dan, kok terus aja? Kan rumah aku di sana. Sebenarnya kamu mau bawa aku ke mana?"


"Untuk sementara kamu istirahat di rumah aku dulu ya. Aku harus pastikan kamu aman. Tenang aja. Ada mama aku yang jagain kamu selama aku nggak ada."


Alisha menelan ludah. Ia benar-benar tak menyangka Dante akan menyembunyikan dia di rumahnya. Dibawah penjagaan Tante Niken pula. Astaga. Haruskah nanti ia belajar jadi menantu yang baik?


***


Lara mengulas senyum penuh kepuasan setelah membaca pesan dari sang anak buah. Hal itu jelas mengundang tanya David yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Kayaknya lagi seneng banget."


"Iya, lah. Rencanaku untuk mengurung Alisha sudah berhasil. Jadi, bisa dipastikan, acara pertunanganku dengan Dante akan berjalan lancar," ujarnya penuh kebahagiaan.


David mendengkus lirih. Demi apa pun, ia sangat tidak menyukai tindakan Lara. Bagaimana tidak? Lara tak tanggung-tanggung merancang semuanya. Ia membayar mahal beberapa preman hanya untuk menculik Alisha. Ia juga memerintahkan mereka untuk menyita ponsel Alisha, mengirim pesan ke nomor orang tuanya seolah Alisha pergi liburan ke luar kota. Lalu kemudian, ia memberi titah keempat orang itu untuk mematikan ponsel Alisha agar tidak bisa dihubungi lagi. Benar-benar sebuah kejahatan.


David mengecam perbuatan Lara itu bukanlah tanpa alasan. Mungkin ini tak akan jadi masalah besar andai rencana Lara tidak meleset. Namun, apa jadinya jika lepas dari perhitungan? Bukan tak mungkin Narendra akan melaporkan ke polisi. Entah apa yang akan terjadi nanti andai kata anak buah Lara berhasil dilumpuhkan dan mengakui semuanya. David bahkan tak sanggup membayangkan andai kata Lara sampai dipenjara.


Jeritan Lara akhirnya sukses menarik David dari lamunan. Pemuda yang semula duduk itu sampai berdiri mendekati Lara. Namun, yang dicemaskan justru tertawa kegirangan.


"Vid, ini aku nggak salah baca kan? Dante ngajak aku ketemuan, David! Dia ngajak aku jalan! Akhirnya ... dia luluh juga."


Tangan David terkepal erat saat Lara berucap sangat antusias. Mata gadis itu berbinar senang, dan senyumnya mengembang penuh kebahagiaan. Seketika ia menyangsikan ungkapan Lara yang mengatakan dirinya mendekati Dante hanya untuk balas dendam. Alibi. David meyakini jika Lara benar-benar jatuh cinta pada Dante.


Apakah ia merasa cemburu?


Sudah pasti. Dirinya lah orang pertama yang mencintai Lara. Tak ada orang lain yang setulus dirinya mencintai Lara.


***


Lara melangkah dengan penuh semangat setelah memarkirkan mobilnya. Ia sudah sampai di hotel tempat bertemu dengan Dante, dan Lara sudah menyusun sebuah rencana untuk membuat Dante bertekuk lutut kepadanya.


Sudah terbayang di benaknya bagaimana Alisha begitu menderita melihat Dante mencintainya. Tak ada yang lebih sakit dari melihat orang yang dicintai justru menikahi saudari tirinya. Cara jitu menyakiti lawan adalah dengan merebut sesuatu yang paling berharga. Ah, baru membayangkan saja sudah membuatnya sangat bahagia.


Rupanya memikat hati Dante tak sesulit yang ia kira. Dante bahkan mengajaknya ke hotel sebelum acara pertunangan digelar. Sebegitu tidak tahan kah Dante menunggu sehari saja?


Dante benar-benar lebih romantis dari yang ia perkirakan. Pemuda itu memberinya sebuah petunjuk untuk sampai ke kamar yang dipesan. Lara sendiri sudah merasa bangga setelah berhasil memecahkan teka-tekinya. Hingga ketika ia sudah berdiri di depan pintu dan pintu itu terbuka dengan sendirinya, ia buru-buru masuk dengan senyum yang terkembang.


Sosok Dante yang duduk dengan bertopang kaki di sebuah sofa langsung menyapa indera penglihatannya. Wajah Lara kian berseri-seri dibuatnya. Namun, setelah dua orang asing muncul dan mencekal kedua pergelangan tangannya, Lara membelalakkan mata dan menatap Dante dengan ekspresi tak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2