
Alisha duduk di kursi penumpang bagian depan mobil Dante dengan perasaan was-was. Bagaimana tidak? Perubahan perangai Dante di depan dan belakang Narendra membuatnya takut dengan apa yang akan terjadi kelak.
Sebelumnya, Dante begitu ramah saat mengajaknya berangkat. Bahkan membukakan pintu mobil dan memperlakukannya bagaikan ratu. Namun, begitu mobil sudah melaju meninggalkan rumah besar itu, ekspresi Dante kembali berubah dingin dan datar. Sangat kontras dengan beberapa saat lalu.
Alisha menoleh ke sisi kiri, tepatnya menatap ke luar jendela yang memperlihatkan pohon mahoni yang berjalan ke belakang. Haruskah ia melompat ke luar untuk menyelamatkan diri? Ia merasa sekarang berada di mulut singa ganas yang terbuka lebar. Siap memangsanya kapan saja jika sudah berkehendak.
Akan tetapi, melihat cara Dante mengemudikan mobil membuatnya jadi berpikir ribuan kali. Dengan kecepatan delapan puluh kilometer perjam kira-kira apa yang akan diterima tubuhnya nanti? Hanya lecet saja? Atau mungkin patah tulang? Ah, membayangkan itu bulu kuduk Alisha jadi bergidik ngeri. Iya kalau dirinya masih selamat? Kalau tidak? Jika dia nekat tetap lompat, bukankah itu namanya cari mati?
"Rumahnya di daerah mana?"
Pertanyaan Dante membuyarkan lamunannya. Alisha tersentak dan langsung menoleh Dante.
"Ru-rumah siapa?" tanyanya tergagap. Dengan tampang bego pula.
"Ya rumah nyokap lo, lah! Masa rumah kita!" ketus Dante. Tak ada keramahtamahan di wajahnya saat berkata. Bahkan dengan sengaja membuang muka. Namun, anehnya kata-kata Dante itu membuat hati Alisha berbunga-bunga. Walau gadis itu sendiri pun bingung entah berbunga-bunga karena apa.
__ADS_1
"Oh. Itu, terus aja," jawab Alisha seraya menunjuk ke arah depan.
Suasana mobil kembali hening. Hanya suara deru mesin mobil dan kata-kata singkat Alisha yang sesekali terdengar saat gadis itu menunjukkan arah jalan, selebihnya keduanya diam tanpa percakapan.
Dante fokus pada kemudinya dan sesekali membuka layar ponsel saat ada notifikasi. Tampaknya ia sengaja mengurangi kecepatan demi keamanan mengemudi. Sementara Alisha, gadis itu rupanya diam-diam mengamati sosok pemuda di sampingnya. Penampilan Dante yang nyaris sempurna saat ini benar-benar memanjakan mata kaum hawa yang melihatnya. Sayangnya dulu mereka pernah terlibat masalah dan sikap Dante yang sekarang berubah ketus, mau tak mau Alisha hanya bisa menikmati itu secara sembunyi-sembunyi dan mengaguminya hanya dalam hati.
"Apa yang lo lihat?"
Lagi-lagi Alisha dibuat tersentak. Ia buru-buru membuang muka dan memejamkan sembari menggigit bibir bawahnya. Hiks, malu. Ia kedapatan memperhatikan Dante oleh si empunya. Sialnya lagi, Dante menanyakan itu tanpa memandang muka. Dirinya benar-benar merasa terhina.
"Ish, apaan? Orang aku lihat toko kue yang ada di sebelah sana kok," elaknya tak terima. Namun, tanpa gadis itu tahu, rupanya diam-diam Dante menahan tawa. Tingkah Alisha yang pura-pura kepanasan benar-benar menggemaskan.
"Gerah banget ya. Panas." Alisha mengibas-kibaskan tangannya seperti kipas. Ia melirik Dante sebentar lalu menurunkan kaca pintunya.
"Heh! Lo tau nggak ini mobil mahal! Ini full AC, woyyy! Lo nggak mungkin kegerahan! Tutup nggak!" titah Dante dengan tatapan tajam. Namun, bukannya takut Alisha justru melawan.
__ADS_1
"Enggak! Kalau aku bilang panas itu artinya panas! Aku mau cari udara segar, memangnya salah?"
"Nyari udara segar di jalanan ibu kota? Nggak salah?" tanya Dante dengan nada meragukan. Bahkan disertai senyum penuh ejekan. "Yang ada lo masukin semua debu jalanan yang penuh kuman ke mobil mahal gue! Buruan tutup!"
"Enggak!" Entah keberanian dari mana yang membuat Alisha bisa berbicara keras seperti itu. Gadis itu membalas tatapan tajam Dante seraya memanyunkan bibir.
Dante mendengkus lirih seraya mengembalikan fokus pandang ke arah jalan. Tak jauh dari sana tepat rambu lalu lintas dan lampu merah kemudian menyala. Terpaksa ia menghentikan mobil dengan perasaan kesal.
Terjebak dalam situasi tak nyaman membuat Dante pura-pura menyibukkan diri dengan memandang area sekitar. Ia tak lagi mempermasalahkan kaca mobil yang diturunkan oleh Alisha. Cuma kaca mobil, ya kan. Bahkan semisal Alisha ingin menurunkan celananya, ia pun rela. Eh, ini semisal loh ya.
Suasana jalan sedang padat merayap meski hari ini hari Minggu. Banyak mobil berjajar untuk menunggu lampu merah itu padam. Iseng, Dante melirik ke sisi kiri. Pemuda itu mendapati Alisha tengah menunduk mengamati layar ponsel yang tengah dimainkannya.
Namun, ada sesuatu hal yang mengganggu mata dan hati Dante yang seketika membuat pemuda itu menggemertakkan gigi dan mengepalkan tangan. Geram. Bukanlah Alisha penyebabnya. Akan tetapi dua pemuda yang mengendarai mobil sport di sebelah mobilnya. Dua lelaki yang diperkirakan seumuran dengan dia itu memandangi Alisha tanpa sepengetahuan gadis itu. Tanpa berkedip, bahkan dengan penuh puja dan nafsu pula.
"Sial." Tanpa sadar Dante mengumpat. Kemudian cepat-cepat menaikkan kaca mobil sebelum Alisha menjadi bahan pandangan mata-mata nakal berlama-lama.
__ADS_1