Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Kecerobohan yang disengaja


__ADS_3

"Ingat Alisha. Jangan sekali-kali menggoda Dante atau kau akan tahu akibatnya." Dalam keadaan seperti itu Lara masih sempat-sempatnya mengancam Alisha. Ia menarik lengan Alisha dengan kuat hingga langkah gadis itu tertahan. Gerakannya sangat tenang dan hati-hati, sehingga Narendra dan Helena yang berjalan di depan tak menyadari dua putri mereka tertinggal.


Berusaha menahan Amarah, Alisha hanya meyakinkan dengan anggukan kepala. Demi apa pun, sikap cemburu Lara itu sangat berlebihan. Hingga mau tak mau hatinya pun jadi merasa iba kepada Dante. Jika belum bertunangan saja sikap Lara sudah sedemikian rupa, lalu apa jadinya nanti setelah mereka resmi menikah nantinya?


"Sudah? Hanya itu saja?" Kini gantian Alisha yang menunjukkan wajah sinisnya. Rupanya sikap beraninya itu membuat Lara terperangah hingga gadis itu menyunggingkan senyum penuh ironi.


Namun, belum sempat Lara melontarkan ancamannya lagi, Alisha buru-buru mengempaskan tangan Lara lalu mengusap pergelangan tangannya sendiri seperti sedang membersihkan noda. Bagaimana pun juga ia bukanlah gadis lemah dan tak berdaya. Ia tak mau terus menerus ditindas olehnya.


"Sampai kapan kau akan terus mengancamku seperti ini, hah? Apa kau tidak lelah?" Alisha bertanya penuh keberanian. Lalu kemudian lengkung merah berbalut lipstik warna nude itu tersenyum miring. "Lara, kau mungkin bisa membuatku menjauhi Dante dengan berbagai macam ancamanmu itu. Tapi, apa kau yakin Dante bisa segampang itu melupakanku?"


Mata Lara spontan membeliak mendengar pertanyaan Alisha. Nuansa menegangkan langsung tercipta di antara keduanya. Lara benar-benar tak menyangka jika Alisha yang biasanya begitu patuh itu kini mulai menunjukkan keberanian. Tidak main-main. Ia bahkan dibuat bergidik ngeri. Bukan oleh intimidasi Alisha, melainkan oleh fakta yang ada.


"Aku sudah berusaha sabar menghadapi dirimu, Lara," lanjut Alisha lagi. "Aku mengikhlaskan Dante sekalipun cintaku padanya terlampau besar. Kurang apa lagi? Aku sudah menjauhinya semampuku. Jadi, jika Dante masih saja mendekatiku, maka itu bukan salahku."


Ia berlalu begitu saja setelah berucap demikian dengan penuh penekanan. Bahkan sebelum Lara sempat memberikan perlawanan.


Beberapa langkah kemudian Alisha berhenti lalu menoleh ke belakang tanpa berbalik badan. Lalu kemudian berucap dengan nada mengingatkan. "Cepat masuk dan bersikap seperti biasa jika tidak ingin aku membongkar semuanya!"


Begitulah kemudian. Kedua gadis itu berjalan bersisian. Terlihat baik-baik saja seolah-olah sebelumnya tak pernah terjadi apa-apa. Mereka tersenyum manis saat Narendra menyambut penuh suka cita dan sanjungan.


Ada sesuatu yang membuat mata Alisha kian berbinar. Yaitu keberadaan Marcel di sana. Rupanya pemuda itu turut hadir bersama.


Hanya Marcel dan orang tua Dante? Memangnya Dante ke mana? Pertanyaan itu bercokol di benak Alisha. Namun, gadis itu tak menunjukkan perubahan ekspresi di wajahnya. Berbanding terbalik dengan Lara.


Tanda tanya besar di benak Alisha itu akhirnya menguap oleh perlakuan manis Marcel terhadapnya. Pemuda itu dengan sikap elegannya menarik sebuah kursi dan mempersilahkan dirinya menempati. Tak ayal, tindakan Marcel itu membuat heboh semua yang ada di sana. Bahkan papanya juga. Mereka seolah-olah mendukung tindakan Marcel.

__ADS_1


Alisha hanya menanggapi sewajarnya. Tersenyum sebagaimana mestinya. Ia tak keberatan Marcel perlakuan seperti itu, juga tidak merasa bangga diperlukan seperti itu.


Saat Marcel sudah kembali ke kursinya, barulah Alisha menyadari keberadaan Dante di ambang pintu. Entah sejak kapan pemuda itu ada di sana. Seperti biasanya ia selalu memasang wajah datar dan bersikap tenang.


Pemuda itu mulai melangkah maju. Suara langkahnya menarik perhatian semua mata hingga tertuju ke arahnya.


"Nah, itu dia Dante," ujar Niken seketika.


"Wah, calon menantu Tante akhirnya datang. Jadi formasi kita udah lengkap sekarang," timpal Helena pula.


Bukan Lara namanya jika tetap diam saat melihat Dante datang. Gadis itu langsung menyambut Dante dengan menggamit lengan kirinya. Gadis itu terlihat sumringah, sementara Dante hanya meliriknya sekilas lalu tersenyum tipis. Keduanya kemudian menempati kursi kosong bersebelahan.


Tak ada emosi di wajah Dante. Ia terlihat semringah dengan senyuman tipis di bibirnya. Bahkan ketika menatap Marcel dan Alisha. Mungkinkah karena ada orang tua mereka di sana, sehingga ia perlu menjaga image-nya?


Pelayan mulai datang membawakan hidangan. Acara makan dimulai sembari mengobrol ringan. Robby yang kebetulan duduk di samping Lara tanpa sengaja menumpahkan minumannya. Air putih yang menyisakan setengah gelas itu terbalik hingga airnya mengalir dan mengenai gaun yang Lara kenakan. Tak banyak memang, tetapi hal itu memaksa Lara meninggalkan meja makan untuk pergi ke kamar kecil.


Jujur, saat itu Lara merasa kesal lantaran gaunnya basah di bagian paha. Namun, lantaran pelakunya adalah sang calon mertua, ia harus menahan emosi demi menjaga image-nya.


"Nggak pa-pa, Om. Cuma basah sedikit doang."


"Maafkan Om sekali lagi ya, Sayang. Mungkin Om Robby grogi." Kali ini Niken lah yang mewakili. Mata wanita itu melirik suaminya penuh peringatan.


"Nggak pa-pa kok, Tante. Cuma basah dikit." Lara menyunggingkan senyumnya. Gadis itu kemudian bangkit dan pamit. "Maaf semuanya, saya permisi ke toilet dulu ya."


"Biar Tante antar ya, Sayang?"

__ADS_1


"Ah nggak usah, Tante. Lara bisa sendiri, kok," sahut Lara menolak. Ia berusaha meyakinkan dengan tetap menyunggingkan senyumnya, kemudian beranjak setelah Niken menyerah.


Rupanya celana Robby juga basah di bagian lututnya. Sama seperti Lara, ia juga pamit pergi ke kamar kecil. Kali ini Niken tidak menawarkan untuk mengantarkan sebab dirinya sendiri merasa kesal. Tak biasanya sang suami yang sejatinya pandai menguasai keadaan bisa seceroboh itu. Ia hanya memperingatkan suami untuk berhati-hati.


***


"Lara. Om mau bicara."


Lara terkejut saat mendapati Robby berdiri di depan pintu toilet begitu dirinya keluar dari sana. Sepertinya pria itu sengaja berdiri di sana untuk menunggunya.


Mendadak hati Lara diliputi rasa cemas. Pasti ada sesuatu serius yang memaksa Robby mengajaknya bicara berdua saja. Secara sembunyi-sembunyi pula. Apa lagi yang akan pria itu bicarakan jika bukan mengenai Alisha? Sebab hanya mereka berdua saja yang tahu mengenai ancaman Robby pada gadis itu.


Seketika Lara menarik kesimpulan jika tragedi air tumpah tadi ada unsur kesengajaan.


"Ya, Om. Ada apa?" Lara bertanya sopan seolah-olah tak tahu apa-apa. Dan rupanya itu membuat Robby merasa kesal.


"Lara, jawab pertanyaan Om ini dengan jujur. Apakah saat kamu meminta Om menyuruh Alisha menjauhi Dante, kamu tahu jika Alisha adalah saudari tirimu?"


Lara sempat merasa takut melihat ekspresi Robby, melihat tatapan mengintimidasi itu. Ini pertama kalinya ia melihat wajah Robby merah padam. Pria itu terlihat sangat marah meski berusaha ditahan. Dan ia harus menjawab apa sekarang? Ini benar-benar di luar perkiraannya.


Berbohong. Iya. Dia harus berbohong. Ini sangat mudah. Ia sudah terbiasa.


"Saya benar-benar nggak tau, Om. Demi Tuhan." Wajah Lara terlihat meyakinkan, tetapi entah kenapa Robby malah geram.


"Lantas apa yang mendorong kamu berbuat seperti itu, Lara? Kamu berhasil memprovokasi Om sampai-sampai membenci Alisha sebelum Om mengenal watak gadis itu sebenarnya."

__ADS_1


"Tapi Alisha itu memang nggak baik untuk Dante, Om. Sebelumnya dia adalah gadis liar yang suka memanfaatkan pria hanya untuk kepentingannya. Kasihan Dante jika hubungan mereka diteruskan. Dan lagi pula, itu sudah lama berlalu kan, Om. Kenapa masih dibicarakan lagi? Toh sebentar lagi Dante akan menikah dengan Lara. Om nggak mau kalau Tante Niken dan Dante sampai tau masalah ini, kan?" pertanyaan bernada ancaman itu akhirnya terlontar dari bibir Lara dengan lancarnya. Bahkan gadis itu tetap terlihat tenang menyembunyikan kebohongan.


Robby sampai-sampai menggeleng tak percaya saking herannya. Namun, tentu saja ia tak ingin anak dan istrinya tahu masalah ini. Sehingga ia buru-buru kembali ke meja makan sebelum ada yang memergoki mereka bicara.


__ADS_2