Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Pertemuan dua keluarga


__ADS_3

"Dante!" Niken memekik tak percaya melihat sang putra telah berdiri di depannya. Wanita berparas cantik itu langsung memeluk erat-erat sambil memejamkan mata penuh perasaan. Tak berniat untuk segera melepaskan, ia mendekap sang putra agak lama.


Dante yang mendengar isak kecil langsung mengusap punggung sang mama. Sangat lembut dan penuh sayang. Karena sejujurnya ia juga sangat merindukan sang pintu surga.


"Ma, Mama kenapa nangis? Mama nggak suka Dante pulang?"


"Dasar anak nakal!" Suasana haru Niken itu langsung ambyar oleh celetukan konyol sang putra. Ia refleks membuka mata, mengurai pelukan, lalu memukul lengan Dante dengan pelan. "Kalau nggak suka ngapain juga Mama peluk-peluk kamu! Mama ini terlalu bahagia, Dante. Malah kayak nggak percaya kalau kamu berdiri di sini sekarang. Mama nyaris putus asa nungguin kamu pulang ...!"


"Maafin sikap kekanakan Dante ya, Ma. Dante menyesal." Dante mengusap air mata Niken, membuat wanita yang tengah merengut kesal itu seketika tersenyum haru.


"Maafin Mama juga yang nggak bisa belain kamu di depan Papa ya, Nak. Maaf, karena Mama adalah ibu yang tidak berdaya."


Dante menggeleng sambil tersenyum. "Itu nggak betul, Ma. Justru Mama udah lakuin hal yang benar. Anak salah itu nggak boleh dibela, Ma. Entar malah jadi manja dan nggak ngerti akan kesalahannya."


Niken semakin terharu. Kedua telapak tangannya langsung menangkub dua sisi wajah sang putra. "Ternyata memang selalu ada hikmah di balik semua kejadian, ya. Seperti keputusan kamu untuk pergi dari rumah waktu itu. Saat kembali pulang, pemikiran kamu makin dewasa, Sayang. Mama bangga sama kamu."


"Makasih, Ma. Tapi aku nggak sedewasa itu, kok," elak Dante sambil tersenyum kecut.


Jujur, ia memang tidak suka dibilang dewasa dalam hal pemikiran. Karena pada kenyataanya ia masih seperti yang dulu. Sering gegabah dan berakhir dengan kata menyerah.


"Ma, Dante mau istirahat ya. Dante capek banget dan rindu kamar." Ia berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban sang mama.


"Tapi Dante–" Niken berseru sembari mengangkat tangannya. Berharap sang putra kembali padanya. Rindunya belum terobati. Serta masih banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tetapi Dante tak menggubrisnya. Pemuda itu malah melangkah gontai menaiki tangga.


Niken mendesah pelan. Ia menurunkan tangannya yang sempat terangkat. Berusaha memahami perasaan Dante mungkin akan lebih baik. Putranya terlihat kurang bersemangat, padahal belum lima menit kembali setelah berbulan-bulan pergi.


Mungkinkah sedang ada masalah yang disembunyikan?

__ADS_1


***


Dante melangkah pelan saat menaiki tangga untuk sampai ke lantai dua rumah orang tuanya. Matanya menatap sendu pada setiap jengkal dari bangunan megah yang ia lewati itu. Rumah yang ia tempati sejak lahir. Tentunya sudah tidak terhitung lagi kenangan yang ia bangun bersama orang-orang tercinta di tempat ini.


Ia tahu, Niken belum puas melepas rindu. Sangat jelas terlihat guratan kecewa dari wajah wanita itu saat dirinya bilang rindu kamar ketika berpamitan. Tentu saja wanita itu salah paham dan merasa dinomor duakan, padahal bukan seperti itu maksud sebenarnya Dante tadi. Ia hanya ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan sang mama yang mungkin akan mengingatkan kembali luka hatinya. Ia benar-benar lelah. Lelah hati dan pikiran. Ia ingin beristirahat barang sebentar.


Sampai di depan sebuah pintu warna putih gading dengan ukiran indah, Dante berhenti sejenak. Pintu itu tertutup rapat. Sama seperti saat dirinya pergi waktu itu.


Perlahan tangannya bergerak memegangi gagang pintu bercat warna emas itu lalu mendorongnya untuk membuka. Ruangan dengan ukuran luas bernuansa biru laut langsung menyapa indra penglihatan saat pintu itu terbuka.


Dante berjalan pelan memasuki kamar tidurnya. Pandangannya mengamati setiap jengkal tempat yang diam-diam dirindukan. Keadaannya masih sama seperti ketika ia tempati dulu. Wangi, bersih dan rapi. Ia sudah menduga itu. Sang mama pasti akan menjaga dan merawat miliknya dengan sangat baik.


Sesekali ia menyentuh dan memegang barang-barang kesayangan sebelum menaruhnya kembali ke tempatnya semula dengan baik. Terakhir, ia duduk pada tepian ranjang dan merebahkan tubuhnya pada tempat tidur mahal itu.


"Berbulan-bulan gue habiskan waktu dalam pelarian, nyatanya nggak membuahkan keberhasilan. Malahan yang ada hanya kekecewaan." Dante bergumam. "Okay. Cukup sudah menyiksa diri. Nggak ada gunanya ngingat-ingat dia lagi. Sekarang fokus, pada hidup gue sendiri."


***


Niken memang berkata apa adanya. Dante memang tampak memesona degan balutan jas blazer warna terang. Dante sengaja menyingsing bagian lengan agar terlihat lebih santai dan casual. Senyuman manis yang diurai dengan terpaksa sama sekali tak mengurangi kadar ketampanannya.


"Sudah siap?" Robby bangkit dari duduknya saat sang putra sudah dekat. Ia melirik arloji di pergelangan tangan kiri, lalu melirik ke arah Dante. "Kita berangkat sekarang. Mereka sudah menunggu di restoran."


Dante tak menjawab dengan kata. Ia hanya bisa mengekori langkah sang ayah. Tak mau membuat senyum bahagia sang mama yang menggandengnya dengan antusias itu memudar, ia berusaha bersikap patuh meski masih merasa ragu jika yang ia ambil ini adalah keputusan benar.


Hari ini, mereka datang ke sebuah restoran mahal. Orang tuanya sudah mengatur pertemuan dengan sebuah keluarga yang digadang-gadang akan menjadi besan. Ini memang pertemuan pertama Dante sekalipun ia sudah mengetahui beberapa hal mengenai calon ayah mertuanya. Mengenai bagaimana pria itu begitu piawai membesarkan perusahaan. Bukan dari mata-mata atau ayahnya, hanya melalui media yang setiap hari menyoroti gerak-gerik yang kebetulan lewat di akun media sosialnya. Karena kurang tertarik, Dante tak ingin menguliknya lebih dalam. Bahkan mengenai kehidupan pribadi keluarganya.


Sampai di pintu masuk, seorang wanita muda berparas cantik langsung menyambut kedatangan mereka. Manager restoran yang sudah dikenal Niken itu menuntun mereka ke sebuah ruangan khusus yang tampaknya sudah disiapkan.

__ADS_1


Robby langsung menyapa gembira saat tiga orang yang sudah berada di dalamnya menyambut kedatangan mereka.


"Narendra!" Robby melambaikan tangan selagi mendekat pada orang yang langsung berdiri menyadari kedatangannya. Keduanya sama-sama merentangkan tangan demi mendapatkan pelukan.


Pelukan ala pebisnis handal pun terjadi antara Robby dan Narendra. Sementara pelukan ala wanita sosialita terjadi antara Niken dan Helena. Obrolan basa-basi pun terjadi meski sambil berdiri.


Dante yang mulai tak nyaman dengan keadaan ruangan hanya bisa menghibur diri dengan gawainya. Ia menempati sebuah kursi kosong dan mulai menatap layar. Ia tak menyadari tatapan yang menghunjam dari kursi seberang. Ia tak menyadari seorang gadis cantik tengah mengawasinya diam-diam. Hingga tepukan di bahu kanan sukses membuatnya mengalihkan perhatian.


"Dante kok malah mainan HP, sih? Disapa dong itu Lara-nya. Masa ada gadis cantik didiemin aja." Niken melirik Lara yang kini tersenyum manis, sementara Dante langsung mengikuti arah pandang sang mama.


Lara?


Dante mengerutkan kening saat pandangannya beradu dengan gadis cantik itu. Ia berusaha mengingat-ingat siap gadis yang sudah tak asing itu. Di mana mereka pernah bertemu.


"Hai Dante." Lara mengulurkan tangannya ke depan Dante.


Dante langsung menurunkan pandangan, memperhatikan lengan mulus dengan hiasan gelang emas indah dan kutek warna merah muda menghiasi kuku-kuku panjangnya. Seperti enggan menyambutnya, ia malah mengembalikan pandangan pada si empunya.


Lara mengangkat alis sambil menatap tangannya sebentar, seolah-olah memberi isyarat jika tangannya membutuhkan sambutan. Ekspresi gadis itu terlihat ceria, berbanding terbalik dengan Dante yang seperti tengah menelisiknya.


"Dante." Niken yang mulai tak sabaran pun angkat bicara. Ia mendelik penuh peringatan saat sang putra menatapnya.


Mau tak mau, Dante menyambut uluran tangan itu. Saat itu juga ia mengingat sosok Lara adalah siapa. Ternyata gadis yang pernah dikenalkan Alisha kepadanya.


Tiba-tiba Dante merasa ada sesuatu yang mengganjal. Matanya memicing saat memperhatikan Lara yang tengah tersenyum tanpa dosa.


Kenapa gue jadi curiga gini sama Lara, ya? batin Dante bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2