Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Lagi-lagi ingat dia


__ADS_3

"Ngapain ngajak ke sini? Bukannya tadi di depan Om Rendra lo minta dianterin ke salon, ya?" Dante bertanya bingung karena Lara memintanya berhenti mendadak di depan sebuah warung nasi di pinggir jalan. Bukan lantaran tempat itu masih terasa asing untuk dia, melainkan sebaliknya. Tempat ini adalah warung nasi rames langganannya bersama Alisha.


"Tiba-tiba aku lapar. Nggak pa-pa, kan kalau kita mampir makan di sini sebentar? Nasi rames di sini enak, loh," ujar Lara sambil melepas sabuk pengamannya.


"Gue tau kalau nasi rames di sini enak!" tutur Dante membenarkan. "Tapi, gue ragu kalau lo bener-bener murni cuma pengen makan di sini. Lo yakin nggak ada maksud lain!"


"Apaan sih, Dante! Aku tuh beneran laper!" Lara membuang pandangan demi menghindari tatapan penuh selidik dari iris tegas Dante. Begitulah cara wanita untuk mengelabuhi prianya, yaitu dengan pasang wajah cemberut dan pura-pura marah. Membuat Dante mendengkus kesal sambil buang muka.


"Okay, fine! Kita makan di sini!" Meski tampak tidak suka dengan usul Lara, tetapi Dante akhirnya mengikuti keinginan gadis itu juga. Ia mendahului turun dari mobil dan berjalan memasuki warung sebelum Lara bergerak dari posisinya. Sudah barang pasti ia juga tak menyadari senyuman penuh kemenangan yang tersungging dari bibir Lara.


"Nasi rames dua ya, Bu." Dante memesan pada wanita paruh baya yang sedang sibuk membersihkan meja. Wanita dengan jilbab lebar itu awalnya mengiyakan dengan sopan layaknya pada pelanggan yang baru dikenal. Namun, ketika wajah si konsumen seperti tidak asing lagi olehnya, wanita yang bernama Lastri itu menatap Dante dengan mata memicing seolah-olah tengah memastikan apa yang dilihatnya.


"Dante? Ini beneran Dante?" tanyanya tak percaya.


"Hehe, iya Bu Lastri," jawab Dante sambil nyengir.


"Ya ampun, Dante! Lebih dari seminggu kamu menghilang, eh balik-balik udah keren begini!" Lastri refleks mendekat dan memukuli lengan Dante dengan gemas. "Kamu kemana aja sih, kok nggak pernah kelihatan belakangan ini? Tuh, si Alisha jadinya kemana-mana sendirian. Kasian dia, Dante."


Senyum Dante berubah getir mendengar nama Alisha disebutkan. Namun, belum sempat ia menjawab pertanyaan Lastri, tiba-tiba Lara muncul dan menengahi obrolan mereka dengan kata-kata yang tidak Dante suka.

__ADS_1


"Sayang, nggak mau kenalin aku sama penjual nasi rames ini?"


Dante dan Lastri kompak menoleh ke arah Lara, lalu seketika saling pandang dengan ekspresi yang berbeda.


"Kenalkan. Saya Lara, calon tunangannya Dante." Dengan sangat percaya diri Lara mengulurkan tangan mulusnya ke arah Lastri. Membuat mata wanita paruh baya itu membeliak sebelum melirik Dante yang tengah membuang pandangan.


Meski agak ragu, akhirnya Lastri menyambut uluran tangan selembut sutra itu sambil menyunggingkan senyuman seramah mungkin.


"Calon tunangannya Dante, ya? Cantik sekali," puji Lastri pada Lara walaupun gadis yang ia puji itu buru-buru menarik tangannya dan mengusap telempapnya pada sebuah sapu tangan yang diambil dari tas mahalnya.


"Mulai sekarang jangan panggil calon tunangan saya dengan nama yang seperti itu, ya. Enggak cocok. Calon tunangan saya adalah anak dari pengusaha terpandang. Dia–"


Melihat ekspresi marah dari wajah Dante, Lara hanya memanyunkan bibir seraya mengangkat bahunya. Ia bersikap acuh tak acuh sembari duduk menempati kursi kosong di seberang Dante. Tak ia pedulikan pula tatapan menusuk pemuda itu. Lara malahan cuek dan memilih menyibukkan diri dengan ponselnya untuk berselfi.


Tak ingin ikut serta dalam ketegangan dua sejoli pengunjung warungnya itu, Lastri memilih fokus pada pelayanan terbaiknya.


"Ditunggu ya, Bos Dante. Sebentar lagi makanan Anda siap."


Lagi, Dante menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Lara. Gadis itu sukses membuat pandangan Lastri terhadapnya berubah seketika. Jujur, ia tidak suka dielu-elukan dengan embel-embel harta dan takhta. Ia lebih suka bergaul dengan orang yang apa adanya. Sudah susah payah ia membangun image itu, Lara malah seenaknya merusak semua.

__ADS_1


Tak ada perbincangan atau perdebatan yang terjadi selama beberapa menit berlalu, hingga Lastri datang dan membawakan dua porsi nasi rames dengan lauk yang spesial.


"Monggo, silahkan Bos Dante." Lastri mempersembahkan setelah menurunkan piring nasi dari nampan.


Dante mendengkus lirih. "Manggilnya nggak usah kayak gitu kali, Bu. Enggak enak aja didengarnya."


"Tapi ini kan permintaan ...." Tak mau melanjutkan dengan kata-kata, Lastri lebih memilih menunjuk Lara menggunakan ibu jarinya dengan sopan seperti bahasa isyarat.


"Jangan dengerin dia," tukas Dante kesal.


"Owh, oke-oke." Lastri mengacungkan jari jempolnya, sementara Lara justru berdecih.


Keduanya lantas menikmati makanan dengan tenang tanpa banyak bicara. Jika Dante terlihat lahap saat menyantap nasi rames itu, berbeda dengan Lara yang tampak gelisah mengaduk-aduk nasi sambil sesekali celingukan menatap ke arah pintu masuk.


Dante yang mengetahui bahasa tubuh Lara hanya diam tanpa ingin tahu penyebabnya. Mungkin ceritanya akan berbeda jika yang sedang duduk makan bersamanya saat ini adalah Alisha.


Lagi-lagi Dante mengingat gadis itu. Sedahsyat inikah pengaruh Alisha pada kehidupannya? Entahlah. Bagi Dante Alisha adalah sosok yang sangat sempurna untuk dia. Dante tak pernah memandang kekurangan gadis itu, bahkan dosa-dosanya di masa lalu. Sayangnya, penghinaan itu sangatlah menyayat kalbu. Hingga Dante tak bisa melupakan itu.


Sesuatu di luar dugaan Dante pun terjadi. Dante yang menekuri isi piringnya merasakan kehadiran seseorang tetapi malas memperhatikannya. Namun, ketika sebuah suara indah menggema di telinganya, barulah ia menghentikan makan dan menatap ke arah gadis yang baru datang itu.

__ADS_1


"Bu, kue bolu gulungnya udah datang, nih! Aku taruh di tempat biasa, ya!" ujar gadis berambut panjang itu tanpa melihat ke sekelilingnya.


__ADS_2