
"Lo nggak akan bisa kabur dari sini, Alisha. Nggak akan bisa!" Seringai Dante kian lebar melihat Alisha ketakutan. Gadis itu kini berhenti memberontak. Malahan sebaliknya, Alisha justru tertunduk dalam dengan bahu yang berguncang. Ia benar-benar menangis ketakutan. Anehnya itu justru membuat Dante kian bersemangat.
Alisha tak bisa berkutik saat Dante memutar tubuhnya, memeluknya dari belakang, lalu mengendus-endus leher dan pipinya dengan sensual dan mulai meracau nakal.
"Kenapa kamu gemetaran gini, Sayang? Bukankah kamu udah biasa seperti ini, heum?"
Alisha hanya melirik ke belakang saat Dante bertanya tak masuk akal. Maksudnya apa? Ia bahkan tak mengerti dengan apa yang Dante katakan.
Alisha sempat berpikir jika Dante saat ini sedang mabuk. Namun, ia sama sekali tak mencium bau alkohol dari mulut pemuda itu. Malahan yang ada tubuh Dante sangat wangi. Wangi khas parfum mahal.
"Lepas, Dante. Biarin aku pulang." Alisha memohon masih dengan tangisan. Ia terisak tanpa mau menoleh ke belakang, kemudian kembali melanjutkan kata dengan nada mengingatkan. Berharap Dante akan mendengar dan mau melepaskan. "Aku ini saudari Lara, Dante, calon tunangan kamu! Jangan kecewakan Lara dengan perbuatan kamu ini!"
"Oh ya?" Dante menyahuti enteng lalu melabuhkan kecupan lembut di pipi Alisha. Alisha yang tak menyangka Dante akan menciumnya merasa terkejut hingga berjingkat. Rasa kecewa diperlakukan seperti ini membuat tangisnya kian menjadi. Alisha memberontak walau tahu itu hal percuma.
Alih-alih merasa iba, Dante justru malah tertawa. Tak dipungkiri, reaksi ketakutan Alisha menimbulkan kepuasan tersendiri di hatinya. Hati iblis seorang pria yang dibutakan oleh cinta.
Suara gaduh keduanya hanya menggema di dalam ruangan kamar. Sedangkan kamar itu kedap suara. Sudah dipastikan di luar sana tak ada seorang pun yang mendengarnya.
"Bisa diam, nggak!" tegas Dante penuh penekanan. Kini matanya menatap tajam pada Alisha.
Alisha yang sudah terbelenggu akhirnya mau tak mau patuh dari pada memancing kemarahan. Ia berusaha memahami jika Dante yang sekarang mungkin hanya sedang lepas kendali. Pemuda itu memang menculiknya, membawa pergi secara paksa. Namun, meski begitu Dante sama sekali tak berniat menyakiti. Itu terbukti dari cara Dante memperlakukannya.
Melihat sikap patuh Alisha membuat Dante tersenyum samar. Ia setengah membungkukkan badan dan menyatukan salah satu sisi pipi mereka, lalu kemudian kembali menyerang Alisha dengan sebuah pertanyaan. "Lalu bagaimana dengan aku, heum? Pernahkah kau memikirkan perasaanku?"
__ADS_1
Alisha mengerutkan keningnya. Pertanyaan Dante membuatnya semakin tak mengerti.
"Kamu tau kan, Marcel itu sepupu aku. Tapi kenapa kamu mau sama dia sedangkan dulu kamu pernah nolak aku. Bahkan sampai sekarang loh, kamu masih nolak aku."
"Itu karena kamu sudah jadi milik Lara, Dante. Aku bisa apa!" Alisha memekik geram. Kenapa pemuda ini susah sekali diberi pengertian.
"Itu bukan alasan." Dante bersikap tak mau tahu dengan tidak menerima alasan apa pun dari Alisha. Ia tak bergerak dari posisinya, juga tak berniat melepaskan Alisha. Dante seperti menikmati posisi mereka saat ini. Menempel sangat rapat dan hangat. Bahkan ketika Alisha menyerukan sebuah bantahan, Dante malah memejamkan mata sembari tersenyum dengan begitu tenang.
"Bukan alasan, Dante, tapi itu kenyataan!"
"Oke. Itu kenyataan, dan aku terima kenyataan itu. Tapi kamu juga jangan pernah lupakan fakta, jika sebenarnya kamu juga cinta aku. Benar begitu, kan?"
Tenggorokan Alisha seperti tercekat. Ia menelan ludahnya susah payah. Bisa-bisanya Dante mengatakan itu dengan santainya.
Sementara Dante justru tersenyum dalam diam. Ia membuka mata, menilik wajah Alisha dari samping, lalu kembali memejamkan mata ketika mengeratkan pelukannya. Ia benar-benar menyukai posisi ini.
Alisha menggemertakkan giginya. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Kata-kata Dante memang benar, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Kenapa diam?" Kini Dante ingin Alisha berbicara.
"Aku harus apa, Dante? Aku bisa apa?" Suara Alisha penuh dengan kepasrahan. "Sebentar lagi kalian akan bertunangan. Dan mungkin tak lama lagi akan menikah."
Senyum di bibir Dante terkembang penuh arti mendengar pengakuan Alisha. Demi apa pun, tak ada momen yang lebih membahagiakan dari pada ini. Alisha mengakui cintanya meski ada nada kepasrahan di sana. Ia bisa menarik kesimpulan bahwa Alisha mencintainya, tetapi gadis itu tak memiliki daya. Mereka saling mencintai tapi terjebak dalam situasi rumit.
__ADS_1
"Sejak awal, kalian berdua memang sudah dijodohkan, bukan? Lantas aku bisa apa, Dante? Bersikap egois dan merusak hubungan baik dua keluarga?" Alisha menoleh sebentar pada Dante sebelum tertunduk. Dante bisa merasakan bahu gadis itu berguncang ketika terisak.
Sungguh, tak ada yang lebih menyakitkan dari melihat wanitanya meneteskan air mata. Tak ubahnya dengan Dante, ia pun ikut merasakan getir. Ia tak menyesal meskipun kelak Alisha akan membencinya lantaran penculikan ini. Namun, setidaknya dengan begini ia bisa mengusap air mata Alisha, mendengarkan keluh kesahnya, bahkan merelakan bahu untuk dijadikan sandaran.
"Alisha ... kami memang sudah dijodohkan sejak lama, tapi bisa menolak kalau memang nggak setuju. Kamu tau sendiri bagaimana aku menunjukkan protes keras atas perjodohan ini? Aku sampai lari dari rumah! Hidup luntang-lantung di jalan, sampai akhirnya aku bisa ngojek terus ketemu kamu.
Dan kamu sendiri tahu bagaimana perasaan aku ke kamu, bukan? Dengan keuangan pas-pasan aku coba bawa kamu jalan. Aku nembak kamu dengan cara alakadarnya. Kenapa aku pilih kamu, Alisha? Itu karena aku tahu, perasaan kita terbangun oleh rasa ketulusan.
Waktu itu memang aku nggak punya apa-apa. Tapi dalam hati aku berjanji, akan membahagiakan kamu bagaimana pun caranya! Akan kuberikan segala yang kupunya! Tapi karena kanu nolak aku, aku nggak punya pilihan lain selain menerima perjodohan ini?" Dante menggeleng dengan mata berkaca-kaca. "Andai kamu tau, Alisha. Waktu itu keputusan kamulah yang jadi penentunya. Dan kamu tau, saat kau tolak hatiku sehancur apa?"
Sejenak Alisha terdiam. Andai Dante juga tahu perasaannya waktu itu sehancur apa.
"Waktu itu aku memang menolak kamu, Dante. Tapi aku punya alasan kuat untuk itu!"
"Alasan kuat?" Dante mengerutkan keningnya, berpura-pura tidak paham. "Kalau begitu apa alasan kamu? Bisa katakan kepadaku? Aku ingin mendengarnya." Dante berucap setengah berbisik di telinga Alisha. Tetapi dari nada bicaranya ia terdengar mendesak.
"Karena Lara–" Alisha buru-buru diam dan mengatupkan bibirnya. "Ah lupakan. Ini bukan urusan kamu."
"Kenapa gitu? Aku tau kamu nyembunyiin sesuatu."
"Nggak ada, Dante!" bantah Alisha.
"Oke. Nggak pa-pa kalau kamu nggak mau terus terang. Aku hanya ingin mengingatkan satu hal saja."
__ADS_1
"Apa?"
"Jangan mau hidupmu diatur oleh mulut orang lain, karena jika hidupmu berantakan, mereka akan lepas tangan dan kamu sendiri yang harus menanggung beban. Kamu paham?"