Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Tercengang


__ADS_3

Sore itu Alisha baru saja menyelesaikan kewajibannya membuat kue pesanan pelanggan. Ia membersihkan peralatan lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa ranjang. Hari ini cukup melelahkan. Banyak sekali pesanan yang masuk dan minta diantar hari ini juga. Kue buatan Alisha dan ibunya memang terkenal enak hingga banyak yang suka.


Namun, di samping itu ia merasakan keberuntungan lain selain mendapat penghasilan. Yaitu hatinya menghangat sebab ada Dante yang selalu siap membantunya kapan saja.


Pemuda itu sudah pulang setengah jam yang lalu ke kontrakannya. Mungkin sekarang sedang mandi atau mungkin beristirahat. Dante juga terlihat sama capeknya juga dengan Alisha.


Nyaris berkelana ke alam mimpi, mata Alisha kembali terbuka saat ponselnya yang tergeletak di samping telinga itu berdering. Buru-buru ia mengangkat panggilan itu agar tidak mengusik tidur ibunya yang berbaring di sisi kanan.


"Tuan Narendra?" Alisha mengernyit melihat nama pria itu tertera di layar ponselnya. Melirik sejenak pada Wanda, Alisha lantas bangkit dengan hati-hati lalu mengangkat panggilan itu di teras depan.


"Halo, Tuan. Ada apa?" sapanya membuka percakapan.


"Alisha, bisa ke depan sebentar untuk temui saya?" pinta Narendra di ujung sana.


Meskipun alisnya bertaut heran, tetapi Alisha memutuskan menerima ajakan Narendra. Gadis itu menutup pelan pintu kontrakan, lalu berlari pergi menyusuri jalan gang yang sepi.


Sesekali ia menoleh ke kanan dan kiri, jangan sampai sang ibu mengikuti. Atau bertemu dengan Dante yang hingga kini masih salah paham terhadapnya. Bukan dirinya tak mau menjelaskan. Hanya saja pemuda itulah yang enggan menerima penjelasan yang ia berikan.


Alisha merasa tak habis pikir pada dirinya sendiri yang mau keluar malam demi menemui pria dewasa yang lebih cocok menjadi ayahnya. Alasannya jelas sangat kuat. Bukanlah cinta. Namun, di mata Alisha, Narendra adalah sosok malaikat yang menjelma pada diri seorang manusia. Ia sangat mengagumi pria itu.


Sepanjang hidupnya, Alisha belum pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Dan ia mendapatkan itu dari Narendra.


Tak jarang Alisha menolak hadiah kecil yang Narendra berikan. Bahkan tak ada satupun yang diterimanya. Alisha merasa tak layak mendapatkan itu. Pasalnya hadiah kecil yang Narendra maksud adalah perhiasan mahal serta barang-barang bermerek lainnya.


Bagi Alisha, melihat wajah dan mendengar keluh kesah Narendra itu sudah lebih dari cukup. Parahnya ia merasa seperti seorang anak yang tengah bercengkrama dengan ayahnya. Aneh memang. Akan tetapi Alisha juga menangkap perasaan yang sama dari Narendra.


Sebuah mobil Mercedes warna hitam Narendra yang terparkir sudah tertangkap sepasang bola mata Alisha. Gadis itu mempercepat langkah demi cepat sampai pada Narendra. Ia segera mengetuk kaca dan tak berapa lama pintu terbuka.


"Tuan," sapa Alisha sopan sembari duduk di jok depan.


Narendra mengulas senyum menyambut kedatangan Alisha. Pria itu tetap terlihat segar meski berusia matang dan hari telah malam. Ia masih mengenakan pakaian kerja yang membuat Alisha menarik kesimpulan jika Narendra langsung kemari setelah dari kantor.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu? Apa Tuan sedang ada masalah?" tanya Alisha menunjukkan kesiapannya terkait permintaan Narendra menemuinya di hari yang sudah gelap ini.


"Saya cuma mau ketemu kamu sebentar aja, Alisha. Sebelum saya pulang dan dihadapkan pada situasi yang membosankan," tutur Narendra dengan bahasa santun dan sikap tenang. "Oh iya, apa kamu sudah makan?" tanyanya kemudian.


Alisha mengangguk. "Sudah, Tuan. Saya tadi makan mi instan."


"Mi instan?" Narendra bertanya seperti terperangah sebelum kemudian menggeleng tak terima. "Kenapa makan mi instan, Alisha. Mi instan itu tidak baik dikonsumsi sering-sering. Ini, Om bawakan kue dan pizza yang enak dan masih hangat. Kamu makan sekarang biar kenyang, ya."


Narendra mengambil sebuah kotak dari jok belakang lalu membukanya dengan segera. Bahkan tanpa sungkan menyuapi Alisha setelah mengambilnya sepotong dari kotak.


Alisha tak bisa berbuat apa-apa selain menggigit makanan itu dan mengunyahnya dengan penuh perasaan. Tentunya agar Narendra senang dan tidak kecewa.


Agak lama keduanya makan pizza bersama sambil ngobrol dan bercanda. Hubungan yang mereka jalin kini sudah semakin jauh. Hingga taraf layaknya ayah dan anak. Keduanya sudah mengenal tabiat masing-masing. Bahkan tahu apa yang disuka dan tidak disuka. Narendra bahkan lebih bisa memahami Alisha ketimbang Lara. Aneh kan?


Alisha yang tengah mengunyah kue dibuat terkejut saat ponselnya mendadak berdering. Nama sang ibu tertera di layarnya dan itu sukses membuat ia panik.


"Ibu aku, Om. Gimana dong?"


"Tenang Alisha, nggak usah panik. Lebih baik kamu angkat dan jelaskan pelan-pelan, ya," ucap Narendra menenangkan.


"Halo, Bu."


"Kamu di mana, Al?" tanya Wanda di seberang sana. Nada bicaranya terdengar cemas.


"Alisha keluar sebentar, Bu. Karena ada keperluan."


"Haruskah keluar dengan cara mengendap-endap seperti itu? Anak perawan macam apa kamu! Cepat pulang! Lalu ceritakan di rumah!" Sambungan langsung terputus begitu omelan dilayangkan.


Wanda memang sangat menyayangi Alisha. Namun, wanita itu tak ada toleransi jika Alisha menyalahi aturan. Apalagi sampai merusak harkat martabatnya sendiri sebagai perempuan. Ia merasa harus tegas mendidik putrinya. Mana dia tau jika Alisha sekarang keluar dan melanggar peraturannya?


"Tenang Alisha. Om akan antar kamu pulang dan menjelaskan semuanya. Om yakin, ibu kamu akan memahami posisi kamu. Ini salah Om. Om akan bertanggung jawab." Narendra yang mendengar sendiri percakapan antara Alisha dan ibunya benar-benar merasa bersalah. Beruntung, Alisha memperbolehkan dirinya mengantar pulang dan keduanya berjalan bersama di jalan gang yang sempit itu.

__ADS_1


Pintu kontrakan dalam keadaan tertutup rapat ketika keduanya tiba. Mau tak mau Alisha mengetuknya dan mengucapkan salam.


Wanda yang berada di dalam sempat mendengar suara lelaki dan perempuan dari arah luar. Suara perempuan itu adalah suara Alisha. Tidak salah lagi. Putrinya keluar untuk menemui pria bahkan pulang membawa pria itu bersamanya.


Demi apa pun, hati Wanda merasa terluka oleh kelakuan anak gadisnya. Dalam ketidakberdayaan, ia sudah mendidik putrinya dengan benar. Dalam keterbatasan ia telah mencurahkan segalanya hanya untuk Alisha. Lalu inikah balasan gadis itu?


Setengah mati ia sudah menepis kecurigaan tentang uang banyak yang waktu itu Alisha dapat dan dipergunakan untuk pengobatannya. Setengah mati ia berusaha percaya. Namun, kali ini gadis itu menunjukkan yang sebenarnya. Ia datang dengan seorang pria di tengah malam buta.


Wanda melirik sapu lidi yang berdiri di sudut ruangan. Matanya kemudian menatap benda itu nanar. Ia harus memberi putrinya pelajaran yang benar. Gadis itu harus dididik agar tidak salah jalan. Maka, dengan mata berkilat penuh amarah, ia meraih gagang sapu itu sebelum kemudian membuka pintu.


"Anak tidak tahu diuntung! Beginikah cara kamu membalas air susu ibu! Dengan cara menjual kesucian kamu!" Wanda langsung menyerang Alisha begitu memastikan gadis itu datang bersama seorang pria. Tanpa memandang muka. Tanpa melihat siapa sosok di samping putrinya, ia menghakimi Alisha tanpa iba.


Alisha memekik. Gadis itu sangat terkejut dengan penyambutan sang ibu. Ia refleks menutup mata. Siap menerima ganjaran yang ibunya berikan.


Namun, di luar dugaan Alisha dan Wanda. Sosok di samping Alisha justru bergerak sigap menarik tangan Alisha dan merengkuh tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Narendra merelakan diri menjadi objek kemarahan ibu Alisha. Ia tak memberi kesempatan pada Alisha untuk merasakan kesakitan.


"Berhenti, Ibu. Berhenti! Apa yang Ibu lakukan? Ibu sudah melukai orang yang telah menolong kita!" Dalam pelukan Narendra, Alisha berteriak dengan nada bergetar untuk meminta pengertian Wanda.


Sayangnya wanita itu tak mau tahu. Hingga gagang sapu yang dipukulkan itu patah, barulah ia menghentikan penyerangan.


Meski Wanda yang menghajar, tetapi hati wanita itu yang justru lebih terluka. Kemarahannya kian meradang setelah mendapati sang putri dalam pelukan seseorang yang bukan mahram.


Demi apa pun, ia tak ingin Alisha merasakan apa yang dirinya rasa. Hidup terlunta dan tanpa pengakuan. Ia tersisih dari kehidupan sosial. Dipandang sebelah mata dan tak diterima di mana-mana. Ia tak ingin Alisha menderita seperti dirinya.


Gigi Wanda menggemertak. Ia menggeram selagi menarik tangan si pria yang berdiri membelakanginya itu dengan kencang.


"Lepaskan anak saya, Tuan. Lepas!" Wanda berucap penuh penekanan sambil mengangkat sapu yang ada di tangan kanan. Ia sudah siap memukul pria itu lagi. Bahkan tanpa ampun.


Sayangnya, sebelum itu terjadi ia lebih dulu dibuat tercengang ketika Narendra berbalik badan dan menunjukkan wajahnya. Wanda membelalak. Mulutnya ternganga. Bahkan sapu di tangannya sampai terjatuh begitu saja dari genggaman.


"Narendra?"

__ADS_1


"Wanda?"


Kedua orang dewasa itu saling menyebutkan nama lawan secara bersamaan.


__ADS_2