
"Non, Non Lara."
Gadis yang masih bergelung di bawah selimut itu menggeliat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Ia mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata, lalu perlahan bangkit untuk berjalan menghampiri pintu. Langkahnya bergerak malas sebab mata masih terasa berat.
"Ada apa?" tanyanya setelah membuka pintu. Membuat pelayan yang berdiri di depannya sembari menunduk hormat itu seketika mengangkat pandangan. Pasalnya, ini adalah kali pertama Lara berbicara sopan kepada pelayan sepertinya.
"Tuan dan Nyonya Helena sudah menunggu sarapan di bawah. Ada Tuan muda Dante juga."
"Baik. Aku akan segera turun." Lara menutup pintu kamarnya setelah mengatakan itu.
Baguslah. Orang tuanya masih menunggu Lara untuk sarapan bersama. Itu artinya tidak ada perubahan yang berarti untuk hubungan mereka kedepannya.
"Dante? Untuk apa dia ke sini?" Lara bergumam penasaran. Bola matanya bergeser ke samping ketika berusaha menerka-nerka. "Apa dia datang hanya untuk memastikan keberadaanku?"
Senyum penuh kesombongan akhirnya terulas di bibir Lara. "Jangan terkejut dengan apa yang akan kau lihat, Dante. Aku adalah Lara. Aku bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Mungkin kau tak pernah mengira aku bisa pulang dengan gampang, bukan. Sekarang lihat dan terima kekalahanmu."
Lara tersenyum bangga setelah mengibaskan rambutnya. Gadis itu cepat-cepat membersihkan diri dan berkemas dengan rapi. Kesedihannya semalam bahkan telah menguap begitu saja. Seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, ia bahkan begitu percaya diri saat turun ke lantai dasar dan bergabung dengan tiga orang yang sudah lebih dulu di meja makan.
"Mama, Papa, Dante." Lara menyapa dengan ramah. Senyumnya terkembang ceria meski masih terlihat sembab di area mata.
Namun, ia harus menelan rasa kecewa saat tiba-tiba Narendra bangkit dari duduknya.
"Dante, lanjutkan sarapannya, ya. Om harus buru-buru ke kantor. Ada meeting penting yang harus dilakukan pagi ini soalnya."
Dante hanya tersenyum sambil mengangguk. Namun, sebaliknya justru Helena lah yang menyahuti Narendra.
__ADS_1
"Kok buru-buru, sih Sayang? Kan belum sarapan."
Narendra bahkan mengabaikan aksi protes sang istri, apalagi memandang wajah Lara yang bukan putri kandungnya, ia masih enggan. Ia hanya tersenyum pada Dante sebelum benar-benar pergi dari sana.
Meski tak menunjukkannya secara terang-terangan, tetapi Lara tetap merasakan getir oleh perubahan sikap Narendra. Terlebih melihat wajah Helena yang mendadak sendu meski berusaha disembunyikan. Jelas sekali jika pria itu tengah membangun pembatas tak kasat mata untuk mereka. Narendra bersedia duduk di sana hanya untuk menjamu Dante semata, dan bukan benar-benar menjalankan rutinitas mereka. Jika perasaan Narendra baik-baik saja, tentu pria itu tak akan beranjak ketika ia tiba.
Kasihan. Apa kabar dirimu, Lara, Narendra saja bahkan mengabaikan Helena. Ingat, kau hanya anak haram mamamu dengan pria tidak jelas. A-nak ha-ram!
Sungguh, Lara ingin memukul kepalanya sendiri saat bisikan-bisikan itu terus saja menggema di benaknya. Ia membenci semua orang! Mamanya yang telah berbuat dosa! Papanya yang tak mau menerima dirinya apa adanya! Dante yang selalu memihak pada Alisha! Lebih-lebih lagi pada Alisha yang telah merebut semuanya.
Lantas, salahkah jika dia meminta keadilan?
Tak apa. Ini hanya reaksi awal saja. Papamu hanya terpukul oleh pengkhianatan mamamu saja, Lara. Dan bukan membenci dirimu. Nanti, setelah amarahnya mereda, Narendra pasti akan menerima dirimu lagi seperti sedia kala. Percayalah. Lara berusaha menata hatinya dengan mensugesti pikirannya sendiri. Ia yakin semuanya pasti akan baik-baik saja.
"Kenapa? Kaget ya, lihat aku udah pulang dengan keadaan baik-baik saja?" Lara bertanya dengan senyuman bangga ketika ia berjalan bersisian dengan Dante. Keduanya melangkah menuju mobil usai menyelesaikan sarapan lalu pamit pada Helena.
Tak ada salahnya kan dia bohong. Itu penting agar Dante tak bisa lagi meremehkannya. Ia bahkan telah membayar mahal untuk ini.
"Kaget? Gue rasa enggak." Senyuman Dante juga terulas tak kalah sombongnya dari Lara. Ia memperhatikan Lara dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu berdecak pelan.
"Apa yang kau lihat?" ketus Lara.
Tak langsung menjawab pertanyaan Lara, Dante hanya tersenyum sambil membukakan pintu untuk gadis itu. Kebetulan mereka sudah sampai di mobil Dante yang terparkir di pelataran. Akting keduanya benar-benar luar biasa. Sangat alamiah. Sampai-sampai Narendra dan Helena tak menyadari jika Lara dan Dante terlibat satu masalah.
"Masuk," titah Dante.
__ADS_1
Tak berniat melawan, Lara bersikap patuh mengikuti keinginan pemuda itu. Meski dari luar terlihat tenang, tetapi Dalam hati ia sudah tak tahan ingin meneriakkan kemenangan. Jika Dante menginginkan gadis hebat untuk jadi pendamping hidup, maka dirinya lah orang itu.
"Lo kelihatan sangat bahagia pagi ini. Lalu kenapa mata lo terlihat sembap? Apa karena saking bahagianya, sampai-sampai lo nangis semalaman?"
Lara menelan ludah. Sindiran Dante sudah seperti tamparan di pipinya. Namun, ia berusaha tetap tenang dengan menyunggingkan senyuman. Dante tak perlu tahu permasalahan yang sekarang dihadapinya. Masih berstatus anak Narendra saja Dante menolaknya. Lantas apa yang akan terjadi jika Dante tahu dirinya hanya anak haram?
"Kau benar-benar mengerti perasaan wanita, Dante. Tahu betul jika wanita yang terlampau bahagia itu bisa menangis semalam suntuk," jawabnya.
"Oh ya? Hemm, lo benar-benar cewek langka," celetuk Dante.
"Tentu saja," balas Lara dengan bangga. "Jika kau kemari hanya untuk melihat keterpurukanku, lebih baik lupakan. Aku tak selemah yang kau kira. Aku tidak bisa diremehkan."
"Iya. Gue akui, ternyata gue udah salah nilai lo." Perubahan air muka Dante semakin membuat Lara bangga pada dirinya. Bagaimana tidak? Dante yang biasanya selalu dingin itu mendadak berubah hangat. Terlebih tatapannya begitu mendamba dan penuh sesal. Sepertinya keberhasilan Lara kabur dari penculik itu berimbas baik pada pandangan Dante terhadapnya.
"Ternyata lo nggak selemah yang gue kira," lanjut Dante. "Lo cewek yang tangguh, pekerja keras dan tidak mudah menyerah. Kalau boleh gue tau, gimana caranya lo melumpuhkan orang itu?" tanya Dante kemudian, dengan ekspresi penasaran.
"Tentu saja dengan cara melawan dia habis-habisan!" jawab Lara dengan nada tinggi. Namun, ekspresi tak yakin Lara itu justru kembali memunculkan tanya di bibir Dante.
"Melawan habis-habisan?"
"Iya! Tentu saja." Lagi-lagi Lara menjawab dengan nada tinggi.
Dante menyimpul senyum, lalu merogoh ponselnya dari saku celana.
"Apa melawan habis-habisan dengan cara seperti ini yang lo maksudkan?" Dante tersenyum miring sambil menunjukkan layar ponselnya. Dengan spontan Lara melihat itu hingga langsung membelalakkan mata.
__ADS_1