Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Ah, manisnya


__ADS_3

Alisha menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatan dan seketika ia membelalak. Yang membuat dua berandal itu terkapar ternyata hanya sesosok wanita cantik.


Meskipun ia hanya berdiri santai dengan heels lima centi yang menopang tubuh tingginya, tetapi tatapan penuh ancaman masih tertuju pada dua berandal tadi. Rambut panjangnya yang terurai bergerak bebas saat diterpa angin sepoi-sepoi. Dibalik blus polos panjang dibawah lutut yang dia kenakan, perutnya sedikit menonjol ke depan.


Alisha terperangah. Mungkinkah yang menolongnya itu adalah wanita yang tengah berbadan dua? Ia tak bisa membayangkan bagaimana keadaan janin yang ada di dalam sana. Ibunya terlalu aktif untuk ukuran ibu hamil. Ia bahkan melihat sendiri bagaimana wanita itu menghajar dua bandit itu hanya dengan tangan kosong. Ia meninju, menendang, bahkan menggunakan lutut dan sikunya. Dalam waktu yang sekejap, dua berandal itu telah berhasil dilumpuhkan. Benar-benar keren. Alisha langsung dibuat takjub hanya dalam waktu yang singkat.


Dari penampilannya, Alisha bisa memastikan wanita cantik itu bukanlah berasal dari kalangan bawah. Segala yang dikenakan bukanlah barang murahan.


"Ayo bangun! Beraninya hanya menindas kaum lemah!" Wanita itu berucap lantang seperti menantang, lantas dengan santainya membenahi rambut yang sedikit berantakan.


Jangankan berdiri lagi atau bahkan melakukan pembalasan, dua pemuda berandal tadi hanya bisa mengerang sambil memegangi perut mereka. Wajah mereka dipenuhi luka dan lebam. Darah mengalir dari hidung dan sudut bibir. Alisha bahkan memastikan mereka juga patah tulang. Gadis itu hanya bisa meringis ngilu membayangkan penderitaan mereka.


Wanita itu tersenyum puas setelah memastikan lawannya kalah telak. Ia kemudian tersadar ada orang lain yang berada di sana. Ialah korban yang nyaris dilecehkan. Ia menoleh pada sang gadis yang rupanya juga tengah memandanginya seperti terpesona.

__ADS_1


Saat bertemu pandang, wajah sangar wanita itu luruh berganti cemas. Ia buru-buru mendekati Alisha yang masih bergeming di tempatnya. Ia menekuk lutut untuk mensejajarkan diri dengan Alisha yang terduduk di atas rumput.


"Hay. Apa kau terluka?" tanyanya seraya memindai Alisha dengan pandangan. Ia perlu memastikan keadaan gadis itu agar dirinya merasa lega.


"Sa–saya baik-baik saja." Alisha menjawab terbata. Matanya sama sekali tak berkedip saat memandang wanita itu. Sebuah ucapan tulus kemudian terlontar dari bibirnya. "Terima kasih telah sudi menolong saya. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa." Mata Alisha berkaca-kaca.


"Ah, itu hanya hal kecil. Tak perlu dipikirkan, ya. Yang penting kamu selamat." Wanita itu tersenyum seraya mengusap lembut bahu Alisha. Membuat yang diusap makin terharu karenanya.


"Terima kasih," ucap Alisha lagi. Namun, kali ini nadanya kian melemah.


Mendengar pertanyaan itu Alisha sontak membelalak. Ia kemudian menggeleng cepat.


"Tidak. Itu tidak benar," elaknya.

__ADS_1


"Lalu, kenapa kau seperti tadi?" Kini wanita itu mulai mengintrogasi Alisha. Tatapannya lebih tajam bahkan sampai mengedikkan dagunya segala. Ah, diperlakukan layaknya maling yang tertangkap basah membuat Alisha jadi salah tingkah. Padahal tidak seperti itu kenyataannya.


Belum sempat Alisha memberi penjelasan, perhatian mereka kompak teralihkan oleh kemunculan mobil mewah yang lantas berhenti tak jauh dari mereka.


Ekor mata Alisha menangkap perubahan ekspresi di wajah si penolongnya. Wanita itu menyunggingkan senyum kemudian bangkit dan berdiri. Matanya masih menatap ke arah mobil yang mesinnya masih menyala itu seolah-olah menyambut kedatangan penumpangnya.


Benar saja. Sesosok jangkung dengan pakaian mahal menampakkan dirinya setelah pintu belakang terbuka. Alisha bahkan tak sadar jika dagunya sampai merosot saat memandangi makhluk ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna itu.


Seolah-olah tak ada dirinya di sana, pandangan pria dengan stelan jas serba hitam itu hanya terfokus pada wanita penolongnya. Dengan begitu gagahnya ia melangkah, lalu kedua tangan kekar itu merentang demi mendapat sebuah pelukan.


Sial. Alisha hanya menelan ludah sambil buang muka. Ia masih sangat polos. Tak semestinya menyaksikan adegan drama romantis pasangan suami istri di depan mata seperti ini. Sangat tidak sesuai dengan keadaannya yang tengah patah hati. Yang ada sebongkah merah di dadanya kian berdarah-darah karenanya.


Ah, tetapi saat dilihat-lihat lagi, sikap romantis dua orang ini sangatlah manis. Ini adalah contoh pasangan harmonis yang semua orang idam-idamkan.

__ADS_1


Ah, manisnya ....


__ADS_2