
"Memangnya dia siapa berani mengataiku seenaknya! Pacar bukan, orang tua juga bukan! Tapi dia merasa seolah-olah aku ini–"
Alisha terdiam. Gadis itu enggan meneruskan gerutunya. Ia berusaha menahan amarah dengan menggemertakkan gigi dan memejamkan mata. Dibiarkannya air mata yang sejak tadi ia tahan itu menetes membasahi wajah.
Lelah, ia menghempaskan bobot tubuhnya ke sebuah sofa panjang. Entah ini ruangan apa. Yang jelas saat dirinya kabur dari Dante lalu kemudian kehilangan arah, ia menemukan sebuah pintu di lorong tak jauh dari ballroom hotel. Iseng ia membukanya. Rupanya pintu tak terkunci dan ia nekat masuk kemari.
Alisha sendiri masih tak habis pikir, bagaimana bisa Dante kembali menjelma menjadi sosok yang sangat memuakkan bagi dirinya. Iya. Mungkin hanya kepadanya.
Bisa-bisanya Dante berucap ketus dan tak jarang memakinya di depan banyak orang. Ada pihak dua keluarga dan seluruh pihak terkait dalam persiapan acara besok. Namun, anehnya baik orang tuanya maupun orang tua Dante sendiri tak ada yang berniat menegur Dante! Mereka seolah-olah mendukung tindakan Dante yang terkesan merendahkannya.
Alisha tak henti merutuki dirinya sendiri. Lantaran sudah merasa tertekan terus saja Dante pojokkan, ia jadi krisis percaya diri dan kehilangan fokus belajar. Padahal hanya berjalan anggun seperti yang selalu Lisa ajarkan. Dan lagi, entah lenyap ke mana ilmu yang diberikan gadis itu. Alisha merasa jadi bodoh mendadak dan mempermalukan diri sendiri.
Eh tunggu. Bodoh dia bilang?
Bisa-bisanya Alisha mengatakan diri sendiri bodoh. Bukan dirinya yang bodoh! Tapi Dante dan Lara itu yang salah. Iya. Mereka berdua yang salah. Dante yang terus saja memojokkan dia. Juga Lara yang terlalu buruk punya selera.
Hanya untuk pertunangan saja memesan gaun sudah seperti gaun pernikahan. Sangat berat. Juga tidak nyaman. Dan lihatlah sepatunya. Sangat tinggi. Ia bahkan merasa tersiksa menggunakan dua item ini.
Alisha merasa heran dengan selera Lara yang harus terlihat wah dalam hal apa pun juga. Untuk acara pertunangan bukankah lebih pantas mengenakan kebaya? Bukankah zaman sekarang kebaya modern sudah menjamur di mana-mana? Cantik-cantik pula. Lebih anggun. Bahkan tidak merepotkan saat dikenakan.
Entahlah. Namanya juga selera. Setiap orang pasti beda-beda. Makanya ia tak bisa memaksakan sepatu Lara harus cocok dipakai kakinya. Tidak bisa dipaksakan meskipun kaki mereka satu ukuran.
Tengah sibuk perang batin dengan kekesalan, sebuah suara berat terdengar menyebut namanya. Sehingga, mau tak mau Alisha menoleh lalu refleks berdiri saat melihat siapa yang datang.
"Papa?" lirihnya.
"Sayang. Kau sendirian?" tanya Narendra. Sementara Alisha hanya mendengkus lirih. Ada-ada saja papanya itu. Basa-basinya sangat basi. Sudah tahu putrinya sendiri malah menanyakan hal itu lagi.
"Duduklah." Narendra menekan kedua sisi bahu putrinya setelah berjalan mendekat, supaya sang putri tersayang itu duduk kembali ke tempatnya.
Mata Alisha membeliak seketika. Bagaimana tidak? Tanpa ia duga, Narendra bertekuk lutut di bawahnya, lalu tanpa sungkan menarik pelan satu kakinya untuk kemudian melepaskan sepatu hak tinggi yang menyiksanya. Bahkan pria itu juga menghadiahkan pijatan lembut yang membuat kaki pegalnya merasa nyaman.
"Apa ini enak?" tanya Narendra kala putrinya hanya tertegun dengan bola mata melebar.
Alisha sontak mengangguk. "Enak, Pa."
"Kamu juga bisa request. Mau lebih kuat atau lebih pelan."
Alisha pun tersenyum sambil menggeleng pelan. "Tidak. Ini sudah cukup."
"Oke." Narendra mengangguk. Pria itu lantas menunduk dan tetap memijat kaki bagian bawah milik putrinya dengan penuh kesungguhan.
Ah, melihat bagaimana perlakuan manis Narendra membuat kemarahan Alisha menguap begitu saja. Senyum penuh haru akhirnya tersungging kala mata keduanya bersirobok ketika Narendra mengangkat wajahnya.
"Sudah, Pa. Nanti Papa capek."
"Demi anak Papa, Papa nggak akan capek."
"Alisha mohon, sudah."
Oke. Narendra menghentikan pijatannya. Ia lantas bangkit lalu duduk di sisi Alisha sesuai permintaan putrinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya pria itu kemudian. Tentu saja ada gurat kecemasan di wajah pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu.
"Aku tak pernah lebih baik dari ini, Papa."
"Kau benar-benar anak Papa." Narendra mengusap puncak kepala Alisha.
__ADS_1
"Kok Papa tau Alisha di sini?" tanya Alisha setelah beberapa saat terdiam.
"Entah." Narendra mengedikkan bahunya. "Mungkin naluri seorang papa," lanjutnya dengan senyuman jail.
"Ish."
"Papa kehilangan anak. Tentu saja Papa mencarinya sampai dapat."
Alisha memanyunkan bibir. Kenapa bukan Dante saja yang mencarinya? Kenapa malah papanya? Jelas-jelas pemuda itu yang membuatnya kabur, malah suruh orang lain untuk membuatnya balik lagi.
"Alisha," panggil Narendra hati-hati, yang seketika menarik atensi Alisha yang tengah tertunduk murung.
"Iya, Pa."
"Kau sudah besar, rupanya. Ibumu merawatmu dengan sangat baik. Padahal baru sedetik Papa merawat kamu, dan sepertinya mulai sekarang sudah harus bersiap-siap lagi kehilangan kamu."
"Maksudnya?" tanya Alisha tidak paham. Gadis itu menatap lekat sang papa sambil menautkan kedua alisnya.
"Kau sudah gadis, Sayang. Pikiranmu juga sudah dewasa. Sudah menjadi hal pasti jika gadis secantik kamu menjadi incaran banyak pria di luar sana. Mereka pasti berebut mendapatkan perhatianmu. Dan kau tau? Itu benar-benar membuat Papa merasa cemburu."
"Jangan bilang gitu, Papa." Tanpa dikomando Alisha merangkul lengan kokoh papanya. "Bagaimanapun juga Papa adalah cinta pertamaku. Tidak ada laki-laki manapun yang bisa membuatku merasa nyaman seperti aku berada di samping Papa seperti sekarang."
"Papa sangat sayang sama Alisha. Maaf, karena Papa terlalu lama menelantarkanmu, Sayang," ucap Narendra penuh sesal yang langsung mendapat bantahan dari Alisha.
"Bukan salah Papa. Ini semua sudah takdir. Mungkin dengan begini Alisha bisa lebih mensyukuri segala nikmat yang telah Tuhan beri."
"Kau sangat dewasa, Sayang. Tapi bagi Papa, dewasa apa pun pikiran kamu, Alisha tetap putri kecil Papa."
Alisha tersenyum, Narendra juga tersenyum. Gadis itu kembali merangkul manja lengan papanya.
"Sudah lebih baikan, sekarang?"
"Kalau begitu kita pulang."
"Pulang?" ulang Alisha tidak paham. Ia menolak saat Narendra mengajaknya bangkit. "Bagaimana dengan gladi resiknya, Pa."
"Sudah cukup untuk hari ini. Kau kelihatan sangat lelah."
"Benar tidak apa?"
"Tentu saja."
Alisha tersenyum senang. Dengan bahagia ia menelusupkan tangan ke lengan kiri Narendra yang sengaja dibuka. Keduanya lantas melangkah keluar bersama-sama.
Alisha tersenyum semringah. Ia tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Ia tahu, menggantungkan asa pada manusia tak sebaik menggantungkan asa pada Sang Pencipta. Namun, bagaimanapun juga seorang ayah takkan pernah mengecewakan putri mereka.
***
Malam itu Alisha bisa tidur dengan sangat nyenyak. Pasalnya setelah pulang dari hotel tadi, ia dimanjakan oleh berbagai macam treatment perawatan kecantikan yang Narendra datangkan langsung ke rumah mereka. Kata Narendra, itu untuk mengobati rasa lelah Alisha.
Jelas saja gadis itu merasa senang, seluruh bagian tubuhnya tak ada yang terlewat dari perawatan. Alisha juga belum bertemu dengan Lara semenjak dirinya tiba di rumah. Namun, dari informasi salah satu maid yang mendampinginya ketika perawatan, Lara juga pergi ke salon ternama untuk melakukan perawatan tubuhnya. Ah, Alisha sudah bisa menebak. Sudah barang pasti Lara akan menghabiskan waktu seharian di sana.
"Al. Yuhuuu. Bangun, dong."
Seperti belum lama tidur, Alisha merasakan ada seseorang mengguncang tubuhnya. Gadis itu melenguh pelan sambil menggeliat. Hendak membuka mata tapi masih terasa berat.
"Aaal. Bangun, dong."
__ADS_1
Alisha merasakan guncangan lagi. Kali ini lebih kuat. Dan suara yang mirip Lara itu terasa dekat di telinganya.
Benar saja. Saat dirinya membuka mata, wajah sang saudari itu berada tepat di depan wajahnya. Sambil nyengir pula.
"Lara? Ngapain kamu bangunin aku?" Alisha akhirnya mengumpulkan tenaga untuk bertanya. Jujur, nyawanya seperti belum terkumpul semua. Entah bertebaran di mana saja mereka.
"Ya karena memang sudah waktunya bangun, lah!"
Alisha mengerutkan kening. Dilihatnya jam kecil yang terletak di atas nakas dengan mata memicing. Jarum jam menunjuk angka lima.
"Tumben kamu jam lima sudah bangun? Jangan-jangan semalam nggak tidur, ya!" tudingnya tepat ke depan hidung Lara.
"Ih, apaan. Aku tidur, kok."
"Beneran? Tumben bisa bangun pagi."
"Bisa, lah. Kan aku pasang alarm banyak banget, hehehe."
Alisha mendengkus lirih. Meski sedikit malas tapi ia tetap bangun untuk duduk. "Semalam kamu pulang jam berapa?" tanyanya sambil membenahi kuncir rambut yang berantakan.
"Jam sepuluh."
"Masa?" Alisha mengernyitkan dahi. Bukankah jam sepuluh malam ia masih menjalani serangkaian perawatan di kamar. Masa iya Lara datang ia tidak melihat. Alisha sudah hendak bertanya lagi, tetapi Lara sudah lebih dulu menginterupsinya dengan sebuah perintah.
"Buruan mandi, Alisha. Entar kita terlambat siap-siapnya! Nanti kamu jadi dampingi aku, kan?"
"Iya, iya. Jadi." Alisha gegas berlari ke kamar mandi di kamarnya. Tentu saja diiringi tawa renyah Lara.
Usai sarapan Lara meminta Alisha mengantarnya mampir ke suatu tempat sebelum benar-benar pergi ke hotel. Alisha hanya bisa membatin dalam hati melihat bagaimana antusiasnya Lara. Padahal acara baru dilaksanakan nanti malam, tetapi gadis itu sudah terlihat sangat sibuk sejak pagi buta. Padahal segala keperluan sudah diurus orang suruhan.
"Kita mau ke mana?" tanya Alisha sesaat setelah mobil yang membawa mereka melaju dengan kecepatan sedang.
"Ke salon dulu sebentar," jawab Lara.
"Masih nyalon lagi?" Mata Alisha membeliak saking herannya.
"Bentar doang, Alisha. Masih ada treatment yang ketinggalan," terang Lara.
"Alisha memilih diam. Gadis itu menyandarkan punggung pada sandaran di belakangnya.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang membawa mereka berhenti di suatu tempat. Rupanya Lara benar-benar membawa Alisha ke sebuah salon kecantikan ternama. Gadis itu hanya patuh mengikuti keinginan Lara.
"Kenapa harus aku juga sih, Ra. Kamu aja ah, aku nggak usah." Alisha menolak mentah-mentah saat Lara mengajaknya memakai kuku palsu. Bukannya tidak suka, hanya saja Alisha tak terbiasa. Bagaimana ia takkan suka jika yang dipilih Lara adalah kuku dengan desain motif yang sangat cantik. Lara memilihkan untuknya kuku palsu berwarna putih yang ditambahkan hiasan permata imitasi. Sangat indah dan berkilau.
"Jangan nolak! Pokoknya harus mau!" tegas Lara.
Jika sudah begini, Alisha bisa apa? Mau tak mau ia mengiyakan saja. Toh dirinya sejujurnya suka. Warna kuku itu juga senada dengan pakaian yang akan dikenakannya.
Selesai dengan urusan kuku cantik mereka, Lara lantas mengajak Alisha pergi ke hotel. Kali ini benar-benar pergi ke hotel tempat acara lamaran akan digelar. Narendra, Helena dan keluarga besar yang tampaknya sudah menunggu, terlihat menyambut kedatangan keduanya dengan senyuman. Helena langsung mengajak Lara ke ruangan make-up untuk mempersiapkan diri, sementara Alisha memilih duduk santai di sebuah sofa. Gadis itu tampak termenung memikirkan sesuatu hal.
Ada hal kecil yang mendadak mengganggu pikirannya. Apa lagi jika bukan Dante. Tepat ketika dirinya dan Lara melakukan perawatan kuku di salon tadi, Lara mendadak histeris saat sebuah panggilan video masuk ke ponselnya.
"Dari Dante, Alisha. Ini dari Dante!" Lara menunjukkan ponselnya yang menampilkan foto profil pemuda itu di sana. "Akhirnya, dia luluh juga sama aku." Sambil tersenyum bahagia, Lara mendekap kecil ponselnya ke dada.
"Ya buruan angkat, Lara. Percuma juga kamu peluk-peluk gitu! Keburu panggilannya mati entar baru nyesel!" ketus Alisha. Gadis itu lantas menyadari sikapnya yang berlebihan. Kenapa ia merasa tak suka Dante menghubungi Lara? Apa ini yang namanya cemburu buta?
Ah, jika benar demikian maka dirinya benar-benar buta. Masa iya cemburu pada tunangan saudari sendiri? Beruntung, Lara tidak menyadari itu dan malah terlihat bahagia saat mengobrol dengan Dante.
__ADS_1
Kenapa malah Alisha yang merasa panas melihat kemesraan mereka berdua, ya?