Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Dasar rakus


__ADS_3

Dante pergi ke rumah Narendra dengan penuh semangat pagi itu. Bukan untuk menjemput Lara seperti biasanya, melainkan untuk bertemu Alisha dan mengungkapkan perasaannya.


Bicara berdua dengan Alisha adalah tujuan utama. Gadis itu harus tahu perasaannya dan mau menerima lamarannya. Untuk urusan Om Narendra, Tante Helena dan juga Lara, ia akan menyusul bicara dibantu oleh sang mama. Toh mamanya sudah berjanji akan membantunya. Walaupun hal itu belum mendapat persetujuan dari papanya sebab mereka belum bicara. Dan Robby sendiri sementara ini belum mengetahui rencana itu.


Namun, ada sesuatu hal yang membuat Dante kecewa. Begitu sampai di kediaman Narendra, sebuah mobil mewah sudah lebih dulu datang dan parkir cantik di pelataran. Ia hapal betul itu mobil siapa. Namun, untuk apa dia datang kemari sepagi ini?


Dante masih tertegun di belakang kemudi mobilnya. Mesin mobil sudah dimatikan, tetapi ia belum beranjak dari sana. Hingga, dua orang yang ia kenal tampak keluar dari rumah dan berjalan beriringan.


Tak ingin membuang waktu, ia segera turun dan kemudian menghampiri mereka. Alisha seperti terkejut saat dirinya menyerukan nama gadis itu. Hingga keduanya sama-sama berhenti ketika Dante berhenti tepat di hadapan.


"Al, bisa berangkat bareng nggak? Ada yang mau aku omongin sama kamu."


"Hah?" Bibir Alisha sedikit ternganga seolah-olah tak percaya. Bahkan gadis itu masih bengong ketika Dante sudah meraih jemarinya. Dan ketika tersadar, buru-buru Alisha menariknya hingga terlepas.


"Apaan sih pegang-pegang!"


"Al, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Bisa nggak kita berangkat bareng?"


"Ya nggak bisa lah. Kamu nggak lihat kalau Marcel udah jemput aku!"


"Marcel urusan gampang. Yang penting kamu sama aku sekarang."


Mata Marcel membulat saat namanya Dante sebutkan. Ia sengaja diam untuk memberikan Dante kesempatan bicara, tetapi sepupunya itu malah seolah-olah meremehkannya. Terang saja ia tak terima. Puncaknya saat Dante memaksa hendak menarik tangan Alisha. Mungkin ingin memaksa gadis itu memasuki mobilnya. Alisha dengan cepat memeluk lengannya seperti meminta perlindungan. Sebagai pria sejati tentu saja ia maju pasang badan.


"Hey, sama cewek jangan maksa. Kalau dia nggak mau ya biarin aja!" geramnya memperingatkan.


Namun, Dante sepertinya tak memedulikan dengan masih tetap berusaha membujuk Alisha.


"Woy, tunangan lo ada di dalam! Ngapain masih ngurusin cewek orang, hah!" hardik Marcel lagi. Dan kali ini sepertinya ampuh menghentikan Dante. Pemuda itu tertegun sejenak lalu menatap dirinya seperti tak percaya.


"Maksud lo apa?"


"Iya. Alisha sekarang jadi cewek gue. Kenapa? Emangnya masalah?" Marcel mengedikkan dagunya seperti menantang.


Kali ini gantian Dante yang dibuat geram. "Terang aja ini masalah. Laudya lo anggap apa, hah!" bentaknya.


Marcel memilih tak menjawab pertanyaan Dante. Ia melirik Alisha yang semakin merasa tak nyaman lalu buru-buru menarik gadis itu untuk pergi.

__ADS_1


Dante masih berupaya menahan, tetapi Lara muncul di saat bersamaan. Selamat. Kini Dante disibukkan dengan sifat agresif Lara dan harus menjawab beberapa pertanyaan tidak pentingnya. Marcel dan Alisha akhirnya bisa leluasa pergi dari sana.


***


Sial. Dante merasa terjebak hingga tak bisa mengejar Alisha. Lara benar-benar gadis tak tahu diri. Sudah tahu dirinya benci tapi masih saja berusaha mendekati. Kali ini gadis itu berhasil membuatnya mau mengantar kuliah. Padahal niatnya tadi datang hanya untuk bertemu dengan Alisha.


Sepanjang perjalanan ke kampus, Dante hanya diam selagi menyetir mobilnya. Tak ia dengarkan pula ocehan Lara yang membicarakan apa saja. Gadis itu sangat cerewet hingga apa saja menjadi bahan omongan.


Namun, bagi Dante itu hanyalah angin lalu sebab pikirannya hanya terfokus pada Alisha. Pikirannya sedang fokus mencari cara untuk meyakinkan Alisha. Ia seperti terdesak, mengingat waktu pertunangan yang semakin dekat.


Kata orang, bahagia itu kita sendiri yang ciptakan. Untuk itulah Dante ingin menentukan masa depannya sendiri. Menentukan dengan siapa masa lajang itu akan diakhiri.


Meneruskan hubungan dengan Lara?


Ia tak yakin bisa.


Mana mungkin kelak mereka akan bahagia sedangkan ia tak mencintai Lara. Sebuah pernikahan harus berjalan hanya bila kedua belah pihak sama-sama cinta, bukan cinta sepihak saja. Karena ini terlalu memaksakan. Ia hanya perlu sedikit waktu untuk membenahi semuanya. Ia sudah memiliki titik cerah untuk memberi Lara pelajaran. Ia hanya perlu berjalan satu langkah lagi, yaitu meyakinkan Alisha.


Saat sudah berada di kampus pun Dante belum bertemu Alisha hingga matahari berada di atas kepala. Ke mana gadis itu perginya. Meskipun mereka kuliah mengambil jurusan yang berbeda, tetapi keduanya sering bertemu entah itu disengaja ataupun tidak.


Lagi-lagi Lara sudah berdiri di samping pintu ketika kelasnya berakhir. Selalu saja gadis itu menunggu. Dante hanya memutar bola mata malas lantas berlalu begitu saja. Sementara Lara yang tak tahu diri itu bergegas menyusul dan merangkul lengan si pemuda. Entah supaya apa. Yang jelas itu membuat Dante semakin risih saja.


Api semangatnya kembali berkobar sesaat kemudian. Rupanya matanya tidak salah lihat. Di ujung sana, ada Alisha sedang berjalan. Sayangnya gadis itu tak sendirian. Ada Marcel di sampingnya. Jadi benar, kalau keduanya sudah jadian?


Tak ingin membuang kesempatan lagi, Dante pun segera berlari. Ia abaikan Lara yang kebingungan. Tak dipedulikan pula suara Lara yang berseru memanggilnya. Yang ia inginkan hanyalah Alisha.


Alisha dan Marcel berencana pergi ke kantin setelah kelas usai. Dalam perjalanan mereka ngobrol ringan seputar pelajaran. Ketika itu tiba-tiba ponsel Marcel berdering dan pemuda itu memberikan kode untuk menerima panggilan.


Alisha mengangguk dan membiarkan Marcel berbicara dengan entah siapa di ujung sana. Ia juga mengeluarkan ponselnya selagi menunggu Marcel selesai.


Namun, ada sesuatu hal di luar dugaan yang kemudian terjadi. Samar-samar ia mendengar derap langkah yang mendekat dari arah belakang. Dirinya yang tak begitu peduli, dibuat terkejut oleh tarikan pada pergelangan tangan kirinya hingga refleks menoleh.


Lagi-lagi, ia terperangah tak percaya.


Dante lagi?


Pemuda itu kini menatapnya dengan napas memburu. Mungkin karena baru lari untuk mengejarnya.

__ADS_1


"Al."


"Apa lagi sih Dante?" Alisha mengembuskan napas kasar.


"Aku mau bicara."


"Nggak ada yang perlu dibicarakan."


"Ini penting untuk masa depan kita!"


Sebenarnya Alisha hendak menyahuti Dante. Namun, melihat sosok yang tengah berdiri di belakang Dante dengan tatapan tajam yang tertuju ke arahnya, ia pun mengurungkan niat dan memutuskan untuk pergi dari sana.


Sialnya, genggaman tangan Dante terlalu kuat pada pergelangannya, sehingga ia harus berusaha keras agar bisa melepaskan diri.


"Lepas!"


"Enggak!" Dante bersikeras. Membuat Alisha merasa frustasi.


Demi apa pun, ia tak ingin Lara salah paham untuk kesekian kalinya. Ia sudah berusaha menjauhi Dante sebisanya, tetapi pemuda itu malah memperburuk keadaan dengan terus saja mengejar dia. Entah kali ini Dante tahu atau tidak jika kelakuannya berada dalam pengawasan Lara.


Kumohon Dante ... mengertilah ....


Dalam keputusasaan, tiba-tiba sebuah ide gila muncul di benak Alisha.


"Dante lepas!" bentaknya keras. Ia bisa melihat keterkejutan di wajah Dante dengan jelas. "Jangan maksa-maksa aku buat nyampein cinta kamu ke Lara! Apa susahnya bilang sendiri, sih! Jadi cowok itu yang cekatan dong, jangan cuma diam berpangku tangan!"


Jelas Dante terperangah. Ia tak mengerti kenapa Alisha bicara demikian. Saking bingungnya bahkan tanpa sadar ia mengendurkan pegangan, sehingga gadis itu terlepas dari tangan.


Sial. Sekarang Alisha kabur dan memilih lari dari dirinya. Dante mengusap wajahnya kasar. Ia menatap kepergian Alisha dengan gusar tanpa bisa berbuat apa-apa. Ternyata sebegitu susahnya meyakinkan orang yang kita cinta.


Dante yang tengah berkacak pinggang langsung menoleh ke kanan ketika merasakan sebuah sentuhan. Setelah melihat siapa di sana ia langsung membuang muka sambil mendengkus kasar. Namun, gadis tak tahu diri itu malah tersenyum manis sambil merangkul lengan kanannya.


"Sayang ... aku tau kok, kamu cinta aku. Dan aku juga cinta kamu." Lalu tanpa sungkan Lara menyandarkan kepalanya di pundak Dante. Sementara Dante sendiri tak bisa berbuat banyak lantaran tiba-tiba merasakan pusing kepala. Pusing, karena melihat Lara.


Sementara itu jauh di ujung sana, Alisha yang berhenti di bawah sebuah pohon memutuskan memperhatikan Dante dari kejauhan. Ia melihat bagaimana Lara merangkul lengan pemuda itu, tetapi Dante tak melakukan apa-apa untuk menolaknya. Seketika hatinya dihantam rasa kecewa yang hebat.


Sebenarnya mau Dante itu apa? Bisa tidak sih, pergi jauh dan jangan ciptakan kekacauan? Ia sudah cukup terluka dengan semua ini, jadi tolong jangan ditambah lagi.

__ADS_1


Bisa-bisanya Dante mengungkapkan cinta sedang pemuda itu masih bersama Lara. Maksudnya apa coba? Ingin memiliki keduanya kah?


Dasar rakus!


__ADS_2