Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Calon besan Papa


__ADS_3

Dante mengendarai mobilnya dengan wajah gusar. Setibanya di rumah, ternyata orang tuanya sudah menyambut dengan senyuman. Ia mendengkus lirih. Karena dipanggil, mau tak mau berjalan menghampiri mereka meski dengan langkah malas.


"Anak papa hebat. Akhirnya berani menunjukkan kedewasaan dengan memutuskan untuk berkomitmen." Robby memujinya, bahkan sebelum Dante benar-benar berdiri di depannya.


Mendengar pujian Robby, Dante hanya bisa mendecih lirih. Berkomitmen apaan! Orang gue ditodong, juga!


"Pa–" ragu, Dante menggantung ucapannya. Robby yang melihat ekspresi mendung di wajah putranya, mengerutkan kening lalu mengedikkan dagu sebagai ganti kata tanya. "Bisa nggak, tunangannya ditunda dulu?"


"Apa?" Robby dan Niken terkejut bersamaan. "Bukankah kamu baru saja memutuskan? Lalu kenapa tiba-tiba minta ditunda? Why (mengapa)?"


"Dante ... Dante hanya belum siap." Dante menunduk sambil buang pandangan. Tidak siap melihat reaksi marah orang tuanya.


Robby dan Niken saling pandang, lalu menggeleng tak habis pikir bersamaan. Bisa-bisanya Dante minta pertunangannya ditunda, sedangkan baru beberapa waktu yang lalu keputusan itu dibuat.


"Sayang ...." Niken maju selangkah, mengusap pelan punggung putranya dan berucap lembut. "Pertunangan itu bukan acar main-mainan yang bisa maju mundur begitu saja. Ini menyangkut penyatuan dua keluarga besar. Kita nggak bisa sembarangan! Lagian, kamu juga kenapa sih tiba-tiba jadi plin-plan?"


"Dante belum siap, Ma."


"Kalau belum siap kenapa tadi setuju acara dipercepat!" sahut Niken dengan nada tinggi, agak kesal. Ekspresi lembut di wajahnya tadi sedikit berubah geram.

__ADS_1


"Waktu ngobrol sama Om Narendra tadi Dante kurang fokus, Ma. Dante mengiyakan gitu aja omongan mereka." Dante meraih lengan Niken dan menatap wanita itu penuh permohonan. Tangannya juga mengguncang lengan Niken dan berucap penuh harap. "Bantu Dante, Ma. Plis, bantu Dante."


Tak bisa menjawab apa-apa, Niken dan Robby hanya bisa saling pandang dengan heran.


***


Wajah Lara terlihat tegang kala sebuah pesan masuk ke ponselnya. Sebuah foto yang dikirimkan seseorang itu sukses mengubah moodnya dalam waktu satu detik saja. Perasaan berbunga-bunga menyambut hari pertunangan itu sirna berganti kekhawatiran.


Ia segera meraih tas jinjing di atas nakas dan berjalan tergesa keluar kamar. Tepat sekali, Narendra yang berada di lantai dasar sudah menyambutnya seolah sedari tadi menanti.


"Sayang, kebetulan banget kamu turun. Baru aja Papa mau ke atas panggil kamu. Yuk, ikut Papa antar kue ini ke–" Narendra menggantung ucapannya dan memperhatikan Lara dengan seksama. "Loh, ini kamu mau ke mana? Kok kayaknya buru-buru banget?" tanyanya kemudian, karena melihat wajah Lara yang tegang.


"Lara mau keluar sebentar ya, Pa. Maaf, Lara nggak bisa ikut." Mengabaikan wajah heran papanya, ia berlalu begitu saja.


"Ajak Alisha aja ya, Pa. Plis." Kebetulan saat itu Alisha muncul di antara mereka. Tak paham akan maksud perkataan Lara, ia menatap papa dan saudari tirinya dengan ekspresi bingung. Lara tak mempedulikan itu. Ia berbalik badan sejenak, menatap Narendra sambil menangkubkan tangannya di depan dada dengan penuh harap.


Narendra menghela napas. Melihat situasi putrinya yang sepertinya sangat darurat, ia akhirnya mengangguk mengiyakan. "Ya udah. Hati-hati ya."


"Pasti, Pa."

__ADS_1


Narendra membiarkan Lara pergi dengan langkah setengah berlari. Meski sejujurnya ia penasaran dengan keadaan darurat yang memaksa Lara harus pergi sekarang, tetapi Narendra memilih menahan diri dan memberikan kepercayaan kepada putrinya. Memandang kotak kue dengan brand mahal di tangan kanan, ia mengedikkan bahunya.


Itu adalah kue mahal yang sengaja dipesan Helena dari luar negeri khusus untuk buah tangan orang yang spesial. Sayangnya wanita itu tengah sibuk dengan rutinitasnya, sehingga meminta Narendra bersama Lara untuk mengantarkannya ke rumah sang penerima. Dan sayangnya lagi, Lara justru tidak memungkinkan untuk ikut bersamanya.


Menatap Alisha dengan seulas senyum lembut, Narendra lantas bertanya. "Alisha, dengar sendiri kata Lara tadi? Alisha mau temenin Papa antarkan kue ini, kan?"


Gadis itu menyunggingkan senyum dan mengangguk patuh. "Mau, Pa."


"Bagus, anak papa. Kamu sedang tidak ada kesibukan?"


"Emm." Alisha menggeleng cepat. Meski seharusnya hari ini ia harus menyelesaikan tugas yang menumpuk, tetapi memilih menemani papanya tersayang. Toh ia bisa mengerjakannya setelah pulang nanti.


"Kalau gitu sekarang kita berangkat. Keburu kesorean."


Ayah dan anak itu sepakat bertolak saat itu juga. Alisha mengambil alih kue di tangan Narendra untuk ia bawa. Bahkan saat sudah masuk mobil, ia memangkunya dengan sepenuh hati. Mobil mulai dijalankan oleh seorang sopir pribadi kepercayaan Narendra. Karena tak ada bahan pembicaraan, Alisha memutuskan bertanya akan kemana sang papa mengajaknya untuk memulai perbincangan.


Namun, sayangnya jawaban Narendra kemudian sukses membuat gadis itu membelalak.


"Ke rumah calon besan Papa, Sayang. Ke rumah Dante."

__ADS_1


Glek.


Meski itu diucapkan Narendra dengan nada ramah, tetapi sukses membuatnya menelan ludah dengan susah payah.


__ADS_2