
"Tolooong! Tolong saya!" Alisha berteriak sambil memukul-mukul kaca mobil di sisi kirinya, tetapi itu percuma. Tidak ada yang melihat dan mendengarnya. Mobil sudah melaju kencang. Si penculik sepertinya menguasai keadaan rumah Narendra sehingga mengetahui sudut mana yang tak terpantau oleh penjaga.
Alisha mendesah putus asa. Ia menoleh ke belakang berniat untuk mengiba pada penculiknya. Akan tetapi, sesuatu hal terjadi di luar dugaannya. Ternyata si penculik sudah membuka penutup wajah, dan itu membuatnya membelalakan mata saking terkejutnya.
"Dante!" serunya nyaris tak percaya. Sementara si pemuda justru hanya menjawab dengan datar dan santainya.
"Ya."
Benar-benar membagongkan. Alisha masih menatap Dante dengan penasaran, tetapi kali ini dengan perasaan yang lebih tenang dari sebelumnya.
Entah mengapa, hanya dengan melihat wajah Dante saja membuat rasa panik yang sempat dirasakan kini sudah menguap dan hilang entah ke mana. Setidaknya Dante adalah orang yang dikenalnya dengan baik. Bukan penculik ulung yang mengincar sejumlah uang sebagai tebusan seperti yang sempat ia pikirkan.
Sayangnya Alisha tak tahu jika penculik bernama Dante ini lebih berbahaya dibandingkan penculik sungguhan. Sebab ia bukanlah mengincar uang sebagai tebusan, melainkan sesuatu yang sangat berharga lainnya.
"Maksud kamu apa bawa-bawa aku dengan paksa seperti ini! Ini sudah termasuk kasus penculikan tau nggak! Kamu bisa dipidana!" Tanpa mengalihkan pandangan pada Dante Alisha mengomel-ngomel.
Namun, apa yang pemuda itu lakukan? Dante justru tak menanggapi Alisha. Ia memutar musik santai sambil ikut bersenandung dan sesekali menggoyangkan kepalanya dengan gaya cool.
Alisha menggeram sambil mengepalkan tangan. Bisa-bisanya Dante menganggap dirinya tak ada.
"Aku bakalan telpon polisi sekarang juga! Biar kamu ditangkap dan dipenjara!" ancam Alisha lagi. Namun, lagi-lagi Dante menanggapinya dengan santai.
"Telepon aja. Nggak bakalan juga ada orang yang percaya."
Alisha mendengkus kesal. Tapi apa yang dikatakan Dante memang benar. Dante baru beberapa menit membawanya. Sedangkan polisi baru bertindak setelah seseorang menghilang lebih dari 24 jam. Itu juga bila benar-benar dirinya adalah korban penculikan. Sedangkan sekarang, entah Dante akan membawanya ke mana.
Eh tunggu. Bagaimana jika ternyata ini adalah kejutan? Alisha, Alisha. Dalam keadaan seperti itu saja dia masih mengira-ngira. Masih berusaha berbaik sangka.
Oh iya, kenapa nggak tanya ke Dante langsung aja?
"Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya gadis itu seketika. Namun, kali ini dengan nada yang lebih pelan.
__ADS_1
"Rahasia." Lagi-lagi Dante memberi jawaban yang tak sesuai dengan harapannya.
Dasar. Menyebalkan.
Mendengkus lirih, Alisha menyandarkan punggungnya ke belakang lalu kemudian bersedekap dada. Ia memilih menatap keluar jendela dari pada menatap Dante yang tak jelas arah pikirannya.
Saat itu juga ia merasa bodoh. Mau-mau saja diajak orang gila seperti Dante. Padahal jika ia berusaha lebih maksimal, ia bisa saja lepas dari pemuda itu. Dengan berteriak minta tolong pada orang misalnya. Atau mungkin memaksa lompat keluar.
Oh tidak-tidak. Melompat keluar dengan kecepatan berkendara Dante yang seperti roller coaster ini sepertinya bukan keputusan tepat. Itu sama saja dengan dirinya mengantarkan nyawa. Kalaupun tidak sampai mati mungkin paling tidak ia mengalami luka parah dan patah tulang. Astaga. Membayangkan saja sudah membuatnya ngeri sendiri.
Ketika Alisha memejamkan mata sembari bergidik, rupanya diam-diam Dante memperhatikannya. Pemuda itu nyaris tersedak ludahnya sendiri lantaran menahan tawa. Sebetulnya ia merasa kasihan. Tapi mau bagaimana lagi. Gadis ini harus diberi pelajaran biar tahu diri.
Alisha berjingkat saat mobil tiba-tiba berbelok ke suatu tempat. Masih di tengah kota juga, tetapi jarak yang mereka tempuh sudah sangat jauh dari kediaman orang tuanya.
Ini di mana? Alisha membetulkan posisi duduknya sambil memperhatikan sekitar. Di depan sana ada bangunan berlantai dua. Sekelilingnya berpagar tembok dan memiliki gerbang kokoh yang otomatis terbuka sendiri ketika mobil mendekat. Ia masih tertegun di tempatnya hingga pintu di sisi kiri dibuka dari luar.
"Buruan keluar!" titah Dante.
"Gak perlu tau. Buruan turun!"
"Nggak mau!"
"Lo mau gue paksa!" ancam Dante. Kemudian ia melanjutkan kata bernada sindiran. "Sama gue, aja, maunya dipaksa. Giliran sama Marcel mau aja suka rela."
"Maksudnya apa bawa-bawa Marcel!" Kali ini suara Alisha terdengar marah. Ia buru-buru turun dari mobil lalu menatap Dante seperti menantang. "Maksudnya apa bawa-bawa Marcel!" ulangnya lagi dengan geram.
"Kenapa? Nggak terima?"
"Jelas, lah! Marcel itu teman baik aku! Sepupu kamu juga, kan!"
"Sepupu makan sepupu, lebih tepatnya." Dante menjawab santai tetapi dengan maksud yang tersirat. Ia menutup pintu mobil di belakang Alisha, lalu menguncinya.
__ADS_1
Sementara Alisha masih sibuk mencerna apa maksud perkataan Dante, tiba-tiba jemari Dante sudah memegangi pergelangan tangannya dan memberikan sebuah tarikan. Ia terkejut, lalu menatap tangannya sendiri dan wajah Dante secara bergantian lalu kemudian bertanya heran.
"Apaan sih pegang-pegang!"
"Buruan masuk."
"Enggak!"
Tak mempedulikan penolakan Alisha, Dante menarik gadis itu mendekati teras. Mobil Dante sendiri hanya terparkir di pelataran.
Tak ada gunanya memberontak. Sembari mengikuti langkah kaki Dante, Alisha memperhatikan keadaan sekitar.
Rumah ini sangat mewah meski hanya berlantai dua dan hanya berukuran sedang. Tapi yang jadi pertanyaan, ini rumah siapa? Untuk apa Dante membawanya kemari? Saat mereka masuk pintu depan juga tidak dalam keadaan terkunci. Bisa jadi ada penghuni lain di rumah ini.
Dante mulai membawa Alisha meniti anak tangga. Sampai di lantai dua pemuda itu menarik Alisha menuju ke sebuah pintu lalu membukanya dengan kasar. Alangkah terkejutnya Alisha saat mengetahui ruangan itu ternyata adalah kamar.
"Apa-apaan sih Dante! Ngapain bawa-bawa aku ke–"
"Masuk!" potong Dante. Lantaran Alisha tak mau patuh ia terpaksa mendorong gadis itu untuk masuk.
Alisha sempat berpikir jika Dante akan mengurungnya sendiri di sana, tetapi ternyata salah. Dante justru ikut masuk bahkan mengunci pintunya dari dalam.
Seketika itu juga kepanikan Alisha langsung menjalar. Tubuhnya bergetar hebat antara takut dan tak percaya. Benarkah ini Dante yang dikenalnya?
Dalam keadaan seperti itu Alisha masih berpikir untuk kabur. Ia melirik ke arah pintu, dilihatnya kunci masih tergantung di sana. Seketika itu ia melesat, berharap dapat mencapai pintu dan membuka kuncinya lalu kemudian lari.
Namun, yang terjadi justru tubuhnya terperangkap lagi. Dante dengan sigap menahannya.
"Lepas, Dante! Aku mohon lepas!" Suara Alisha terdengar bergetar meski berteriak. Air mata bahkan sudah membanjir di wajahnya.
Bagaimana mungkin ia tidak ketakutan jika Dante yang ia kenal menjadi sosok yang berbeda. Pemuda itu sangat kuat. Matanya berkabut nafsu dan kini malah mendominasi dirinya.
__ADS_1
Entah apa yang Dante konsumsi sehingga menjelma menjadi seperti harimau lapar. Alisha merasa dirinya hanya seonggok daging yang kapan saja bisa diterkam.