
"Kalau aku bilang nggak mau ya nggak mau! Jangan dipaksa!"
"Tapi, Nona–"
Prang!
Suara kaca pecah kemudian menyusul terdengar dari sebuah ruang kamar. Narendra yang kebetulan mendengar itu langsung berlari ke sumber suara. Pintu yang memang terbuka sempurna menyuguhkan pemandangan kamar yang kacau. Makanan berserakan di lantai dan beling dari pecahan piring berhamburan. Dengan hanya melihat sekilas saja ia langsung memahami gerangan apa yang barusan terjadi.
Terlihat seorang maid muda tengah berjongkok seraya memunguti beling. Menyadari kedatangan Narendra ia pun langsung menunduk takut.
"Maafkan saya, Tuan. Ini murni salah saya karena tidak becus melayani Nona."
Narendra menghela napas. "Cepat bereskan semuanya sebelum ada yang terluka," titahnya kemudian. Tak ada kemarahan pada nada bicara hingga membuat maid itu bernapas lega. Wanita itu mengangguk patuh, lalu melanjutkan pekerjaan.
Narendra masih bergeming di tempatnya, seolah-olah memberi waktu dan ruang bagi maid itu untuk membereskan kekacauan. Ia mengalihkan pandangan pada sosok kurus berbalut piyama yang duduk di atas ranjang, kemudian mendesah pelan. Gadis yang ia tatap justru menunjukkan sikap tidak senangnya dengan membuang muka dari sang papa. Dengkusan lirih bahkan melesat dari bibir mungilnya.
__ADS_1
"Kembalilah dengan makanan yang baru," titah Narendra ketika sang pelayan hendak beranjak meninggalkan kamar. Membuat wanita itu menghentikan langkah dan berbalik badan.
Pandangan Narendra menatap lurus ke arah depan, di mana Lara tengah membelalakkan mata seperti tak percaya mendengar perintahnya, lalu perlahan ia melangkah mendekati sang putri. Melihat maid tadi masih bergeming, ia kemudian menambahkan. "Aku yang akan menyuapinya."
"Aku tidak lapar. Jangan memaksaku!" Alih-alih menyambut antusias niatan sang papa, Lara justru menunjukkan sikap tidak senangnya. Ia berucap penuh penekanan. Kilat kebencian bahkan masih terpancar di matanya.
"Lapar tidak lapar kau tetap harus makan."
Lara mendengkus kesal. Selalu saja begini. Pria ini selalu memaksakan kehendaknya. Ia beringsut memutar badan ketika Narendra mengambil duduk di tepian ranjang. Untuk apa lagi jika bukan menghindari papanya sendiri.
Narendra melanjutkan bicara dengan nada lembut setelah beberapa saat saling diam. "Kau boleh marah pada Papa. Kau juga boleh menghukum Papa. Tapi jangan pernah sekalipun menelantarkan perutmu sendiri dengan tidak menyentuh makanan sama sekali."
"Karena aku papa kamu." Narendra berucap dengan tenang. Namun, kata-kata tidak mengenakkan kemudian terlontar dari bibir putrinya.
"Papa?" Lara mengulang sebutan papa dengan nada meragukan, lalu bibir tipis tampak pucat itu melengkungkan senyum meremehkan. "Papa dari berapa anak, hah! Dua? Tiga? Atau mungkin jumlahnya mencapai lusinan? Huh, bodohnya aku yang selama ini merasa menjadi anak satu-satunya Anda. Padahal di luaran sana begitu banyak anak-anak titisan Anda dari banyak wanita yang tidak pernah Anda urus!"
__ADS_1
Lara memalingkan muka sejenak demi menghapus setitik kristal yang jatuh dari sudut mata, lalu kemudian mengembalikan pandangan dan kembali mengurai kalimat yang membuat hati Narendra merasa nyeri.
"Puaskah Anda melukai hati saya? Sebelumnya saya sudah merasa tersiksa lantaran sebagai anak tak pernah mendapatkan haknya secara utuh, lantas, masihkah Anda tega menuntut saya merelakan Anda membagi cinta kasih terhadap anak-anak yang lainnya!"
***
Narendra mengusap wajahnya kasar. Pria itu tampak gusar. Seketika ia menyesalkan keputusan yang diambil barusan. Ini tidak adil namanya. Jelas-jelas ia hanya memihak pada salah satu putrinya saja. Bagaimana jika yang satu lagi kelak akan menuntut keadilannya?
Tenang Rendra. Ini hanya sementara. Kelak semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin masih bisa berlaku adil meski dengan cara diam-diam.
Seperti pecundang, sebelumnya Narendra tak pernah sekacau ini dalam menghadapi setiap permasalahan. Terlebih urusan pekerjaan. Ia sudah sangat terlatih untuk itu. Bahkan hanya dengan menjentikkan jari semua masalah akan terselesaikan dengan perantara bawahannya. Ia tak perlu repot-repot menyulitkan diri sendiri hingga berpikir keras.
Namun, kali ini permasalahannya jelas beda. Urusan anak-anak memang sangat sensitif karena ini menyangkut perasaan. Di satu sisi Narendra ingin berlaku adil. Akan tetapi di sisi lain ia juga tak bisa melihat Lara terus menerus membencinya.
Ia bisa memaklumi reaksi Lara setelah mengetahui fakta sebenarnya. Gadis itu merasa terpukul. Narendra bisa melihat kekecewaan yang dalam di mata Lara meski selama ini putrinya itu tak pernah bersikap manis terhadapnya.
__ADS_1
Tak mudah membujuk Lara. Bukan hanya sekali dua kali Narendra gagal melakukannya. Maka dari itu, tak ada yang lebih membuatnya bahagia selain ketika tiba-tiba Lara mengajaknya bernegosiasi.
"Baik. Aku akan ikuti semua keinginan Papa. Aku akan menjadi anak yang berbakti. Bahkan mau menerima perjodohan itu. Asalkan ...."