
"Jangan mau hidupmu diatur oleh mulut orang lain, karena jika hidupmu berantakan, mereka akan lepas tangan dan kamu sendiri yang harus menanggung beban. Kamu paham?"
Bukannya menjawab pertanyaan Dante, Alisha justru malah terdiam. Seketika benaknya pun bertanya-tanya, sebenarnya apa maksud Dante berbicara demikian? Kenapa Dante seolah-olah menyindirnya yang kini hidup di bawah aturan Lara. Haruskah ia berterus terang, jika yang memaksanya menjauhi Dante adalah Lara?
Ah, tidak-tidak. Ia tak mungkin berkhianat kendati hati seperti tertusuk pisau berkarat. Mengetahui Dante masih menyimpan cinta terhadapnya, itu sudah lebih dari cukup.
Cinta tak bisa dipaksakan. Jodoh sudah diatur oleh Tuhan. Setiap manusia pasti memiliki garis takdirnya. Ia hanya perlu berpasrah dan tawakal, jika memang Dante adalah jodohnya, maka Tuhan akan mempertemukan cinta mereka.
"Paham. Aku sangat paham." Akhirnya Alisha menjawab dengan tenang setelah beberapa saat diam. Dan rupanya jawaban Alisha itu membuat Dante menyunggingkan senyuman.
"Itu artinya kau akan mendengarkan apa kata hatimu?"
"Ya."
"Yes!" Jawaban singkat Alisha membuat hati Dante berbunga-bunga. Senyumnya kian lebar dan pelukannya kian erat. Rasa bahagianya benar-benar tak terbantahkan.
Namun, sayangnya kebahagiaan itu hanya berjalan singkat, sebab setelahnya kata-kata Alisha terdengar seperti sebuah hantaman di telinganya.
"Kata hati aku memang sudah benar. Keputusanku memang tidak salah. Dan keputusanku menolakmu ... memang sudah sangat tepat."
Sontak Dante melepaskan pelukannya lalu menatap Alisha dengan ekspresi tak percaya. "Maksudnya apa ngomong gitu? Maksudnya apa!" bentaknya sambil memutar tubuh Alisha. Kini keduanya berdiri saling berhadapan.
__ADS_1
"Masih kurang jelas?" Alisha bertanya santai sambil tersenyum miring. Sementara Dante masih diam dengan pandangan terperangah, sehingga Alisha kembali melanjutkan kata-katanya.
"Jangan menggenggam dua barang sekaligus dalam satu tangan. Bukankah lebih baik letakkan dulu salah satunya sebelum ia jatuh dan hancur tak berbentuk. Perumpamaan ini sangat tepat untuk kamu yang egois dengan menginginkan dua hati sekaligus. Mungkin sekarang kamu bisa menjalankannya. Tapi kamu gak akan tau sam–"
"Egois? Kamu bilang aku egois?" Dante memotong kata-kata Alisha dengan marah. Ia lantas mencengkeram dua sisi bahu Alisha dengan kuat agar mendekat. "Kamu bahkan tidak sadar kalau kamu sendiri itu egois, Alisha. Kamu nggak pernah mikirin perasaan aku! Kamu tau aku cinta sama kamu! Tapi kamu malah nyakitin perasaan aku dengan menjalin cinta dengan Marcel! Marcel sepupu aku! Kamu bahkan tidak tahu seperti apa Marcel itu sebenarnya!"
"Aku tahu, Dante! Aku tahu seperti apa Marcel itu!" sahut Alisha tak mau kalah.
"Nggak! Kamu nggak tau!" Dante pun tak mau kalah. "Kalau memang kamu tau seperti apa Marcel itu, kamu pasti sudah menjauh sama dia! Kecewa sama dia!" Saking emosinya ia sampai menunjuk ke arah kanan ketika menyebutkan nama dia.
Dante diam sejenak dengan napas yang memburu. Ia menatap Alisha dengan getir lalu bicara dengan nada lebih pelan, seperti membujuk.
"Memberikan segalanya?" Alisha mendesis tak mengerti. "Maksud kamu apa Dante? Apa lagi ini!"
"Jangan pura-pura lupa, Alisha! Aku tahu dulu kamu seperti apa! Aku bahkan nggak pernah lupa tempat di mana awal kita jumpa. Pakaian yang kamu kenakan seperti apa!" Dante menggeleng dengan senyuman getir. "Kamu keluar dari kamar hotel dengan gepokan uang di tangan. Apa lagi jika itu bukan hasil dari jual diri! Kau bahkan mengulanginya lagi bersama Marcel dua hari yang la–"
"Dante!" Bersamaan dengan teriakan itu tangan Alisha mendarat di pipi Dante. Sangat keras, hingga telapaknya merasakan panas yang menjalar.
Tangan Alisha memang lah terasa panas. Tetapi panas itu tak sebanding rasa panas yang membakar di hatinya.
Ia tak pernah menyangka Dante akan mengatakan itu. Menghakiminya tanpa menyelidiki fakta sebenarnya.
__ADS_1
Dante yang sempat menoleh setelah mendapatkan tamparan itu mengusap wajahnya dan kembali menatap Alisha senyuman mencemooh. Tamparan Alisha sangat keras, tetapi sama sekali tak membuatnya bergerak dari posisi.
"Tampar aku sepuas kamu jika itu bisa bikin kamu bahagia," ujar pemuda itu.
"Jaga ucapan kamu, Dante. Aku dan Marcel tak seburuk yang kamu kira." Alisha berucap penuh penekanan sambil menuding wajah Dante.
"Oke. Jika kalian merasa baik, sepertinya tak ada masalah jika kita melakukan hal yang sama, bukan?"
"Ma-maksud kamu?" Alisha bertanya dengan suara terbata. Tatapan penuh arti dari mata Dante, juga pertanyaan dengan maksud tersirat itu menunjukkan sinyal buruk. Alisha merasa dirinya sedang terancam.
Benar saja. Tanpa peringatan, Dante mendorongnya ke belakang setelah memberikan sebuah senyuman, hingga dirinya terjerembab dan terlentang di ranjang.
Alisha yang terkejut dan panik tak bisa berkutik saat tiba-tiba Dante menyusul naik dan mengurungnya dalam kungkungan.
Alisha melakukan segala cara untuk melepaskan diri. Ia memekik, memberontak, bahkan memukul dada Dante tapi tak mengubah keadaan. Sehingga ia hanya bisa menangis lantaran putus asa.
"Lepas Dante. Lepas! Kamu jahat!" Alisha menangis sejadi-jadinya sambil mendorong dada Dante, tetapi pemuda itu tak segera melepaskan.
"Jika memang ini membuatku memilikimu, maka akan aku lakukan, Alisha." Rupanya itu bukan hanya sekadar ancaman. Dante benar-benar berusaha mencumbu Alisha.
Gadis itu kian tersedu. Ia kian putus asa. Dante mendominasi dirinya. Pemuda itu menjelma menjadi dirinya yang berbeda. Ia seperti kerasukan iblis mesum yang menginginkan Alisha saat itu juga.
__ADS_1