
"Makasih sudah antar saya, Pak." Alisha berucap ramah pada sopir yang mengantarnya. Pria itu tersenyum, lalu mengangguk.
"Sama-sama, Non," balasnya ramah. Pria paruh baya itu memang tidak membukakan pintu untuk anak majikannya lantaran Alisha sendiri yang melarang.
Gadis itu benar-benar mengagumkan. Meski dirinya anak orang kaya, tetapi bisa menghargai orang biasa seperti dirinya.
"Saya tunggu di parkiran ya, Non," ujar sopir itu ketika Alisha hendak turun.
"Nggak usah, Pak. Mending Bapak pulang aja, kalau nunggu saya selesai kuliah bakalan lama."
"Lah, terus Non Alisha pulangnya bagaimana?"
Alisha tertawa renyah. "Kan saya bisa telepon Bapak kalau memang minta dijemput."
"Bener ya, Non. Jangan mendadak tapi nelpon bapaknya, entar malah lama nungguinnya."
"Siap, Pak. Bapak hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut. Jangan kayak anak muda," gurau Alisha diiringi sebuah sindiran. Bukan tanpa sebab. Alisha tahu benar jika pria itu mahir menguasai jalan raya, tetapi bukan konteks yang ugal-ugalan. Tidak heran. Sebagai sopir papanya, dia harus bisa diandalkan. Ini semacam tuntutan. Kerap kali mengejar waktu agar cepat sampai di tempat tujuan.
Sepeninggalnya sang sopir, Alisha menatap bangunan di depannya dengan senyuman bahagia. Ia menghirup aroma kampus dengan penuh penghayatan dan mengembuskannya penuh kelegaan. Ada banyak harapan yang ingin ia wujudkan di sana.
Cita-cita yang besar, bukan hanya sekadar gelar. Ia ingin memanfaatkan ilmu yang didapat dengan sebaik-baiknya.
Tidak muluk. Dapat melawan ketakutan sendiri dengan menghadapi Lara itu sudah luar biasa bagi Alisha. Satu beban di hatinya seperti sudah terlepas begitu saja. Semoga dengan begini Lara tak akan menindasnya lagi.
"Aku pasti bisa. Semangat!" Alisha mengepalkan tangannya untuk menyemangati diri sendiri. Ia kemudian berjalan dengan mantap mendekati bangunan kampus. Masih agak jauh memang, mengingat dirinya minta diturunkan di depan gerbang seperti biasanya.
Tujuannya hanya sepele. Supaya dirinya bisa menikmati area sekeliling kampus dengan santai dan berjalan kaki. Lumayan untuk kakinya yang kurang gerak belakangan ini. Setelah resmi menjadi anak papa Narendra ia memang jarang jalan kaki. Mau ke mana-mana harus naik kendaraan. Terkadang ia merindukan kehidupannya yang dulu.
__ADS_1
"Ahhh sakit! Tolong! Sakit!"
Langkah Alisha langsung terhenti saat telinganya samar-samar mendengarkan teriakan. Sontak pandangannya terarah ke sumber suara dan membelalak melihat seseorang yang berguling-guling di ujung sana.
"Astaga. Dia kenapa?" Panik, Alisha spontan berlari menghampiri. Jiwa penolongnya meronta-ronta melihat orang sedang kesakitan. "Mas, Mas baik-baik aja?" tanyanya cemas sambil berjongkok di sisi pemuda itu.
Kasihan. Orang itu menggelepar-gelepar di tanah sambil meringis dan memegangi perutnya. Sepertinya sangat kesakitan.
"Perut saya tiba-tiba sakit, Mbak. Tolong bantu saya masuk ke mobil." Dia menunjuk mobil yang salah satu pintunya sudah terbuka. Alisha mengira semula pemuda itu hendak masuk, tetapi mendadak sakit perut dan langsung ambruk. Alisha mengangguk paham, lalu dengan cekatan membantu pemuda itu bangun.
Rupanya bukan perkara sulit mengingat tubuh pemuda itu yang tinggi dan besar. Alisha tidak merasa kepayahan sebab orang itu juga berusaha keras untuk bangun dan melangkah.
"Mari saya bantu." Alisha memapah si pemuda tanpa pikir panjang. Berjalan pelan mendekati mobil.
"Terima kasih."
"Lumayan sedikit berkurang."
"Lalu Mas mau ke mana? Dalam keadaan sakit begini memangnya masih bisa berkendara?"
"Ah, sudah biasa kok, Mbak."
"Kalau memang masih sakit mendingan istirahat dulu di Unit Kesehatan Kampus. Di sana ada obat dan minyak kayu putih. Barangkali Masnya masuk angin. Atau kalau perlu saya panggilkan ambulans agar Mas dibawa ke rumah sakit?"
"Hahaha, nggak perlu, Mbak. Saya hanya butuh masuk mobil."
Alisha mengerutkan kening. Agak aneh menurutnya. Bagaimana bisa orang sakit hanya butuh masuk mobil. Apa karena sesuatu yang ia butuhkan semuanya ada di mobil? Namun, Alisha tak mau ambil pusing. Tanpa pikiran buruk, ia mengikuti keinginan pemuda itu.
__ADS_1
Padahal pintu penumpang bagian depan sudah terbuka lebar, tetapi pemuda itu meminta masuk di kursi belakang. Ia bahkan mengulurkan tangannya sendiri untuk menarik tuas, mengingat posisinya yang lebih dekat dengan pintu dibandingkan Alisha.
Tanpa Alisha sadari, pemuda yang awalnya meringis seperti kesakitan itu melirik ke arahnya. Sebuah seringai jahat kemudian tersungging sebelum kemudian mendorong tubuhnya dengan kuat.
"Aaa!" Alisha memekik terkejut saat dirinya terjerembab. Ia buru-buru bangkit dan menatap wajah si pemuda dengan penuh tanya, tetapi tubuhnya mendadak beku mendapati ekspresi lain dari wajah pemuda itu. Seringai jahatnya. Dari tatapannya. Dan juga tawa jahatnya. Pikiran Alisha langsung menyadari jika dirinya masuk jebakan.
Tidak salah lagi, tetapi dirinya sudah terlambat menyadari. Tak ada waktu lagi untuk kabur. Di belakangnya muncul dua pria lain untuk mengurung. Mencekal pergelangan tangannya ke belakang dan membekap mulutnya agar tak berteriak.
Kejadiannya terjadi begitu cepat. Si pemuda yang menipunya sudah duduk di samping kiri Alisha, lalu seseorang muncul entah dari mana dan mengambil posisi kemudi mobil. Mobil melaju kencang meninggalkan area kampus tanpa memberi kesempatan pada Alisha untuk meninggalkan jejak. Alisha hanya bisa menitikkan air mata dalam keadaan tak berdaya. Tak tahu dirinya akan selamat atau berakhir tiada. Tak ada yang tahu dirinya menjadi korban penculikan.
Dante ... tolong aku.
***
Sebuah lengkung merah mengulas senyum puas ketika menyaksikan sendiri bagaimana rencananya berjalan sangat baik. Senyum itu terkembang tanpa dosa sekalipun saudari tirinya sendiri yang ia dzalimi.
Seorang pemuda muncul dari arah belakang lalu menepuk bahunya pelan. Lara yang tengah menikmati pemandangan di depannya sambil bersedekap dada itu menoleh dengan wajah tak suka.
"Kau benar-benar menculiknya?" tanya si pemuda dengan ekspresi tak percaya.
"Tentu saja." Lara menjawab santai tanpa mengubah posisinya. Ia masih memandangi mobil hitam yang melaju kencang itu.
"Kau benar-benar jahat, Lara." David tak habis pikir. Sementara Lara memutar bola mata.
"Jahat, kau bilang? Katakan kejahatanku dari sisi mana?" Ketika mobil menghilang dari pandangan, ia berbalik badan untuk berhadapan dengan David. "Aku tidak sejahat yang kau bayangkan, David. Aku hanya mengamankan Alisha sampai waktu yang ditentukan saja! Aku tidak pernah berniat melukai ataupun membunuhnya! Ini hanyalah ganjaran karena dia sudah berani melawanku. Dia sudah lancang menguntitku. Apa aku salah, jika melakukan apa yang seharusnya kulakukan? Aku hanya ingin acaraku besok lusa berjalan lancar."
Tanpa memedulikan ekspresi David yang masih tak habis pikir, Lara berlalu begitu saja dengan ekspresi tanpa dosa. Dengan langkah anggunnya seperti biasa.
__ADS_1