Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Sini gabung


__ADS_3

Memiliki impian yang sama ternyata menjadi peran penting dalam hubungan bersosialisasi seseorang terhadap orang lainnya. Ini yang terjadi antara Alisha dan Marcel. Keduanya semakin akrab saja meski baru beberapa jam yang lalu saling kenal.


Sama-sama memiliki impian untuk merintis bahkan melebarkan sayap di bidang kuliner membuat obrolan keduanya nyambung dan memanjang. Alisha terlihat antusias mendengarkan Marcel bercerita, begitu pula Marcel yang tampak bersemangat membagikan pengalamannya yang berhasil membuka sebuah kafe di ibu kota.


Tidak heran bagi Alisha karena Marcel berhasil membuka usaha di usia yang masih muda. Out fit bermerk serta tampang good looking yang dimiliki sudah cukup membuktikan jika Marcel terlahir dari keluarga yang berada. Meskipun demikian, bagi Alisha tak ada salahnya selagi ia bisa mendapatkan secuil ilmu dari sana. Barangkali saja kesuksesan Marcel kelak akan menular kepadanya.


"Lain kali mampir, ya. Aku kasih kopi gratis buat kamu."


Alisha mencebik mendengar penawaran Marcel. "Kopi doang? Ih, rugi lah, jauh-jauh cuma dikasih gratis kopi."


Marcel tergelak. "Ya nggak lah. Kopi mah cuma minuman. Temennya kopi masih banyak kok. Tenang aja."


"Oke. Asal jangan diusir aja kalau kebetulan dompetku ketinggalan terus nggak bisa bayar tagihan."

__ADS_1


"Ih, mana ada. Ya nggak, lah."


Dari kejauhan, sepasang mata tengah mengamati kedekatan keduanya dengan ekspresi tak suka. Dante yang mengenakan kaca mata hitam terlihat menggemertakkan gigi seraya mengepalkan tangan. Dua orang yang sedang tertawa bersama itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.


Entah demi apa ia mengawasi Alisha dan Marcel yang tak sengaja dilihatnya tengah makan siang di kantin kampus. Hanya berdua saja pula. Alisha yang baru beberapa hari kuliah di sini sudah berhasil menggaet seorang Marcel yang notabennya mahasiswa cerdas dan tidak gampang bergaul dengan teman wanita. Entah mantra apa yang digunakan Alisha kali ini. Benar-benar meresahkan.


"Sayang maaf bikin kamu nunggu lama. Sayang?" Lara yang baru saja tiba dan duduk di seberang Dante tampak heran melihat kekasihnya hanya bergeming seolah-olah tak menyadari kehadirannya. Mau tak mau, ia pun menoleh ke arah pandang sang calon tunangan karena rasa penasaran. Benar saja, di ujung sana, ia melihat seseorang yang tak asing sedang tertawa dan duduk bersama seorang pemuda.


Alisha? Dengan siapa dia?


Baguslah. Dengan begini Dante akan berhenti mengharapmu selamanya.


Lara berdeham dan memfokuskan pandangan pada Dante. "Sayang, apa yang kau lihat? Sudah pesan makanan, belum?" Ia menepuk pelan pundak Dante demi menarik atensinya. Ia berpura-pura tidak tahu dengan apa yang tengah diperhatikan sang kekasih. Ia bersikap biasa saja sekalipun hati bersorak gembira.

__ADS_1


Dante yang setengah terkejut oleh sentuhan Lara sontak menoleh ke wajah gadis itu. Dalam keadaan suasana hati yang bagus saja ia tak suka dengan Lara, apalagi dengan suasana hatinya yang sedang buruk seperti sekarang ini. Ia pun berdeham kecil untuk menetralkan perasaan.


"Gue nggak laper. Lo kalau mau makan ya tinggal pesen aja," ujarnya datar tanpa menatap wajah Lara.


"Ya nggak bisa gitu dong, Sayang. Ini waktunya makan siang dan perut kamu harus di isi juga. Em, atau gini aja. Kalau kamu nggak cocok sama makanan di sini kita bisa makan di tempat lain kok. Gimana, heum?" tanyanya meminta persetujuan. Ia tersenyum manis dan menatap Dante sambil bertopang dagu.


Dante menatap Lara sebentar kemudian buang muka. Marcel dan Alisha membuat selera makannya hilang seketika.


Tanpa sepatah kata, ia pun bangkit dan berencana pergi dari sana. Sayang sekali, hobinya yang suka pergi meninggalkan Lara begitu saja menuai protes keras dari si empunya. Lara yang tak terima langsung bangkit dan menyerukan namanya dengan nyaring saat itu juga. Alhasil, bukan hanya dirinya saja yang berhenti melangkah lantaran kesal oleh perilaku Lara, tetapi semua orang yang mendengar langsung menghunjamkan tatapan ke arah mereka berdua, begitu juga dengan Marcel dan Alisha. Tak ayal, Dante dan Lara kini jadi pusat perhatian.


Masa bodoh dengan tatapan semua orang. Dante yang sudah kadung geram pada Lara memutuskan abai pada gadis itu. Tanpa menoleh ia pun bergerak melanjutkan langkah. Celakanya, suara bariton dari meja di ujung sana tiba-tiba menyerukan namanya seperti memanggil.


"Dante! Lo mau ke mana? Sini gabung! Gue mau kenalin seseorang sama Lo."

__ADS_1


Sial. Itu suara Marcel. Gue mesti pergi atau balik lagi, coba?


__ADS_2