Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Cantik versi masing-masing


__ADS_3

"Sayang, antar Dante sampai ke depan, ya."


Alisha yang semula menunduk, spontan mendongak mendengar suara Narendra menyebut kata sayang. Dia kah yang dimaksud papanya? Lalu kemudian dia mendapati tatapan serta senyuman Narendra yang terarah kepadanya, dan itu sudah cukup membuktikan. Hingga akhirnya, ia pun buru-buru menjawab dengan tergagap. "I–iya, Pa."


Beruntung tidak ada Lara di sana. Andai Lara tahu dirinya mengantar Dante keluar, pasti gadis itu makin berang. Sudah cukup ia melukai perasaan Lara dengan membiarkan Dante mengantarnya pulang. Jadinya begitu, kan. Lara meninggalkan meja makan sebelum yang lainnya bubar.


Sepanjang acara makan tadi wajah Lara juga terlihat gelisah. Mungkin Dante merasa kalau dirinya sudah buat Lara marah, makanya buru-buru susul Lara dan menjelaskan semuanya.


Baguslah. Sepanjang Dante menghampiri Lara tadi, ia tak mendengar keributan di antara mereka berdua. Itu artinya Dante dan Lara baik-baik saja.


Dalam hati, Alisha tak hentinya merutuki diri sendiri. Keputusannya mengiyakan titah sang papa ternyata sebuah kesalahan besar yang harusnya dihindari. Semula, ia berpikir hatinya akan jauh lebih tenang setelah mengantar Dante keluar dan pemuda itu akhirnya pulang. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.


Di saat dirinya berusaha mati-matian untuk melupakan Dante, pemuda itu justru terkesan sengaja mendekatinya. Untuk apa? Untuk mempermainkan dirinya saja? Membuatnya jadi berharap? Sialan, bukan? Sungguh tidak bermoral. Bahkan setelah tahu bagaimana sifat Lara yang sebenarnya, Dante juga tidak ada niatan untuk membatalkan pertunangan mereka. Lalu sekarang membujuknya untuk bicara berdua? Maunya apa coba?


"Ngobrolin masalah apa?" Ia malah bertanya dengan polosnya. "Mama sama Papa ada di dalam, Dante. Lara juga udah masuk kamar dari tadi. Aku nggak enak aja sama mereka, nanti mereka pikir kita ada apa-apa."


Kekhawatiran Alisha memang tidak dibuat-buat. Bagaimana jika salah satu dari mereka memergoki dirinya dan Dante sedang berdua. Sudah barang pasti ia akan dicap buruk oleh keluarganya.


Dasar Dante. Di saat Alisha merasa tegang seperti itu ia malah dengan santainya meraih jemari Alisha dan membawa gadis itu berjalan ke arah taman. Ia mendudukkan gadis itu di sebuah kursi besi panjang yang ada di sana lalu menyusul duduk di sampingnya.


"Loh, kok duduk di sini?" tanya Alisha yang semakin tidak tenang.


"Memangnya mau di mana? Mojok di mobil biar nggak ada yang lihat? Atau kalau perlu masuk ke dalam rumah lagi biar keluargamu bisa lihat sekalian?" balas Dante dengan pertanyaan dengan nada nakal. Jelas saja itu membuat Alisha kelimpungan.


"Ya udah, di sini aja," tutur Alisha lemah. Ia akhirnya menyerah pasrah. Setidaknya di sini memang lebih aman. Di tempat terbuka dan ada penjaga di sekitar mereka. Jikapun papanya memergoki, tidak ada yang patut dicurigai. Toh mereka berdua hanya ingin mengobrol saja, kan.


Keduanya masih bungkam hingga beberapa saat. Sampai kemudian Dante merentangkan kedua tangannya sambil melenguh panjang dan menatap ke arah langit malam.


Tindakan tiba-tiba Dante itu membuat Alisha berjingkat saking terkejutnya. Bagaimana tidak? Ia mengira pemuda itu hendak merangkulnya, tetapi ternyata ia salah besar. Dante hanya menaruh tangannya di atas sandaran kursi agar tubuhnya lebih rileks saat menikmati udara malam. Dan Alisha yang terlanjur berdebar-debar hanya bisa beringsut menjauh supaya lebih tenang.


"Bulannya cantik, nggak?" tanya Dante kemudian yang membuat Alisha spontan mendongak.

__ADS_1


"Cantik," balasnya jujur. Kebetulan, saat itu sedang bulan purnama. Bulannya bulat sempurna dan cahayanya terang benderang menerangi alam semesta. Alisha memang sangat menyukainya.


"Tapi sayang. Ada yang lebih cantik dari bulan itu," celetuk Dante penuh sesal.


"Apa itu?" Alisha menoleh ke arah Dante, lalu kemudian berusaha menebak-nebak apa yang dipikirkan pemuda itu. "Bintang?"


"Bukan "


"Atau pelangi? Apa mungkin matahari?"


"Bukan, juga."


Alisha mendengkus putus asa lantaran Dante menirukan gaya Suzanna. Jujur, yang ada di benaknya adalah planet-planet yang berpijar.


"Terus apa?"


Dante menoleh pada Alisha, lalu memandang wajah cantik dengan ekspresi penasaran itu dengan lekat.


"Iya, lah. Aku penasaran sama planet indah menurut versi kamu itu apa? Jangan-jangan kamu lebih suka Saturnus, ya. Itu tuh, planet yang ada cincinnya."


Sebenarnya Dante ingin tertawa melihat kepolosan gadis di sampingnya. Namun, ia tak ingin membuat Alisha malu kalau sampai ia menertawainya.


"Kenapa harus ngomongin planet dan tata surya, sih?" Dante malah mengajukan pertanyaan.


"Karena tadi kamu ngomongin bulan. Iya, kan?" Lagi-lagi Alisha menjawab dengan polosnya.


Dante tersenyum sabar lalu memutar duduknya tepat menghadap Alisha. Mungkin ia tak sadar jika tatapan intensnya itu membuat jantung Alisha semakin berdebar kencang.


"Al, cantik versi aku itu beda dengan versi kamu."


"Oh ya? Jadi apa dong?"

__ADS_1


Dante hendak menjawab pertanyaan Alisha, tetapi sepertinya gadis itu tidak terlalu tertarik mendengarnya. Alisha malah mengalihkan pandangan darinya ke arah langit, tepat menatap bulan yang sama sekali tak tertutup awan. Dan gadis itu memandanginya penuh kekaguman.


"Aku nggak ngerti cara kamu ngelihatnya itu gimana, Dante. Tapi menurut aku cahaya bulan itu udah paling cantik. Tapi bukan berarti aku nggak suka dengan yang lainnya juga sih, hehe." Alisha tersenyum tanpa memandang Dante.


"Oke. Beda pendapat boleh, kan? Yang penting kita bisa menghargai pendapat orang lain juga," tutur Dante, yang langsung ditanggapi mantap oleh Alisha.


"Betul."


"Oke. Kalau gitu, kamu puas-puasin pandangi ciptaan Tuhan yang paling cantik menurut versi kamu. Dan aku, akan pandangi sepuas-puasnya makhluk ciptaan Tuhan yang paling cantik menurut versi aku."


"Oke." Alisha mengangguk mantap. Ia kemudian kembali menatap bulan dan tersenyum penuh kekaguman.


Entah berapa lama Alisha mendongak, hingga akhirnya ia merasakan ada sesuatu yang janggal. Benar saja. Saat Alisha menoleh pada Dante, ia dibuat heran lantaran pemuda itu terus saja memandangnya sambil tersenyum dan bertopang dagu.


"Dante!" tegurnya heran. "Kok kamu liatin aku terus, sih? Jangan gitu, ih ... nengok ke sana ngapa." Tangannya mendorong pelan wajah Dante agar pemuda itu menoleh ke samping. Terlihat jelas jika dirinya mendadak kikuk saat Dante enggan mengalihkan pandangan dari dirinya.


"Apaan sih, Al. Gangguin orang lagi menikmati pemandangan aja," protes Dante.


"Pemandangan yang mana yang kamu lihat? Orang dari tadi kamu terus ngeliatin aku, kok," jawab Alisha sebal.


"Ih terserah aku dong. Bukannya kita udah sepakat buat pandangi ciptaan Tuhan paling cantik versi kita? Nah, ini aku lagi pandangi makhluk ciptaan Tuhan paling cantik versi aku!"


Mata Alisha membeliak. "Maksud kamu?"


"Iya. Makhluk ciptaan Tuhan paling cantik versi aku itu ya kamu."


Tangan Alisha langsung membungkam mulutnya yang ternganga. Buru-buru saja ia memalingkan muka demi menghindari tatapan Dante.


"Hey, Cantik. Kok buang muka gitu sih?" Dante menatap Alisha sambil memiringkan kepalanya. "Jangan gitu dong. Jangan bikin bulan cantikku jadi tertutup awan gitu."


Alisha memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya. Ia enggan menoleh meski Dante terus menggodanya. Bisa dipastikan jika pipinya saat ini sudah merah merona. Bisa-bisanya Dante itu. Di saat dirinya gemetaran, ia malah berucap santai tanpa beban.

__ADS_1


__ADS_2