Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Nggak terima


__ADS_3

"Aku bisa pulang sendiri, Dante. Kamu nggak perlu ngantar aku sampai rumah." Meski Alisha berucap lirih pada Dante, tetapi nada bicaranya terdengar penuh permohonan.


Ya, hari ini adalah jadwal kepulangan Alisha dari liburan pura-pura yang diciptakan Lara. Alisha sendiri bersikap patuh pada Dante yang memintanya mengikuti permainan Lara. Namun, alih-alih mengabulkan keinginannya, Dante justru bersikeras ingin mengantar Alisha pulang.


"Aku akan antar kamu sampai masuk ke dalam rumah, Alisha. Aku harus mastiin kamu aman sampai tempat tujuan."


"Tapi apa kata keluarga aku kalau tau kamu yang antar. Kamu itu calon tunangan saudari aku, Dante. Masa iya malah ngantar pulang aku."


"Udah ya, Al. Jangan bantah," pungkas Dante karena tak ingin lama-lama berdebat.


"Benar kata Dante, Alisha." Niken yang baru muncul di ruangan itu malah ikut menyahut.


Dengan senyuman lembut dan tatapan hangat, ia mendekati Dante dan Alisha, lalu mengusap pelan bahu gadis yang masih terlihat canggung itu.


"Akan lebih baik kalau Dante yang mengantar. Kita nggak tau, hal buruk apa yang masih mengintai kamu di luar sana. Tolong, jangan bikin kami khawatir lagi ya."


Entah mengapa, Alisha selalu ingin menangis setiap kali mendapatkan perlakuan seperti ini. Keluarga Dante sangat baik terhadapnya. Bahkan memperlakukan dirinya dengan istimewa selama berada di kediaman mereka. Robby yang menyadari kesalahannya bahkan tak segan-segan meminta maaf kepada Alisha. Banyak pesan positif yang Robby dan Niken sampaikan dalam setiap kebersamaan mereka. Ketika Dante sedang sibuk keluar untuk sebuah urusan, lantas siapa lagi teman Alisha jika bukan Robby dan Niken orangnya?


"Saya benar-benar merasa nggak enak banget sama Tante sekeluarga. Selama ini saya sudah merepotkan kalian semua," ucap Alisha penuh sesal.


"Ah, nggak ada yang repot, kok. Justru Tante malah senang punya teman perempuan. Apa lagi satu server. Selama ini Tante nyaris stress lantaran gaulnya sama Dante dan papanya doang. Mereka lempeng-lempeng aja. Sama sekali nggak ada seninya."


"Mama." Dante melirik penuh isyarat ke arah Niken yang tengah berbisik di telinga Alisha. "Gibahin anak kok di depan orangnya. Dosa loh, Ma. Bisa kualat sama anak."


Sontak dua wanita itu tertawa mendengar penuturan Dante. Ekspresi Dante begitu meyakinkan saat bicara, dan tentu saja itu terlihat menggemaskan di mata Niken dan Alisha.


"Kamu bilang apa, Sayang? Kualat sama anak? Nggak salah tuh?" Niken merapat pada Dante lalu bicara dengan pelan tak jauh dari telinga putranya. "Yang ada, anaknya yang kualat sama emaknya. Bukan sebaliknya, Sayang."

__ADS_1


"Emaknya juga bisa kualat kalau dzolim sama anak, Mama. Ya seperti mama tadi," elak Dante.


"Enggak. Pokoknya Mama yang benar! Anak yang kualat sama emak. Titik!" tegas Niken tak mau kalah.


Jika sudah begini apa yang bisa Dante lakukan? Pemuda itu hanya mendesah pelan lalu berucap pasrah. "Iya, iya. Di mana-mana perempuan selalu benar. Puas?" kesalnya sambil melirik sang mama. Dan tentu saja, yang dilirik pun tertawa girang penuh kemenangan.


Sesi syahdu melepas kepulangan Alisha pun sudah usai. Dengan wajah tak rela Niken melambaikan tangan ke arah Alisha. Mobil yang dikemudikan Dante akhirnya melaju meninggalkan rumah mewah itu.


Semakin jauh mobil meninggalkan Niken, maka semakin campur aduk pula lah perasaan Alisha. Bagaimana tidak? Semobil hanya berdua membuat dirinya merasa terancam. Bukan pada para penculik yang beberapa waktu lalu sempat meresahkan, melainkan pada sosok predator yang kini duduk mengemudikan mobil di sisi kanannya.


Alisha tak berbicara sepatah kata pun. Ia memilih melihat ke luar jendela demi menghindari tatapan iris tegas di sampingnya.


"Kok diam aja?" Akhirnya Dante buka suara memecah keheningan.


"Memangnya mau ngomong apa?" Alisha balik bertanya tanpa berniat memandang muka.


"Apa aja kek. Nyanyi juga boleh. Dari pada sepi, kan."


Hingga beberapa saat kemudian mereka masih terjebak dalam kebisuan, sampai kemudian Dante mendapatkan ide untuk mewarnai kebersamaan.


"Makan dulu, yuk. Aku lapar."


"Lapar?" Alisha menoleh lalu menatap Dante dengan kening berkerut heran. Bukannya kita baru aja makan, ya?"


"Iya, sih. Tapi nggak tau kenapa, tiap lihat kamu bawaannya selalu lapar. Pengen aku makan gitu."


Alisha sontak membelalak, sementara Dante hanya tersenyum santai tanpa rasa berdosa. Walaupun memasang muka sebal, tetapi tak bisa dipungkiri jika hati Alisha berbunga-bunga. Sehingga, gadis itu buru-buru memalingkan muka demi menyembunyikan wajahnya yang merah merona. Pemuda di sampingnya itu selalu berhasil membuatnya terpesona.

__ADS_1


"Dante plis. Kamu calon ipar aku." Alisha yang mulai gemas akhirnya memperingatkan pemuda itu.


"Iya, iya." Dante mengalah. Ia memang sengaja tidak memberitahu mengenai Lara yang sebenarnya. Jadi wajar jika Alisha tak tahu menahu apa pun tentang gadis itu.


Dante membelokan mobilnya setelah menempuh beberapa lama perjalanan. Alisha yang sadar jika dirinya sampai di rumah tampak tersenyum senang. Beberapa hari berada di rumah Dante membuatnya rindu suasana rumah papanya.


"Non Alisha?" ucap salah satu pelayan dengan ekspresi setengah tak percaya.


Kedatangan Alisha yang menumpang mobil Dante ternyata menarik perhatian semua orang di rumahnya. Begitu juga dengan Lara yang serta merta keluar rumah untuk memastikan.


"Papa ...!" Alisha langsung berhambur memeluk Narendra begitu melihat pria itu datang menghampirinya. Sore itu Narendra tampak mengenakan stelan piyama sutra berwarna biru malam. Pria itu meskipun setengah baya tetapi selalu terlihat rupawan.


"Anak Papa sudah kembali. Bagaimana liburanmu, Sayang?" Narendra mengusap rambut gadis dalam pelukannya itu dengan penuh sayang.


""Lancar sesuatu yang direncanakan, Pa. Papa sendiri apa kabar? Kangen sama Alisha, nggak?"


"Kangen dong, Sayang. Anak Papa."


Alisha membiarkan Narendra memperlakukannya dengan sangat hangat. Namun, entah mengapa kata-kata terakhir Narendra barusan seperti mengandung maksud yang tersirat.


Tanpa mengesampingkan putrinya yang masih bergelayut manja, tatapan Narendra beralih pada Dante yang semula tampak tersenyum melihat kedekatannya dengan Alisha. Pemuda itu seperti merasa jika dirinya diperhatikan, maka tak menunggu waktu lama ia pun menyapa Narendra dengan sopan seperti biasanya.


"Sore, Om. Maaf kalau saya lancang sebab mengantar Alisha sampai di rumah. Ini bukan terjadi atas unsur kesengajaan. Saat lewat saya melihat Alisha tengah duduk sendirian menunggu taksi datang. Lantaran nggak tega, akhirnya saya ajak Alisha untuk barengan aja."


"Om nggak masalah, Dante. Justru Om berterima kasih sama kamu sebab sudah mengantar Alisha dengan aman. Yuk, masuk. Kita makan malam sama-sama," ajaknya.


Semuanya kemudian berjalan memasuki rumah besar itu bersama-sama. Narendra sama sekali tak melepaskan tangan putrinya. Namun, di antara kebahagiaan Narendra, Alisha dan juga Dante, ada seseorang yang tidak suka dengan kebersamaannya mereka.

__ADS_1


Ialah Lara. Bahkan tak ada yang menganggap dirinya ada di tengah-tengah mereka. Menatap punggung tiga orang itu dengan tajam, tangan Lara pun terkepal.


"Aku nggak terima jika kamu bahagia, Alisha. Demi apa pun aku nggak terima!"


__ADS_2