
Lara mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak memedulikan pengorbanan besar yang harus ia lakukan. Tak peduli keringat yang bercucuran serta penampilan yang acak-acakan. Semua ini demi dirinya bisa pulang.
Sesampainya di rumah, ia memarkirkan mobilnya dengan sembarangan. Lara meninggalkan kuda besi itu tanpa membawa serta kunci kontaknya dan berhambur ke dalam rumah.
"Mama! Papa!" Tangisnya pecah. Tubuhnya tersungkur ke lantai. Tindakannya itu terang saja menarik atensi semua orang penghuni rumah, tak terkecuali Narendra dan Helena. Pasangan suami istri itu menuruni tangga dengan wajah panik menatap putri mereka.
"Lara? Kamu kenapa, Sayang? Apa yang terjadi?" tanya Helena. Ia kemudian berjongkok di sisi putrinya lalu menangkub wajah Lara.
"Alisha, Ma! Alisha sudah suruh orang buat culik Lara. Ini perbuatan dia!" adunya dengan tangisan yang didramatisir.
Sontak saja Narendra dan Helena saling pandang dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dalam hati Lara merasa puas bisa menjatuhkan nama baik gadis itu di depan orang tuanya.
Dengan keadaannya yang sedemikian rupa, sudah barang pasti mereka akan iba karena dirinya sudah seperti korban penculikan dan penganiayaan.
Lara sudah membayangkan yang indah-indah. Bukan tak mungkin Narendra akan mengusir Alisha. Mengembalikan gadis itu pada ibunya tanpa memberikan bekal apa-apa. Akhirnya, keutuhan keluarga akan kembali seperti sedia kala tanpa adanya gadis itu di tengah-tengah mereka. Persetan meskipun Dante tak mencintainya. Yang penting sang papa berada di pihaknya, maka semua akan baik-baik saja.
Namun, sesuatu diluar dugaan Lara pun terjadi. Alih-alih iba dan menolongnya, Narendra tiba-tiba bangkit dari posisinya berjongkok. Wajah tak bersahabat yang ditunjukkan pria itu membuat Lara merasakan firasat buruk.
Benar saja. Narendra menatap sengit pada Helena, lalu berucap dengan nada tinggi. "Urus putrimu ini!" tunjuknya pada Lara.
Seperti tercekat, Lara hanya bisa membulatkan bola mata dan menghentikan tangisnya. Batinnya bertanya-tanya, apakah maksud Narendra dengan kata-kata 'putrimu' pada Helena? Kenapa sang papa seolah-olah lepas tangan? Bukankah dia putri Narendra juga?
Perasaan tak enak Lara semakin diperkuat dengan diamnya Helena. Alih-alih melawan, wanita itu justru menunduk dalam penuh rasa bersalah. Helena bahkan membiarkan Narendra pergi dari sana.
Sebenarnya ada apa ini? Baru juga sehari dirinya menghilang, keadaan rumah sudah berubah total.
Tak ingin larut dalam rasa penasaran, Lara menyentuh lengan Helena. Mengguncangnya pelan, lalu mengeluarkan ajian merengeknya.
"Ma ... kenapa Papa berubah jahat seperti itu?"
__ADS_1
"DIAM!!"
Lara berjingkat saking terkejutnya. Seumur hidup baru kali ini Helena berbicara keras terhadapnya. Memang salah dia apa? Seketika Lara merasa kesal bukan kepalang. Seharusnya dia disayang-sayang, sebab di sini posisinya adalah gadis yang teraniaya. Sedangkan Alisha adalah tokoh jahat yang ia ciptakan. Tapi yang terjadi apa? Ini benar-benar meleset dari perhitungannya.
"Kenapa Mama bentak Lara? Memang salah Lara apa? Alisha jahat, Ma ...! Dia udah culik dan aniaya Lara ...! Kenapa kalian nggak peduli sama Lara? Papa jahat! Tapi Mama lebih jahat!"
"Sekali lagi bicara yang tidak-tidak, Mama sumpal mulut kamu, Ra!" ancam Helena sambil mendelikkan mata. Membuat Lara tergemap dibuatnya.
Kenapa? Kenapa semua orang berubah kepadanya? Bukan hanya mama papanya, tetapi seluruh penjaga dan asisten rumah tangga mereka. Ia baru sadar, banyak orang yang mengerumuni dirinya di sana, tetapi tak ada satu pun yang merasa iba.
"Mama ...," isak Lara. Hanya wanita itu satu-satunya harapan. Helena adalah wanita yang melahirkannya.
"Kenapa! Kau ingin tau masalahnya apa?"
Belum sempat Lara membuka mulut untuk menjawab, Helena sudah bergerak sigap menyeretnya. Meski menangis, tetapi Lara hanya bisa pasrah mengikuti ke mana sang mama membawanya.
Helena menyentak tangan Lara hingga membentur tembok dengan keras. Gadis itu memekik dan meringis kesakitan. Helena sepertinya sengaja membawa Lara ke tempat sepi agar bisa leluasa berbicara berdua dengan putrinya.
"Diam!" bentak Helena.
Lara langsung mengatupkan bibir. Ia menunduk dalam dengan bahu berguncang hebat. Ini pertama kalinya ia merasakan sakit hati oleh perlakuan mamanya. Sebenarnya ada apa? Salah dirinya apa?
"Lara. Katakan pada Mama, apa kamu sudah bosan tinggal di sini!"
Mendengar pertanyaan itu Lara spontan menggelengkan kepala. Memangnya dia mau di mana jika bukan tinggal di rumah ini?
"Kamu mau, jadi gembel di jalanan!"
Mata Lara membeliak kaget lalu spontan menatap mamanya? Pandangannya seperti menelisik sepasang bola mata penuh amarah itu. Jelas sekali, tak ada gurauan dari ekspresi sang mama tercinta. Bahkan Helena sampai berkacak pinggang karena saking marahnya.
__ADS_1
"Lara. Jawab Mama! Kamu mau jadi gembel di jalanan sana!" Gigi Helena menggemertak, sedangkan satu tangannya menuding ke sembarang arah. Lara terkesiap lalu buru-buru menggeleng kuat.
"Tentu saja Lara nggak mau, Ma. Kita punya harta, lalu kenapa Lara harus jadi gembel di jalanan," isaknya pelan tanpa tahu menahu duduk perkaranya.
"Kalau gitu, bersikap baiklah terhadap Alisha jika kamu masih ingin menikmati segalanya!" tegas Helena dengan suara yang bergetar. Terlihat sekali jika wanita itu ingin menangis, tetapi berusaha tetap tegar.
Tentu saja perubahan sikap Helena itu menjadi pertanyaan besar di benak Lara. Sebuah kejanggalan kembali terlihat. Helena yang semula membenci Alisha kini bahkan menuntutnya bersikap baik terhadap gadis sialan itu. Sebenarnya ada apa?
"Ma!" panggil Lara ketika Helena sudah berjalan dua langkah hendak meninggalkannya. Mendengar putrinya memanggil dengan nada tinggi, wanita dengan balutan pakaian tidur itu sontak menghentikan langkah lalu menoleh dengan wajah marah.
"Apa?"
"Bisa jelaskan, kenapa semua jadi berubah seperti ini? Lara butuh penjelasan, Ma. Bukannya perintah tidak jelas yang harus ditaati!"
"Dasar anak bodoh." Helena menggeram sambil bergerak cepat mencengkeram lengan putrinya. "Dengar, Lara." Ia menjelaskan setengah berbisik. "Kau bukanlah anak Papa Narendra. Kau adalah anak Mama dari pria lainnya. Jadi sudah jelas, kau tidak memiliki hak apa pun dari Papa Narendra jika bukan karena belas kasihnya."
Seperti petir menyambar di siang hari, kata-kata Helena benar-benar sukses mengejutkan Lara. Gadis itu menatap mamanya dengan mulut yang ternganga, lalu kemudian air mata menganak sungai tanpa suara.
"Apa Mama bilang?" lirih gadis itu mencoba memastikan. Barangkali saja ia mengalami gangguan pendengaran. Ya. Ia bahkan berharap demikian. Namun, sayangnya kata-kata Helena kemudian sukses mematahkan harapannya.
"Masih kurang jelas!" bentak Helena yang seketika meluluhlantakkan perasaan Lara.
Tubuh Lara seperti beku. Kakinya seperti lemas. Bahkan untuk berdiri menopang berat tubuhnya sendiri. Ia menoleh pada mamanya sebentar lalu menggeleng tak percaya. Bisa-bisanya wanita itu membeberkan perselingkuhannya di masa lalu dengan wajah tanpa dosa. Lalu sekarang apa yang tersisa? Ia hanyalah anak haram yang tak memiliki pegangan lagi.
Tubuh Lara merosot setelah Helena meninggalkan dirinya. Gadis itu duduk meringkuk mendekap lutut. Tanpa gadis itu tahu, Helena yang buru-buru pergi ternyata mengunci diri di toilet kamar tamu. Tak ada yang melihat hal itu.
Di sana, ia menangis sejadi-jadinya untuk menumpahkan segala sesak di dada. Tak ada yang lebih menyakitkan selain menyakiti hati putrinya. Namun, bagaimanapun juga Lara memang harus tahu semua kebenarannya. Itu penting, agar gadis itu tahu diri dan tidak bertingkah lagi. Helena sendiri bahkan tak menyangka jika aib yang sudah berpuluh-puluh tahun ia sembunyikan, akhirnya diketahui oleh Narendra.
Beruntung, Narendra bukanlah manusia kejam yang seketika melakukan pengusiran. Pria itu bahkan masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Hanya saja, Narendra tak bisa menjamin kehidupan mereka akan sama seperti dulu. Terlebih lagi hubungannya dengan Lara yang sejatinya tidak memiliki ikatan darah.
__ADS_1
"Maafkan Mama, Lara. Karena dosa di masa lalu Mama, kamu jadi ikut menanggung derita," lirihnya sedih.