
"Hati-hati di jalan, ya. Nggak lama lagi Mama sama Papa bakal nyusul." Helena melambaikan tangan melepas kepergian Alisha dan Dante. Gadis itu membalas lambaian ibu tirinya sambil tersenyum, lalu kemudian senyum itu memudar setelah mobil Dante berjalan dan akhirnya melaju kencang.
Hawa dingin langsung terasa menyelimuti tubuh Alisha. Bukan berasal dari pendingin udara di mobil mahal Dante, melainkan sikap pemuda itu yang mendadak tak acuh. Semenjak meninggalkan rumah, Dante bahkan sama sekali tak mengajaknya bicara.
Jujur saja, Alisha merasa aneh dengan perubahan sikap Dante, mengingat beberapa hari lalu Dante masih menggodanya dan bahkan memujinya. Kenapa perubahannya sedemikian cepat? Mungkinkah Dante hanya pura-pura menggoda ataukah pemuda itu dendam lantaran kembali mendapatkan penolakan?
Ah, andai Dante tahu bagaimana perasaan Alisha, mungkin pemuda itu akan berpikir ribuan kali untuk memusuhinya. Bagaimana tidak? Alisha bahkan berlipat kali merasa kecewanya sebab Dante tak pernah menunjukkan keseriusan. Rayuannya hanya omong doang. Sampai kapan pun takkan pernah menjadi kenyataan.
Alisha merasa bingung saat tiba-tiba Dante membelokkan mobilnya ke suatu tempat. Ia memperhatikan sekeliling dan langsung menyadari mereka kini ada di mana. Ya, Dante memarkirkan mobilnya tepat di depan butik Selena. Namun, yang jadi pertanyaan, untuk apa Dante membawanya pergi ke sana?
"Mama nyuruh kita ambil gaun sama jas dulu sebelum ke hotel." Seolah-olah tahu kebingungan Alisha, Dante berinisiatif memberitahu gadis itu. Nada bicaranya memang sedikit ketus. Namun, Alisha tetap mengangguk demi menanggapi itikad baik Dante.
"Lo nggak usah turun. Gue bisa sendiri," lanjut Dante lagi yang membuat Alisha merasa geram sekaligus kesal. Sehingga tatapan dingin Dante itu ia balas dengan memalingkan muka. Terang saja ia merasa malu sebab Alisha sudah sempat menurunkan satu kakinya hendak turun.
Menyebalkan, batin Alisha.
Tak lama kemudian Dante muncul dengan tangan penuh bawaan. Tangan kiri membawa kotak besar, sementara tangan kanan membawa gantungan baju yang tergantung stelan jasnya.
Melihat Alisha yang tak bereaksi oleh kedatangannya, pemuda itu sampai-sampai menendang pintu lantaran saking kesalnya. Bagaimana tidak? Ia kewalahan dengan barang bawaannya, sedangkan Alisha justru santai-santai di dalam sana.
Persis seperti dugaannya. Tiba-tiba kaca mobilnya turun perlahan disusul wajah bengong Alisha menyembul keluar. Dan yang membuat Dante kian sebal, gadis itu malah bertanya seolah-olah tanpa dosa.
"Apaan sih, ngagetin aja?"
"Lo nggak lihat bawaan gue banyak?"
"Ya terus?" tanya Alisha masih tidak paham yang membuat Dante seketika menggeram.
"Bukain pintu bagasi, dodol!"
Seketika mata Alisha membeliak. Sangat kesal. Baru sepagi ini sudah dua orang mengatainya dodol. Pasangan mau tunangan pula! Serasi sekali mereka ya! Bahkan dalam urusan mengatai orang.
Sambil memanyunkan bibirnya, Alisha turun dari mobil.
"Dasar sewot. Siapa suruh, masuk ke sana sendirian? Giliran bawa bawaan dikit aja udah bingung nggak ketulungan. Kayak orang kebakaran jenggot. Orang yang jelas-jelas nggak salah sampai-sampai dimakinya juga!" ujarnya sambil berjalan dengan kaki yang menghentak.
"Heh, kalau ngomongin orang itu bisa nggak sih di dalam hati aja? Kuping gue panas dengerinnya!" balas Dante yang tak terima.
"Oh ya?" sahut Alisha dengan nada remeh. "Hebat juga ternyata ya. Bisa dengerin kata hati orang. Padahal aku ngomongnya pake bahasa kalbu, loh."
Mata Dante mendelik. Jelas-jelas Alisha bicara keras, tapi bisa-bisanya bilang ngomong pake bahasa kalbu.
"Apa lihat-lihat!" ketus Dante karena Alisha justru hanya menatapnya dengan tajam. "Dasar bawel." Ia kembali mengatai gadis itu.
__ADS_1
Alisha menggemertakkan gigi sambil mengepalkan tangannya. Ia memejamkan untuk meredam emosinya. Tahu begini ia takkan mau menggantikan Lara. Menyesal. Ia sungguh menyesal.
"Lo ngapain jalan ke belakang?"
"Buat buka bagasi lah. Memang mau apa lagi," jawab Alisha enteng. Namun, seketika ia mengernyit melihat ekspresi Dante yang mendadak aneh.
"Ngapain susah-susah ke belakang? Dasar norak. Tinggal pencet tombolnya doang masa nggak bisa?"
"Tombol?" ulang Alisha masih tak mengerti. Astaga. Seketika gadis itu tersadar dan merutuki kebodohannya. Ia sampai lupa jika mobil Dante dan juga mobil yang terparkir di rumah papanya adalah mobil keluaran terbaru. Ia tak perlu ke belakang dulu hanya untuk membuka bagasi. Selama berada di rumah itu ia memang belum pernah membuka bagasi sendiri. Sial. Malunya nggak ketulungan.
"Gue pikir minta bantuan lo bisa cepet. Taunya malah lama. Bikin gue tambah pegel aja. Ini bawa!" ketus Dante sambil menyodorkan kotak besar berisi gaun tunangan Lara. Ia lantas berjalan mengitari mobil untuk menghampiri bagian kemudi.
Alisha masih tetap cemberut saat mereka sampai di hotel yang dituju. Sepanjang perjalanan keduanya juga tak terlibat obrolan apa pun. Ini benar-benar situasi yang tidak Alisha sukai. Entah bagaimana dengan Dante. Pemuda itu tampaknya biasa-biasa saja.
"Itu Dante datang." Telunjuk Niken terarah pada putranya ketika melihat Dante tiba. Wanita itu tampak cantik dengan balutan pakaian formal dan rambut disanggul indah.
Namun, ekspresinya tampak berubah ketika tahu yang datang bersama Dante justru Alisha dan bukan Lara.
"Dante? Alisha? Laranya mana?" tanyanya setelah Dante dan Alisha dekat.
"Kata Tante Helena dia sakit, Ma. Jadi nggak bisa ke sini," jawab Dante.
"Sakit? Memangnya sakit apa?" Wajah Niken terlihat cemas.
"Kalau Om Narendra sama Tante Helena gimana?"
"Entar mereka nyusul, Ma."
"Owh, gitu." Niken menggeser pandangannya ke arah Alisha kemudian tersenyum lembut pada gadis itu. "Alisha pasti kebagian tugas gantiin Lara gladi resik, ya?" tebaknya mantap pada gadis itu.
"I--iya, Tante," jawab Alisha kikuk.
"Yuk sini." Tanpa sungkan Niken menarik tangan Alisha. Bukan dengan kekuatan penuh serta paksaan, melainkan ajakan dengan penuh kelembutan.
Sambil berjalan mengimbangi langkah Niken, Alisha menyempatkan diri menoleh pada Dante yang tetap pasang wajah datar. Bahkan langsung memalingkan muka sebab ada seseorang yang memanggilnya.
Suasana ballroom hotel itu sudah terlihat ramai meski acara belum dimulai. Selain keluarga, beberapa pihak yang terkait juga turut hadir untuk gladi resik ini. Rombongan dari WO juga terlihat menyelesaikan pekerjaan mereka. Tempatnya sendiri memang masih sedikit berantakan lantaran persiapan memang belum rampung seratus persen.
Dalam hati Alisha berdecak kagum melihat pemandangan di depan matanya. Lara benar-benar menginginkan acaranya berlangsung sangat meriah. Acara pertunangan saja semeriah acara pernikahan. Segala sesuatunya benar-benar terlihat mewah. Sangat berkelas. Entah berapa tamu undangan yang akan hadir esok hari.
"Al, gaun punya Lara mana?" tanya Niken karena melihat Alisha hanya menenteng stelan jas milik Dante saja.
Alisha yang tersadar buru-buru menjawabnya dengan sedikit gagap. "Owh, itu ... anu–"
__ADS_1
"Ini, Ma." Terdengar suara Dante menyahut. Pemuda itu muncul dengan tangan membawa sebuah kotak. Entah apa yang dia pikirkan, tetapi mata elangnya terus saja melirik Alisha dengan sebal.
Lantaran grogi dan krisis percaya diri membuat Alisha menunduk untuk menghindari lirikan Dante. Niken yang menyadari itu memilih pura-pura tak tahu demi menghindari terjadinya perdebatan.
"Terima kasih, Sayang," ucap Niken setelah mengambil alih kotak gaun dari tangan putranya. Wanita dengan tatapan teduh ia kembali mendekati Alisha lalu mengajak gadis itu berganti pakaian. "Alisha, yuk ikut Tante. Kamu tukar baju kamu dengan gaun ini ya."
"Ke-kenapa begitu, Tante?"
"Untuk dipakai saat gladi resik," jelas Niken dengan sabar. "Kamu sendiri kan tau Lara memilih gaun dengan model seperti apa. Kalau tidak latihan jalan dengan gaun ini dari sekarang, besok kalau kesrimpet bagaimana?"
"Tapi kan yang pakai gaun itu besok Lara, Tante. Dan Lara bilang dia sudah terbiasa. Saya yakin dia bisa melakukan dengan baik. Jadi sepertinya saya nggak perlu ikutan gladi resik, deh." Alisha tersenyum rikuh. Namun, begitu matanya bersirobok dengan mata elang milik Dante, buru-buru saja ia menundukkan kepala.
"Nggak bisa, Alisha. Kalau kamu nggak memerankan posisi Lara nanti gladi resik yang lainnya juga nggak akan jalan. Kamu ngerti, kan?" Niken berusaha memberi pengertian.
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Alisha mengangguk. "Ngerti, Tante."
"Bagus," puji Niken. Wanita itu kemudian menatap putranya. "Dante pakai jasnya juga nggak?"
"Nggak usah lah, Ma. Kalau cowok mau pake baju apa juga nggak ngaruh. Nggak ribet kayak cewek."
"Ya udah. Kamu tungguin Alisha ganti pakaian ya."
"Hemm."
***
Dante hanya bisa geleng kepala saat Alisha nyaris jatuh untuk kesekian kalinya. Sudah lebih satu jam yang lalu gadis itu belajar berjalan dengan menggunakan high heels setinggi di atas sepuluh senti. Namun, belum ada tanda-tanda ia akan berjalan dengan lancar. Malahan sebaliknya. Langkah Alisha semakin tak karu-karuan.
"Bisa nggak sih fokuskan pikiran ke sini dulu?" protes Dante yang mulai merasa tak tahan. Kebetulan saat itu orang tua mereka sedang berada di ruang lain untuk beristirahat. Ini adalah kesempatan baginya untuk memberi pelajaran pada Alisha. "Serius sama latihan ini dulu! Ini pasti pikiran lo yang ngelantur ke mana-mana, nih! Makanya belajar jalan gitu doang sampe berjam-jam nggak kelar-kelar. Bikin capek aja. Lagian si Lara ngapain mesti sakit segala sih? Pake acara kirim orang kek gini buat gantiin dia, pula!"
"Apa kamu bilang? Capek?" sahut Alisha seolah-olah tidak dengar sambil mencondongkan telinga kirinya. Namun, gaya bicara seperti itu justru membuat Dante mengerutkan kening.
Ya. Harusnya pemuda itu tahu jika gadis itu yang merasa lebih tidak tahan. Sudah sejak tadi ia berusaha menahan diri di depan orang tuanya serta orang tua Dante untuk tidak menjawab kata-kata sinis Dante. Hal itu Alisha lakukan demi kesopanan. Serendah apa pun Dante mencoba menjatuhkan harga dirinya, ia tak mungkin berusaha melawan. Tapi sekarang, sudah beda cerita. Ia tidak mau ditindas begitu saja.
Menatap Dante dengan tajam, Alisha kemudian berucap dengan nada tinggi. "Kamu pikir cuma kamu doang yang capek? Aku juga, Dante! Kamu sih enak cuma ngatur sama ngomel-ngomel doang! Sedangkan aku? Aku sama sekali nggak ada kaitannya dengan acara ini! Aku bukan calon tunangan kamu! Tapi kenapa aku harus menerima semua ini, hah! Kenapa!"
Dante tak menjawab apa-apa. Namun, sebaliknya. Pemuda itu justru dibuat tertegun dengan reaksi Alisha yang di luar perkiraannya.
Mata yang semula menatap nyalang itu perlahan menunjukkan riak-riak. Dan sesaat kemudian Alisha pun terisak. Ia menjeda ucapannya sembari mengusap wajahnya kasar.
"Aku juga capek, Dante," lanjutnya dengan nada rendah tapi penuh emosi. "Aku lelah harus nurut ini itu. Aku capek diatur begini begitu! Aku tersiksa dengan gaun ini! Aku tersiksa dengan sepatu tinggi ini! Belum lagi mulut pedas kamu yang sudah melebihi sambal setan level seribu!
Sebenarnya masalahmu apa sama aku? Kamu dendam, hah! Kamu dendam sama aku!"
__ADS_1
Belum sempat Dante menjawab, Alisha sudah lebih dulu pergi meninggalkan pemuda itu.