Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Kalap hingga main tabrak


__ADS_3

"Ada apa, Dante. Mama sedang bikin kue." Seorang wanita yang sedang membungkuk menyahuti panggilan Dante tanpa menoleh. Tangannya tengah fokus menghias kue, sementara pandangannya tengah serius menatap kue tart yang ia hias. Celemek motif bunga-bunga menempel di tubuh bagian depan, menutupi dress panjang selututnya yang berharga mahal.


Dante tak menggubris alasan wanita yang ia panggil mama. Pemuda itu tetap mendekat untuk menarik atensinya.


"Ada orang yang nyariin Mama."


Rupanya usaha Dante membuahkan hasil. Niken yang biasanya tak mau diganggu saat sedang sibuk membuat makanan, kini wanita cantik itu menghentikan kegiatannya dan memfokuskan perhatian pada Dante.


"Oh ya? Memangnya siapa?"


"Tuh."


Pandangan Niken langsung terarah ke tempat yang ditunjuk putranya. Ia mengerutkan kening, sementara matanya sedikit menyipit saat menatap gadis cantik dengan balutan dress santai sepanjang lutut dan tangannya memegang sebuah paper bag bertuliskan brand kue ternama.


Sebentar ia mengingat-ingat gadis yang tersenyum tipis itu. Lalu kemudian saat otaknya sudah menemukan memori tentang dia, barulah Niken membeliak dan sontak menyebutkan sebuah nama.


"Alisha? Kamu Alisha, kan?"


Alisha hanya melebarkan senyum dan mengangguk tipis membenarkan. Sedangkan Dante melongo tak percaya. Bagaimana mamanya bisa mengenali Alisha? Kapan dan di mana mereka pernah berjumpa?


"Ya ampun, Alisha ... Tante nggak ngira kamu bakalan ke sini loh. Sini Sayang, sini. Bantuin Tante bikin kue yuk. Ini Tante lagi praktek bikin kue yang kamu bilang waktu itu." Tanpa memedulikan senyum kecut dan sikap canggung gadis itu, Niken menarik Alisha untuk mendekati kue buatannya. Memintanya mengoreksi bagian mana yang salah.


Dante yang melihat itu hanya bisa menatap keduanya dengan wajah heran. Bagaimana mamanya bisa sedekat itu dengan anak gadis yang baru saja dikenalnya. Sedangkan seingat Dante, Niken tak pernah seakrab ini dengan Lara meskipun sudah betul-betul kenal dengan calon tunangannya. Aneh bukan?


Karena saking penasarannya, akhirnya Dante memutuskan bertanya. "Ma, kok Mama udah kenal sama ini anak?" tunjuknya pada Alisha, masih dengan wajah heran.

__ADS_1


Niken yang mendengar pertanyaan Dante seketika menyadari jika ia belum memperkenalkan Dante pada Alisha.


"Oh iya, Alisha. Ini Dante, anak Tante. Dan kamu Dante ... perkenalkan, ini namanya Alisha. Gadis baik yang waktu itu nganterin Mama pulang. Yang waktu itu Mama ceritakan." Niken berucap antusias, sedangkan sikap sebaliknya justru ditunjukkan oleh Dante.


"Gadis baik Mama bilang?" Dante mendengkus kasar sebelum melanjutkan ucapannya. "Baik dari segi mana, Mama? Yang ada dia tuh gadis yang suka nyakitin hati orang!" ketusnya kemudian.


Ekspresi heran langsung terlihat dari wajah Niken. Namun, wanita lembut itu seketika memperingatkan putranya demi azas kesopanan. "Dante! Ngerti apa kamu tentang Alisha? Jaga bicaramu, Nak."


"Mama nggak ngerti aja dia itu cewek kayak apa."


"Hemmm?" Niken memperhatikan Dante dan Alisha bergantian. Ia menangkap ada sesuatu yang ia ketahui Dante mengenai Alisha yang masih dirahasiakan putranya. Tapi apa? Sejauh ini Dante tak pernah cerita apa-apa. "Dante, Alisha, apa sebelumnya kalian pernah saling kenal? Apa ada sesuatu yang terlewat oleh Mama?" Kali ini ia menatap putranya dengan ekspresi menuntut penjelasan.


Seketika Dante tergemap, bingung harus menjawab apa. Selama ini ia tak pernah bisa membohongi mamanya. Namun, di sisi lain ia juga tak bisa mengakui jika pernah ditolak oleh Alisha. Itu terlalu memalukan. Alhasil, ia memutar fakta dengan menceritakan kejadian yang sebelumnya menimpa Alisha.


"Nggak ada, Ma. Dante sempat kesal sama dia karena Dante pikir dia penyusup yang diam-diam masuk rumah kita! Eh, nggak taunya dia nyasar."


Mama ini apaan, sih? Bukannya ketawa, malahan cemas. Pake nunjukin sikap perhatian, pula. Yang anaknya Mama itu siapa? Aku atau Alisha? Dante menggerutu dalam hati.


"Saya baik-baik aja kok, Tante." Memangnya apa lagi yang bisa Alisha katakan? Meski berbohong dan harus menahan nyeri di area dahi.


"Bohong aja terus!" sahut Dante dengan ketus dan itu sukses membuat Niken dan Alisha menoleh padanya bersama-sama.


"Dante, apa sih?"


"Coba aja Mama tanya sama dia. Jidatnya bonyok, nggak?"

__ADS_1


Niken pun membelalak dan sontak memperhatikan dahi Alisha. Ia memaksa memeriksa kening Alisha meski gadis itu berusaha menutupinya.


"Dahi kamu kenapa, Alisha? Sini biar Tante periksa."


"Ah, nggak ada, Tante. Dahi saya nggak kenapa-kenapa, kok." Gadis itu berkelit. Namun, rupanya Niken tak bisa dibohongi begitu saja.


"Kalau nggak pa-pa kenapa harus ditutupi? Buka, Alisha, biar Tante lihat sebentar."


Merasa tak enak hati dengan kebaikan Niken, mau tak mau Alisha patuh dan menjauhkan tangan dari dahinya. Namun, ia tak tinggal diam. Alisha melirik sinis pada Dante sebagai bentuk ancaman. Sayangnya Dante hanya menanggapi dengan santai dan menunjukkan senyum miring.


"Ya Allah, dahi kamu lebam, Alisha. Kamu barusan membentur apa?"


Kepanikan langsung mewarnai wajah Niken. Seketika ia menoleh pada seseorang dan menatap penuh tuduhan. Siapa lagi jika bukan Dante. Pemuda itulah sasarannya sekarang.


"Dante. Ayo ngaku! Kamu apain Alisha sampai dahinya lebam gini? Kamu mau nyuri ciuman dia, ya!"


"Mama! Apa-apaan sih nuduh orang sembarangan! Yang ada tuh dia! Kalap lihat cowok ganteng berenang sampai-sampai nggak sadar dinding di depannya terbuat dari kaca! Main tabrak gitu aja."


Terang saja Alisha membelalak. Walaupun dia memang membentur kaca, tapi kata-kata Dante ini benar-benar fitnah kejam. Memalukan.


"Itu nggak benar, Tante, itu nggak benar!" Alisha menggeleng kuat-kuat sebagai bentuk penyangkalan. Sedangkan Dante hanya memutar bola mata malas. Andai saja sekarang tidak ada Niken di tengah-tengah mereka, mungkin Alisha sudah membenturkan dahi Dante berkali-kali ke dinding kaca. Biar dia tahu rasanya seperti apa.


"Tenang saja, Alisha. Tante percaya penuh sama kamu. Tapi sebaliknya–" Niken mengalihkan pandangan pada Dante dan menatap putranya sinis. "Mama jadi ilfil sama kamu, Dante. Jangan jadi anak durhaka kalau nggak mau dicoret dari kartu keluarga," ancamnya.


"What?" Mulut Dante ternganga dengan jari menunjuk ke arah dadanya. Namun, belum sempat dirinya melayangkan protes, Niken sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan sebuah kalimat perintah.

__ADS_1


"Sudah sudah! Cepat ganti baju bersih dan kembali kemari sambil bawa kotak obat. Enggak pakai lama!" Niken mengucapkan kalimat terakhirnya dengan tegas dan penuh penekanan. Dante tak bisa berkata-kata selain mendesah kasar dan mematuhi perintah mamanya.


Ada satu hal yang tidak diketahui Alisha dan Niken mengenai dirinya. Ya, walaupun ia menunjukkan sikap terpaksa, tetapi tak bisa dipungkiri jika hati Dante sekarang tengah berbunga-bunga.


__ADS_2