Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Senang atau balas dendam


__ADS_3

Duduk di atas kasur tipis sembari memeluk lutut, Alisha mendengarkan dua orang dewasa itu berbicara dari bilik kamarnya. Sesekali ia mengusap bulir bening yang menetes dari sudut mata. Atau kadang mengusap dada, tempat di mana paru-parunya bersarang itu terasa sesak.


Lika-liku kehidupan memang tak selalu berjalan mulus sesuai yang diharapkan. Beberapa saat lalu Alisha dibuat tercengang dengan mengetahui fakta bahwa Narendra adalah ayah kandungnya.


Haruskah dirinya senang?


Atau justru balas dendam?


Tuhan memang memiliki cara tersendiri untuk mempertemukan umatnya dengan sesama. Seperti halnya Alisha yang dipertemukan dengan Narendra melalui cara yang indah.


Harusnya ini menjadi momen yang membahagiakan. Di mana pertemuan yang mengharukan itu terjadi. Saat seorang anak yang tak pernah sekalipun melihat wajah ayah kandungnya, kini telah bertatap muka dan bahkan bisa memeluknya.


Harusnya.


Seandainya dulu Narendra tidak meninggalkan ibunya dengan cara yang keji dan menyakitkan.


Lalu apa jadinya jika fakta yang terjadi justru sebaliknya? Anak gadis mana yang tahan jika setiap hari disajikan dengan air mata kepedihan sang ibu? Anak gadis mana yang tak pilu melihat perjuangan ibunya mencari nafkah hingga dia sakit-sakitan. Anak gadis mana yang tidak iri melihat kebahagiaan teman sebaya yang bisa mendapatkan kasih sayang utuh dari orang tuanya?


Meski Wanda tak pernah mengajarkan, tetapi kebencian serta dendam itu tumbuh dengan sendirinya di hati Alisha. Dendam itu kian subur seiring bertambahnya usia. Seiring dengan pedihnya kehidupan mereka.


Lalu, ketika fakta di luar dugaan itu terungkap ....


Ketika sang ayah ternyata sosok yang ia anggap sebagai malaikat ...


Alisha bisa apa?

__ADS_1


Haruskah ia memeluk dan menangis bahagia lalu merasa bangga karena ayahnya orang kaya raya?


Atau perlukah ia menghunuskan pisau dapur ke perut pria jahat itu sekarang juga?


Mungkin saat ini Malaikat dan iblis jahat sedang berlomba membisik di telinganya. Mengintruksikan kepadanya apa yang perlu dilakukan.


Namun, sesakit-sakitnya hati Alisha masih bisa berpikir jernih juga. Batinnya terus meneriakkan "Tidak" setiap kali keinginan brutal itu hinggap di kepala. Bagaimana juga itu adalah ayah kandungnya. Kemarahannya tak perlu dilampiaskan dengan cara melenyapkan nyawanya.


Alhasil, hanya air mata penuh kebencian yang menjadi perwakilan.


"Wanda ... tolong dengarkan dulu penjelasanku." Suara Narendra terdengar serak. Sangat jauh berbeda dengan ketika dirinya sedang bercanda. Benar-benar mematahkan kesan tegar yang selama ini Alisha simpulkan. Alisha bisa bayangkan pria matang yang rupawan itu kini tengah menitikkan air mata buaya.


"Pergilah, Mas. Tidak ada lagi yang perlu aku dengar." Suara Wanda lebih terdengar memilukan meski wanita itu tetap berusaha tegar.


"Aku tak seburuk yang kau pikirkan, Wanda. Selama ini aku selalu mencari kalian."


Isak tangis Alisha tak tertahankan lagi kala permohonan Wanda itu menyapa telinganya. Di bilik sempit itu ia menggeleng tak terima. Bagaimana mungkin sang ibu berbicara begitu santun terhadap pria yang telah membuatnya menderita. Harusnya kesempatan ini ia gunakan untuk menghakimi. Mencaci maki. Atau melakukan apa saja yang selama ini ia tahan. Itulah yang membuat Alisha merasa Tuhan tidak adil terhadap ibunya.


"Wandaโ€“"


"Ini sudah tengah malam, Mas!" potong Wanda saat Narendra ingin memberi penjelasan. "Kau ingin terjadi fitnah di rumah ini! Kau ingin membuat susah aku dan Alisha lagi!"


"Tidak, Wanda. Sama sekali tidak! Aku hanya ingin kita memperbaiki semuanya."


"Kalau begitu cepat keluar!" Wanda menunjuk pintu sembari berkata dengan tegas. Kata-kata memohon Narendra bahkan sama sekali tak digubrisnya.

__ADS_1


Narendra tertegun sejenak. Ia menatap Wanda dengan ekspresi mengiba. Namun, Wanda sekarang berbeda dengan Wanda yang ia kenal dulu. Yang penuh kelembutan dan kasih sayang. Wanda sekarang sangat tegas tegar. Namun, ia tetap bisa melihat luka pada bola mata yang berkilat penuh amarah itu.


Sepertinya Wanda sangat serius dengan ucapannya. Narendra yang begitu ahli menguasai situasi itu kini dibuat ciut nyali. Memang benar saat ini sudah tengah malam. Ada baiknya jika dia pamit pulang untuk esok kembali lagi. Sekaligus memberi kesempatan pada Wanda dan Alisha untuk menenangkan diri. Barangkali setelah itu keduanya bisa menerima keadaan dan mau menerimanya kembali.


"Baiklah, Wanda. Aku akan pergi sekarang. Tapi bisakah aku berbicara dengan Alisha sebentar? Aku ingin meminta maaf kepadanya."


"Tidak perlu!"


Wanda yang hendak menyahuti dibuat urung oleh teriakan Alisha dari dalam kamarnya. Wanda dan Narendra kompak menoleh ke arah pintu kamar Alisha.


"Suruh dia pergi, Ibu! Aku tidak ingin bertemu dengan orang itu lagi!" Suara tangis Alisha pun menyusul setelahnya.


"Alisha, dengerin Papa, Nak." Narendra yang sudah menitikkan air mata hendak melangkah menuju pintu kamar Alisha tetapi ditahan oleh Wanda. Demi apa pun, ia sangat sedih mendapatkan penolakan dari putrinya.


"Sudah, Mas. Pulanglah! Memaksa bertemu Alisha itu percuma. Bukannya membaik, tetapi suasana hatinya akan semakin buruk! Biarkan dia menenangkan diri dulu," terang Wanda meminta pengertian. Bagaimana pun juga ia adalah seorang ibu sekaligus pernah menjadi istri. Ia mengerti benar bagaimana perasaan Alisha dan Narendra saat ini.


Mau tak mau, Narendra pun mengikuti anjuran dari Wanda. Dengan langkah gontai ia melangkah ke luar dan memasang wajah pasrah. Pria itu tak pernah terlihat sekacau ini sebelumnya.


Saat melangkahkan kakinya melewati pintu, hati Narendra kembali dibuat teriris dengan kata-kata tajam yang Alisha lontarkan dari dalam kamar.


"Pergi dan jangan pernah kembali lagi! Aku tak akan segan-segan membunuhmu jika kau masih menampakkan wajah di hadapanku!"


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

__ADS_1


Bertepatan dengan tanggal satu ramadhan kali ini, izinkan saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi pembaca yang beragam Islam.


Mohon maaf lahir batin ๐Ÿ™


__ADS_2