
"Hai, Boy! Kau datang juga rupanya. Aunty senang, sekali. Aunty nyaris putus asa karena nggak ada model pria untuk cobain jas pertunangan kamu."
Tubuh Alisha menegang pada posisinya. Apa tadi kata Selena? Pertunangan? Bola matanya ikut membulat. Memangnya siapa orang yang Selena panggil dengan sebutan Boy?
Derap langkah semakin mendekat. Sementara dirinya masih bergeming di tempat. Menanti dengan cemas gerangan siapa yang sedang berbincang dengan Selena di sebelah sana. Semoga saja bukan pemuda yang sekuat tenaga ingin ia hindari.
Namun, meski sekeras apa pun dirinya meminta pada Tuhan, jika memang sudah takdir akan bertemu, apa mungkin ia bisa menghindar? Lawan bicara Selena akhirnya bersuara, dan Alisha hapal betul itu suara siapa.
"Maaf kalau aku udah bikin Aunty nyaris putus asa."
Deg. Jantung Alisha berdetak cepat.
Dante? Itu beneran Dante? Tubuh Alisha gemetaran. Kedua orang itu semakin dekat. Ia langsung berbalik badan. Membelakangi Dante dan Selena agar pemuda itu tak melihat wajahnya.
"Tak apa, Tampan. Yang penting kau sudah datang. Oh iya, lihatlah gaun calon tunangan kamu. Cantik, bukan?" Selena menunjuk baju yang dikenakan Alisha dari belakang dan meminta pendapat pada Dante sebagai calon mempelai prianya.
Tanpa ia duga, reaksi Dante sangat datar. Pemuda itu hanya melihat sekilas dan tersenyum tipis padanya. Entah salah atau tidak, ia melihat Dante melakukan itu hanya sebagai formalitas saja. Sebenarnya pemuda itu bahagia atau tidak sih? Atau mungkin Dante tahu jika yang mengenakan gaun itu bukanlah calon tunangannya?
"Aku percaya. Gaun rancangan Aunty kan memang cantik-cantik semua."
"Ah, kau bisa saja." Selena menepuk pelan pundak Dante. "Tunggu ya, Tampan. Aunty ambilkan dulu stelan jas kamu."
Dante mengangguk kecil. Ia kemudian menempati sebuah sofa selagi menunggu Selena. Ia juga merogoh ponsel untuk melihat notifikasi dan beberapa pesan yang masuk melalui WhatsApp. Salah satunya dari sang papa yang terus mendesak agar dirinya datang ke butik walau hanya sebentar.
Ribet! Ngapain pake fitting baju segala sih! Ngapain juga harus pesan jas baru. Toh jas mahal gue masih banyak di rumah. Jarang dipakai juga.
Mendesah kasar, Dante mematikan ponselnya. Ia menghempaskan punggung pada sandaran sofa dan tanpa sengaja mengarahkan tatapan pada sosok yang sejak tadi bergeming di tempatnya.
__ADS_1
Dante berpikir itu adalah Lara. Dia mengenakan gaun indah mirip gaun pernikahan. Berwarna putih dengan model punggung terbuka hingga menampilkan kulitnya yang bening dan mulus. Sungguh sangat berlebihan jika dikenakan hanya untuk bertunangan.
Dante mengerutkan keningnya. Ada sesuatu yang aneh dengan Lara. Kenapa gadis itu hanya diam saja semenjak dirinya tiba? Bukan menyapanya atau cari-cari perhatian seperti biasa. Rasanya sangat tidak mungkin jika gadis itu malu-malu kepadanya. Sepanjang yang ia tahu, Lara orangnya tidak seperti itu. Selama ini Dante bahkan merutuki sikap Lara yang seperti gadis murahan. Bikin risih. Selalu bersikap posesif, entah dirinya suka atau tidak suka. Tapi hari ini, ada apa dengan dia?
Bodo amat, lah. Bukan urusan gue. Dante bersikap tak acuh, pun enggan menegur Lara. Ia justru tersenyum manis pada Selena yang datang membawa serta pakaiannya. Bergegas ia bangkit dan berdiri dengan tegap.
"Maaf sudah membuatmu menunggu, Boy." Selena memasang wajah tak enak hati. Sedangkan Dante menanggapinya dengan santai.
"Tak apa, Aunty."
"Apa kau tahu ke mana perginya Lara? Sepenting apa urusannya sampai-sampai fitting baju saja harus diwakilkan."
"Diwakilkan?" Dahi Dante berkerut tak paham.
"Ya. Diwakilkan. Beruntung postur mereka sama, jadi Aunty tidak perlu pusing-pusing mengira-ngira."
Sesaat kemudian Dante menyipitkan mata. Entah mengapa perawakan seperti itu rasanya tidak asing baginya. Tapi mirip siapa? Hanya melihat dari belakang benar-benar membuat wajah gadis itu tak tampak oleh penglihatannya.
Selena yang memperhatikan sikap Dante akhirnya mendekatkan wajahnya dan berbisik.
"Kau tahu Boy, dia sangat cantik dan lebih cocok mengenakan gaun itu dibandingkan Lara. Andai dia tertarik, aku ingin menjadikannya model di butik ini."
Dante memandang Selena kemudian bertanya heran. "Menjadikannya model? Memangnya dia bukan model Aunty?"
"Bukan, ih. Dia cuma model dadakan Aunty. Dia baru sekali ini ke butik Aunty. Tadi dia datang bersama Lara dan Lara meminta gadis itu mewakilinya. Apa kau ingin berkenalan, heum? Atau jangan-jangan ... kalian justru sudah saling mengenal?"
Meski Selena bicara setengah berbisik, tetapi dari tempatnya berdiri Alisha bisa mendengar itu dengan jelas. Tubuh gadis itu kian gemetaran. Hatinya semakin tidak tenang. Demi apa pun, ia ingin menghilang dari sini. Ia tak mau bertatap muka dengan Dante, apa lagi kedapatan mengenakan gaun seperti ini. Ia belum siap melihat reaksi Dante, melihat kemarahan pemuda itu.
__ADS_1
Plis, Aunty. Jangan paksa aku berbalik badan, batinnya lirih. Namun, yang terjadi kemudian ....
"Alisha!"
Mata Alisha sontak membola sebelum kemudian terkatup kuat-kuat. Selena memanggilnya, dan ia harus bagaimana?
Berbalik badan dan melihat kemarahan Dante?
Oh tidak. Apa yang akan dikatakan Dante jika tahu gaun Lara malah dikenakan dulu olehnya?
Bagaimana kalau pura-pura pusing dan masuk bilik ganti?
Sepertinya itu oke. Tapi ...
"Alisha. Coba berbalik badan, Sayang. Dante ingin melihat bagian depan gaun yang kau kenakan."
Sial. Selena memanggilnya lagi. Sudah tidak ada waktu untuk kabur dan ia harus berani menghadapi apa yang terjadi. Toh ini bukan salahnya. Lara sendiri yang memaksa agar dirinya mau menggantikan. Lagi pula hanya sebatas fitting baju saja. Bukannya menggantikan peran sebagai tunangan. Jelas ini bukan salahnya. Ia bisa menjelaskan jika nanti Dante tak terima.
Dengan gerakan perlahan, Alisha memutar badan dengan gaya elegan seperti yang tadi Selena arahkan. Ia berusaha tenang sekalipun tubuhnya seperti kedinginan. Ia berusaha tersenyum meskipun wajahnya pucat pasi. Sementara batinnya terus merapalkan doa agar Yang Maha Kuasa selalu melindunginya.
Untuk sejenak Alisha merasa tubuhnya sangat ringan. Kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang. Namun, meski begitu ia masih bisa melihat dengan jelas siapa yang berdiri di depan sana. Ada Selena yang tersenyum kagum sambil menepuk bahu seseorang di sampingnya.
Seseorang? Iya. Pemuda dengan balutan kemeja slim fit warna hitam itu adalah Dante. Meskipun ekspresinya datar, tetapi wajahnya selalu menawan.
"Bagaimana Dante, cantik bukan? Gaun ini bertabur payet dan berlian Swarovski yang sangat mewah. Artis-artis juga banyak yang memakai model seperti ini, loh."
Entah apa yang dipikirkan Dante. Pemuda itu tak merespon ucapan Selena. Namun, tatapan pemuda itu masih terpancang pada Alisha, membuat si gadis jadi salah tingkah dan buru-buru membuang muka ke arah bawah.
__ADS_1
Sebelum menundukkan kepala, Alisha sempat melihat mulut Dante yang sedikit ternganga.