Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Rencana besar Robby


__ADS_3

Dante mengibas-kibaskan lembaran ijazah SMA-nya ke arah wajah agar menghasilkan angin demi mengusir gerah di siang itu. Duduk di atas motor, pemuda itu menekuk wajah.


Rupanya mencari pekerjaan tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia sudah kelelahan keluar masuk perkantoran untuk menyerahkan berkas lamaran. Sayangnya, ijazah SMA yang dimilikinya tak berguna apa-apa. Kini ia putus asa dan hampir menyerah melanjutkannya.


Walaupun masih muda ia memiliki impian besar. Menikahi gadis yang ia cinta dan membahagiakannya. Untuk itu tentunya ia memerlukan perencanaan matang dari segi mental dan juga finansial. Ia tak ingin melibatkan harta orang tuanya. Dante ingin sukses berkat usahanya sendiri.


Namun, lagi-lagi merealisasikan sesuatu hal tak segampang perencanaan. Apa yang bisa diandalkan dari hanya ijazah SMA?


Ya Tuhan. Dante memijat pelipisnya pusing. Setiap kali teringat wajah ceria Alisha, saat itulah beribu harapan langsung memenuhi otak warasnya. Alisha adalah masa depannya. Ia ingin melewati banyak hal bersamanya.


Suara ponsel yang berdering menarik atensi Dante yang masih diliputi gamang. Pemuda itu bergegas merogoh saku celana demi mendapatkan benda pipih tersebut.


Nama yang tertera di layarnya membuat Dante tergemap. Untuk sejenak ia bingung harus melakukan apa. Mengangkatnya atau membiarkan saja? Panggilan ini berasal dari orang yang dirindukan, tetapi ia enggan jika harus terlibat pembicaraan.


Bukannya apa-apa, ia hanya malas berdebat saja. Untuk menghindari dia Dante bahkan sengaja memblokir semua akun media sosialnya. Baru kemarin lusa Dante membuka dan sekarang dia langsung saja menghubunginya.


Ingin mengabaikan, tetapi Dante tidak tega. Di samping kasihan, ia juga sangat merindukan. Bagaimanapun juga wanita ini adalah orang yang melahirkannya. Ia tak mau jadi anak durhaka dan masuk neraka. Biar saja ia dikatakan anak manja.

__ADS_1


"Halo, Ma." Akhirnya ia menerima panggilan setelah berusaha menetralkan perasaan.


"Dante, apa kabar kamu, Sayang? Mama sangat rindu." Suara penuh sayang itu langsung menyambutnya dengan cepat. Terdengar sangat pilu dan menyayat hati. Ah, Dante jadi ingin pulang dan memeluknya.


"Kabar Dante baik kok, Ma. Mama sendiri gimana?"


"Kata Bibi Mama lebih kurus setelah kamu pergi, Dante. Mama nggak bisa makan kalau kamu kelaparan. Kamu pulang ya Nak, ya. Kita ngumpul lagi seperti dulu," pinta Niken penuh iba.


Ia tahu Dante memblokir seluruh akses komunikasinya. Namun, ia juga yakin suatu saat pemuda itu akan terbuka hatinya untuk memberikan akses kembali. Tak menjadi masalah besar meski ia tak bisa berkomunikasi langsung dengan Dante, toh selama ini Jonathan selalu memberikan laporan mengenai sang putra meski asisten suaminya itu tak pernah terjun langsung menemui Dante.


"Dante pengen pulang, Ma ... tapi nggak sekarang. Dante pengen buktiin sama Papa kalau Dante bisa," jawab Dante lemah pada pintu surganya. Semarah apa pun dirinya, ia tetaplah tak bisa kasar pada mamanya.


Sesi curhat penuh rindu antara ibu dan anak itu pun berlanjut penuh haru. Hingga suara di seberang sana berganti suara pria yang sudah tak asing lagi bagi Dante.


"Dante, apa kabar, Nak?" Robby yang sejak datang tadi ikut mendengarkan obrolan pun akhirnya mengambil alih ponsel istrinya.


"Papa?" Dante mendengkus. Entah mengapa pada pria ini ia sulit sekali berbicara lembut.

__ADS_1


"Dante, Papa minta maaf untuk semua yang terjadi." Robby berucap penuh sesal. "Papa tahu Papa salah. Papa mungkin terlalu egois. Seharusnya Papa memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri, bukannya malah memberikan hukuman."


"Nah, itu tau!" sahut Dante dengan kesal.


"Jika sekarang Papa ingin menebus kesalahan, apa kamu mau memaafkan?"


Kata-kata Robby itu layaknya angin segar bagi Dante. Jika papanya sudah membuka peluang untuk bernegosiasi, tentunya ia takkan rugi.


"Menebus kesalahan? Dengan apa tuh, Pa?" Tanpa sadar mata Dante berbinar senang.


"Pulanglah Nak. Siapapun gadis yang kau bawa ke rumah untuk diperkenalkan, kami akan memberikan restu untuk kalian."


Dante membelalak penuh antusias. "Beneran Pa?"


"Benar, Nak. Papa akan berhenti menjodohkanmu lagi."


"Terima kasih, Pa! Terima kasih banyak!" Dante berucap girang. Ia tak tahu jika Robby memiliki sebuah rencana besar di baliknya.

__ADS_1


__ADS_2