Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Perlakuan Marcel


__ADS_3

Malam harinya, kedua keluarga calon besan itu mengatur pertemuan di sebuah restoran hotel berbintang. Pertemuan itu dilakukan khusus untuk membahas pertunangan. Seluruh personel harus datang, tak terkecuali Alisha juga.


Mau tak mau, suka atau tidak suka, Lara harus berbesar hati dengan segala kemungkinan yang terjadi nantinya. Bukan tidak mungkin jika Dante akan terus memperhatikan Alisha. Belum lagi bayangan ketakutan akan perhatian Niken yang mungkin akan direbut oleh Alisha.


Belum apa-apa Lara sudah merasa muak. Nyaris frustasi. Kadar kebenciannya terhadap Alisha kian bertambah saja. Entah dukun mana yang sudah gadis itu bayar. Sampai-sampai tanpa berbuat apa-apa saja perhatian Dante dan Niken sudah terenggut seluruhnya kepada Alisha. Ia yang berusaha mati-matian hanya memperoleh kegagalan. Sementara Alisha, dihujani banyak cinta. Lara tentunya sangat paham jika Dante hanya terpaksa mau menikah dengan dirinya.


Terpaksa? Cih. Jelas, dirinya sangat terhina. Apa kurangnya dia sampai-sampai Dante harus terpaksa?


Akan tetapi, kemudian Lara tersadar jika dalam pernikahannya kelak, masalah cinta dan terpaksa bukan lagi poin utama. Dante tidak bersatu dengan Alisha itu sudah lebih dari segalanya. Penderitaan Alisha lah yang kelak akan membuatnya bahagia.


Apakah dirinya jahat?


Tentu saja tidak. Ini adalah timbal balik dari apa yang Alisha lakukan terhadapnya. Biar impas.


Mobil Narendra yang dikemudikan oleh sopir akhirnya berbelok ke hotel yang ditentukan. Narendra sendiri sudah menerima pesan dari Robby jika keluarganya sudah sejak tadi tiba di tempat janjian. Maka dari itu, pria berusia matang yang masih terlihat bugar itu menggiring tiga bidadarinya menuju ke tempat yang sudah direserfasi.


Sambil berjalan, diam-diam Lara memperhatikan Alisha dengan tatapan tidak suka. Gadis itu hanya mengenakan dress biasa, tetapi kenapa Alisha selalu saja terlihat mempesona?


Memang diakuinya, gaya berpakaian Alisha tak semewah gaya berpakaiannya. Entah karena tak biasa atau mungkin sayang uangnya, Alisha memang setia dengan gaya pakaian sederhana. Maklum lah, orang kampung. Begitu batin Lara setiap kali memperhatikan penampilan Alisha.


Namun, anehnya meskipun batinnya terus saja mengatai Alisha itu gadis kampung, tetapi tetap saja hatinya juga tak henti-henti menyanjung.


Lara memang sangat membenci Alisha, tetapi di suatu waktu ia juga merasa benci pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya hati dan pikiran tidak ada sinkronisasi.


Seorang wanita berpakaian pelayan menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah, lalu kemudian mengantarkan sampai ke meja yang sudah direserfasi.

__ADS_1


Narendra dan Helena yang sudah kadung bahagia bertemu dengan calon besan sampai-sampai tak menyadari jika kedua putri mereka tertinggal di belakang. Keduanya baru menyadari setelah Niken mengurai pertanyaan bernada heran.


"Memangnya kalian cuma datang berdua? Alisha sama Lara mana? Kok nggak ada."


Narendra dan Helena menoleh ke belakang bersamaan lalu kemudian saling pandang.


"Loh, kemana mereka?"


"Ah, mungkin sedang memperbaiki penampilan mereka di luar. Biasa. Namanya juga anak muda, hahaha. Mereka harus tampil sempurna saat hendak bertemu calon mertuanya. Benar begitu bukan?" Narendra berkelakar, yang spontan diikuti derai tawa keempatnya.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Narendra. Tatapan matanya seketika tertuju pada sosok pemuda yang duduk di samping Robby dan spontan menyapa dengan nada tak biasa.


"Hey, siapa dia?"


Di meja makan besar itu sudah ada tiga orang duduk di sana, yaitu Robby, Niken dan seorang pemuda yang ia pikir adalah Dante. Namun, sepertinya ia salah sangka. Pemuda dengan balutan blazer warna hitam itu sedikit mirip Dante, tetapi bukanlah Dante. Keduanya memiliki karakter wajah yang berbeda.


"Halo, Om. Selamat malam."


"Wow. Halo, Boy. Apa kau tahu, kau hampir mengecohku dengan tampilanmu. Kau mirip sekali dengan calon menantu Om." Narendra menyambut salaman Marcel dengan mantap sekaligus memuji. Ia kemudian menatap Robby sembari bertanya dengan nada bercanda tanpa melepaskan salamannya dengan Marcel. "Robby, apa-apaan ini? Kau tidak berniat menukar calon menantuku dengan keponakanmu ini, bukan?"


"Hahaha, tentu saja tidak, Rendra."


"Lalu di mana calon menantuku itu, heum? Kenapa dia tidak ada di sini?"


"Ah, dia izin sebentar ke toilet, Mas. Mungkin grogi karena calon tunangannya sebentar lagi datang." Niken yang menjawab sambil tersenyum.

__ADS_1


"Owh, begitu ya. Anak muda jaman sekarang, hahaha. Enggak ceweknya, enggak cowoknya, dua-duanya sama. Sama-sama pada grogi." Kali ini Helena ikut menyahuti.


Tak lama kemudian, terdengar decitan suara high heels beradu dengan lantai. Hal itu sukses menarik perhatian semua yang ada di sana hingga spontan menoleh bersamaan.


"Wah, para bidadari surga Papa sudah datang. Kemari, Sayang." Narendra mengintruksikan agar Alisha dan Lara yang baru datang segera mendekat.


Dua gadis itu pun bersikap patuh. Mereka mendekati Narendra dengan sikap malu-malu pada awalnya. Namun, di detik berikutnya, ekspresi berbeda pun ditunjukkan dua gadis itu.


Alisha tampak terkejut melihat keberadaan Marcel di sana. Gadis itu menatap si pemuda dengan ekspresi terperangah sebelum kemudian melemparkan sebuah senyuman.


Namun, ekspresi sebaliknya justru ditunjukkan oleh Lara. Gadis itu sejenak tertegun melihat keberadaan Marcel sebelum kemudian celingukan dengan raut wajah gelisah. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan seolah-olah tengah mencari seseorang.


Rasa penasaran yang besar akhirnya membuat gadis itu bertanya tanpa sungkan. "Om, Dantenya mana ya? Dia datang ke sini juga, kan?"


"Iya, Lara, Dante datang kok. Tapi sekarang sedang ke toilet sebentar. Mungkin nggak lama lagi juga datang. Sabar ya ...," jawab Niken.


Walaupun merasa tidak puas, Lara akhirnya mengangguk paham disertai senyuman dipaksakan.


Marcel yang sebelumnya duduk menempati kursinya akhirnya memutuskan bangkit untuk berdiri. Dengan senyuman mengembang, ia menarik kursi kosong di sebelahnya sembari mengisyaratkan Alisha untuk duduk di sana.


Alisha yang memahami maksud Marcel tampak menyimpul senyum malu-malu, walaupun akhirnya ia pun bersedia dan melabuhkan bokongnya di sana.


Mungkin bagi yang lainnya, adegan itu sangat manis dan romantis. Namun, sayangnya tidak demikian dengan pemuda yang baru saja datang. Dante. Pemuda itu baru sampai di ambang pintu, tetapi sudah disuguhi dengan pemandangan seperti itu.


Ada yang terasa nyeri di ulu hatinya.

__ADS_1


Untuk sesaat, pemuda itu berdiri mematung dengan tangan mengepal kuat. Tatapannya hanya terpancang pada sosok bergaun warna marun yang duduk di meja sana. Alisha. Gadis itu terlihat bahagia diperlakukan Marcel seperti itu. Andai saja Alisha tahu jika Marcel memiliki kekasih lain yang bernama Laudya.


__ADS_2