Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Kelar


__ADS_3

Suara dentingan sendok mewarnai suasana makan malam di kediaman Narendra. Ada lima orang yang duduk mengelilingi meja makan. Obrolan hangat menjadi pengerat keakraban, dan sesekali terdengar suara tawa bersamaan.


Narendra terlihat sangat bahagia. Ia juga pandai mencairkan suasana. Kalimat pujian berulang kali ia lontarkan pada Alisha. Tentunya tanpa unsur kesengajaan sebab begitulah kenyataan mengenai putrinya.


Akan tetapi, ada seseorang yang tidak menyukai situasi seperti sekarang. Siapa lagi jika bukan Lara? Meski wajahnya menyunggingkan senyuman, tetapi hatinya menjerit penuh amarah.


Lara yang merasa terjebak dalam kondisi ini sepertinya tidak mengetahui jika ada sepasang mata yang sejak tadi diam-diam memperhatikannya. Dante. Pemuda itu langsung bergerak menyusul Lara setelah gadis itu berpamitan pergi ke kamar.


Jelas tak ada yang curiga dengan sikap Dante yang tiba-tiba ingin menghampiri Lara, mengingat keduanya memang sedang menyiapkan segala keperluan untuk bertunangan. Hanya mata Alisha yang diam-diam menatap punggung Dante dengan tatapan tidak rela.


Namun, gadis itu buru-buru menanggapi pertanyaan sang papa dengan riang agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Tunggu." Dante berucap pada Lara setelah dirasa jarak mereka sudah cukup aman dari ruang makan.


Mendengar ada suara Dante, seketika Lara menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang untuk memastikan.


Benar saja. Ada Dante yang tengah melangkah ke arahnya. Tatapan pemuda itu masih tetap sama seperti biasanya. Dingin seperti suhu di kutub utara. Lara memutar tubuhnya pelan lalu bertanya dengan malas.


"Tumben nahan aku? Ada apa, heum? Kangen ya?"


"PD banget ya ngomong gitu. Nggak ada malu-malunya sama sekali," tukas Dante yang kini sudah berdiri tepat di depan Lara.


Bersedekap dada, Lara memalingkan mukanya sambil memutar bola mata malas. Tentu saja ia paham sindiran Dante itu merujuk ke arah mana. Namun, ia sengaja memutuskan urat malu demi mempertahankan harga dirinya yang hanya tersisa sedikit saja.


"Kenapa harus malu? Kau juga sama halnya sepertiku. Pembohong. Pandai bersandiwara," desis Lara. Bagaimana bisa ia bicara demikian? Dante bahkan tidak membantahnya. Tentu saja. Sepanjang acara makan bersama tadi, diam-diam Lara mengamati Dante. Pemuda itu begitu mahir bersandiwara. Ia bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Bahkan sama sekali tak mengungkit tentang dosa-dosanya kepada Alisha.


Untuk apa? Apa Dante tak memiliki keberanian untuk membatalkan pertunangan?


Baiklah. Jika memang demikian, Lara juga tak ingin mendahuluinya. Katakan saja Dante memang tak berniat membatalkan pertunangan mereka. Itu sangat bagus untuknya. Biarkan saja mereka menikah meski tanpa didasari cinta. Setidaknya itu bisa membantu mengangkat derajatnya. Di keluarga Narendra ia tak memiliki apa-apa. Namun, dengan menjadi menantu Robby, ia pasti akan mewarisi segalanya sebab Dante adalah putra semata wayang mereka. Manis sekali, bukan? Tanpa sadar Lara bahkan menyunggingkan senyum karena saking bahagianya. Dan itu tertangkap jelas oleh penglihatan Dante.

__ADS_1


"Senyum-senyum gitu? Lagi bahagia ya?" sindir pemuda itu.


Lara yang tersadar kemudian berdeham pelan. Sial. Ia kedapatan sedang berangan. Ia buru-buru memasang ekspresi datar untuk menutupi kepanikan.


Dante yang mampu membaca niatan buruk Lara menyunggingkan senyum penuh ironi. Mendekatkan wajahnya ke arah telinga Lara, ia kemudian berbisik pelan.


"Rahasia lo ada di tenggorokan gue. Jadi ... hati-hati aja. Sedikit aja gue batuk, maka elo akan kelar."


Lara mendelik menatap Dante yang tersenyum miring. Tenggorokannya menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya seperti berdiri. Ia bergidik ngeri. Meski diucapkan dengan nada pelan, tetapi ancaman Dante benar-benar mematikan. Di matanya Dante sekarang seperti ular berbisa yang bisa membunuhnya kapan saja.


***


Suara langkah kaki Dante yang terdengar mendekat itu sukses menarik atensi tiga orang yang masih duduk di meja makan. Entah mengapa Alisha bernapas lega begitu mengetahui Dante menghampiri Lara tidak begitu lama. Ia bahkan berpikir Dante dan Lara akan melewati banyak waktu untuk berdua.


Gadis itu buru-buru mengalihkan pandangan ketika matanya bersitatap dengan Dante. Jangan sampai pemuda itu tahu jika dirinya merasa gelisah selama Dante menghampiri Lara.


"Mengobrolnya sudah? Lara mana? Apa kalian tidak ada rencana untuk jalan berdua?" tanya Helena.


Dante menggeleng. "Nggak, Tante. Lara bilang capek dan mau tidur cepat malam ini."


"Owh, gitu." Helena mengangguk paham.


"Ya udah kalau gitu Om, Tante. Saya pamit pulang dulu," ujar Dante. Sudah tidak ada alasan lagi baginya untuk tetap di sana sekalipun dirinya menginginkan.


"Owh, oke. Makasih ya Dante, sudah antarkan Alisha sampai ke rumah," sahut Narendra. Ia menatap putrinya kemudian memberi sebuah perintah. "Sayang, antar Dante sampai ke depan, ya."


"I–iya, Pa," balas Alisha. Entah mengapa tiba-tiba dirinya merasa kikuk. Ketika berjalan beriringan menuju ke luar rumah pun ia memilih diam.


"Kayaknya silent mode on, nih," sindir Dante ketika mereka sudah melewati pintu utama.

__ADS_1


Alisha yang tak mengerti menatap Dante dengan kening berkerut. "Apaan sih?"


"Iya, kamu. Mendadak jadi pendiem."


Tak berniat menanggapi kata-kata Dante, Alisha malah berpesan pada pemuda itu. "Hati-hati di jalan, ya. Nggak usah kebut-kebutan. Utamakan keselamatan."


Dante menghentikan langkah dan Alisha spontan mengikutinya. Mereka berdua berdiri berhadapan, dan kini sedang saling pandang.


"Kamu ngusir aku?"


"Enggak." Alisha menggeleng sebagai bentuk penyangkalan. "Bukannya kamu memang mau pulang?"


"Iya, sih. Tapi nggak pengen buru-buru juga."


"Terus, ngapain dari tadi udah pamitan?"


Dante terdiam. Wajah polos Alisha ketika bertanya membuat dirinya merasa gemas sekaligus tidak rela untuk buru-buru pulang.


Entah mengapa, rasa cintanya pada gadis itu kian menggebu. Ia selalu merasakan rindu. Walaupun Alisha sempat menginap di rumahnya, tetapi bukan berarti setiap saat mereka selalu jumpa. Ada batasan di antara mereka. Ada norma yang tak boleh dilanggar.


Di mata keluarga, Dante tetap calon tunangan Lara. Niken dan Robby sangat menjaga Alisha dan juga kehormatannya. Mereka tak mengizinkan Dante bersikap lancang pada Alisha walau hanya sedikit saja.


"Iya. Aku memang udah pamitan, tapi bukan berarti mau cepet-cepet pulang." Dante menjeda ucapannya dan menatap mata Alisha lekat-lekat. "Al, bisa nggak, kita ngobrol-ngobrol dulu sebentar?"


"Ngobrolin masalah apa? Mama sama Papa ada di dalam, Dante. Lara juga udah masuk kamar dari tadi. Aku nggak enak aja sama mereka, nanti mereka pikir kita ada apa-apa."


"Ngapain nggak enak, Al? Bukannya itu malah bagus?"


Mata Alisha membeliak. "Ish, Dante! Apa bagusnya sih?"

__ADS_1


__ADS_2