Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Dosa masa lalu


__ADS_3

Helena menghampiri Narendra di ruang tamu ketika Lara pergi meninggalkan ruang makan. Kebetulan, saat itu tamu di rumah mereka juga pamit untuk pulang.


Ketika ia dan Narendra mengantar tamu itu hingga ke depan pintu dan melepas kepulangannya, sebuah mobil yang diketahui milik Dante muncul melewati gerbang dan berhenti di pelataran.


Helena mengernyitkan dahi melihat Alisha turun dari kursi penumpang. Seketika sebuah tanya bercokol di benaknya. Mungkinkah dua orang itu melewati kebersamaan selama seharian ini? Ah, jika benar demikian, apa kabar dengan perasaan putri kandungnya? Sudah barang pasti hati Lara akan hancur berkeping-keping.


Meski begitu Helena sedikit bernapas lega lantaran Lara sedang mandi dan kemungkinan tak melihat apa yang terjadi. Dante dan Alisha datang di waktu yang tepat. Ia buru-buru menyapa keduanya demi menutupi rasa tidak nyaman di hatinya.


"Alisha sudah pulang rupanya. Kok bisa barengan sama Dante lagi? Tadi Dante–"


"Nggak kok, Tante." Dante buru-buru memotong kata-kata Helena sebab bisa menebak apa yang hendak ditanyakan wanita itu. Namun, meski begitu ia tetap bicara dengan sopan dan ramah ketika menjelaskan. "Saya tadi langsung pulang setelah menurunkan Alisha di rumah Bibi Wanda. Dan kebetulan pas sorenya saya lewat jalan sana, tak sengaja lihat Alisha lagi pesan taksi online. Karena kita searah, jadinya saya tawarin Alisha buat nebeng. Itu juga tadinya Alisha sempat nolak loh Tante." Dante terkekeh.


Alisha sontak mengerutkan kening ketika menatap Dante. Meski tidak sepenuhnya semua salah, tetapi pemuda itu mengubah alur cerita yang sebenarnya. Maksudnya apa coba?


"Owh gitu. Kamu baik sekali, Dante. Terima kasih sudah antar dan jemput Alisha, ya." Helena menyahuti dengan nada yang ceria.


"Iya Dante. Om juga berterima kasih sama kamu," ujar Narendra pula.


"Ah cuma sekalian aja kok, Om, Tante. Hanya hal sepele," balas Dante merendah.


"Masuk dulu yuk. Lara lagi mandi di atas." Helena menggunakan tangan sebagai isyarat, tetapi Dante buru-buru menolak.


"Makasih banyak, Tante. Tapi ini udah sore dan saya harus pulang. Besok pagi saya akan datang buat jemput Lara kuliah."


"Oh, begitu. Ya sudah, kamu hati-hati ya."


"Pasti, Tante. Permisi." Dante tersenyum dan membungkuk sopan. Ia menoleh pada Alisha dan menyunggingkan senyuman. "Dah, Al," ujarnya seraya mengangkat tangan sebelum benar-benar berlalu.


Helena melihat itu. Ia melihat tatapan hangat Dante pada Alisha melebihi pada Lara. Apa ini maksudnya? Ia beralih pada Alisha dan gadis itu hanya membalas dengan anggukan lemah dan senyuman tipis. Sebuah reaksi wajar pada orang yang baru memberikan bantuan. Syukurlah. Kalau begitu posisi putrinya masih aman.


Saat berbalik badan dan hendak melangkah masuk Helena melihat pemandangan yang seketika membuat langkahnya jadi tercekat.

__ADS_1


Lara. Gadis itu berdiri terpaku di ambang pintu. Dengan keadaan sekacau tadi dan bibir yang melengkung. Eh tunggu. Melengkungnya bukan ke atas melainkan ke bawah. Itu artinya ia menangis dan bukan tersenyum. Mata memerah dan wajah yang basah makin menguatkan kecurigaan Helena.


Astaga. Jangan-jangan ia melihat semuanya?


Baru juga hendak menyapa, gadis itu sudah berlari pergi secepat kilat. Helena menoleh ke belakang. Memperhatikan suami dan putri tirinya. Tampaknya mereka tak melihat keberadaan Lara sebab sedang asyik mengobrol ringan mengenai kepulangan Alisha ke rumah ibu kandungnya.


Ini kesempatan Helena untuk menyusul Lara tanpa diketahui oleh keduanya. Jangan sampai gadis itu putus asa dan berbuat nekat. Meski panik, tetapi Helena berusaha bersikap biasa ketika berpamitan dengan suaminya.


"Pa, aku masuk ke dalam dulu, ya."


Narendra mengangguk tanda mengizinkan. Helena akhirnya berlalu setelah memberikan sebuah senyuman.


***


"Lara. Buka pintunya Sayang."


Helena mengetuk pelan pintu kamar Lara, tetapi tak mendapat sahutan dari dalam sana. Ia menempelkan daun telinga ke daun pintu, berharap bisa mendengar suara aktivitas putrinya. Sayangnya, ruangan kedap suara itu sama sekali tak membantu. Ia mencoba memutar kenop dan bernapas lega saat mendapati pintu tak terkunci.


Pranggg! Sebuah vas bunga berbahan kristal menghantam dinding di sampingnya setelah melayang di udara. Helena berjingkat karena saking terkejutnya. Matanya melotot dengan tangan membungkam mulut yang ternganga. Nyaris saja ia pingsan andai kata benda itu menghantam kepalanya. Seketika wanita itu mengedarkan pandangannya ke lantai, menatap puing-puing yang berserakan ke mana-mana itu dengan wajah ngeri.


Kepanikan Helena ternyata bukan sampai di situ saja. Tangisan Lara yang terdengar dari dalam membuat wanita itu segera berjalan hati-hati untuk menghampirinya. Wajah panik itu seketika berganti sedih melihat putrinya terduduk lemas di sudut kamar dengan wajah bersimbah air mata.


"Lara Sayang, kamu kenapa Nak?" Ia langsung mendekat dan bertekuk lutut untuk mensejajarkan posisi mereka. Jemari lentik itu terulur hendak menyentuh sang putri untuk kemudian memeluknya. Namun, sebelum itu terjadi sayangnya Lara sudah lebih dulu menepisnya dengan kasar.


"Jangan sentuh aku!" pekik gadis itu.


Helena yang sudah hampir menangis dibuat terperangah oleh perlakuan Lara. Ia menatap sedih pada sang putri lalu berusaha membujuk.


"Apa yang kamu lakukan, Lara? Ini Mama."


"Mama, kau bilang?" Lara menyebutkan panggilan itu dengan senyum remeh tersungging di bibirnya. "Jadi begini perlakuan seorang mama terhadap putrinya? Menusuk dari belakang, hah?"

__ADS_1


Helena menggeleng kuat-kuat seolah tak terima akan tuduhan anaknya. "Itu nggak benar, Sayang."


Lara tak menggubris bantahan Helena. Tawa hampa yang menggelegar mewarnai kemarahan. Ia kembali berceloteh untuk meluapkan kekecewaan.


"Mana yang katanya akan membantu anaknya mendapatkan cinta Dante? Mana yang katanya akan membuat kehidupan Alisha di rumah ini seperti di neraka? Mana! Kau bahkan menjadikan dia putri kesayangan. Menggeser posisiku dan menukar tempatku di hatimu. Apakah begini sejatinya sikap seorang ibu pada anaknya!" bentaknya gadis itu penuh amarah. Seolah-olah sudah kenyang memakan janji, Lara kini menagih untuk ditepati.


Seketika itu juga air mata menganak sungai membanjiri wajah Helena. Seolah-olah kesedihannya begitu dalam. Ia merasa tak sanggup melakukannya lagi saat ini. Keadaan kini telah berbeda.


Lagi-lagi Lara tertawa di sela air mata. Pemandangan aneh kini tersaji di depannya. Helena yang biasanya selalu tegas kini terlihat lemah dan rapuh. Mamanya seperti tak berdaya. Kenapa? Perubahan ini terjadi begitu cepat. Mungkinkah ini kekuatan cinta yang bekerja? Di saat mamanya memutuskan untuk setia dan mengabdi kepada sang papa, mendadak ia menjadi wanita lemah?


"Maaf, Sayang. Mama nggak bisa membantu banyak," lirih Helena sedih seraya mengusap air mata. "Kau harus belajar menjadi dewasa. Berusaha sendiri menarik simpati Dante dengan pesona yang kau punya. Jangan gunakan cara curang."


Lara diam sejenak lalu menggeleng tak percaya. "Kenapa? Kenapa sekarang Mama melarang? Bukankah dulu Mama yang mengajarkan!"


Lara menjeda ucapannya selagi menghela napas panjang demi menetralkan perasaan. Air mata yang menetes tanpa suara, ia usap dengan kasar sebelum kemudian melanjutkan perkataan.


"Ma, sadar! Mama bilang Alisha adalah benalu di rumah kita. Bukankah Mama membawanya kemari untuk kita hancurkan dengan cara yang cantik?"


"Jangan lakukan itu jika kau ingin tetap di sini, Lara! Ikuti kata-kata Mama." Wajah sendu Helena berubah menjadi garang. Ia menatap wajah Lara penuh tuntutan. Dosa masa lalu langsung membayang di benaknya.


Sesakit-sakitnya hati Lara tentu lebih sakit dirinya sebagai orang tua. Ia ingin Lara tetap hidup layak selamanya.


"Ma! Kenapa!" Kini berganti Lara yang menuntut penjelasan Helena. Membuat wanita yang tenggelam dalam lamunan singkat itu terperanjat.


"Bersikap baiklah pada Alisha jika kau tidak ingin ditendang oleh Papa, Lara. Di sini ... kau bukanlah siapa-siapa." Helena berucap penuh penekanan lalu bangkit dari tempatnya. Tanpa sepatah kata lagi, tanpa menoleh ke belakang lagi, ia pun benar-benar pergi. Tak menghiraukan panggilan Lara yang didera kebingungan.


Apa ini? Sang mama, satu-satunya orang yang menjadi sandaran kini tak berpihak padanya lagi. Bukan hanya mamanya saja, tetapi seluruh dunia.


Rupanya rasa sakit yang didapat dari sikap dingin Dante selama ini sangat tak sebanding dengan yang mamanya torehkan kali ini.


Lara terguguk memeluk lutut. Kini ia benar-benar merasa sendirian.

__ADS_1


"Ini semua karena Alisha. Aku nggak akan biarin dia bahagia."


__ADS_2