Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 10


__ADS_3

Semenjak pertemuannya dengan Isa 2 minggu yang lalu, Luke tidak pernah lagi menggangu kehidupan gadis kecilnya itu. Selain itu, Luke tidak pergi bekerja ataupun pergi ke club seperti biasanya.


Selama 2 minggu ini, Luke mengurung dirinya di kamar untuk mengintropeksi dirinya sendiri. Jujur, perkataan Isa 2 minggu yang lalu itu, masih terdengar jelas di telinga Luke. Setiap Luke melihat seorang wanita, Luke akan langsung teringat dengan Isa yang sedang menangis di pelukannya.


Baru kali ini, Luke merasa bahwa dirinya adalah pria yang paling bastard di dunia ini. Luke sudah berhasil membuat banyak wanita di luar sana menangis meraung – raung, namun hanya dengan tangisan dari Isa, Luke langsung sadar bahwa dirinya memang pria yang paling bastard


Selama 2 minggu ini juga, Luke ditemani oleh minuman kesayangannya, alcohol.


Botol – botol kaca bekas alcohol yang tadinya berisi penuh, kini sudah memenuhi meja kerja Luke yang biasanya dipenuhi oleh kertas – kertas pekerjaan Luke.


Setiap mengingat Isa dan tangisannya, Luke kembali merasa lemah. Luke berusaha untuk melupakannya dengan cara meminum minuman alcohol. Luke tidak ingin merasakan sakit hati yang sama untuk yang kedua kalinya.


Namun, meminum alcohol bukanlah jalan yang benar bagi Luke untuk melupakan Isa. Karena kenyataannya, Luke masih dapat memimpikan Isa dalam mimpinya. Dan hal itu benar – benar membuatnya tidak bisa tertidur walaupun hanya sebentar.


Kini, penampilan Luke sungguh acak – acakan.


Rambut perak Luke yang biasanya terpotong rapi, kini sudah tumbuh panjang hingga ke pertengahan leher Luke. Rambut – rambut halus di dagu Luke yang biasanya dicukur habis kini sudah mulai menumbuhi dagu Luke. Ditambah lagi, lingkaran hitam di bawah mata Luke dan mata merah Luke akibat kekurangan tidur, membuat Luke terlihat seperti zombie antah berantah.


“Lukas Serrano! Wake up!!! Ini bukan dirimu!!” ucap Austin sambil memukul kuat lengan Luke agar Luke menghentikan aksi minum – minumnya.


“Apa aku ini benar – benar seorang bastard?” tanya Luke dengan sorot mata menyedihkan.


Austin memegang kepalanya dan menatap aneh ke arah Luke. Austin tidak pernah menyangka bahwa sebuah perkataan dari seorang wanita one night stand Luke mampu mengubah kepribadian Luke yang dulunya kejam dan mendominasi menjadi pemurung dan mellow.


“Ya, kau benar – benar bastard! Sudah puas?!?” sembur Austin dengan suara yang keras.


Jika saja Ibu Luke tidak meminta bantuan dari Austin untuk segera menyadarkan Luke, sekarang Austin mungkin saja sudah bersenang – senang dengan sekretarisnya di kantor.


Terdengar kurang ajar memang, apalagi Austin adalah sahabat Luke. Tapi… yah, mau bagaimana lagi, segala usaha yang dilakukan oleh Austin sedari tadi tidak mampu membuat Luke sadar diri.


“Aku memang bastard” ucap Luke dengan nada sedih.


Sebelum tangan Luke terjulur mengambil satu buah botol alcohol yang masih berisi, Austin langsung menyambar botol itu dengan cepat dan melemparkannya ke dinding kamar Luke.


Prank!!!


Bunyi botol alcohol yang terlempar ke dinding kamar Luke itu bergema hingga ke seluruh ruangan kamar. Untung saja kamar Luke ini kedap suara, jika tidak… mana berani Austin melakukan hal nekat seperti itu.


“Kenapa kau membuangnya?” tanya Luke dengan nada sedih.


Luke kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pecahan kaca botol alcohol tersebut. Luke memungut serpihan – serpihan kaca tersebut, setidaknya Luke masih memperdulikan kondisi kakinya jika nantinya dia tidak sengaja menginjak serpihan – serpihan tersebut.


“Ini bukanlah cara yang tepat untuk mengintropeksi diri!!! Kau tau? Kelakuanmu yang seperti ini mungkin akan membuat Isa semakin berpikir bahwa kau benar – benar seorang bastard!” ucap Austin dengan amarah yang memuncak tanpa memperdulikan apapun.


Ucapan Austin tersebut membuat Luke merasa kesal dan marah.


Tangannya menggengam erat serpihan – serpihan botol kaca tersebut, hingga tetesan darah keluar dari telapak tangannya.


Austin yang melihat hal tersebut hanya tersenyum kecil. Sepertinya, Austin benar – benar harus membangkitkan rasa amarah Luke agar Luke dapat kembali seperti semula. Jika saja Austin mengetahui hal itu lebih cepat, mungkin kini Austin sudah tidak berada di dalam kamar Luke lagi.


“Seharusnya kau menunjukkan bahwa dirimu adalah pria yang gentle!!! Pergi ke rumah Isa, belilah boneka panda pink besar, sebuket bunga mawar, cincin berlian mahal dan segera lamar Isa!!” ucap Austin dengan semangat.


“Untuk apa aku melamarnya?” tanya Luke binggung sambil menatap Austin dengan aneh.


“Apa kau ingin dicap sebagai pria bastard oleh Isa? Tidak kan? Oleh karena itu, kau harus menuruti kata – kataku. Percayalah padaku!” ucap Austin dengan semangat menggebu - gebu sambil mengepalkan tangannya ke udara.


“Tapi… sebelum itu, kau memerlukan banyak perubahan” ucap Austin sambil menyipitkan matanya saat menatap penampilan Luke yang sama persis dengan zombie.


Setelah berhasil membuat Luke berhenti meminum alcohol dan meratapi nasibnya, Austin langsung memacu mobilnya dengan cepat ke salon terdekat. Luke memang benar – benar membutuhkan tangan – tangan salon professional saat ini, agar Luke tidak menerima penolakan dari Isa karena tampang Luke yang sangat jelek.


“Tolong, rapikan dia dan buat dia menjadi seorang yang paling tampan di abad ini. Tapi, jangan buat level ketampanannya berada di atas ku ya?” ucap Austin sambil mendorong Luke untuk duduk di salah satu kursi yang berada di salon mahal itu.


Luke yang mendengar ucapan Austin hanya diam dan menurut saat Austin mendorongnya untuk duduk. Luke sudah terlalu lelah untuk berbicara dengan Austin. Kini, Luke merasa matanya sangat berat dan kepalanya juga terasa sakit. Mungkin, itu adalah efek dari minuman alcohol yang non stop diminumnya selama 2 minggu belakangan ini.


Berbeda dengan Luke yang bersikap saja saat mendengar perkataan Austin, para pegawai wanita yang berada disana justru tersenyum senyum kecil mendengar perkataan Austin.


Tak perlu beberapa lama, kini Luke sedang direnovasi ulang oleh para karyawan professional yang berada di sana.


“Tolong antarkan aku sebuah boneka panda berwarna pink besar, sebuket bunga mawar dan sebuah cincin berlian mahal. Oh iya, tagihannya masukkan saja ke dalam tagihan Lukas Serrano” perintah Austin kepada seseorang yang berada disebrang teleponnya.


Tut.

__ADS_1


Panggilan diputus secara sepihak oleh Austin.


Austin memang baru saja menelpon sekretarisnya untuk menyiapkan segala kebutuhan lamaran dadakan Luke. Austin memang sangat cepat dalam urusan untuk mengurus segala keperluan Luke, jika hal itu karena terpaksa dan gratis.


“Tuan, semuanya sudah selesai” ucap salah satu pegawai kepada Austin.


Austin mengahlihkan pandangannya dari wallpaper ponselnya yang bergambar tubuh seksi dan semok milik angel Victoria Secret, Barbara Palvin.


“Oh? Sudah selesai?” tanya Austin sambil berjalan ke arah Luke.


Austin mendapati Luke sedang menutup matanya sambil memegangi kepalanya.


Austin sedikit terkagum dengan keahlian para pegawai di salon tersebut, karena mereka berhasil mengubah seorang zombie menjadi Pangeran Erik. Dan hal itu membuat Austin sedikit iri.


Rambut – rambut halus yang tadinya menumbuhi dagu Luke kini sudah hilang, lingkaran hitam di bawah mata Luke juga berhasil hilang dan rambut acak – acakan Luke kini sudah tertata rapi, meskipun ukurannya masih sama


“Kenapa kalian membuatnya menjadi sangat tampan!” keluh Austin sambil mencebikkan bibirnya saat menatap salah satu pegawai yang sedari tadi turun tangan untuk memake over Luke.


Pegawai – pegawai yang ada disana hanya tersenyum dan menahan tawa mereka saat mendengar keluhan Austin.


“Tuan itu memang sudah tampan dari lahir” canda pegawai yang ditatapi oleh Austin tersebut.


Austin yang mendengar jawaban pegawai tersebut hanya memutar bola matanya dengan kesal. Austin memiliki wajah yang tak kalah tampan, namun sinar ketampanannya akan berkurang saat dia sedang bersama dengan Luke. Hal itu membuat Luke sedikit kesal, karena tak jarang wanita – wanita incaran Austin akan jatuh pada Luke pada pandangan pertama. Sedangkan Austin? Dia harus menggoda wanita – wanita itu, itupun kalau dia berhasil, menggoda tunangannya saja tidak mampu membuat tunangannya luluh.


“Ayo, pergi” ucap Austin sambil menepuk pelan pundak Luke.


“Eumh” gumam Luke tak jelas sambil bangkit dari duduknya.


Kemudian Austin melangkahkan kakinya menuju ke arah kasir dan membayar semua tagihan salon Luke dengan uang Austin. Tapi, Austin tidak lupa untuk membuat tagihan tersebut ke dalam tagihan Luke. Bagimanapun, Austin tidak ingin rugi.


Baru saja, Luke dan Austin menapaki kaki mereka keluar dari salon. Teriakan cempreng dari sekretaris Austin membuat mereka menghentikan langkah mereka.


“Pak, semuanya sudah selesai” ucap sekretaris Austin dengan semangat yang sangat tinggi.


Luke dan Austin pun kemudian sama – sama melihat ke arah salah satu bodyguard yang dijadikan sebagai pembantu oleh sekretaris Austin tersebut. Bagaimana tidak? Bodyguard yang seharusnya menjaga Austin kini sudah menjadi pembantu eksklusif dari sekretaris Austin sendiri karena bodyguard tersebut membawas sendiri seluruh barang – barang pesanan milik Austin. Padahal, Austin tidak menyuruh sekretarisnya untuk mengikut sertakan bodyguardnya.


“Kenapa bukan kamu sendiri yang membawanya?” tanya Austin sambil membukakan pintu mobilnya agar barang – barang pesanannya dapat dimasukkan oleh bodyguard suruhan sekretaris badungnya itu.


“Lha… bapak kok nggak kasian sama saya sih? Sudah panas – panas begini, suruh bawa barang – barang yang besar dan berat pula lagi! Emangnya bapak mau tanggung jawab kalau berat badan saya nanti menurun? Saya sudah capek bolak – balik ke mini market cuman untuk beli cemilan yang bisa nambah berat badan. Gaji saya juga sudah banyak terpakai untuk menggendutkan tubuh kurus saya ini” ucap sekretaris Austin sambil melayangkan tatapan tidak setujunya kepada Austin.


“Ini ada bonusnya kan Pak? Saya sudah bela – belain tinggalin pekerjaan kantor cuma untuk ngurusin hal ini. Kalau saya sedari tadi berada di kantor, mungkin saya sudah berhasil merekap pengeluaran perusahaan selama 1 minggu terakhir. Tap---


“Iya, iya! Nggak usah bicara aneh lagi!!!” ucap Austin sambil menutup telinganya agar terhindar dari paparan suara cempreng milik sekretaris badungnya itu.


“Masih lama?” tanya Luke yang kini sudah berada di dalam mobil


Astaga!


Austin baru ingat kalau mereka harus melakukan prosesi lamaran dadakan. Karena bertemu dengan sekretarisnya itu, Austin jadi lupa akan segala hal.


“Tidak kok” ucap Austin sambil buru – buru berjalan untuk memutari mobil.


Dengan cepat, Austin menjalankan mobilnya. Austin juga menyempatkan dirinya untuk menatap pantulan wajah sekretarisnya itu dari kaca spion mobilnya. Aish… Austin hampir lupa alasan kenapa dia menerima sekretaris bersuara cempreng yang sangat perhitungan seperti sekretarisnya itu.


“Apa kau tau dimana alamat rumah Isa?” tanya Luke yang membuat Austin tersenyum misterius


“Tau”


“Bukannya Isa masih bekerja?”


“Tidak. Saat ini mereka sedang libur karena lusa mereka akan mengadakan peragaan busana”


“Apa kau suka Isa?” tanya Luke sambil menatap tajam ke arah Austin.


Austin menelan ludahnya sendiri.


Bagaimana dia bisa suka dengan Isa? Suka dengan Isa sama saja mencari masalah dengan Luke!


“Tentu saja tidak! Isa bukan tipeku!!” ucap Austin


“Lalu… darimana kau tau semua informasi Isa?” tanya Luke masih sambil menatap Austin dengan tajam.

__ADS_1


“Aku menyewa detektif. Hanya perlu waktu 2 jam untuk mendapatkan semua informasinya. Seharusnya, kau juga menyewa detektif agar kau lebih mudah mendekati Isa” saran Austin sambil menatap Luke sekilas.


Luke hanya diam.


Ucapan Austin memang ada benarnya juga. Dengan menyewa detektif, semuanya akan menjadi mudah. Tapi, Luke tidak ingin Isa merasa bahwa Luke sudah memata – matainya lewat detektif yang dikirim oleh Luke. Luke tidak ingin dicap pria bastard oleh Isa.


Selama di perjalan menuju ke rumah Isa, tidak ada lagi pembicaraan yang mengisi kekosongan di mobil Austin.


Sesampainya di depan rumah Isa, Austin langsung memberikan sebuah boneka panda berwarna pink berukuran besar, sebuah buket bunga mawar dan sebuah kotak beludru yang berisi cincin kepada Luke. Luke hanya bisa pasrah menerima semua baramg – barang menggelikan itu.


“Good luck!” ucap Austin untuk menyemangati Luke sambil menepuk pelan pundak Luke.


Luke menghembuskan napasnya dengan kasar.


Luke tidak pernah berpikir untuk melakukan dadakan dengan cara aneh seperti ini. Cara aneh ini bukanlah tipe Luke. Tapi… semua sudah terjadi, tak ada gunanya mengeluh.


Tok… tok.. tok..


Luke mengetuk pintu rumah Isa dengan pelan.


Jantung Luke berdetak tidak karuan saat dia menebak – nebak wajah Isa saat menatapnya nanti. Apakah Isa akan menatapnya dengan datar? Dengan wajah marah? Atau dengan wajah yang terharu?


Ceklek. Pintu terbuka.


Luke sudah memantapkan mentalnya


“Ya? Siapa?” tanya seorang wanita sambil mengernyit menatap binggung ke arah Luke.


“Aku mencari Isa. Apa kau bisa memanggilkannya?” tanya Luke sambil berusaha tersenyum seramah mungkin.


“Oh? Kak Isa? Tunggu ya!” ucap wanita tersebut tak kalah ramah.


Kemudian wanita tersebut memasuki rumahnya. Luke dapat menebak kalau wanita tersebut adalah adik Isa. Mengingat mereka memiliki mata hazel yang sama.


“Ada ap—


Ucapan Isa langsung terputus saat dia mendapati siapa pria yang memanggilnya.


Itu Luke!


Saat ini, Luke terlihat aneh dimata Isa. Luke yang berada di depannya seperti bukan seperti Luke biasanya.


“Apa kau mau menjadi wanitaku?” tanya Luke sambil menyodorkan sebuah boneka panda besar berwarna pink.


Isa hanya mengerjap – ngerjapkan matanya dengan terkejut.


Apa yang dilakukan oleh Luke?


Kemudian Luke meletakkan boneka panda tersebut di dekat kaki Isa. Lalu Luke berlutut tepat di hadapan Isa.


“Kumohon” ucap Luke sambil menyodorkan sebuah cincin dan sebuket bunga mawar kepada Isa.


Isa hanya diam mematung dan menatap Luke dengan wajah terkejutnya.


Hachim!


Itu suara bersin Luke!


Bagaimana Luke baru sadar bahwa dirinya sendiri alergi terhadap bunga?!? Austin memanglah seorang sialan!


“Apa kau tidak apa – apa?” tanya Isa khawatir sambil menyamakan tingginya dengan Luke saat melihat Luke bersin – bersin.


“Aku tidak apa – apa. Hachim!”


“Kau alergi” ucap Isa khawatir sambil mengambil buket bunga mawar itu dan melemparnya jauh agar tidak membuat Luke bersin lagi.


Tiba – tiba Luke merasa kepalanya sangat berat dan pandangannya mulai mengabur. Kemudian, Luke merasa bahwa tubuhnya limbung dan semuanya menjadi hitam. Hal terakhir yang diingat oleh Luke adalah teriakan khawatir milik Isa.


 


**Diterima nggak yah lamarannya? Jangan lupa like dan komen ya\, karena itu adalah vitamin cerita ini. Thank youuuu**

__ADS_1


 


 


__ADS_2