Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 12


__ADS_3

Kini, Luke, Isa beserta keluarga Isa sedang makan bersama di ruang tamu. Lebih tepatnya, di beberapa kursi yang berada di ruang tamu. Rumah Isa memang kecil jadi tidak memungkinkan adanya sebuah ruang makan khusus disana.


“Jadi, siapa namamu anak muda?” tanya Ayah Isa sambil menatap Luke yang terlihat kesusahan makan tanpa menggunakan meja makan


“Lukas, ayah. Nama panggilannya Luke” potong Isa dengan cepat


Bisa bahaya nanti kalau Luke mengungkapkan identitasnya yang sebenarnya di hadapan keluarga Isa. Keluarganya pasti akan mencerca Isa dengan berbagai macam pertanyaan yang tidak ingin dijawab oleh Isa sendiri.


“Iya, namaku Luke” ucap Luke sambil menyunggingkan senyumnya di tengah – tengah kesusahannya.


“Dimana kau bekerja?”


“Bank Milleis” jawab Luke dengan santai.


Semua orang yang berada di sana langsung membelalakan matanya karena merasa terkejut, terkecuali Isa. Semua orang pasti sudah tau bahwa spesifikasi untuk menjadi seorang karyawan tetap di bank Milleis sangat tinggi, jangankan karyawannya, satpam penjaga pintu masuknya pun harus memiliki pengalaman dalam bidang militer.


“Kau bekerja sebagai apa?” tanya ayah Isa penasaran


“CE---


“Resepsionis” potong Isa dengan cepat sambil menyenggol pelan lengan Luke.


Luke yang mendengarkan jawaban Isa langsung menatap aneh ke arah wanita itu dan wanita itu menatapnya dengan tatapan memohon.


“Ya, aku adalah seorang resepsionis” ucap Luke yang disertai dengan sebuah ringisan


“Wah, itu bagus. Setidaknya kau sekarang sudah memiliki banyak uang dalam tabunganmu” canda ayah Isa sambil tersenyum


“Yah, lumayan” ucap Luke sambil tersenyum


Isa hanya memberikan tatapan mencibirnya kepada Luke. Siapa yang tidak tau bahwa keluarga penerus kerajaan bisnis Milleis memiliki banyak uang yang tidak akan habis dalam 10 turunan 11 tanjakan?


“Ya ampun, kau terus mengajaknya berbicara. Lihatlah, dia belum menyentuh makanannya sedikitpun” ucap Ibu Isa sambil mencubit pelan kaki suaminya


“Apa aku mengganggu makanmu?” tanya ayah Isa kepada Luke


“Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya kurang enak badan saja, mungkin karena itu aku tidak berselera untuk makan” dalih Luke sambil tersenyum semanis mungkin.


“Ah, aku baru ingat kalau kau masih kurang enak badan. Kau ingin makan apa? Aku akan memasakkannya untukmu” tawar ibu Isa sambil tersenyum.


Isa yang melihat perhatian berlebihan yang diberikan oleh Ibunya itu kepada Luke langsung mendengus kesal.


Isa dapat membayangkan jika dia sedang berada di posisi Luke, dalam posisi sedang sakit, Ibunya itu tidak akan pernah menawari makanan apapun untuknya. Malahan, Ibunya itu akan memberikannya bubur panas dan segelas teh panas, itu – itu saja sampai Isa sembuh dari penyakitnya.


Isa masih ingat jelas perkataan Ibunya kalau mereka sedang sakit, mereka tidak boleh memilih – milih makanan, karena tubuh mereka sangat membutuhkan asupan energi yang cukup. Namun, liat hari ini! Ibunya menawari makanan kepada Luke.


“Tidak perlu. Aku sebentar lagi akan pulang ke rumah, aku akan menyuruh chefku untuk memasak” ucap Luke dengan ringan


Semua orang yang ada disana langsung membelalakan matanya saat mendengar perkataan ringan yang baru saja keluar dari mulut Luke.


“Chef? Apa kau sekaya itu sampai memiliki seorang chef?” tanya Minnie sambil memberikan tatapan tidak percayanya kepada Luke.


“Minnie! Kau tidak sopan sekali!” sentak Isa


“Suka – suka aku dong. Kakak kenapa sih!” ucap Minnie sambil memajukan kedua bibirnya dengan kesal.


Isa langsung menyadari bahwa kedua orangtuanya hendak meneror Luke dengan pertanyaan – pertanyaan yang pasti akan memusingkan Luke. Isa kemudian menyenggol pelan lengan Luke, sehingga Luke tersadar dengan apa yang baru saja dikatakannya.


“Maksudku, temanku. Dia sangat pintar memasak. Aku sering keceplosan menyebutnya sebagai chefku karena dia sering memasakkan makanan yang enak dan istimewa untukku” jelas Luke sambil menggaruk – garuk belakang lehernya yang tidak gatal.


Isa langsung melemparkan tatapan kedua orangtuanya yang masih memberikan tatapan binggung. Sepertinya, mereka harus cepat – cepat meninggalkan rumah Isa.


“Ah iya… bukan kah besok kau harus bekerja?” tanya Isa heboh sambil menatap ke arah Luke.


“Iya” jawab Luke dengan nada binggung


“Ayah, Ibu, lebih baik Luke pulang sekarang juga, sebentar lagi akan malam. Kalau kita mengganggu waktu istirahatnya, kurasa dia besok bisa telat” jelas Isa sambil tersenyum senatural mungkin.


“Benar juga. Sebentar lagi akan jam 9” ucap Ibu Isa sambil menatap jam dinding yang tergantung tepat di dinding ruang tamu.


“Kalau begitu, aku akan mengantarnya ke depan” ucap Isa.


Dengan tergesa – gesa, Isa bangkit dari posisi duduknya dan menarik kuat tangan Luke sehingga Luke kehilangan keseimbangan. Untung saja Luke langsung dapat menetralkan keseimbangannya, jika tidak… mungkin kini mereka sudah jatuh dalam posisi konyol di depan kedua orang tua dan adik Isa.


“Kalau kau ingin berkunjung, berkunjung saja. Pintu kami akan selalu terbuka untukmu” ucap ayah Isa dengan ramah saat Luke sudah bangkit dari duduknya.


“Baiklah” jawab Luke sambil tersenyum


Isa langsung menarik tangan Luke dengan kuat sampai mereka sudah berada di luar rumah Isa.


“Kenapa kau susah sekali di ajak bekerja sama sih?” ucap Isa dengan kesal sambil melepaskan genggamannya pada tangan Luke dengan kasar.

__ADS_1


“Kau tidak ada memintaku untuk bekerja sama” ucap Luke pendek sambil melipat kedua tangannya dan menatap Isa dengan tatapan menantang


“Apa kau tidak mengerti kode? Aku sudah memberikanmu kode mata dan kode tubuh, tapi kau tetap saja tidak mengerti. Aku tidak tau kalau pemilik bank Milleis merupakan orang yang bodoh” ucap Isa kesal sambil menjentikkan jarinya tepat di wajah Luke.


Luke yang tidak senang dengan perkataan Isa itu langsung memegang tangan Isa dan meremasnya dengan lembut.


“Tapi orang bodoh ini mampu membuatmu mendesah hebat di atas ranjang. Bukankah itu sebuah pencapaian yang sangat memukau untuk seorang yang bodoh?” tanya Luke tepat di telinga Isa.


Isa yang mendengar ucapan menggoda milik Luke itu langsung menjauhkan kepalanya dari Luke.


“Jangan menggodaku! Keluargaku masih ada di dalam rumah” ucap Isa sambil menepuk – nepuk pelan pipinya yang terasa panas.


“Cute!” ucap Luke dengan gemas sambil mencubit kecil pipi Isa.


“Aish! Apa yang kau lakukan!” ucap Isa kesal sambil mengusap – usap pipinya yang baru saja di cubit oleh Luke. Tidak terlalu sakit, namun tetap saja hal itu berhasil membuat jantung Isa berdegub dengan ritme yang tidak stabil.


“Kapan kau akan pulang?” tanya Isa tanpa menatap Luke


“Entah”


“Apa kau tidak membawa mobil?” tanya Isa sambil menatap Luke


“Tidak. Aku tadi diantar oleh Austin” jawab Luke dengan jujur


“Kalau begitu, telpon saja Austin atau bodyguardmu, suruh mereka menjemputmu” ucap Isa sambil menggosok – gosok kedua telapak tangannya karena merasa kedinginan.


“Aku tidak membawa ponsel”


“Hah? Bagaimana bisa?” tanya Isa binggung


“Tentu saja bisa” jawab Luke sambil tersenyum kecil.


“Kau pasti sedang menipuku kan?” tanya Isa sambil melempar tatapan penuh selidiknya kepada Luke.


“Kalau kau tidak percaya, kau bisa periksa” ucap Luke sambil merentangkan tangannya.


Isa menatap Luke dengan tatapan kesal, disaat – saat seperti ini, pria itu masih bisa menggodanya.


“Yasudah, kalau begitu kau bisa pulang ke rumahmu dengan berjalan kaki” usul Isa


“Berjalan kaki?”


“Ya! Disini taksi jarang sekali lewat, kau harus berjalan ke persimpangan sana dan itu membutuhkan waktu kira – kira 20 menit. Selain itu, ini sudah malam, kemungkinan taksi sudah tidak beroprasi lagi. Tapi, kalau kau tidak percaya padaku, kau bisa pergi ke persimpangan sana, hitung – hitung olahraga” jelas Isa


Luke memang sangat menyukai olahraga. Namun berolahraga di malam hari yang memiliki udara sangat dingin dengan kondisi tubuh yang tidak baik bukanlah hal yang patut dilakukan.


“Apa kau tidak ada cara lain?” tanya Luke sambil menatap Isa


“Cara lain? Eumh.. Tidak ada! Kamar di rumahku hanya ada 3 dan itu sudah terisi penuh. Kalau kau mau menginap di rumahku, apa kau mau tidur di depan pintu seperti seekor anjing?” tanya Isa sambil tersenyum sumringah.


“Kau menyamakanku dengan anjing?” tanya Luke tidak percaya


“Eumh, iya!” jawab Isa dengan semangat


“Kalau aku seekor anjing, berarti kau juga adalah seekor anjing”


“Eh? Enak saja!”


“Lalu, kita harus menyebutmu apa? Sedari tadi kau berbicara dengan anjing di depanmu ini, selain itu, anjing di depanmu ini sudah berhasil bersetubuh denganmu. Jangan mengelak lagi” terang Luke sambil tersenyum.


Sial!


Apa ini yang dikatakan senjata makan tuan?


“Nikmati tidur nyenyakmu di luar! Selamat malam!” ucap Isa dengan kesal sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Luke yang masih berdiri sambil tersenyum kecil.


“Apa dia sudah pulang?” tanya Minnie saat melihat kakaknya sudah memasuki rumah


“Sudah!” ucap Isa dengan kesal sambil menutup pintu dan menguncinya


“Oh”


“Jangan lupa matikan lampu! Kita harus hemat listrik!” teriak Ibu Isa yang kini sudah berada di kamarnya


“Iya Ibu” ucap Isa


Isa kemudian mematikan lampu ruang tamu rumahnya itu. Namun, sebelum benar – benar pergi dari ruang tamu, Isa menyempatkan dirinya untuk mengintip Luke dari jendela kaca rumahnya. Isa dapat melihat Luke masih berdiri di tempat yang sama sambil menggosok kedua tangannya, sepertinya lelaki itu kedinginan.


Rasa bersalah menyelimuti Isa. Namun, setelah Isa menggingat segala perilaku – perilaku pria itu, rasa bersalah Isa langsung pergi entah kemana.


“Bodo amat lah!” ucap Isa sambil berlalu dari ruang tamu menuju ke kamarnya.

__ADS_1


02.30 AM


Rasa berat di perut Isa membuat Isa terbangun dari tidur nyenyaknya.  Isa mengucek – ngucek kedua bola matanya yang masih terasa sangat berat untuk dibuka.


Setelah seluruh kesadaran Isa telah terkumpul, Isa langsung merasakan ada sesuatu yang janggal! Dia merasa bahwa ada sebuah tangan yang memeluk perutnya dengan sangat posesif seolah – olah takut Isa akan meninggalkan si pemilik tangan tersebut.


Apa itu hantu? Sejenak, Isa merutuki dirinya yang mematikan lampu kamarnya sehingga Isa tidak dapat melihat langsung dengan jelas, tangan seperti apa yang sedang memeluknya.


Dengan rasa penasaran yang sangat tinggi, Isa langsung membalikkan badannya dan alangkah terkejutnya Isa saat melihat si pemilik tangan tersebut


“Hump---


Baru saja Isa hendak berteriak, mulutnya langsung dibungkam oleh mulut seorang pria yang sedari tadi memeluknya itu.


Isa meronta – ronta dengan kasar, tangannya memukul dada pria itu dan kakinya menendang – nendang tak tentu arah


Pria itu mengulum mulut Isa dengan begitu lihainya sampai – sampai membuat si empunya merasa ada ribuan kupu – kupu yang sedang berterbangan di dalam perutnya. Melihat teknik cium milik pria itu, Isa dapat memastikan bahwa pria itu adalah Luke.


Memang, Isa baru mendapatkan beberapa kali ciuman dari Luke, dalam arti tidak sering mendapatkan ciuman dari Luke. Namun, Isa dapat langsung memastikan bahwa itu adalah Luke. Selain karena Luke adalah pria yang pertama kali mencium bibir perawan milik Isa, Isa juga selalu merasakan bahwa Luke selalu mendominasi permainan dan tidak pernah membiarkan Isa sedikitpun untuk mengikuti alur permainan mereka.


“Ini aku. Luke!” ucap Luke saat bibir mereka sudah tidak menempel lagi


“Luke?” tanya Isa binggung sambil menatap wajah pria yang kini sudah berada di atas tubuh Isa itu.


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Isa khawatir dengan suara yang pelan. Dia sangat khawatir kalau kedua orang tuanya akan memergoki mereka berdua.


“Kau kira aku mau tidur diluar seperti seekor anjing. Kau jangan lupa, aku adalah pemilik Milleis” ucap Luke dengan kesal.


Isa memutar bola matanya dengan kesal. Disaat – saat seperti ini, pria itu masih sempat menyombongkan dirinya


“Darimana kau masuk?” tanya Isa penasaran, karena seingatnya dia sudah mengunci pintu rumah mereka.


“Apa kau ingin mendengarnya?” tanya Luke balik


“Tentu saja, bodoh!” ucap Isa kesal sambil memukul pelan lengan Luke yang mengungkung tubuh Isa


“Baiklah, aku akan bercerita. Sebelum aku masuk, ada seorang wanita yang sangat penasaran denganku. Kemudian wanita itu membukakan jendelanya untuk mengintipku. Setelah dia puas melihat wajah tampan dan tubu kekarku, wanita itu langsung pergi tanpa menutup jendela. Akhirnya, aku masuk ke rumah wanita itu dari jendela dan tidur bersama dengan wanita itu di kamarnya” jelas Luke


Wajah Isa langsung memerah karena malu. Ternyata, Luke menyadari bahwa Isa mengintipnya.


“Brengsek!” maki Isa dengan suara yang terdengar malu – malu sambil memukul pelan dada Luke.


Luke hanya tersenyum kecil. Hingga akhirnya senyumnya itu terganti dengan sebuah senyum misterius yang membuat Isa langsung merinding saat melihatnya. Isa dapat menemukan mata biru milik Luke yang tadinya diselimuti oleh kehangatan kini berubah. Mata itu kini seperti diselimuti oleh kabut gairah.


“Luke?” panggil Isa dengan pelan sambil menyentuh lembut lengan Luke


“Aku menginginkanmu Isa” ucap Luke dengan pelan sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Isa yang sangat wangi.


Luke meninggalkan jejak – jejak basah di ceruk leher Isa yang berhasil membuat si pemilik leher melenguh nikmat.


“So am I” ucap Isa pelan sambil meremas rambut Luke dengan pelan.


Luke yang mendengar ucapan Isa itu langsung menarik kepalanya dari ceruk leher Isa. Apa Luke tidak salah dengar? Biarkan Luke memastikannya lagi!


“Bolehkah?” tanya Luke hati – hati sambil menatap kedua bola mata hazel milik isa


“Sure” jawab Isa sambil tersenyum kecil


Luke merasa bahwa hatinya berbunga – bunga saat ini. Luke merasa bahwa dia adalah pria yang paling beruntung di dunia ini. Meskipun agak terlambat, setidaknya kini Luke dan Isa dapat melakukan hubungan intim dengan persetujuan kedua belah pihak.


Dengan hati – hati, Luke menarik gaun tidur warna peach berbahan satin milik Isa. Setelah gaun tidur itu terlepas dari tubuh Isa, Luke langsung menatap tubuh Isa dengan tatapan memuja. Tubuh Isa telah berhasil membuatnya merasa tidak tergoda dengan tubuh – tubuh wanita lain.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Isa dengan malu karena sedari tadi Luke menatapi dirinya dengan lekat


“Jangan ditutup. Mereka sangat indah” ucap Luke dengan tulus sambil menarik tangan Isa yang menutupi tubuhnya


Pandangan Luke semakin menggelap saat melihat pemandangan indah dihadapannya itu. Sudah lama sekali, sejak Luke bermain dengan benda – benda limited edition favoritnya itu.


Malam itu, kembali menjadi malam panas antara Luke dan Isa. Kedua anak manusia itu saling berlomba untuk mendapatkan kepuasannya masing - masing.


“Bagaimana kau akan pulang?” tanya Isa sambil mendekatkan tubuhnya ke dalam pelukan Luke.


“Entah. Sudahlah, jangan pikirkan hal itu. Lebih baik kita tidur” ucap Luke sambil menarik Isa ke pelukannya.


Malam itu, Isa tidur dengan sangat nyenyak di dalam pelukan Luke. Isa dapat bersumpah, bahwa tidak ada guling seempuk dan senyaman Luke.


 


 


**Sekali - kali Luke nya dinistain nggak apa - apa ya :V Like dan komen dari pembaca adalah vitamin cerita ini**

__ADS_1


 


 


__ADS_2