
Srekk!!!
Suara tirai penutup jendela yang dibuka dengan kasar membuat Isa terganggu dari mimpi indahnya.
“Isa, bangun…”
Luke tau bahwa saat dirinya membuka tirai penutup jendela dengan sekenanya, Isa sudah terbangun dari mimpinya namun istrinya itu masih tetap menutup matanya
“Eung…” ucapan Luke itu hanya ditanggapi dengan lenguhan malas oleh Isa
Bukannya membuka matanya dan menyapa suaminya itu dengan ucapan selamat pagi yang manis, Isa malah semakin menarik selimut yang berada di genggamannya sampai ke kepalanya.
Luke menggeleng – gelengkan kepalanya.
Bukannya seharusnya seorang istri yang lebih dulu bangun dari tidurnya daripada seorang suami?
Ah, tapi Luke tidak terlalu mempermasalahkan itu. Apalagi saat mengingat bahwa istrinya itu sedang dalam kondisi mengandung.
“Isa, wake up…” ucap Luke lembut sambil mengusap pelan kepala Isa yang kini sudah bersembunyi di balik selimut yang dipakainya
Bukannya memiliki niat untuk bangun, gestur Luke tersebut malah membuat Isa semakin memiliki niat untuk kembali ke dunia mimpinya yang sangat indah
Luke menghela napasnya dengan kasar. Ia tau betul saat dirinya mengusap pelan kepala Isa, pasti wanita itu semakin berniat untuk melanjutkan tidurnya. Tapi Luke bisa apa? Tak mungkin ia menarik kasar selimut wanita itu dan meneriaki wanita itu untuk bangun, kan?
“15 menit lagi, aku menunggumu di bawah. Kita akan sarapan bersama. Jangan sampai telat, jangan biarkan bayi kita menangis karena kelaparan” ucap Luke lembut
Cup
Luke mengecup lama puncak kepala Isa yang masih tertutupi dengan selimut
“Aku menunggumu” ucap Luke sebelum dirinya benar – benar meninggalkan Isa yang masih asyik bergelung dengan selimutnya
Setelah memastikan Luke benar – benar pergi dari kamar mereka, Isa langsung menarik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
“Hah!”
Isa menghela napasnya dengan kasar sambil memegang dadanya yang berdegub kencang. Ah, kenapa dia merasa melting saat menerima perlakuan – perlakuan lembut Luke tadi?
“God… kenapa aku seperti ini?” gumam Isa sambil menepuk pelan pipinya yang terasa panas
Jika diingat – ingat, wajah memerah Isa dan degub jantungnya yang tidak beraturan sangat mirip dengan remaja abg yang sedang jatuh cinta. Mungkin, ini semua karena efek dirinya yang sedang mengandung. Hormon ibu hamil.
“Apa kau menyukai sentuhan daddy mu, eumh?” tanya Isa sambil tersenyum kecil
Tangan Isa terulur untuk mengusap – usap pelan perutnya. Entah kenapa, hal itu menjadi suatu aktivitas yang sering dilakukan oleh Isa beberapa hari belakangan ini. Isa selalu merasa nyaman dan tenang saat dia mengelus perutnya yang masih datar itu.
Ah, memikirkan hal itu membuat Isa berpikir, apakah dia akan tetap merasa nyaman saat Luke mengelus perutnya? Apakah dia akan merasa tidak nyaman? Tapi, tidak mungkin dia tidak merasa nyaman.
“Yosh… sekarang kita harus bangun dan turun untuk sarapan bersama daddy. Apa baby ingin sarapan dengan daddy, eumh?” ucap Isa yang diakhiri dengan sebuah tawa renyah
Setelah berhasil mengumpulkan niatnya, Isa bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Entah kenapa, Isa merasa dirinya terlalu malas untuk sekedar mencuci mukanya atau menggosok giginya. Dia tak peduli dengan wajahnya yang saat ini terlihat berminyak maupun rambutnya yang terlihat acak – acakan. Bukankah dia tetap cantik? Setidaknya… hal itulah yang sering dikatakan oleh Luke padanya setiap waktu
__ADS_1
Isa melangkahkan kakinya dengan ringan menuju meja makan yang berada di penthouse Luke. Kedua alis Isa terangkat saat melihat beberapa sajian makanan yang terlihat….errr… terlalu sederhana untuk seorang Serrano seperti Luke.
Tak ingin mau ambil pusing, Isa tetap melangkahkan kakinya menuju meja kayu yang terlihat berkilau itu.
Srek!
Isa menarik salah satu kursi yang berada di meja makan itu. Kedua matanya seolah – olah menolak percaya dengan apa yang dilihatnya di hadapannya.
Kini,di atas meja makan mewah itu tersaji dua piring nasi goreng yang terlihat sudah mulai menggosong, dua buah telur mata sapi yang sudah hancur, serta beberapa roti panggang yang terlihat sudah mengeras.
Isa meringis pelan. Isa yakin bahwa Luke pasti sudah memecat koki yang menyiapkan sarapan kali ini.
Dari semua menu yang tersaji di atas meja makan itu, menurut Isa, menu yang bisa dimakan hanya segelas susu.
“Isa! Aku tak menyangka kau akan cepat bangun”
Isa langsung mengahlihkannya menuju ke sumber suara dan sontak Isa langsung membolakan matanya saat melihat Luke tengah membawa nampan yang berisi cookies yang sudah berwarna kecoklatan.
Tapi, bukan hanya hal itu yang membuat Isa terkejut. Keterkejutan Isa semakin menjadi saat meliha Luke hanya memakai sebuah celemek berwarna pink untuk menutupi tubuhnya yang half-na**d. S**t! Isa tak bisa mengahlihkan pandangannya dari kedua lengan Luke yang semakin berotot saja.
“Hei… kau melamun? Aish… melamun itu tak baik untuk wanita yang sedang hamil” tegur Luke sambil meletakkan nampan berisi cookies yang sedari tadi dipegangnya ke atas meja makan itu
Isa hanya tersenyum kikuk.
“Eh… apa kau yang menyiapkan ini semua?” tanya Isa sambil berusaha fokus untuk tetap menatap wajah Luke
“Ya! Aku sengaja meliburkan beberapa pelayan karena aku ingin menghabiskan seluruh waktuku hari ini denganmu. Hanya berdua, saja!” ucap Luke sambil tersenyum
Isa kembali menyapukan pandangannya ke arah makanan – makanan yang telah disiapkan oleh Luke seorang diri. Rasa haru langsung menyergap perasaan Isa, bagaimana bisa di hari pertama pernikahannya, dia membiarkan suaminya untuk melayaninya,
Tes.
Air mata Isa langsung meluruh saat dirinya mengingat bahwa dirinya telah gagal menjadi istri yang baik, bahkan di hari pertama pernikahan mereka.
Jika diingat – ingat sejak tadi pagi, Luke selalu melayaninya. Luke membuka tirai di kamar mereka, Luke membangunkannya dengan lembut, Luke memasak sarapan mereka dan Luke menata meja makan sedemikian rupa. Semua itu dilakukan Luke seorang diri.
“Eh…? Kenapa kau menangis?” tanya Luke sambil mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat Isa menangis ketika melihat makanan yang berada di meja.
Luke meringis kecil.
Ah, pasti Isa menangisi nasibnya karena akan memakan makanan yang tak layak dimakan itu.
“Aku akan membuang makanan ini dan memesan yang baru. Kau tenang saja…” ucap Luke sambil tersenyum manis dan menggapai tangan Isa untuk digenggamnnya
Mendengar ucapan Luke, Isa mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Luke. Isakannya semakin menjadi saat melihat senyum manis Luke
“Eh? Kenapa kau menangis?” tanya Luke khawatir
Karena dirinya tak ingin melihat wajah Isa yang saat ini dipenuhi air mata, Luke langsung meraih tubuh Isa ke dalam pelukannya dan mengelus pundak istrinya itu dengan lembut
“Luke… maafkan aku” ucap Isa ditengah – tengah isakannya sambil mempererat pelukannya pada tubuh Luke
Kedua tangan mungilnya memeluk erat punggung Luke yang tidak ditutupi apapun. Ada rasa berdersir di dalam diri Isa saat menyentuh punggung itu. Rasa itu seolah – olah menyatakan bahwa ini kali pertamanya Isa menyentuh kulit telanjang Luke itu, padahal… Isa pernah menyentuh Luke lebih dari itu.
__ADS_1
“Kenapa kau meminta maaf? Bukannya seharusnya aku yang meminta maaf karena telah mengganggu tidurmu dan membuatmu hampir memakan masakan beracun ku?” tanya Luke yang diakhiri dengan sebuah tawa kecil
Mendengar ucapan itu, tangis Isa semakin menjadi
“Isa…? Ada apa sebenarnya, eumh?” tanya Luke lembut sambil mengelus puncak rambut Istrinya dengan hati – hati. Luke tak ingin rambut Isa yang berantakan itu tersangkut di jari – jemarinya dan menyebabkan istrinya itu semakin menangis
“Maafkan aku…” ucap Isa sambil menenggelamkan wajahnya di dada hangat Luke
Luke mengernyitkan dahinya.
“Eumh… aku memaafkanmu” tandas Luke, walaupun ia tidak tau dalam rangka apa dia harus memaafkan Isa. Luke merasa Isa tidak ada membuat kesalahan
“Benarkah?” tanya Isa sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap kedua netra biru Luke
Pertanyaan Isa itu dijawab dengan sebuah anggukan oleh Luke yang disertai dengan senyum manis di wajah pria itu.
Cup!
Isa langsung mengecup singkat bibir Luke. Luke yang tidak siap dengan serangan itu hanya bisa memandang Isa dengan tatapan terkejutnya. Ah, little girlnya itu semakin berani semenjak dirinya hamil. Luke rasa, Isa mendapatkan supplai keberanian dari Serrano junior yang sedang berada di tubuh istrinya itu
“Thank you so much…” ucap Isa sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Luke
Luke mengangguk kecil. Apapun akan dilakukannya agar Isa tidak menangis di hadapannya.
“Eumh… Luke…” panggil Isa pelan
“Yes?”
“Aku lapar…” gumam Isa dengan jari – jemari lentiknya yang bermain di dada Luke untuk membentuk pola – pola abstrak
“Kalau begitu, aku akan memesan makanan” ucap Luke sambil melepaskan pelukan Isa pada dirinya
“Kenapa kau memesan makanan?” tanya Isa sambil menatap Luke dengan tatapan protesnya
“Untuk kita makan” jawab Luke seadanya
“Bukannya di meja sudah ada makanan?” tanya Isa sambil melempar tatapannya ke arah meja makan yang sudah dihiasi oleh makanan – makanan yang telah dibuat oleh Luke
“Kau mau memakan itu?” tanya Luke lamat – lamat
“Ya”
.
.
.
.
.
Saran dong... cara pintar masak itu gimana sihhh :( author dari dulu pen batt pintar masak, tapi gak bisa bisa... mana author anak cewek, rasanya kurang srek di keluarga kalau gak bisa masak :(
__ADS_1