Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 11


__ADS_3

Saat melihat Luke limbung dan kehilangan kesadaran, otomatis Isa langsung berteriak khawatir. Isa meneriakkan nama Luke yang membuat seluruh anggota keluarganya dari rumah keluar untuk melihat apa yang terjadi.


“Isa? Apa yang terjadi!” ucap Ibu Isa khawatir sambil ikut berjongkok dan menatap Luke yang kini sedang pingsan di atas kaki Isa.


“I don’t know. Ayah, apa kau bisa mengangkatnya masuk?” tanya Isa khawatir sambil menatap ayahnya.


“Tentu” jawab ayah Isa tanpa ragu


Kemudian ayah Isa mengangkat tubuh Luke. Karena Luke memiliki tubuh yang berat dan besar, Ibu Isa dan Isa pun ikut membantu untuk menggotong tubuh Luke


Luke pun dibawa ke kamar Isa.


Ingin rasanya Isa melayangkan protesnya kepada ayahnya, namun mengingat kamar mereka hanya ada 3 (kamar Isa, kamar Minnie dan kamar kedua orangtuanya), Isa pun mengurungkan niatnya itu.


“Badannya sangat panas” ucap Ibu Isa khawatir saat ibu Isa meletakkan tangannya di atas dahi Luke.


“Dia sakit?” tanya Minnie tiba – tiba


“Nggak! Sawannya kambuh!” ucap Isa dengan ketus yang membuat Minnie mencebikkan mulutnya.


“Aku kan bertanya baik – baik” ucap Minnie sambil menatap aneh ke arah kakaknya itu


Isa hanya mendengus kesal dan mengahlihkan pandangannya dari Minnie.


Isa menatap tubuh Luke yang kelihatan lebih kurus dibanding 2 minggu yang lalu. Isa juga memperhatikan wajah Luke yang pucat dan tangan Luke yang diperban. Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh pria gila itu selama 2 minggu ini?


Dia menjauhi Isa selama 2 minggu, kemudian dia datang ke rumah Isa secara tiba – tiba dan memberikan Isa sebuah kejutan, lalu dia pingsan. Lelucon apa ini!


“Nih!” ucap Ibu Isa sambil menyodorkan semangkuk air hangat yang sudah terisi dengan sebuah kain di dalamnya.


“Ini untuk apa?” tanya Isa binggung sambil mengambil mangkuk tersebut dari tangan Ibunya.


“Kompres dia! Badannya sangat panas” ucap Ibu Isa sambil menatap sekilas Luke yang sedang berbaring di atas tempat tidur Isa.


“Eh… kok aku?” tanya Isa binggung sambil meletakkan mangkuk tersebut ke lantai dengan hati – hati.


“Dia kan kenalan kamu”


“Dia bukan kenalan aku!”


“Jadi, teman?”


“Bukan juga!”


“Pacar?”


“Nggak mungkin lha!” tolak Isa mentah – mentah.


“Aish,, cepat kompres dia! Ibu masih punya banyak urusan, adikmu juga masih mau belajar.” Perintah Ibu Isa.


Isa hanya diam dan menatap kesal ke arah Ibunya yang kini sudah meninggalkan ruangan.


“Kak!” panggil Minnie dengan suara yang kecil sambil berjalan mendekati kakaknya itu.


“Apa?!?” tanya Isa dengan sangar


“Jangan galak – galak dong kak. Minnie mau membantu kakak nih” tawar Minnie sambil tersenyum sumringah.


Isa mengernyitkan dahinya dan menatap Minnie dengan tatapan penuh selidik. Pasti Minnie punya niat tersembunyi, Isa yakin hal itu!


“Biar Minnie aja yang ngompres kakak ganteng” ucap Minnie sambil tersenyum sumringah menatap Isa.


“Kamu lagi nggak sakit kan?” tanya Isa binggung sambil meletakkan tangannya di dahi Minnie.


Dengan cepat Minnie menyingkirkan tangan kakaknya itu.


“Enggak dong, enak aja! Aku lagi baik nih kak, kakak mau nggak aku bantu?” tawar Minnie lagi sambil tersenyum sesumringah mungkin.


Tentu saja Isa merasa ada sebuah kejanggalan disini.


Biasanya adiknya itu sangat malas dalam membantu orang lain. Adiknya itu selalu menuli – nulikan telinganya saat Isa berteriak agar adiknya itu membantunya.


Nah, kali ini… bagaimana mungkin adiknya itu bersedia secara sukarela untuk membantu Isa? Benar – benar di luar nalar.


“Kamu pasti ada maunya kan?” tanya Isa sambil menyipitkan matanya saat menatap Minnie.


Minnie yang sadar kalau kedoknya sudah terbongkar langsung tersenyum kikuk dan menggaruk – garuk bagian belakang lehernya yang tidak terasa gatal sedikitpun.


“Kakak tau aja” ucap Minnie dengan malu – malu


“Elleh! Kakak juga sudah duluan hidup di dunia ini sebelum kamu! Jadi jangan macam – macam sama kakak!” ancam Isa yang membuat Minnie menegak ludahnya sendiri.


“Yaudah deh, kakak galak banget! Lebih baik aku belajar aja, daripada ngebantuin kakak disini. Uselesss!” ucap Minnie dengan mudah sambil berjalan meninggalkan Isa.


Isa menatap kepergian adiknya itu dengan tatapan datar.


Sampai kapanpun, adiknya itu tidak mungkin akan membantu Isa secara sukarela. Jika hal itu benar – benar terjadi, Isa akan meminum 3 gelas penuh air perasan lemon.


Setelah adiknya itu benar – benar pergi, Isa langsung memfokuskan pandangannya kepada pria yang sedang terbaring lemah di ranjangnya.


Setelah dipandang – pandang dalam beberapa menit, Isa langsung sadar bahwa pria itu memiliki wajah yang sangat tampan. Bahkan, saat tidurpun dia memiliki attitude wajah dan tubuh yang baik. Isa merasa kalau pria itu tidak mungkin memiliki foto aib, melihat wajahnya yang merupakan tipe wajah face genius.


Aish.. Isa! Apa yang kau pikirkan?

__ADS_1


Isa memukul pelan kepalanya karena sudah berpikiran yang aneh – aneh tentang Luke.


“Kau sungguh merepotkan” keluh Isa sambil mengangkat mangkuk berisi air hangat yang tadi diletakkannya di atas lantai. Isa kemudian memindahkan mangkuk tersebut ke sebuah kursi yang berada tidak jauh dari gapaiannya.


Dengan telaten, Isa mengelap wajah Luke. Saat mengelap wajah Luke, Isa sedikit terkejut saat mendapati noda make up di kain yang digunakan oleh Isa untuk mengelap wajah Luke. Isa baru tau kalau pria berbadan kekar seperti Luke memakai make up. Kenyataan itu membuat Isa ingin tertawa.


Tak hanya wajah, Isa juga dengan berani membuka kemeja Luke. Isa sedikit tergiur dengan perut kotak – kotak Luke, namun dengan cepat Isa langsung menepis segala pikiran kotornya. Isa langsung mengelap seluruh inci bagian tubuh Luke. Rasanya ada gelenyar aneh saat tangan Isa bersentuhan dengan tubuh Luke. Isa tidak tau, apakah gelenyar tersebut tercipta karena panas badan Luke atau gairah Isa yang terlalu luar binasa.


Setelah selesai mengelap seluruh badan Luke, Isa langsung meletakkan kain itu di dahi Luke.


Baru saja Isa hendak beranjak dari posisinya, tangannya langsung ditarik kuat oleh Luke sehingga menyebabkan tubuh Isa terjerembab jatuh ke atas tubuh panas milik Luke.


Isa mengira bahwa kejadian itu akan membuat Luke terbangun dari pingsannya. Namun, kenyataannya Luke tidak bangun. Lelaki itu bahkan memeluk erat tubuh Isa. Mungkin, lelaki itu mengira tubuh Isa adalah sebuah bantal guling, boneka atau wanita jalang yang menghangatkan tempat tidurnya?


“Jangan tinggalkan aku, lagi” racau Luke dalam kondisi mata tertutup.


Sepertinya, suhu tubunya yang sangat tinggi membuat Luke menggigau dalam tidurnya.


“Aku tidak akan pergi” jawab Isa sambil membalas pelukan Luke, agar Luke merasa lebih nyaman.


“Ara… jangan tinggalkan aku lagi” racau Luke.


Deg.


Jantung Isa langsung berdetak dengan kencang.


Ara? Siapa dia?


Isa langsung mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Luke. Betapa terkejutnya Isa saat mendapati sebutir air mata telah lolos dari pelupuk mata Luke.


“Ara!”


Mendengar Luke memanggil nama orang lain saat sedang bersama dengan Isa, membuat Isa merasa sedikit kesal dan marah. Apa Isa cemburu?


Apa Isa berhak cemburu atas Luke? Isa bukanlah sesuatu yang spesial bagi Luke. Isa tidak pantas untuk merasa cemburu terhadap Luke.


“Ara” panggil Luke lagi dengan suaranya yang lemah dan parau.


Luke yang menggangap Isa sebagai Ara, langsung memeluk erat tubuh Isa. Hal itu membuat hati Isa tercubit. Sepertinya Luke menjadi orang yang berbeda saat bersama dengan orang yang bernama Ara itu.


Isa menatap kosong ke arah Luke yang memeluknya dengan sangat erat. Melihat Luke yang tertidur dengan wajah pulasnya, Isa seakan - akan terhipnotis untuk pergi ke alam mimpinya. Tak menunggu waktu lama, kini Isa sudah terbawa ke alam mimpi. Jangan salahkan Isa yang tertidur, tapi salahkan Luke yang memiliki dada bidang yang sangat able untuk ditiduri.


Mereka berdua tertidur sangat lelap. Hingga ketukan di pintu kamar Isa membuat Isa terjaga dari tidur nyenyaknya.


“Eungh!” ucap Isa sambil mengucek – ngucek matanya yang masih terasa sangat berat/


“Isa… ini ibu” panggil Ibu Isa yang membuat Isa berhasil mengumpulkan seluruh nyawanya yang sedari tadi masih ada di awang – awang.


“Iya” jawab Isa dengan suara serak


Isa menggeser pelan tangan Luke dari perutnya agar Luke tidak terbangun dari tidurnya. Setelah berhasil menggeser tangan Luke, Isa langsung bangun dari tidurnya.


“Nyenyak sekali!” ucap Isa sambil menatap wajah Luke yang tertidur pulas seperti seorang bayi.


Kemudian Isa meletakkan tangannya di atas dahi Luke.


“Sepertinya panasnya sudah turun” ucap Isa pada dirinya sendiri sambil tersenyum kecil.


“Isa!” panggil Ibu Isa lagi.


Isa langsung tersentak dan memukul kepalanya sendiri. Bagaimana dia bisa melupakan ibunya?


“Tunggu” ucap Isa sambil berjalan terbirit – birit untuk membukakan pintu kamarnya.


“Ada apa, Ibu?” tanya Isa saat sudah membukakan pintu kamarnya.


“Bangunkan pria itu! Ibu sudah membuatkan soupe a l’ognion panas untuknya. Berikan padanya sekarang juga, sup ini akan membantu keringatnya keluar agar suhu tubuhnya lebih cepat menurun” ucap Ibu Isa sambil menyodorkan sebuah baki yang diatasnya sudah terdapat semangkuk sup panas.


Soupe a l’ognion adalah makanan pembuka berupa sup hangat. Sup ini terbilang bergizi karena terbiat dari kuah sapi kental  dengan tambahan potongan bawng putih. Disajikan selagi hangat denga potongan daging ayam dan parutan keju gruyère. Cara menikmatinya bisa dengan croutons (potongan roti yang sengaja dipanggang hingga kering), atau dengan potongan roti  Baguette (roti tongkat).


Jenis sup ini telah ada sejak zaman Romawi kuno, dulu sup ini dianggap sebagai sajian rakyat miskin, namun di Prancis, resepnya ‘disihir’ menjadi makanan mewah dengan menambahkan cognac  atau  sherry (sejenis minuman beralkohol) , dan konon sup ini adalah favorite Raja Louis XV


“Baik, bu” jawab Isa patuh sambil menerima baki tersebut


Setelah memberikan baki tersebut kepada Isa, Ibu Isa langsung berlalu pergi. Isa langsung menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju ke arah tempat tidurnya.


Isa meletakkan baki tersebut di salah satu kursi.


“Lukas” panggil Isa sambil menepuk – nepuk pelan pipi halus milik Luke.


“Eghh” erang Luke masih dalam kondisi menutup mata sambil menarik selimut yang menyelimuti badannya lebih tinggi hingga menutupi wajahnya.


“Luke, bangun! Kau harus makan” ucap Isa sambil menarik selimut tersebut hingga wajah Luke kembali terpampang.


“Nanti saja. Aku masih mengantuk” keluh Luke sambil kembali menarik selimut itu.


Isa yang kesal, langsung menarik selimut tersebut sangat keras yang membuat Luke menjadi terkejut karena mendapat perlawanan.


“Isa…! Mengertilah sedikit, calon suamimu ini sedang sakit dan dia lelah, dia butuh tidur saat ini” ucap Luke sambil menarik selimut itu dengan kuat.


Isa hampir saja terjerembab akibat tarikan selimut yang dilakukan oleh Luke, untung saja Isa sudah memasang kuda – kudanya, sehinggga hal itu tidak terjadi.


“Aku hanya memintamu untuk makan! Kenapa kau sulit sekali makan!” ucap Isa kesal sambil kembali menarik selimut itu dengan kuat.

__ADS_1


Akhirnya, mereka saling melakukan tarik – menarik selimut. Hingga Luke menyerah dan menghentikan tarikannya pada selimut milik Isa itu, karena Luke merasa badannya kembali kekurangan tenaga.


“Aish… lihat lah, kau sudah sakit lagi kan? Seharusnya dari tadi kau menuruti perkataanku untuk makan” omel Isa sambil menggeleng – geleng kepalanya.


“Kalau aku tau akan jadi begini, aku juga tidak akan menggagumu” ucap Luke sambil menutup matanya yang terasa berkunang – kunang.


“Pokoknya, sekarang kau harus makan” perintah Isa sambil mengambil mangkuk sup yang terletak di atas kursi.


“Eumh” gumam Luke sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.


“Ini” ucap Isa sambil menyodorkan sendok yang sudah berisi dengan sup panas ke arah mulut Luke.


Luke yang merasa semakin muak karena mencium aroma sup itu pun langsung menutup mulutnya dan menatap Isa dengan tatapan kesalnya.


“Apa kau memasukkan racun di dalamnya?!?” tanya Luke dengan kesal sambil mendorong jauh tangan Isa yang sedang memegang sendok tersebut. Sontak saja, sup yang berada di dalam sendok tersebut tumpah.


Isa menatap horror ke arah selimutnya yang kini sudah terdapat noda sup.


“Untuk apa aku memasukkan racun di dalamnya! Aku masih mau hidup bebas! Aku tidak mau dipenjara!!” ucap Isa berapi – api sambil melemparkan sendoknya ke sembarang arah.


“Pokoknya, aku tidak mau makan” tandas Luke sambil kembali menutup matanya.


“Yasudah! Sekalian saja tidak usah makan sampai selamanya, biar kamu lebih cepat mati!” ucap Isa kesal


“Kalau aku mati, kau pasti akan dipenjara” ucap Luke sambil tersenyum sumringah


Isa mengepal kedua tangannya untuk meredam emosinya yang sudah sangat meledak – ledak. Jika Isa tidak ingat kalau saat ini Luke sedang sakit, Isa pasti akan berusaha untuk memukul kuat kepala pria itu agar otaknya kembali bekerja seperti sedia kala.


Isa sudah bersiap – siap untuk meninggalkan Luke jika Luke tidak menahannya dengan cara memeluknya dari belakang.


“Lepaskan aku, Luke” ucap Isa dengan suara yang pelan karena Isa masih memiliki sedikit rasa sopan untuk orang yang sedang sakit.


“Aku tidak mau makan sup itu” ucap Luke manja sambil menarik Isa ke atas tempat tidur.


Kini, Isa terduduk di atas pangkuan Luke. Satu tangan Luke memeluk pinggang Isa dengan posesif, sedangkan tangannya yang lain mengelus lembut puncak kepala Isa.


“Sup itu dapat membantumu untuk menurunkan suhu panasmu” ucap Isa sambil mengancingi kemeja Luke yang entah sejak kapan sudah terbuka.


“Aku punya cara lain untuk menurunkan suhu panasku” saran Luke setengah berbisik tepat di telinga Isa, yang membuat bulu kuduk Isa meremang.


“Apa?” tanya Isa sambil menahan dada Luke yang mendekati tubuhnya agar tubuh mereka tidak saling menghimpit.


“Melakukan olahraga ranjang denganmu” ucap Luke yang diakhiri dengan sebuah jilatan di leher Isa.


Isa langsung memukul kuat dada Luke saat mendengar ucapan gila Luke itu.


“Apa kau gila?!? Kau masih sakit, tubuhmu masih lemah” ucap Isa dengan marah


“Benarkah?” tanya Luke sambil tersenyum jahil saat menatap Isa


“Lagipula… itu… euhm… keluargaku masih berada di rumah… mereka bisa mendengar” ucap Isa terbata – bata sambil menundukkan kepalanya.


Luke menggigit bibir bawahnya dengan pelan. Luke yakin bahwa saat ini wajah Isa sudah memerah, oleh karena itu Isa memilih untuk menundukkan wajahnya. Ugh, Luke merasa bahwa Isa terlihat sangat cute saat ini.


Luke yang menyadari hal itu, semakin berniat untuk menggoda gadis kecil dihadapannya itu.


Luke menarik tubuh Isa ke tubuhnya, sehingga kini dada Isa bertabrakan dengan dada Luke.


“Kalau begitu…. Kita bisa melakukannya, asalkan kau tidak mengeluarkan suara berisik” ucap Luke sambil memeluk erat Isa.


“Apa yang kau katakan! Mereka pasti bisa mendengar!” ucap Isa malu sambil menyembuyikan wajahnya di bahu Luke.


“Aku bercanda” ucap Luke dengan jujur.


“Itu tidak lucu” ucap Isa kesal sambil mengerucutkan bibirnya


“Yang bilang lucu siapa?” tanya Luke


Bugh!


Isa memukul pelan lengan Luke. Sebenarnya, Isa ingin memukul Luke dengan kuat karena Luke sudah berani menggodanya, namun mengingat Luke masih sakit, Isa mengurungkan niatnya itu.


“Aduh… itu sangat sakit Isa!” ringis Luke


“Eh? Benarkah?” tanya Isa khawatir sambil mengusap – usap lengan Luke yang baru saja dipukulnya.


“Tapi… itu tidak lebih sakit saat kau meninggalkanku” ucap Luke dengan nada sendu.


Isa mendonggakan kepalanya untuk menatapi wajah Luke. Isa mendapati bahwa kini kedua mata Luke sudah mulai berkaca – kaca.


“Jangan menangis” ucap Isa sambil menangkup kedua pipi Luke


“Aku tidak menangis” ucap Luke sambil tersenyum miris.


Tes.


Satu tetes air mata Luke berhasil lolos dari matanya.


“Aku tidak akan meninggalkanmu” ucap Isa sambil kembali memeluk Luke dan sesekali mengusap – usap pelan punggung kokoh milik pria itu.


“Ara….”


 

__ADS_1


 


**Luke nya lagi sakit tuh\, ucapin apa kek :V Btw\, si Luke ngardus banget yah meskipun lagi sakit :v. Like dan komen dari pembaca adalah vitamin dari cerita ini. Thank you**


__ADS_2