Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 90


__ADS_3

Aurora memperhatikan tangannya yang sudah dibalutnya dengan sebuah plester yang berwarna senada dengan warna kulitnya. Aurora berharap, keberadaan plester itu dapat menutupi bekas suntikan infus yang sudah menghiasi tangannya selama empat hari belakangan ini.


Tangan Aurora bergerak untuk mengambil kunci apartemennya yang sejak awal sudah disimpannya di dalam tas kulit mahalnya.


Aurora merasa sedikit lega ketika akhirnya dirinya menyadari bahwa keputusannya untuk membeli apartemen ini setahun yang lalu bukanlah keputusan yang salah. Meskipun dalam setahun ini, apartemennya ini telah lama kosong karena Aurora tinggal di Los Angeles, tapi Aurora tetap tak memiliki keinginan untuk menjual apartemen mewah nan mahal miliknya itu


Aurora yakin bahwa sewaktu – waktu dirinya pasti akan kembali ke Prancis dan menetap di kota yang indah itu. Dan… hop! Keyakinan Aurora itu benar – benar terjadi


Ceklek.


“Kenapa lampunya mati?”


Aurora bergumam kecil ketika kedua netranya yang berwarna hitam pekat itu tidak mendapatkan sedikitpun pencahayaan di dalam apartemennya itu. Padahal seingat Aurora, Aurora sudah menghidupkan lampu ruang tengah apartemennya itu ketika ia hendak pergi ke rumah sakit, 4 hari yang lalu.


Kenapa sekarang lampu itu bisa mati? Apa sedang ada pemadaman listrik? Ah… tapi itu tidak mungkin, mengingat lampu di basement apartemennya itu menyala dengan terang. Apa jangan – jangan bola lampu yang ada di ruang tamunya itu sudah korslet?


Lebih baik Aurora mencoba untuk menekan saklar lampu itu, siapa tau saklar lampu itu turun karena terkena senggolan sesuatu


Klik


“Darimana saja kau!”


Deg.


Tubuh Aurora langsung membeku saat mendengar suara familiar itu. Matanya langsung bergerak dengan cepat untuk mencari sosok pemilik suara itu


Tamat sudah


Pemilik suara itu sedang duduk dengan tenang di sofa milik Aurora, namun tatapan pemilik suara itu tidak menunjukkan ketenangan sama sekali. Ada aura gelisah dan marah di dalam mata berwarna hitam pekat itu


“Lho… kakak? Kakak sudah lama disini?” tanya Aurora senetral mungkin sembari melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke rak sepatu yang ada di belakang pintu apartemennya


“Jangan mengahlihkan pembicaraan nona Smith!” ucap Ryan sembari menekankan kata ‘nona Smith’


Aurora menghela napasnya kasar


“Aku baru dari luar” gumam Aurora


“Dari luar mana sampai kau tidak pulang – pulang selama 4 hari?” tanya Ryan dengan rahangnya yang sudah mengeras keras. Nampaknya, pria berkacamata itu sedang marah besar


“Aku… Aku baru saja mengurus beberapa desain dengan perusahaan fesyen. Karena mereka akan melakukan runway dalam waktu dekat ini, aku harus menggambar untuk mereka selama 4 hari belakangan ini”


“Menggambar kan bisa di rumah?!?”


“Kak… runwaynya sebentar lagi, mereka sangat panik! Mau tak mau, aku harus menginap disana dan mengerjakan gambarnya untuk mereka!” ucap Aurora yang terlihat dongkol dengan pertanyaan Ryan


Ryan menajamkan matanya. Tidak seperti biasanya Aurora seperti ini. Biasanya wanita itu sangat anti menggambar di perusahaan atau dibawah tekanan perusahaan yang akan memamerkan gaun – gaun rancangannya.


Dibandingkan menggambar di bawah pengawasan para petinggi – petinggi perusahaan, wanita itu lebih suka menggambar sendirian di dalam kamarnya sembari ditemani secangkir susu coklat dan musik hype beat yang sangat memekakan telinga.

__ADS_1


“Aku ke kamar dulu”


Grep!


Belum sempat Aurora melangkahkan kakinya untuk memasuki kamarnya, langkahnya langsung terhenti karena tangan kekar Ryan tiba – tiba menahan lengannya


“Ssshh… kakak! Apa yang kau lakukan!” tanya Aurora saat merasakan rasa sakit yang luar biasa di lengannya


Jangan salahkan Aurora yang cenggeng, namun kondisi kulitnya yang selalu bermandikan susu murni dan memakai perawatan – perawatan mahal membuat kulitnya itu sangat sensitif


“Kenapa ada parfum pria lain di pakaianmu!” tanya Ryan dengan mata tajamnya


Oh god! **!


Aurora yakin, aroma parfum pria ini pasti berasal dari parfum semerbak dari supir taxi yang tadi mengendarai taxi untuk Aurora. Aurora tak sadar jika parfum yang menyengat indra penciuman itu bisa menempel di pakaiannya.


“Kakak, kau mau membawaku kemana!”


Aurora berteriak saat tangannya ditarik kasar oleh Ryan. Dengan langkah tergesa – gesa, pria itu berjalan di depan Aurora


Brak!


Pria itu menunjang kasar pintu kamar mandi tamu yang berada tidak jauh. Dengan langkah terseok – seok, Aurora mencoba untuk mengikuti langkah lebar kakaknya itu. Rasa sakit di lengannya memperparah keadaannya, untung saja bukan tangannya yang ditarik oleh Ryan.


Bugh!


Ryan menghempaskan tubuh Aurora ke ujung dinding kamar mandi itu


Aurora paham betul, bahwa pria yang sedang berada di hadapannya ini bukanlah kakak yang sudah merawatnya dengan baik selama bertahun – tahun, tetapi pria dihadapannya ini adalah sosok pria lain yang terlihat sangat dominan dan tak ingin dibantah


“Menghapus jejak pria lain di tubuh kotormu ini!”


Nyut…


Dada Aurora serasa diperas saat mendengar ucapan Ryan tersebut. Tubuh kotor katanya? Apa Aurora perlu meneriaki fakta bahwa dia hanya ditiduri oleh 1 pria yang sama di dalam hidupnya? Darimana sebutan wanita kotor itu datang?


“Kakak!”


Srrrrrr…


Titik – titik air yang mengalir dengan begitu deras dan terasa sangat dingin membasahi tubuh Aurora yang masih dibalut dengan sebuah midi dress berwarna biru langit.


“Ryan!!!” teriak Aurora ketika dirinya merasa bahwa kulitnya belum siap untuk menerima air yang dingin itu


Ryan diam dan tidak menjawab teriakan Aurora tersebut, namun tangannya sibuk untuk mengarahkan showeryang ada di tangannya menuju ke seluruh tubuh Aurora


Srekkk


Ryan menarik kasar belakang gaun berbahan satin yang sedang dikenakan oleh Aurora tersebut. Kini, punggung Aurora sudah terekspos seluruhnya

__ADS_1


“Ryan!!”


Rasa malu, marah dan takut bercampur menjadi satu dalam diri Aurora saat ini


“Apa?!? Jangan sok suci!”


Srek!


Tanpa ada rasa belas kasihan sedikit pun, Ryan menarik kebawah gaun yang sudah rusak itu.


Aurora menutup matanya erat – erat saat gaun itu sudah meluruh ke bawah. Kedua tangan Aurora yang tengah bergetar itu langsung bergerak otomatis untuk menutupi kedua benda berharganya yang ada di dadanya.


Tangisan dalam diam wanita itu langsung meluruh. Tangisan itu bercampur dengan titik – titik air yang membasahi seluruh tubuhnya


“Balikkan badanmu!” perintah Ryan dengan kalimat yang terdengar sarkas


Dengan gerakan pelan, Aurora membalikkan badannya. Percuma juga jika dia menolak permintaan pria itu, pria itu pasti akan memaksakan kehendaknya


“Cih…”


Ryan berdecih pelan sembari mengulurkan tangannya untuk meraih botol sabun cair yang berada di dekatnya. Dengan gerakan kasar, pria itu menuangkan cairan berwarna peach keemasan itu ke atas telapak tangannya


Tanpa memperdulikan apapun, Ryan menggosokkan tangannya yang sudah berlumuran sabun cair itu ke tubuh Aurora. Mulai dari leher, dada, tangan, perut, bok*ng hingga kakinya


Aurora menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara isakannya. Sungguh, tangan besar itu menggosok kulit tubuh Aurora dengan gerakan kasar. Ingin rasanya Aurora menghentikan pria itu, tapi ia terlalu takut untuk memikirkan tindakan gila apa lagi yang akan dilakukan oleh pria yang berada di hadapannya itu


“Do not cry!” ucap Ryan yang merasa geram dengan Aurora yang terisak dalam diam. Meskipun wanita itu menggigit bibir bawahnya agar suara isakannya tidak terdengar, namun gerakan bahu wanita itu yang naik – turun mengikuti isakannya sungguh mengganggu Ryan


Aurora hanya menunduk saat mendengar ucapan Ryan tersebut


Ryan mendengus kasar, tangannya meraih sebuah handuk yang tergantung disana. Seolah – olah ia sudah sering melakukan hal ini, tangan Ryan mengelap seluruh tubuh Aurora dengan telaten, bahkan pria itu sudah melepaskan br* dan celana dalam wanita itu.


Ryan mengelap seluruh tubuh Aurora, tak jarang Aurora berjengit kaget saat tangan Ryan yang ditutupi oleh handuk itu tanpa sengaja menyentuh area privasi wanita itu


Bash!


Dengan gerakan kasar, pria itu melemparkan handuk yang dipegangnya ke atas lantai kamar mandi itu. Aurora hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya dengan takut, ekor matanya tetap memperhatikan pria itu yang kini tengah mengambil sebuah kimono yang ada di dalam kamar mandi itu


“Pakai ini!” ucap Ryan kasar sembari menyodorkan sebuah kimono kepada Aurora


Dengan takut – takut, Aurora mengambil kimono itu dan memakaikan kimono itu dengan gerakan tergesa – gesa pada tubuh telanjan*nya


“Sialan!”


Bugh!


Setelah mengucapkan kata itu, Ryan meninggalkan Aurora sendirian di dalam kamar mandi itu. Tak lupa, pria itu menendang keras pintu kamar mandi itu sebagai tanda bahwa dirinya masih sedang dalam mood yang tidak baik


 

__ADS_1


 


__ADS_2