Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 100


__ADS_3

Aurora melipat kedua kakinya tinggi – tinggi. Matanya menatap langit biru dengan tatapan kosongnya. Sudah berhari – hari Aurora menghabiskan waktunya di rumah Ryan.


Aurora tak pernah diizinkan keluar rumah oleh Ryan. Pria itu mengurung Aurora di kamarnya, seolah – olah pria itu takut jika Aurora akan menghilang kembali


Tangan Aurora memegang perutnya yang masih datar, senyum mirisnya langsung timbul.


“Maaf ya, jika beberapa hari belakangan ini, kau tidak mendapatkan vitamin dariku. Kumohon, tetaplah kuat, hanya kau satu – satunya harapan hidupku” guman Aurora sembari


Drrt… drrtt… drrt…


Suara bunyi dari ponselnya menyentak Aurora. Tangannya langsung bergerak untuk menggapai ponselnya. Dahi Aurora mengernyit saat membaca nama pemanggil itu


Dokter Margareth


Jantung Aurora berdetak dengan kencang dan kuat. Dia mencoba menebak – nebak apa yang akan dikatakan oleh Dokter Margareth


“Halo?” tanya Aurora sembari meneguk ludahnya dengan kasar. Ia masih ingat permintaannya beberapa hari yang lalu kepada dokter Margareth. Aurora masih sangat canggung.


“Hasilnya sudah keluar” ucap dokter Margareth dengan nada bicara datarnya


“Bagaimana hasilnya?” tanya Aurora penasaran


Dokter Margareth menghela nadasnya saat mendengar pertanyaan wanita itu


“Kau bisa mengambil suratnya di ruanganku dan membacanya sendiri” jelas dokter Margareth dengan nada bicara datarnya. Nampaknya, dokter Margareth masih kesal dengan permintaan tak masuk akal yang dimintai oleh Aurora pada dirinya


Aurora memejamkan sebentar matanya dan menghembuskan nafasnya perlahan.


“Baiklah, aku akan mengambilnya” tandas Aurora


“Aku akan menunggumu”


Tut.


Panggilan diputuskan secara sepihak oleh dokter Margareth


Setelah panggilan itu terputus, Aurora menatap layar ponselnya dengan tatapan putus asa. Wanita itu meletakkan benda pipih itu di atas pangkuannya.


Kedua tangannya langsung terulur untuk mengusap wajahnya dengan kasar. Ingin rasanya ia menangis. Kenapa takdir selalu mempermainkannya? Apa ini semua karena dosa yang telah dilakukannya di masa lalu? Apa karena Aurora pernah membunuh nyawa tak berdosa yang dulu mendiami perutnya?

__ADS_1


Hasil tesnya sudah keluar, namun sekarang, bagaimana caranya Aurora bisa keluar dari rumah ini? Aurora ingin menangis dibuatnya.


Jika diingat – ingat, saat ini rumah ini sudah dijaga ketat oleh 5 bodyguard yang sudah disewa oleh Ryan. Memang, jumlahnya tidak banyak, hanya 5 orang untuk rumah yang luas ini. Namun masalahnya bukan tentang banyak atau sedikitnya jumlah bodyguard – bodyguard berbadan kekar itu, namun tentang betapa kompetennya mereka saat menjaga Aurora. Untuk bisa ke taman belakang rumah ini saja, Aurora pasti akan ditemani oleh salah satu dari kelima bodyguard itu


Tangan Aurora terulur untuk mengacak – acak kasar rambut panjangnya. Ia frustasi, sungguh.


Aurora memikirkan berbagai cara yang akan dilakukannya untuk bisa keluar dari rumah ini. Mulai dari hal – hal esktrem sampai hal – hal yang tidak mungkin akan terjadi


“Nona, sekarang waktunya makan siang”


Suara salah satu boyguard pria yang memasuki kamarnya sembari membawa sebuah nampan yang berisikan makanan menyentak Aurora dari lamunannya


Aurora menghela nafasnya dan bangkit dari posisi duduknya. Suara cacing cacing di perutnya yang sudah mulai berdemo membuat Aurora harus mengalah. Biarlah dulu ia menikmati makan siangnya, lalu ia akan memikirkan bagaimana caranya kabur dari bodyguard – bodyguard sialan itu


Aurora melangkahkan kakinya menuju sebuah meja kecil yang berada di kamarnya. Meja itu memang dipersiapkan sebagai meja makan Aurora sejak dirinya dikurung di rumah luas ini.


“Silahkan nona” ucap bodyguard tersebut sopan sembari menarik satu kursi yang ada disana untuk diduduki oleh Aurora


Aurora menghempaskan bokongnya di kursi itu dan makan dalam hening. Matanya sesekali mencuri – curi pandang ke arah bodyguard yang tadi mengantarkan makanan untuknya.


Bodyguard itu berdiri dengan tegap di hadapan Aurora. Matanya menatap Aurora dengan tatapan intens. Awalnya, Aurora sering merasa jengah, namun lama kelamaan, ia mulai terbiasa dengan itu.


Aurora mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya dengan gerakan tak bersemangat. Wajah datar bodyguard itu, pikirannya yang sedang kacau serta rasa mual yang mendera dirinya berhasil membuat Aurora tak bisa menikmati makanan lezat yang sudah dipersiapkan kepadanya


“Hueek!!”


Aurora memuntahkan seluruh makanan yang baru saja ditelannya ke atas meja itu tanpa merasa canggung sedikitpun. Bodyguard itu langsung terkejut ketika melihat Aurora memuntahkan makanannya


“Nona! Apa anda baik – baik saja?"


Aurora menatap bodyguard itu dengan tatapan kebencian yang luar biasa. Bagaimana bisa bodyguard itu menanyakkan hal bodoh seperti itu?


“Apa aku terlihat baik – baik saja!!!” ucap Aurora sembari kembali menahan dirinya yang hendak kembali memuntahkan isi perutnya. Memang, kehadiran makhluk hidup baru yang ada di perutnya berhasil membuat Aurora harus mengalami rasa mual yang sangat tidak disukainya ini.


“Aku akan memanggilkan dokter”


Jantung Aurora langsung berdegub dengan kencang ketika mendengar ucapan bodyguard itu. Tiba – tiba sebuah ide melintas di otaknya


Tangan Aurora langsung bergerak untuk menahan tangan bodyguard itu agar bodyguard itu menghentikan langkahnya

__ADS_1


“Bawa aku ke rumah sakit…” rintih Aurora sambil memasang mimik sakit yang luar biasa di wajahnya. Tak salah jika Luke pernah menjulukinya sebagai seorang artis karena dirinya sangat berhasil memanipulasi orang – orang dengan raut wajahnya


“Saya tidak bisa nona! Tuan Smith melarang anda untuk keluar dari rumah!”


Bebal sekali!


“Bagaimana kalau aku mati karena menunggu dokter sialan itu!! Apa yang akan kau katakan pada Ryan hah!!!” teriak Aurora menggema


Bodyguard itu tersentak ketika mendengar teriakan Aurora. Dahinya mengerut tipis, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.


“Baiklah”


Hati Aurora bersorak – sorai saat mendengar ucapan bodyguard tersebut.


Bub!


Bodyguard tersebut membawa Aurora ke dalam gendongannya. Aurora dibuat terbelalak karena tindakan Bodyguard itu yang tak pernah terlintas di benaknya


“Apa yang kau lakukan?!!?” ucap Aurora terkejut


“Saya akan membawa nona ke rumah sakit” terang bodyguard tersebut


Dengan langkah cepat, bodyguard itu membawa tubuh Aurora di dalam gendongannya menuju ke lantai dasar rumah Ryan


“Kau! Ayo ikut denganku, kita akan mengantar nona  ke rumah sakit” ucap bodyguard itu pada bodyguard lainnya yang sedang berjaga di ruang tamu rumah Ryan yang sangat besar ini


“Baik!” ucap bodyguard itu


Aurora melebarkan kedua matanya. Jadi, dia akan ditemani oleh dua bodyguard berbadan besar ini? Sial! Jika seperti ini, bagaimana Aurora dapat kabur?!?


Dikawal oleh satu bodyguard saja berhasil membuat Aurora berpikir bahwa rencananya untuk kabur itu tidak akan terjadi, apalagi dengan dua bodyguard?!?


“Nona, anda masih baik – baik saja kan?” tanya bodyguard yang sedang menggendong Aurora sembari menatap wajah pucat Aurora


Aku tidak baik – baik saja, sialn!*


“Hah? Eumh…ya… kurasa…”


 

__ADS_1


 


__ADS_2