Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 103


__ADS_3

Luke menggenggam erat tangan milik Isa. Sesekali ia mengusap tangan lembut itu dan wajahnya melayangkan senyuman penuh arti kepada istrinya itu


“Semuanya akan baik – baik saja, Isa” ucap Luke untuk sekian kalinya


Isa tersenyum aneh saat mendengar suaminya itu kembali mengucapkan kalimat yang sama


“Iya… iya… Kau sudah mengatakan kalimat yang sama berjuta – juta kali hari ini” ucap Isa


“Benarkah? Apa kau menghitungnya?” tanya Luke dengan nada geli


“Tentu saja! Meskipun aku bukan lulusan universitas terkemuka di dunia seperti dirimu, tapi aku masih bisa menghitung sa---


“Sampai berjuta – juta kali?” tanya Luke yang diakhiri dengan sebuah kekehan kecil


Bugh!


Isa melayangkan pukulannya ke lengan Luke dengan sekuat tenaga. Luke yang menerima pukulan itu hanya bisa pasrah sembari mengusap – usap pelan lengannya yang sepertinya akan kembali memerah


“Isa… kenapa semakin hari, tenagamu semakin kuat?” tanya Luke sembari tertawa hambar


Isa yang tidak berniat untuk menanggapi pertanyaan Luke itu hanya bisa memutar bola matanya dengan malas dan mengahlihkan pandangannya dari wajah tampan nan menyebalkan milik suaminya itu


“Itu… Aurora ‘kan?” celetuk Isa sembari menatap seorang wanita yang sangat dikenalnya


Mendengar celetukan Isa tersebut, Luke langsung mengarahkan pandangannya ke arah wanita itu.


Dahi Luke sedikit mengernyit ketika matanya menangkap betapa kacaunya keadaan Aurora saat ini. Wanita itu terlihat sangat kelelahan dan berantakan. Ck… apalagi yang sudah dilakukan oleh wanita itu?


“Kenapa penampilannya sangat berantakan?” tanya Isa yang ternyata menyadari penampilan urak – urakan Aurora


Biasanya, wanita itu, Aurora, selalu berpakaian rapi, modis dan mahal. Sebagai seorang fashion designer terkenal di salah satu rumah mode yang telah merekrutnya, Aurora selalu tampil memukau. Baik saat wanita itu sedang menghadiri acara – acara tertentu atau saat wanita itu sedang bermalas – malasan di rumahnya


Namun, saat mata Isa menangkap penampilan Aurora saat ini, Isa merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita itu


“Mungkin saja dia baru selesai lari siang” jawab Luke dengan gaya acuhnya


“Luke! Yang benar saja!” ucap Isa sembari menyenggol pelan lengan Luke


Mata Isa tak bisa lepas dari sosok Aurora. Tiba – tiba ia merasakan perasaan yang aneh di dalam dirinya. Isa seperti merasa bahwa akan terjadi sesuatu


“Luke, sebaiknya kau tolong Aurora menyebrang”


“Ah… tidak mau” ucap Luke dengan wajah menyebalkannya


“Luke… Apa kau tidak melihat dirinya sedang kesusahan saat ini?” ucap Isa yang nampaknya tidak menyukai penolakan yang diberikan oleh Luke


Mendengar ucapan Isa tersebut, Luke menghela nafasnya dengan kasar. Kemudian, kedua mata biru meneangkan milik Luke menatap kedua mata hazel milik Isa dengan lekat

__ADS_1


“Isa… sebenarnya, siapa sekarang istriku disini? Kau atau Aurora? Kenapa kau sangat berpihak kepada wanita itu? Apa kau ingin melihatku bersama dengan Aurora?” tanya Luke serius


Isa mengernyit binggung saat mendengar pertanyaan aneh Luke tersebut


“Apa maksudmu?!? Aku adalah istrimu!”


“Lalu… kenapa kau selalu menyuruhku untuk membantu Aurora? Kau tau sendiri jika aku tidak menyukai wanita itu ‘kan?” ucap Luke sembari menampilkan wajah tidak sukanya


Isa menghela nafasnya dengan kasar. Memang, pembicaraan mengenai Aurora di antara Luke dan Isa selalu berakhir dengan sebuah pertengkaran kecil antara pasangan tersebut


“Tap---


Brukkk!!!


Tubuh Luke langsung menegang ketika mendengar suara itu. Pandangannya langsung tertuju pada tubuh Aurora yang sudah terjatuh tak berdaya di atas aspal. Darah mengalir dengan deras dari tubuh pucat itu


“Ara!” panggil Luke setengah berteriak


Dengan cepat, Luke langsung bangkit dari duduknya. Tanpa memperdulikan apapun, pria itu langsung berlari dengan kencang ke dalam kerumunan orang – orang yang sedang mengitari tubuh tak berdaya milik Aurora. Melihat hal itu, Isa juga bangkit dari duduknya dan melangkah dengan cepat di belakang Luke


Isa yang dapat merasakan rasa panik dan khawatir milik Luke hanya bisa berdoa. Ia berdoa semoga saja Aurora dan bayinya akan baik – baik saja, meskipun menurutnya, bayi itu tidak akan selamat.


“Ara!” panggil Luke saat dirinya menatap tubuh Aurora yang sudah bersimbah darah


Tak ingin membuang – buang banyak waktu lagi, Luke langsung mengangkat tubuh Aurora yang sudah dipenuhi oleh darah itu. Luke merasa sedikit lega karena jarak posisi mereka saat ini dengan rumah sakit Veeta cukup dekat.


Dengan Aurora yang berada di dalam gendongannya, Luke berlari kencang menuju ke rumah sakit Veeta dan tentunya, Isa juga ikut berlari di belakang pria itu. Sepertinya, pria itu belum menyadari Isa yang sedari tadi ikut berlari di belakangnya.


“Dokter!” panggil Luke menggelegar saat dirinya sudah berada di lantai dasar rumah sakit itu


Para perawat yang ada disana langsung sigap untuk membawa brankar


“Tuan, anda bisa meletakkannya disini” saran salah satu perawat yang membawa brankar itu


Mendengar saran perawan itu, Luke langsung meletakkan tubuh Ara yang sudah dipenuhi dengan darah ke atas brankar itu.


“Tolong… selamatkan bayinya, saya akan membayar berkali – kali lipat jika bayinya bisa selamat” ucap Luke saat dirinya melihat para perawat itu hendak mendorong brankar yang sedang mengangkut tubuh Aurora


Nampaknya, perawat itu tercengang dengan ucapan Luke. Karena, biasanya, semua pria pasti akan lebih mengutamakan keselamatan wanita mereka dibandingkan anak mereka yang belum lahir.


“Baik, tuan” tandas perawat itu


Mendengar ucapan perawat itu, Luke langsung menggangguk samar. Matanya tidak bisa lepas dari para perawat itu hingga akhirnya pintu ruang UGD melahap habis para perawat dan Aurora. Saat ini, hal yang bisa dilakukan oleh Luke hanya berharap jika bayi itu baik – baik saja


Bub!


Sebuah tepukan di bahunya membuat Luke tersentak. Matanya yang sedari tadi ditutupnya langsung terbuka. Luke mendapati sosok istrinya yang sedang tersenyum kepadanya, wajah istrinya terlihat kelelahan

__ADS_1


“Everything will be alright” ucap Isa lembut sembari mengusap – usap pelan pundak Luke dengan tangannya


Mendengar ucapan Isa itu, Luke langsung menarik tubuh Isa ke dalam pelukannya dan merengkuh erat tubuh mungil itu.


Awalnya Isa terkejut, namun ia langsung menetralkan rasa terkejutnya itu. Tangannya bergerak untuk mengusap – usap punggung kekar Luke, Isa melakukan hal itu dengan harapan bahwa Luke akan sedikit tenang


“Maafkan aku. Karena Aurora, aku jadi melupakanmu” ucap Luke penuh penyesalan


“Ah… tidak apa – apa… Saat ini, Aurora lebih membutuhkanmu dibandingkan aku” ucap Isa yang diakhiri dengan sebuah tawa kecilnya


Mendengar ucapan Isa tersebut, Luke langsung menarik dirinya dari pelukan itu. Mata biru nan tajam itu menatap Isa dengan tatapan nelangsanya.


“Jangan berkata seperti itu, tidak pernah ada wanita yang mau kekasih hatinya memberi perhatian kepada wanita lain” ucap Luke sembari menghapus jejak – jejak keringat yang tersisa di kening istrinya itu. Sepertinya, istrinya itu juga ikut berlari.


Isa tersenyum kecil saat mendengar ucapan Luke tersebut.


Ia tak ingin berbohong, Isa sering merasakan sedikit api cemburu di dalam dirinya ketika dirinya melihat Luke dan Aurora bersama. Namun, Isa menekan kuat – kuat rasa cemburu itu, karena ia tak ingin hubungan Luke dan Aurora semakin merenggang karena tindakan kekanak – kanakan Isa yang cemburu buta. Bagaimanapun juga, saat ini Aurora sedang mengandung anak yang katanya merupakan darah daging Luke


Memikirkan hal itu tiba – tiba membuat Isa mengingat sesuatu


“Ah…. Luke…” ucap Isa sembari melepaskan rangkulannya pada tubuh kekar Luke


“Ada apa?” tanya Luke sembari menatap Isa dengan tatapan bingungnya


Isa mengabaikan ucapan Luke tersebut, tapi tangannya bergerak untuk meraih sesuatu dari kantung celananya


“Ini… aku menemukannya di dekat Aurora, tadi” ucap Isa sembari menyodorkan sebuah amplop yang sudah dirobek


“Hasil tes DNA?” tanya Luke sembari menerima surat itu dengan perasaan khawatir yang luar biasa


Meskipun dirinya akan tetap menerima anak itu jika anak itu adalah darah dagingnya, namun tetap saja, di dalam lubuk hatinya, Luke tidak menginginkan hal itu. Ia hanya ingin hidup bahagia dengan Isa dan anak – anak mereka nantinya


Dengan perlahan, Luke membuka amplop itu dan menarik secarik kertas di dalamnya. Pria itu langsung membaca kertas itu dan punggungnya langsung menegak ketika matanya membaca sebuah kata yang terlihat sangat mencolok


“Bagaimana hasilnya? Positif, ya?” tanya Isa sambil berusaha tersenyum


Luke langsung menatap Isa ketika dirinya mendengar pertanyaan itu.


**!


Luke bisa melihat senyum terpaksa milik Isa dan mata wanita itu yang nampaknya sudah mulai berkaca – kaca. Sungguh, Luke tidak tega


Grep!


Luke langsung menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Tangannya bergerak untuk mengusap – usap sayang puncak kepala dan punggung Isa.


“Isa… ingat apa yang kukatakan tadi? Apapun yang terjadi, aku tidak akan menduakanmu, apalagi meninggalkanmu”

__ADS_1


 


 


__ADS_2