Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 76


__ADS_3

Aurora meremas tangannya yang sudah dibasahi oleh keringatnya dengan gugup. Jantungnya berdegub kencang saat matanya menatap sebuah ruangan yang berada di hadapannya saat ini.


“Kau harus kuat! Hanya kau harapanku satu – satunya” ucap Aurora sambil menatap perutnya yang masih datar dan belum menonjol sedikitpun


Setelah panggilan terakhirnya dengan Luke, Aurora langsung meneguhkan tekadnya untuk melakukan tes DNA terhadap bayi yang sedang di kandungnya saat ini. Aurora tau bahwa hal itu sangat membahayakan bayinya, tapi ia tak bisa berbuat banyak.


Jika Aurora tidak melakukan tes DNA ini, Luke tidak akan pernah percaya bahwa anak yang sedang dikandung oleh Aurora adalah darah dagingnya sendiri. Jika Luke tidak percaya, maka Aurora tidak akan bisa mendapatkan perlindungan dari Luke.


“Nona Aurora Smith”


Punggung Aurora langsung menegang saat mendengar namanya dipanggil oleh perawat yang baru saja keluar dari ruangan yang berada di hadapannya


“Ya, saya” ucap Aurora sambil tersenyum kecil saat dirinya bangkit dari posisi duduknya


“Silahkan masuk” ucap perawat itu dengan ramah


Aurora tersenyum kikuk dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Aurora menegak ludahnya dengan kasar saat dirinya menatap seorang dokter wanita yang tengah duduk di meja kerjanya. Entah kenapa, saat ini Aurora merasa gugup dan takut di saat yang bersamaan.


“Nona Smith, silahkan duduk” ucap dokter wanita itu sambil tersenyum sumringah saat melihat Aurora hanya berdiri tegang di hadapannya


Aurora mengangguk kaku dan menarik sebuah kursi kosong yang berada di hadapan dokter itu. Kini, dokter wanita itu dan Aurora hanya dibatasi oleh sebuah meja.


“Jadi… apa keluhan anda, nona Smith?” tanya dokter itu sambil tersenyum manis. Sebisa mungkin, dokter itu ingin menciptakan suasana yang rileks diantara mereka karena ia tau bahwa saat ini Aurora merasa takut.


“Ah… eumh… tidak ada” jawab Aurora yang disertai dengan gelengan


“Lalu? Apa anda ingin melakukan check up rutin?” tanya dokter itu dengan senyum yang menghiasi wajahnya


“Tidak juga…” jawab Aurora pelan yang diakhiri dengan sebuah ringisan


“Lalu…?” tanya dokter itu binggung.


Kebinggungan dokter itu tercetak dengan jelas di wajah dokter itu. Alis tebal milik dokter itu mengerut. Melihat wajah binggung dokter itu, Aurora semakin merasa takut


“Aku… ingin melakukan tes DNA” ucap Aurora dengan lancar sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


Dokter itu menyipitkan matanya.


Tes DNA? Apakah pasien yang berada di hadapannya ini telah salah masuk ruangan? Tidakkah pasien di hadapannya ini tau bahwa saat ini dia sedang bersama dengan seorang dokter kandungan?


“Maaf, sepertinya anda sa---


“Tidak, tidak… maksudku, aku ingin melakukan tes DNA terhadap janinku” jelas Aurora lagi


Dokter wanita itu mengangkat kedua alisnya dengan tatapan terkejut miliknya.


Kedua matanya secara otomatis langsung menatap Aurora secara terang – terangan. Aurora memiliki wajah yang cantik dan elegan serta selera fashion yang mahal, pasti wanita itu berasal dari keluarga yang berada. Wanita itu tak mungkin seorang ****** kan?


“Aku bukanlah ja**ng” ucap Aurora sambil tersenyum miris saat menyadari arti tatapan dari dokter wanita yang sedang berada di hadapannya saat ini


Dokter wanita itu menegak ludahnya dengan kasar. Sungguh, ia tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan Aurora. Hal yang dilakukannya tadi murni tanpa maksud apa – apa


“Ayah dari bayi ini hanya menuntut bukti, oleh karena itu aku memutuskan untuk melakukan tes DNA terhadap bayi ini” terang Aurora


“Apakah anda yakin?” tanya dokter wanita itu


“Ya, aku yakin”


Untuk janin di dalam kandungan, tes DNA dilakukan dengan mengambil cairan amnion atau air ketuban melalui prosedur amniosentesis atau dengan chorionic villus sampling yang mengambil sampel jaringan plasenta. Namun, kedua jenis tes pada janin tersebut memiliki risiko membuat ibu mengalami gangguan hingga keguguran.


“Anda pasti sudah tau resikonya kan? Atau… anda belum tau resiko dari test ini?” tanya dokter itu penuh selidik


“Aku sudah tau resikonya”


“Lalu, kenapa anda tetap memilih untuk melakukan hal ini?”


“Aku yakin bahwa janin yang kukandung adalah janin yang kuat, dia tidak lemah. Aku yakin, aku tidak akan kehilangannya. Selain itu, aku tidak punya cara lain untuk membuktikan bahwa janin yang kukandung adalah miliknya” terang Aurora dengan nada sendunya


“Apakah anda sudah berkonsultasi dengan ayah dari janin anda? Kemungkinan bahwa anda akan kehilangan janin anda sangat besar” jelas dokter wanita itu


“Ya… aku sudah mendiskusikannya” ucap Aurora sambil tersenyum kecil

__ADS_1


“Kalau begitu, apa anda sudah siap untuk melakukan test nya?” tanya dokter itu lagi


Aurora tersenyum sambil menganggukan kepalanya dengan mantap. Melihat tekad kuat Aurora tersebut, dokter itu menghela napasnya kecil dan tersenyum kecil.


Dokter tersebut kemudian memanggil perawatnya. Dengan bersama perawatnya, dokter itu mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk test ini. Saat dokter itu dan perawatnya sibuk mempersiapkan segala hal tersebut, Aurora sudah dipersilahkan untuk berbaring di atas tempat tidur yang berada di ruangan itu


“Semuanya akan baik – baik saja. Apa kau takut?” tanya Aurora pada janinnya sambil mengusap lembut perut datarnya itu


Senyum getir langsung terpampang di wajah Aurora. Kini, dia telah menyesali keputusannya bertahun – tahun yang lalu, dimana ia memutuskan untuk menggugurkan janinnya. Kali ini, dia harus mengupayakan berbagai cara agar janinnya ini dapat terlahir ke dunia. Karena hanya dengan terlahirnya janin ini, Aurora dapat terbebas dari kungkungan menyeramkan itu.


“Apakah ibu jahat? Maafkan ibu, yah. Maaf karena ibu telah menggunakanmu sebagai alat kebebasan ibu” ucap Aurora sendu


“Meskipun begitu, ibu akan selalu menyayangimu dan melindungimu dengan segenap raga, ibu” lanjut Aurora sambil tersenyum kecil


Sembari menunggu dirinya melakukan test, Aurora mengusap – usap lembut perutnya yang masih datar.


“Apakah anda telah siap?” tanya dokter wanita itu yang nampaknya telah mempersiapkan segala alat yang dibutuhkannya untuk pengetesan ini


Aurora memalingkan pandangannya dari perutnya menuju ke arah dokter wanita itu. Dengan kedua tangannya yang masih setia mengusap – usap lembut perutnya, Aurora menganggukkan kepalanya dengan mantap


“Perlu saya ingatkan sekali lagi, test ini lumayan berbahaya untuk kandungan anda. Anda bisa saja mengalami keguguran. Apakah anda masih berniat untuk melakukannya?” tanya dokter itu lagi saat melihat Aurora menatapnya dengan tatapan sendu


Aurora tersenyum kecil.


Bohong namanya jika dirinya takut akan kemungkinan itu. Aurora sangat takut jika dirinya kehilangan kandungannya ini. Jika ia kehilangan kandungannya ini, maka Aurora tak akan bisa mendapatkan perlindungan dari Luke dan hal itu mungkin akan membawanya ke sebuah kungkungan tak bermoral yang telah membelenggunya selama beberapa tahun belakangan ini.


“Aku ingin melakukan test ini!”


.


.


.


.

__ADS_1


.


Disini ada yang main wa***ad nggak? Boleh promosi dikit nggak nih... wkwkwkwk.... Jadi\, author juga ada nulis cerita di wa***ad\, judulnya IN YOUR EYES... Bisa di check di @BulanYasinta95 yawss.... Thankkk uuuuuu


__ADS_2