
“Ugh… kepalaku sakit sekali” ucap Isa dengan matanya yang masih tertutup sambil menyentuh puncak kepalanya yang terasa sangat sakit sekali, seperti sedang ditimpa oleh 6 novel tebal Harry Potter.
Selain merasakan kepalanya yang terasa sangat sakit, Isa juga merasakan perutnya terasa berat, seperti ada yang melilitnya.
Otak Isa langsung berputar dengan cepat, Isa menemukan sebuah kejanggalan dari apa yang baru saja dialaminya.
Isa langsung membuka matanya dan menatap Luke tengah tertidur dengan pulas di sampingnya, dengan satu tangan Luke menjadi bantal kepala Isa dan satu tangannya lain memeluk perut Isa dengan posesif.
Isa terkejut, tentu saja!
Tapi tak sampai disitu keterkejutan Isa, Isa semakin terkejut saat melihat dirinya kini tidak mengenakan sehelai pakaian pun.
Isa menahan dirinya untuk tidak menangis saat ini. Menangis pun tidak akan ada gunanya bagi Isa, semua sudah terlanjur. Isa tidak akan bisa mengembalikan semua yang terjadi hanya dengan sebuah isak tangisnya.
Dengan hati – hati, Isa menggeser tangan Luke yang melilit perutnya dengan posesif. Isa memerlukan banyak tenaga untuk memindahkan tangan Luke yang berotot dan kekar itu dari perutnya. Bahkan, Isa harus menggunkan kedua tangannya hanya untuk memindahkan satu tangan Luke itu.
Nampaknya, apa yang baru saja dilakukan oleh Isa tidak memengaruhi Luke yang sedang asyik dalam dunia mimpinnya. Itu bagus! Setidaknya Isa bisa meninggalkan tempat ini dengan cepat, sebelum Luke bangun dan akan melempar segepok uang ke wajah Isa.
Isa kemudian beranjak dari tempat tidur, dengan kondisi telanjang, Isa mencari seluruh pakaiannya yang telah terlempar ke sembarang arah. Apakah semalam mereka sangat ganas dan bergairah?
Selama mencari pakaian – pakaiannya, Isa harus mati – matian merasakan sakit di area selangkangannya. Area selangkangannya selalu berdenyut – denyut menyakitkan saat Isa berjalan.
“Aku tidak boleh menangis! Tidak boleh!” ucap Isa untuk menyemangati dirinya.
Setelah menemukan pakaiannya, Isa langsung memakainya dengan terburu – buru. Isa menyadari bahwa penampilannya saat ini sungguh kacau. Isa membutuhkan sesuatu untuk menyamarkan wajahnya.
Isa kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar hotel tersebut. Saat mengedarkan pandangannya, Isa baru menyadari bahwa kamar hotel ini sangat mewah. Sepertinya ini kamar VIP? Eumh… tidak! Sepertinya ini adalah kamar President Suite. Luke benar – benar mentreatrment pelacurnya dengan sangat baik. Kenyataan itu membuat Isa ingin menangis.
Isa langsung membuang jauh – jauh segala pikiran buruknya dan kembali mencari sesuatu yang bisa menutupi wajahnya. Isa akhirnya menemukan sebuah jaket big size yang terlipat dengan rapi di atas meja rias yanga ada di kamar itu, sepertinya jaket itu adalah jaket milik hotel ini.
Dengan langkah pelan, Isa berjalan menuju ke meja rias untuk mendapatkan jaket itu. Isa tidak ingin membuat suara yang dapat membangunkan Luke.
Setelah Isa mendapatkan jaket itu, Isa langsung memakainya. Jaket itu memiliki ukuran yang sangat besar. Jaket itu mampu menutupi sampai paha Isa. Untuk menyamarkan wajahnya, Isa menaikkan tudung jaket itu yang ukurannya melebihi ukuran kepala Isa. Tudung jaket itu mampu membuat wajah Isa seolah – olah ditelan. Isa bersyukur dengan keberadaan jaket itu, setidaknya tidak akan ada yang mengenalinya.
Isa langsung melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar itu, untung saja kunci kamar itu masih tertancap di lubang kunci. Jika tidak, mungkin Isa harus mencari keberadaan kunci itu dan pastinya akan memakan waktu yang lama.
Isa memutar kunci tersebut dan membuka knop pintu kamar hotel tersebut. Saat hendak melangkahkan kakinya ke luar kamar, Isa kembali menatap seluruh sudut yang ada di kamar hotel tersebut dengan nanar. Kamar hotel ini mungkin akan menjadi kamar hotel yang tidak akan pernah dikunjungi oleh Isa lagi, sekalipun Isa mendapatkannya dengan gratis.
Isa menghembuskan napasnya dengan perlahan. Tidak ada lagi gunanya untuk menangis dan saling menyalahkan, semua sudah terjadi.
Isa melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar hotel dengan mantap.
“Everything will be fine” ucap Isa sambil tersenyum.
Saat meninggalkan kamar hotel, Isa selalu mendapati banyak pasang mata yang menatapnya dan membicarakan dirinya. Namun, Isa hanya bersikap acuh. Untuk apa memperdulikan perkataan orang lain yang dapat menyakiti hatimu sendiri?
Sesampainya di luar hotel, Isa menunggu taksi. Untung saja, Isa langsung menemukan sebuah taksi. Dengan cepat, Isa langsung menyetop taksi tersebut. Isa benar – benar ingin meninggalkan kawasan hotel tersebut dengan secepatnya.
“Tolong antarkan aku ke perumahan Springwoods Village” ucap Isa saat dia sudah berada di dalam taksi tersebut.
“Baik, miss”
Perlu kalian tau, perumahan Springwoods Village bukanlah rumah Isa. Springwoods Village adalah perumahan yang ditinggali oleh Debbie.
Kalian pasti sudah dapat menebak kenapa Isa memilih untuk pergi ke rumah Debbie, bukan? Ya, tentu saja untuk membersihkan dirinya yang sudah kotor dan mempertanyakan segala memori kejadian semalam yang tidak bisa diingat oleh Isa, akibat efek mabuk yang dialaminya.
Selain itu, Isa tidak mungkin pulang ke rumahnya dan berjumpa dengan keluarganya dalam kondisi yang tidak baik seperti ini. Ayahnya pasti akan mencerncanya dengan berbcagai pertanyaan yang sanggup membuat detak jantung berdetak dengan tidak normal dan dapat mengakibatkan serangan jantung mendadak.
Kunci dari semua kebinggungan Isa adalah Debbie. Dia harus cepat – cepat menjumpai wanita itu dan mendengarkan langsung semua cerita yang terjadi semalam dari mulut Debbie.
“Terimakasih” ucap Isa sambil memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi tersebut saat taksi yang ditumpangi Isa sudah sampai di kawasan perumahan tempat Debbie tinggal
“Sama – sama, miss” jawab supir taksi tersebut dengan ramah
Dengan pelan, Isa melangkahkan kakinya untuk keluar dari taksi tersebut. Sakit yang melanda area selangkangannya membuat Isa tidak bisa melakukan banyak pergerakan.
“Maaf. Anda ingin mengunjungi siapa?” tanya salah satu sekuriti yang sedang menjaga di pos masuk perumahan tersebut.
“Aku adalah temannya Debbie. Debbie Marshal” jawab Isa pada sekuriti tersebut
Sekuriti tersebut menatap Isa dari atas kepala Isa sampai ujung kaki Isa secara bergantian. Sekuriti tersebut memberikan tatapan mengintimidasi pada Isa, yang tentunya membuat Isa tidak merasa nyaman.
“Apakah anda punya kartu tanda tamu?” tanya sekuriti tersebut.
Isa mengernyitkan dahinya dengan binggung. Sepertinya sekuriti itu adalah sekuriti yang baru saja bekerja di pos itu. Karena, biasanya Isa dapat memasuki perumahan itu dengan bebas karena sekuriti – sekuriti yang menjaga pos masuk sudah mengenal Isa sebagai teman Debbie.
“Biasanya aku tidak memakai kartu tanda tamu” jawab Isa
“Saya tau kalau zaman sekarang banyak sekali orang – orang yang ingin membangun relasi dengan orang – orang kaya yang tinggal di perumahan ini. Namun, saya sebagai sekuriti yang menjaga pos masuk tidak akan memperbolehkan orang yang tidak terdefinisi seperti anda” ucap sekuriti tersebut sambil tersenyum sumringah.
Isa menatap sekuriti tersebut dengan tatapan aneh. Sekuriti tersebut benar – benar menjalankan pekerjaannya dengan hati yang sukarela, meskipun dia hanya menjadi sekuriti.
“Tapi aku ini benar – benar teman dari Debbie!” ucap Isa
“Kalau begitu… apa anda punya kartu pengenal yang bisa saya tahan? Kalau – kalau anda memiliki niat jahat, saya bisa langsung melaporkan anda kepada polisi” ucap sekuriti tersebut sambil menyipitkan matanya saat menatap Isa.
Isa hanya menatap sekuriti tersebut dengan tatapan datar.
__ADS_1
Dengan malas, Isa merogoh kantung celana jeansnya yang berada di balik jaket yang sedang dipakainya.
Deg deg deg.
Jantung Isa berdegup tidak menentu saat dia tidak mendapati adanya kartu pengenal di kantung celana jeansnya.
“Shit!” maki Isa dengan suara kecil.
Isa kembali mengingat – ingat dimana dia menyimpan kartu pengenalnya. Biasanya, Isa selalu membawa kartu pengenalnya kemana – mana, terlebih lagi semalam mereka melakukan pentanda tanganan kontrak, seharusnya di kantung Isa terdapat kartu tanda kerjanya di Lythe, seharusnya.
“Tidak punya kartu pengenal, heh? Sudahlah lebih baik anda pergi saja! Anda bahkan tidak dapat menjamin bahwa diri anda bukanlah seorang teroris” ucap sekuriti tersebut sambil menarik lengan Isa dengan kuat.
“Lepas!!! Biarkan aku masuk!!! Kau hanya seorang junior yang tidak tau apa – apa!!! Lepaskan aku!!!” racau Isa sambil mencoba melepaskan lengannya yang ditarik kuat oleh sekuriti tersebut.
Bugh.
Sekuriti tersebut melempar Isa dengan kasar ke luar pagar perumahan tersebut.
Semua berlangsung dengan cepat, kini Isa sudah tersungkur di tanah. Betapa sialnya dia hari ini.
“Berhenti berakting! Lebih baik sekarang anda pergi dan bekerja dengan keras agar anda dapat menjadi seorang yang kaya lalu anda bisa membangun relasi dengan orang – orang kaya yang tinggal disini” ucap sekuriti tersebut dengan sinis.
Isa menggengam tangannya dengan kuat. Emosinya kini sudah berada di level tertinggi. Kepalanya terasa sangat panas dan sepertinya akan meledak sebentar lagi.
“Nona Isa?” tanya seseorang dengan suara khawatir.
Isa langsung menengadahkan kepalanya dan menatap ke sumber suara tersebut. Senyum Isa langsung terbit.
“Hei, apa yang senior lakukan!” ucap sekuriti yang melempar Isa tadi saat melihat sekuriti seniornya membantu Isa yang sedang jatuh di atas tanah.
“Maafkan atas ketidaknyaman yang nona terima” ucap sekuriti senior tersebut sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Isa berdiri.
“Ya” jawab Isa pendek sambil menerima uluran tangan sekuriti senior tersebut.
Saat sudah bangkit dari posisinya, Isa langsung membersihkan jaketnya yang kini sudah dipenuhi oleh abu dan sedikit pasir.
“Cepat! Minta maaf pada nona Isa!” ucap sekuriti senior tersebut pada sekuriti junior yang sedang menatapi Isa dengan tatapan tidak suka
“Untuk apa saya meminta maaf kepadanya! Saya hanya menjalankan tugas saya!” ucap sekuriti junior tersebut
Ingin rasanya Isa menutup mulut pedas sekuriti tersebut dengan softeks bekas.
“Dia adalah teman nona Debbie. Sekarang, cepat minta maaf!” ucap sekuriti senior tersebut sambil memukul kuat lengan sekuriti juniornya itu.
“Maaf” ucap sekuriti junior tersebut tanpa menatap Isa
“Sekali lagi, kami minta maaf” ucap sekuriti senior tersebut sambil setengah membungkuk.
“Tidak apa – apa” jawab Isa sambil tersenyum sesumringah mungkin.
Setelah insiden kecil di pos masuk tersebut, Isa langsung menuju ke rumah Debbie. Untungnya, jarak rumah Debbie dengan pos masuk tidak terlalu jauh, sehingga Isa dapat cepat – cepat menuju ke rumah Debbie.
Ding dong, ding dong, ding dong.
Isa memencet bel rumah Debbie dengan cepat dan tidak beraturan. Sepertinya, Debbie masih hanyut dalam dunia mimpinya.
Krek.
Setelah memencet bel berulang – ulang, akhirnya Debbie membuka pintu rumahnya dan Isa langsung menatap Debbie yang masih mengguap dengan mata tertutup.
“Debbie!” panggil Isa dengan kuat sambil memukul pelan tangan Debbie yang terulur untuk membuka pintu rumahnya.
“Aish! Jangan memukul ku. Aku masih sadar!” ucap Debbie dengan kesal sambil menyugar rambutnya yang masih berantakan seperti seekor singa jantan.
“Ayo masuk!” ajak Debbie sambil membuka pintu dengan lebar.
Isa langsung memasuki rumah Debbbie yang luas dan megah tersebut. Sekarang Isa semakin mengerti kenapa Debbie dapat memiliki rumah mode yang terkenal di Paris. Mungkin hal itu karena Debbie berasal dari keluarga yang kaya, terpandang dan terkenal. Selain itu, ayah Debbie selalu menyuntikkan dana ke rumah mode Debbie, sehingga rumah mode milik Debbie dapat berkembang dengan pesat hanya dengan membutuhkan waktu yang relative singkat, yaitu 3 tahun.
“Ada apa huh? Tumben sekali kau datang pagi – pagi begini” ucap Debbie sambil menjatuhkan tubunya di sofa besar dan panjang yang berada di tengah – tengah ruang tamu tersebut.
“Pagi – pagi?” interupsi Isa
“Bagiku ini masih pagi – pagi. Mungkin bagimu ini sudah kesiangan” jawab Debbie dengan mudah
“Terserah. Aku hanya ingin menanyakkan sesuatu kepadamu” ucap Isa sambil berjalan menuju ke arah sofa tempat Debbie sedang berbaring
“Eumh.. apa?” tanya Debbie tanpa menatap Isa
“Sebenarnya, apa yang terjadi semalam?” tanya Isa sambil menatap Debbie.
Debbie yang mendengar pertanyaan Isa langsung membuka matany dan bangkit dari posisi tidur ayam – ayamnya.
“Eh? Bukannya kau yang mengantarku pulang ke rumah?” tanya Debbie binggung sambil mengernyitkan dahinya.
“Aku? Bagaimana mungkin? Aku tidak mengantarmu semalam”
“Lalu bagaimana aku bisa sampai ke rumahku? Aku tidak pernah memberitahu alamatku kepada sembarang orang!” ucap Debbie panik sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
“Lupakan masalahmu! Sekarang fokus dengan masalahku!” ucap Isa sambil memegang tangan Debbie
“Bagaimana aku bisa fokus dengan masalahmu? Masalahku saja tidak bisa kuselesaikan”
“Aku yang pertama kali membuka topik pembicaraan ini, yaitu tentang masalahku. Jadi… kita harus menyelesaikan masalahku terlebih dahulu. Jika masalahku sudah selesai, bukankah itu akan menjadi kunci dari masalahmu juga?” ucap Isa dengan panjang lebar
Debbie mencermati perkataan Isa dengan seksama. Maklum, efek baru bangun tidur membuat otak Debbie menjadi super lambat dari biasanya yang lambat.
“Baiklah. Tapi, bagaimana caranya?” tanya Debbie binggung.
Isa yang mendengar pertanyaan Debbie langsung diam dan berpikir dengan keras.
“Apa kau masih mengingat sedikit kejadian semalam?” tanya Isa
“Kalau aku ingat, aku mungkin tidak akan bertanya kepadamu siapa yang sudah mengantarku pulang ke rumah” jawab Debbie sambil mengernyitkan dahinya dengan binggung
“Benar juga”
“Seingatku, kita mabuk semalam” jelas Debbie
“Apa mereka juga mabuk?” tanya Isa penuh selidik
“Mereka? Siapa?”
“Temanmu itu, Austin dan temannya Austin, Lukas” jelas Isa sambil memutar bola matanya dengan kesal.
“Aku tidak tau. Tapi biasanya pria – pria club seperti mereka tidak mudah mabuk meskipun sudah meminum 5 botol penuh bir” jelas Debbie penuh semangat.
Kemudian mereka berdua diam.
“Sekarang, aku tau!” ucap Debbie dengan penuh semangat
“Eh… tau apa?” tanya Isa binggung
“Austin lha yang mengantarku pulang” ucap Debbie dengan sumringah
“Kenapa tidak Lukas?”
“Kenapa tidak Lukas? Jelas – jelas sudah kau lihat semalam, kalau Lukas sangat tidak tertarik denganku, dia tertarik denganmu. Selain itu, Austin lha orang yang berada di sampingku semalam”
“Benar juga”
“Gotcha! Jadi, sebenarnya… masalahku adalah kunci dari permasalahanmu” ucap Debbie dengan sumringah.
Berbeda dengan Debbie yang sumringah, Isa malahan menampilkan wajah cemberutnya.
Drrt… drrt… drrt…
Getaran yang berasal dari ponsel Debbie membuat Debbie mengahlihkan pandangannya ke ponselnya yang berada di saku piyama satin seksinya itu.
“Eh… Minnie menelponku” ucap Debbie binggung saat melihat nama si penelpon yang tertera di layar ponselnya.
“Minnie? Tolong katakan bahwa semalam aku menginap di rumahmu dan baterai ponselku sedang habis. Please… tolong aku” ucap Isa dengan heboh
Debbie yang mendengarkan perkataan Isa hanya mengernyit binggung. Namun, kemudian Debbie langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.
“Halo. Ada apa Minnie?”
“…”
“Owh, kakakmu? Dia semalam menginap disini” jawab Debbie sambil melirik Isa yang saat ini wajahnya sudah berubah menjadi pucat.
“…”
“Ponselnya mati semalam”
“…”
“Kakakmu sedang mandi. Nanti aku akan menghubungimu lagi saat dia sudah selesai mandi”
“…”
Tut tut tut
Panggilan diputus secara sepihak oleh Minnie.
“Sebenarnya… apa yang terjadi padamu?” tanya Debbie sambil melemparkan tatapan penuh selidiknya pada Isa
Menurut pembaca sekalian, apakah nanti Isa akan menceritakan semua kebenarannya pada Debbie?
**Kirim jawaban pembaca di kolom komentar ya. Jawaban terkocak bakal diup di episode selanjutnya**
__ADS_1