Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 68


__ADS_3

“Shit! Sabun si**an!” maki Luke saat tetesan cairan sabun wajahnya tanpa sengaja mengenai bibirnya yang masih mengeluarkan darah, walaupun jumlah darah yang keluar tidak sederas sebelumnya.


Dengan hati – hati, Luke membasuh wajahnya. Luke tak ingin cairan sabun maupun air membuat dirinya memaki benda – benda mati itu, karena Luke sadar bahwa hal itu tak berguna. Memaki benda – benda mati itu tak akan membuat Luke merasa baikan, meskipun pada kenyataannya, disaat kita memaki sesuatu yang kita benci, kita merasakan suatu kepuasan tersendiri di dalam diri kita. Mungkin, itulah alasannya mengapa banyak orang yang sering memaki dengan kata – kata kasar. Semakin kasar makiannya, semakin puas dirinya.


Setelah selesai membasuh wajahnya, Luke menatap pantulan dirinya di sebuah kaca besar berbingkai kayu yang berada di dalam kamar mandi itu.


Sebuah ringisan langsung keluar dari bibir Luke saat dia mendapati bibirnya yang telah koyak hanya karena sebuah gigitan nafsu istrinya sendiri. Di hari pertama pernikahannya saja, telah terjadi tindakan kekerasan di rumah tangga mereka. Bagaimana dengan hari – hari berikutnya? Sepertinya Luke harus semakin menguatkan fisiknya.


Luke tersenyum kecil saat mengingat tindakan penuh nafsu Isa tadi. Ah, sepertinya Luke harus pintar – pintar mengendalikan nafsunya saat ini. Dia tidak ingin hanya karena nafsu binatangnya, dirinya akan melukai darah dagingnya sendiri yang masih belum lahir ke dunia.


Memikirkan soal hal itu, Luke langsung mengepalkan tangannya dengan kuat – kuat. Kali ini, dia harus bisa mempertahankan bayinya sampai bayi itu lahir dan menikmati indahnya dunia. Kali ini, Luke tidak boleh gagal. Tidak boleh lagi!


“Aku akan menjaga bayiku” ucap Luke penuh tekad


Luke menarik napasnya dan menghembuskannya dengan pelan.


Tangan kekarnya meraih sebuah piyama satin yang telah tergantung di dalam kamar mandi itu. Piyama satin itu berwarna merah marun. Piyama satin itu persis dengan piyama yang sedang dipakai oleh Isa tadi. Ah, piyama couple ternyata.


Setelah memakai piyama satin itu, Luke langsung berjalan keluar dari kamar mandi.


Sebuah kernyitan langsung muncul di dahi mulus pria itu saat melihat Isa sedang berdiri di dekat keranjang sampah. Nampaknya, istrinya itu tengah memperhatikan sesuatu dengan seksama.


“Isa, apa yang sedang kau lakukan?”


Suara berat Luke membuat Isa berjengit kaget. Melihat gerakan refleks tubuh Isa tersebut, Luke tak mampu menyembunyikan senyum kecilnya. Ugh… istrinya itu sangat lucu.


“Ah, aku hanya membuka beberapa kotak hadiah” ucap Isa  sambil tersenyum saat dirinya sudah merasa tidak terkejut lagi


Mendengar jawaban Isa, Luke langsung mengangkat satu alisnya. Apakah wanita itu tidak merasa kelelahan?


“Bukankah ini sudah terlalu malam untuk membuka kotak – kotak hadiah itu? Apa kau tidak lelah dan tidak mengantuk?” tanya Luke sambil merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur mereka


Mendengar pertanyaan Luke tersebut, Isa menghela napasnya. Apa yang diucapkan oleh Luke memang benar, saat ini Isa merasa tubuhnya benar – benar lelah dan matanya terasa sangat berat.


Luke menatap punggung Isa yang bergerak seirama saat wanita itu menghela napasnya. Apakah wanita itu benar – benar ingin membuka kotak – kotak hadiah itu? Luke terus memperhatikan istrinya itu yang kini tengah berjalan ke meja riasnya sambil membawa sebuah kotak hadiah kecil di tangannya. Luke dapat melihat Isa dengan berat hati meletakkan kotak kecil itu ke atas meja riasnya


“Isa? Come here, my little girl” panggil Luke saat menyadari bahwa Isa tengah berdiri mematung di depan meja rias istrinya itu.


Mendengar panggilan Luke, Isa menghela napasnya dengan kasar. Ah, seharusnya dia tidak perlu kecewa seperti ini. Bukankah masih ada hari esok? Besok, Isa harus membuka kotak hadiah itu dan kotak – kotak hadiah lainnya yang berada di ruang tamu penthouse Luke.


“Jangan panggil aku little girl lagi, aku bukan anak kecil lagi” ucap Isa ditengah – tengah langkahnya menuju ke tempat tidurnya

__ADS_1


Luke terkekeh mendengar ucapan Isa tersebut


“Apa kau tidak suka dengan panggilan sayangku itu, eumh?” tanya Luke sambil menarik tubuh Isa dengan gemas


Bugh.


Tubuh Isa langsung terjatuh pelan ke atas tubuh Luke saat Luke menarik tubuhnya


“Aduh…” adu Isa


Mendengar aduan Isa, Luke seakan – akan baru tersadar dengan hal yang dilakukannya


“Isa, apa kau baik – baik saja? Apa kau merasakan nyeri di perutmu? Apa kita harus ke rumah sakit? Tidak… tidak… sepertinya aku harus menelpon Ze---


“Ssshh…”


Sebelum Luke berbicara lebih banyak lagi, Isa langsung meletakkan jari telunjuknya yang ramping ke arah mulut Luke


“Luke, apakah kau tidak tau kalau kau terlalu berlebihan?” tanya Isa sambil mengernyitkan dahinya


“Apa kau baik – baik saja?” tanya Luke. Sepertinya, Luke masih sangat mengkhawatirkan kondisi Isa.


Isa memutar bola matanya dengan malas


“Maafkan aku. Aku lupa jika kau sedang mengandung” ucap Luke yang diakhiri dengan sebuah ringisan kecil.


“Tak apa – apa” ucap Isa sambil tersenyum


Setelah percakapan singkat itu, suasana menjadi hening. Luke sibuk mengelus lembut puncak kepala Isa, sedangkan Isa sibuk memikirkan ayahnya yang masih marah dengannya.


“Jangan berpikir keras seperti itu, tak baik untuk bayi kita” ucap Luke sambil mengusap lembut dahi Isa yang sedari tadi berkerut


“Aku tidak berpikir keras”


“Jadi… kenapa dahimu berkerut, eumh?” tanya Luke lembut sambil kembali mengusap lembut puncak kepala Isa


“A---


“Kau memikirkan ayahmu lagi?” tebak Luke sebelum Isa melanjutkan ucapannya


Isa hanya bisa mengangguk kecil saat mendengar tebakan benar milik Luke

__ADS_1


“Sudahlah Isa, jangan pikirkan itu lagi, eumh? Aku yakin, hubunganmu dan ayahmu akan membaik secepatnya. Mana ada ayah yang sanggup marah kepada putri selucu dirimu” canda Luke sambil tertawa kecil


Isa mengedipkan matanya beberapa kali. Baru kali ini dia mendengar ada seseorang yang menyebutnya lucu.


“Kalau kau jadi ayahku, apa kau sanggup marah padaku?” tanya Isa sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap kedua netra biru milik Luke


Luke yang diberikan pertanyaan seperti itu langsung mengernyitkan dahinya


“Apa kau ingin aku menjadi ayahmu?” tanya Luke


“Aku hanya berandai – andai…”


“Jangan berandai – andai seperti itu! Aku tak pernah mau menjadi ayahmu”


“Lho? Aku kan hanya berandai…”


“Kalau aku menjadi ayahmu, bagaimana bisa aku menikahimu? Kalau aku menjadi ayahmu, kurasa aku adalah ayah terbangsat karena sudah menghamili putriku sendiri” jelas Luke dengan raut wajah seriusnya


Dahi Isa mengerut.


Apa yang terjadi dengan suaminya ini? Mengapa dia sangat serius seperti ini? Apa dia sedang dalam masa datang bulan? Ahh.. mana mungkin ada pria yang datang bulan


“Luke! Aku hanya berandai – andai. Why are you so serious?” ucap Isa sambil berusaha melepaskan pelukan Luke di tubuhnya


“Siapa yang serius?” tanya Luke balik sambil mempererat pelukannya pada tubuh Isa


“Tentu saja kau!” ucap Isa garang sambil melepaskan pelukan Luke dengan brutal


“Hah?” tanya Luke cengo sambil melepaskan pelukannya pada tubuh Isa karena ia takut Isa terluka akibat pergerakan brutal wanita itu untuk melepaskan pelukannya


“Sudahlah… aku ingin tidur!” tandas Isa sambil memunggungi tubuh Luke


“Lho?”


.


.


.


.

__ADS_1


.


Terimakasih sudah mau membaca cerita ini...


__ADS_2