Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 34


__ADS_3

Sebuah mobil Porsche Panamera Diesel 250 Hp Edition Tiptronic S berwarna hitam, melesat dengan lincahnya untuk membelah jalanan Los Angeles yang pagi itu lumayan lenggang.


Didalam mobil itu, terdapat Luke, Allexander serta Hemmings.


“Allexander, apakah kamu sudah menghubungi Ryan Smith?” tanya Luke tanpa mengahlihkan pandangannya dari tabletnya.


“Belum tuan. Apakah saya harus menghubunginya?” tanya Allexander


“Tak perlu. Biarkan kedatanganku ini menjadi sebuah kejutan untuknya” ucap Luke sambil menampilkan smirknya.


“Eumh… baiklah tuan”


Karena merasa jenuh dengan pekerjaan yang sedang diperiksanya di tabletnya, Luke memutuskan untuk menatap pemandangan jalanan Los Angeles dibalik kaca pintu mobil mahalnya.


Senyum Luke timbul saat jalanan Los Angeles itu kembali membangkitkan memori – memori lama Luke. Luke merasa bahwa dirinya yang dulu sangat labil dan sangat mudah dibutakan oleh cinta. Luka masih ingat, dirinya pernah diusir dari rumah karena nilai sekolahnya yang menurun. Setelah ditelusuri lebih lanjut oleh kedua orangtuanya, mereka mengetahui bahwa nilai sekolah Luke menurun karena Luke banyak menghabiskan waktunya dengan pacarnya.


“Sepertinya, Los Angeles tidak berubah banyak” gumam Luke


Allexander yang mendengar gumaman tuannya itu hanya diam dan tidak menjawab Luke. Menurut isu yang sudah beredar di kalangan para pekerja setia Luke, Los Angeles adalah tempat yang paling tidak disukai oleh Luke. Namun, kedatangan Luke ke Los Angeles kali ini, membuat Allexander meragukan isu yang beredar itu.


“Tuan, kita sudah sampai” ucap Allexander saat mobil mewah milik tuannya itu sudah berhenti tepat di depan pintu lobi perusahaan.


Senyum smirk Luke kembali mengembang saat melihat kondisi perusahaan yang terlihat biasa – biasanya. Perfect! Ini adalah waktu yang tepat untuk mengejutkan mereka.


Tok!


Sebuah ketukan di kaca pintu mobil membuat Allexander mengernyit binggung.


“Turunkan kacanya dan tanya apa masalahnya” perintah Luke sambil memakai kaca mata hitamnya.


Allexander menggangguk samar dan menurunkan kaca pintu mobil.


“What’s wrong?” tanya Allexander sambil menatap seorang security bertubuh tegap yang tadi mengetuk kaca pintu mobil mereka.


“Anda telah menghalangi pintu masuk lobi, tuan. Tolong segera tepikan mobil anda ke parking area” ucap security tersebut dengan sesopan mungkin


“If I don't want to do it, what will you do to me?” sela Luke


Security tersebut mengerjapkan matanya. Suara yang baru didengarnya tadi sangat familiar.

__ADS_1


“Forcefully, saya akan menderet mobil ini” ucap security itu.


“Allexander, sebaiknya kita berhenti bermain – main. Aku ingin melihat bagaimana perkembangan perusahaan ini. Rasanya sudah lama aku tidak kembali kesini, 6 or 7 years, maybe?” ucap Luke


Mata security itu langsung membola. Dia ingat! Ya, akhirnya dia ingat! Pria itu adalah Lukas Averanno Seranno, pemilik bank Mileis! Pemilik tempat dia bekerja!


“Baik tuan” ucap Allexander patuh sambil keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Luke.


Luke menjejalkan kakinya yang berbalut sepatu Testoni Dress Shoes dengan tegas ke lantai pintu lobi.


“Maafkan saya tuan atas tindakan saya tadi. Saya tidak mengira bahwa mobil itu adalah milik anda” ucap security tersebut sambil menundukkan kepalanya, rasa takut sudah menyelimuti dirinya.


“Ya, kali ini saya memaafkanmu. Lagipula, kamu pantas dipertahankan disini. Tegas. I like it” puji Luke sambil tersenyum kecil.


“Terimakasih banyak tuan!” ucap security tersebut


Luke hanya bergumam tak jelas untuk menunjukkan responnya terhadap perkataan security tersebut.


Dengan langkah yang tegas namun elegan, Luke menjejalkan kakinya memasuki kawasan perusahaannya yang sudah ditinggalkannya beberapa tahun yang lalu.


Langkah yang tegas, tubuh kekar yang dibalut dengan jas yang mahal serta wajah dingin dengan sorot mata yang angkuh, membuat seluruh pegawai yang sedang berada di lobi menatap Luke secara terang – terangan. Bagi mereka yang sudah mengenal Luke, mereka hanya diam dengan wajah yang pucat. Sedangkan yang tidak mengenal Luke, mereka menatap Luke dan memuja – muja Luke.


“Tuan Smith saat ini sedang berada di ruangnya, tuan” ucap front office resepsionist tersebut dengan rasa gugup yang luar biasa, namun karena tuntutan pekerjaan, front office resepsionist tersebut mampu menyembunyikan rasa gugupnya.


“Baiklah”


“Tapi tuan, tolong untuk tidak mendatangi ruangan Tuan Smith dan mengganggunya” lanjut front office resepsionst itu lagi.


Luke menggangkat salah satu alisnya. Seolah – olah dia sedang bertanya ‘Why?’


“Tuan Smith sedang bertemu dengan keluarganya” terang front office resepsionist itu


“Bilang pada CEOmu itu, ini adalah kantor perusahaan, tempat dimana orang – orang bekerja, bukan tempat bercengkrama antar keluarga” ucap Luke dengan tatapan matanya yang tajam.


Mendengar dan melihat reaksi Luke, front office resepsionist itu hanya diam dan menunduk.


Tak ingin membuang waktu lebih lama, Luke langsung berjalan meninggalkan lobi.


Tanpa menghiraukan tatapan – tatapan yang menatapnya secara terang – terangan, Luke berjalan menuju ke area lift khusus CEO yang berada tepat disamping lift yang dipakai oleh pegawai biasa.

__ADS_1


Seluruh pegawai yang melihat tindakan Luke lantas langsung berbisik – bisik. Mereka membicarakan tentang sikap Luke yang tidak sopan karena menaiki lift yang dikhususkan untuk dipakai oleh CEO.


Luke tetaplah Luke.


Dia tidak memperdulikan bisikan – bisikan itu dan tetap menaiki lift khusus CEO, karena pada dasarnya, Luke lah yang meminta lift itu untuk dibuat khusus, agar Luke tidak perlu berbaur dengan pekerja – pekerjanya. Karena Luke tau, berada di dalam lift yang sama dengan bos bukanlah hal yang menyenangkan.


Luke menghembuskan napasnya saat dia menekan angka ‘28’. Senyum getir Luke kembali muncul, kembali ke Los Angeles memang bukanlah hal yang menyenangkan. Semua yang ada di Los Angeles selalu membuat Luke terkenang dengan masa lalunya yang indah namun memuakkan.


Tak perlu menunggu lama, kini Luke sudah berada di lantai 28. Di lantai 28 ini, hanya ada 2 ruangan, yaitu ruangan CEO dan ruangan sekretaris CEO.


Mungkin kalian ada yang bertanya, di lantai yang sebesar itu, kenapa hanya ada 2 ruangan?


Baiklah, aku akan menjawabnya. Perlu kalian ketaui, ruangan CEO di perusahaan ini sangat luas dan megah dibandingkan ruangan CEO kantor perusahaan Milleis lainnya yang tersebar di Eropa. Dulu, Luke sangat sering menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja di dalam ruangannya. Untuk membuat dirinya nyaman, Luke pun memperlengkapi ruangannya dengan ruang tidur pribadi, kamar mandi luas dengan jazucci mewah serta sebuah mini bar.


Lagi dan lagi, senyum getir Luke kembali muncul saat melihat ruangan sekretaris CEO yang berada lumayan jauh dari ruangan CEO. Hal itu semata – mata dibuat agar seseorang tidak merasa cemburu kepada Luke. Aish! Ternyata Luke pernah sangat tunduk kepada seorang wanita!


Baru saja Luke hendak mendorong pintu ruangan CEO, namun pintu tersebut tampaknya sudah didorong dari dalam dengan tergesa – gesa.


“Luke?” beo seorang wanita yang membuka pintu tersebut.


Dalam seketika, Luke merasa tidak bisa mengontrol dirinya. Wanita itu. Wanita itu masih terlihat sama cantiknya, namun makeupnya yang terlalu berlebihan membuat wajah polos wanita itu lenyap. Luke tersadar. Wanita itu sudah berubah.


.


.


.


.


.


.


Hai readers tersayang... Gimana kabar kalian semua? Sehat - sehat aja kan? Semoga sehat - sehat aja. Btw, sekarang aku lagi sad nih... soalnya pandemi Corona makin mengganas :( Apalagi liat negara Italia :( Kalian masih ingatkan kenangan Isa di Italia :(... Kuharap, kita semua dapat mendoakan keadaan dunia ini agar kembali seperti semula :). #StaySafe #StayAtHome


 


 

__ADS_1


__ADS_2