
Isa memandangi saluran televisi yang sedang menampilkan film action dengan tatapan bosannya. Jujur, Isa merasa sangat bosan berada di penthouse milik Luke ini. Dia merasa terkekang. Untuk berjalan – jalan keluar dari penthouse saja, dia dilarang. Bukankah hal itu gila? Isa merasa bahwa dirinya seperti seorang tahanan rumahan saat ini.
Isa menghembuskan napasnya dengan kesal. Tak ada yang bisa dilakukannya.
Isa ingin kembali ke rumahnya, bertemu dengan kedua orangtuanya, adiknya, Minnie, yang mungkin sudah sibuk dengan perkuliahannya maupun bossnya, Debbie, yang selalu mengajaknya ke club.
Namun, Luke benar – benar sudah menata segala sesuatu dengan sempurna. Dia telah meminta izin kepada kedua orangtua Isa untuk membawa Isa berlibur kesuatu tempat dalam waktu 1 bulan dan ajaibnya, kedua orangtuanya setuju! Entah sihir apa yang telah diberikan oleh Luke kepada kedua orangtuanya sehingga mereka dapat memberikan izin kepada seorang pria yang akan membawa anak perempuan mereka pergi dengan mudah.
“Aish! Aku bisa mati muda jika aku berada di tempat ini!” ucap Isa sambil menengadahkan kepalanya
“Tapi… akan lucu juga jika terpampang berita di headline news Paris ‘Seorang wanita meninggal muda karena merasa bosan di rumah’” lanjut Isa sambil tertawa kecil
Seakan – akan baru tersadar dengan apa yang dikatakannya, Isa langsung memukul keningnya dengan pelan.
“Gosh, Isa! Apa yang kau pikirkan!” ucap Isa sambil berusaha mengeluarkan segala pikiran – pikiran negatifnya tentang kematian. Mungkin ini efek dari film action yang ditontonnya tanpa henti selama 2 jam belakangan ini.
“Mrs.!”
“Hell!” maki Isa tak sengaja saat mendengar suara maid yang mengejutkannya.
Isa menatap maid tersebut dengan horror sambil memegang dadanya yang sudah berdegub tak karuan.
“Astaga, maafkan aku! Aku tidak bermaksud mengumpat, aku hanya terkejut saja. Itu adalah reaksi alamiah” ucap Isa sambil mengelus – elus dadanya untuk menetralkan deguban jantungnya.
Hampir saja dia mati muda.
“Maafkan saya mrs., saya juga salah” ucap maid tersebut sambil setengah membungkuk.
“Eh, tak apa – apa!” ucap Isa sambil memegang lembut lengan maid tersebut agar maid tersebut tidak membungkuk lagi.
Dengan gerakan menyelidik, Isa menatap seluruh maid yang sedang berada di ruang nonton bersamanya. Isa meneliti wajah mereka satu per satu. Senyum Isa menggembang saat dia tidak mendapati keberadaan butler yang memiliki muka datar dan tatapan tajam di ruangan itu.
“Sini… aku bisikkan sesuatu!” titah Isa dengan nada suara yang kecil sambil mengibas – ibaskan tangannya agar maid tersebut mendekat kepadanya
“Ada apa, mrs.?” Tanya Maid tersebut sambil mendekatkan telinganya ke mulut mungil Isa
“Jangan pernah membungkuk seperti itu lagi di hadapanku”
“Tapi, mrs.”
“Aku tidak suka, aku akan memecatmu jika kau mengulanginya lagi” ancam Isa
“Baiklah, mrs.” Ucap maid tersebut sambil menggangguk lemah
Mendengar respon maid tersebut, Isa tersenyum senang.
“Nah, baiklah. Kembali ke topic awal. Mengapa kau memanggilku?” tanya Isa sambil menaikkan salah satu alisnya
__ADS_1
“Itu, mrs., ada seorang wanita muda yang sedang mencari Mr. Luke, katanya, dia memiliki hal yang penting untuk dibicarakan” terang maid tersebut
Dahi Isa mengerut dengan samar.
“Kalau dia memiliki hal yang penting untuk dibicarakan, seharusnya dia sudah menelpon Luke… dan, pasti dia tau kalau Luke saat ini sedang tidak berada di rumah” ucap Isa bermonolog kepada dirinya sendiri
“Jadi… bagaimana mrs.? Apakah saya harus menyuruhnya pulang?” tanya maid tersebut
Isa nampaknya sedang menimang – nimang jawaban yang akan diberikannya kepada maid tersebut.
Jika ia menerima tamu itu, pasti dia akan dianggap tidak sopan oleh Luke karena dia mencampuri urusan pentingnya. Jika ia menolak kehadiran tamu itu, rasa penasaran akan tetap menghantui Isa. Apalagi, tamunya ini seorang wanita muda… Apa, jangan jangan…
“Eumh… biarkan saja dia masuk” jawab Isa
“Baiklah, mrs.” Ucap maid tersebut sambil berlalu meninggalkan Isa.
Setelah kepergian maid tersebut, Isa bangkit dari posisi duduknya dan membersihkan roknya yang telah dihuni oleh remah – remah biscuit yang telah dimakan oleh Isa semenjak dia menonton televisi.
“Eumh… hello” sapa Isa dengan ramah saat ia melihat tamu wanita Luke yang telah memasuki ruang tamu.
Isa menatap wanita itu dari bawah sampai ke atas. Ya, dia sedang menilai wanita itu. Menurut penilaian Isa, wanita itu pastinya adalah seseorang dari kalangan atas yang glamour. Kalian juga bisa menebak hal itu, saat melihat wanita itu memakai gaun Little Black Dress dari brand ternama, Givenchy yang harganya tentu saja membuat semua orang menggigit jari saat mendengarnya. Oh iya, dan jangan lupakan juga sebuah kacamata hitam berlambang Gucci yang harganya setara dengan biaya sewa apartemen selama 3 bulan. Gila!
“Hi” balas wanita itu singkat. Seolah – olah dia tidak tertarik untuk berbicara dengan Isa.
Isa mengusir segala pikiran negative dari kepalanya, mungkin saja wanita ini terburu – buru sehingga tidak sempat berbasa – basi dengannya.
“Where is Lukas?” tanya wanita itu sambil mengedarkan pandangannya keseluruh sudut penthouse milik Luke.
“Amerika sangat luas nona. Apakah kau tidak bisa lebih spesifik lagi?” tanya wanita itu dengan nada yang terdengar menjengkelkan di telinga Isa.
“Los Angeles. Dia sedang berada di Los Angeles” terang Isa sambil berusaha lebih sabar dalam menghadapi wanita di hadapannya yang kelihatannya angkuh
“Los Angeles?” tanya wanita itu terkejut sambil menurunkan kaca mata Gucci hitamnya
“Are you sure?” tanya wanita itu lagi
“Iya” jawab Isa dengan gamblang, toh Luke memang lagi di Los Angeles kan.
“It’s crazy!” ucap wanita itu yang diakhiri dengan sebuah tawa sumbang
Isa menatap tingkah laku wanita itu dengan tatapan aneh.
Merasa ditatapi aneh oleh Isa, wanita tersebut berdehem dan menghentikan tawa sumbangnya yang sangat tidak baik untuk telinga.
Suasana tiba – tiba menjadi hening. Wanita itu seolah – olah sedang mencari – cari image dirinya yang anggun.
“Maaf atas tindakanku sebelumnya” ucap wanita itu dengan nada yang dingin namun malah terkesan aneh dan lucu di mata Isa
__ADS_1
“Ah, tak apa – apa. Oh iya, katanya kau ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada Luke. Apa itu?” tanya Isa penasaran
Mendengar pertanyaan Isa, wanita itu mengernyit binggung.
Luke?
Apakah mereka memang seakrab itu?
“Luke?” ulang wanita itu
“Maksudku Lukas” koreksi Isa sambil tersenyum
“Tidak seharusnya seorang maid mengucapkan nama majikannya dengan tidak sopan seperti itu. Aku heran. Biasanya, Lukas sangat selektif dalam memilih maidnya” ucap wanita itu yang diakhiri dengan sebuah decihan
“Maid?” tanya Isa binggung.
Isa lantas mentap pakaian yang dipakainya saat ini. Ya, memang saat ini Isa hanya mengenakan sebuah rok jeans selutut dan sebuah kaus putih yang kelihatan lusuh. Rambutnya yang dikucir kuda secara asal dan tidak adanya polesan make up di wajahnya, membuat Isa memang pantas disebut sebagai maid. Bahkan, maid saja lebih baik darinya.
“Apakah kau bukan maid?” tanya wanita itu setelah memperhatikan perubahan mimik wajah Isa
“Ak—
Sebelum Isa menjawab, wanita itu langsung memotongnya
“Aish! Ternyata kau bukan maid, ya? Apakah kau salah satu penghangat ranjang Lukas? Heh… rasanya pria itu tidak pernah menua, kebiasannya sejak muda tetap dilakukannya saat ini. Aku kadang berpikir, apakah dia masih sama seperti dulu atau lebih parah? Aku masih ingat, bahkan dia membawa 2 ***** sekaligus untuk menghabiskan malam bersama” cerocos wanita tersebut dengan panjang.
Setelah mendengarkan cerocosan wanita itu, Isa sadar. Wanita itu mengganggapnya sebagai penghangat ranjang Luke. Dan dari wanita itu, Isa mengetahui bahwa kehidupan Luke sangat liar dan keliarannya itu tak pernah diberitahukannya kepada Isa. Rasanya ada sedikit rasa kecewa di dalam hati Isa.
“Aku bukan penghangat ranjangnya” ucap Isa sambil tersenyum kikuk.
Meskipun mereka telah beberapa kali melakukan penyatuan, bukan berarti bahwa Isa adalah penghangat ranjangnya semata. Saat ini, mereka sudah bertunangan. Isa adalah tunangan Luke dan Luke adalah tunangan Isa.
“So…?” tanya wanita itu dengan malas
“Aku tunangan Luke” jawab Isa sambil tersenyum kecil
“What?!?”
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Absen dong, siapa aja yang merasa bosan di rumah :D