Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 31


__ADS_3

“Ada apa Allexander? Kenapa kamu datang pagi – pagi buta, begini?” tanya Luke sambil menyilangkan kakinya dihadapan Allexander, orang yang dipercaya Luke untuk mengurus perusahaannya saat Luke sedang tidak berada di perusahaannya.


“Sebelumnya, saya ingin meminta maaf karena sudah menggangu waktu tidur anda, Tuan” ucap Allexander sambil membungkukkan badannya sebagai permintaan maafnya kepada Luke, atasannya yang sangat dihormati dan dikaguminya.


“Saya tidak akan pernah marah jika kamu datang untuk hal yang penting. Jadi, katakan alasan kedatanganmu kemari” titah Luke dengan wajahnya yang serius dan sorot matanya yang tajam.


Saat ini, jam dinding di apartemen mewah milik Luke masih menunjukkan pukul 02.45 AM. Waktu yang masih terlalu dini bagi Luke untuk kembali ke kantor dan berkutat dengan kertas – kertas sialan yang membuat quality timenya bersama Isa berkurang.


“Ini tentang, cabang perusahaan bank anda yang berada di Amerika, tuan” ucap Allexander dengan wajah seriusnya.


“Ada apa? Apa yang terjadi dengan perusahaan itu? Bukankah Ryan Smith sudah menghandle perusahaan itu dengan baik dalam beberapa tahun belakangan ini?” tanya Luke sambil menampilkan wajah binggungnya.


Perlu kalian ketahui bahwa Bank Milleis adalah bank yang sangat berpengaruh di hampir seluruh negara Eropa dan Amerika. Banyaknya cabang perusahaan bank yang dibuka di negara – negara dan kota – kota besar, membuat Luke untuk mengangkat orang – orang yang dipercayanya untuk mengurus perusahaan – perusahaan itu.


Salah satu orang yang sangat amat dipercayai Luke adalah Ryan Smith. Luke sangat menggagumi kemampuan Ryan Smith di bidang bisnis. Meskipun Ryan terlihat pendiam dan terkesan acuh, namun sebenarnya Ryan adalah pria yang sangat kritis dalam mengambil keputusan. Hal inilah yang membuat Luke mengangkat Ryan sebagai CEO di cabang perusahaan bank Milleis di Amerika. Selain itu, kejadian di masa lalu juga membuat Luke mengharuskan mengangkat Ryan sebagai CEO perusahaan Bank Milleis di negara superpower itu.


“Apa yang anda katakan tadi memang benar tuan. Tuan Ryan sudah melakukan yang terbaik untuk menghandle segala masalah perusahaan, baik yang internal maupun eksternal. Namun, beberapa bulan belakangan ini, beberapa investor sudah mulai menarik diri dari cabang perusahaan yang berada di Amerika” terang Allexander


“What? How could it be?” tanya Luke terkejut


“Saya juga tidak tau tuan. Mereka mengatakan kalau tuan Ryan memiliki rasa obsesi yang terlalu tinggi dan honestly… mereka tidak suka itu, tuan” ucap Allexander dengan hati – hati sambil memandang perubahan mimik wajah Luke.


Luke mengetatkan rahangnya. Mengapa hal ini bisa terjadi?


“So… apa yang harus kita lakukan saat ini?” tanya Luke sambil menatap Allexander dengan tatapan dalam yang penuh emosi

__ADS_1


“Sepertinya, tuan harus benar – benar berangkat ke Amerika untuk melihat keadaan Milleis disana” saran Allexander


Luke menghela napasnya dengan kasar.


“Fine. Siapkan jet ku saat ini juga, kita akan pergi pagi ini” perintah Luke sambil bangkit dari duduknya.


Allexander tergelak saat mendengar perintah tuannya itu.


“Sekarang tuan?” tanya Allexander untuk memastikan perkataan Luke yang baru saja didengarnya


“Apakah aku perlu untuk mengulangi perkataanku? You know, I don’t like it” ucap Luke sambil berlalu meninggalkan Allexander.


Allexander yang sudah menerima perintah dari Luke pun, langsung menyiapkan segala keperluan keberangkatan mereka.


Sedangkan Luke? Luke memilih untuk kembali ke kamarnya dan melihat little girlnya.


“Kelihatannya, kau sangat lelah” ucap Luke lembut sambil menyingkirkan anak – anak rambut milik Isa yang menutupi wajah Isa.


Luke memandangi wajah tenang Isa yang masih memancarkan aura lelah. Sebaiknya, Luke tidak mengganggu waktu tidur little girlnya itu, hari ini… pasti adalah hari yang berat untuknya.


“Issabele Caroline Rose, sebenarnya aku tidak sanggup untuk meninggalkanmu bahkan untuk sekejap saja. Aku takut kau pergi dari sisiku, but, all of this problem… I should've go” ucap Luke dengan lembut sambil membelai pipi dan kening Isa


“Aku janji, aku akan kembali secepat mungkin dan saat aku kembali… aku akan mengikatmu sebagai Mrs. Serrano. I promised you!” ucap Luke sambil mengecup lembut kening Isa.


Setelah mengatakan kalimat perpisahannya, Luke memperbaiki selimut yang menutupi Isa. Setelah itu, Luke berlalu. Dia meninggalkan Isa, entah untuk berapa lama. Tapi, Luke berharap dia dapat cepat – cepat kembali dan menghabiskan waktunya lagi dengan little girlnya itu.

__ADS_1


“Apa semua sudah kamu persiapkan, Allexander?” tanya Luke sambil menuruni tangga penthousenya


“Ya, tuan” ucap Allexander


“Baiklah. Mari kita pergi” ucap Luke sambil berjalan dengan langkah yang besar dan mendahului Allexander.


“Baik, tuan” ucap Allexander patuh sambil mengikuti langkah Luke.


.


.


.


.


.


Akhirnya setelah sekian lama, aku baru bisa ngupdate cerita ini lagi. Jujur, aku pengen update cerita ini secara rutin, tapi aktivitasku beberapa minggu belakangan ini gak bisa terkontrol. Maaf ya kalau dah bikin para readers kecewa sama cerita ini dan muak liat tingkah laku authornya :(


.


Oh iya, aku juga mau ingatin kalian, dimanapun kalian berada, karena pandemi Covid-19 semakin mewabah, semoga kalian tetap sehat dan jaga kebersihan ya. Jangan lupa untuk cuci tangan dengan sabun, pakai masker dan lakuin social distancing. Stay safe everyone <3.


 

__ADS_1


 


__ADS_2