
“Hei!”
Isa menghentikan aktivitas makannya saat mendengar suara familiar itu. Isa melihat wajah Luke yang tadinya berseri – seri kini sudah tertekuk. Karena penasaran, Isa menengadahkan wajahnya untuk menatap si pemilik suara familiar itu
“Aku tidak menyangka bisa bertemu kalian disini”
Isa langsung menyunggingkan senyuman lebarnya saat melihat pemilik suara itu
“Dokter Margareth” sapa Isa
Ya, orang yang baru saja mendatangi meja itu adalah Dokter Margareth
“Untuk apa kau datang kesini?” tanya Luke yang merasa jengkel dengan kehadiran Margareth. Dengan adanya Margareth di meja mereka, Luke yakin, dirinya tak akan bisa menghabiskan quality timenya hanya berdua dengan Isa.
Seakan – akan tidak mendengarkan pertanyaan Luke itu, tanpa meminta persetujuan siapapun, Margareth langsung menarik kursi kosong di samping Isa dengan gerakan kasar sehingga menimbulkan bunyi yang lumayan berisik.
Pegawai – pegawai yang sedang berjaga disana menggeleng – gelengkan kepala mereka saat melihat tingkah laku Margareth yang sudah sangat mereka hapal. Margareth itu… terlalu jantan untuk ukuran seorang dokter kandungan
“Ups… maaf…” ucap Margareth sambil terkikik pelan saat melihat Isa yang nampaknya terkejut dengan bunyi berisik yang ditimbulkan oleh kursi yang baru saja ditarik olehnya
Isa menanggapi ucapan permintaan maaf Margareth itu dengan sebuah tawa kecil. Isa mulai memaklumi tindakan – tindakan barbar yang dimiliki oleh Margareth, sejak Luke mengatakan bahwa wanita itu dulunya adalah seorang pemacu mobil balap nan mahal semasa dirinya remaja.
“Wah… apa kau yang memakan semua ini?” tanya Margareth terkejut saat melihat dihadapan Isa terdapat 2 mangkuk mie kuah, dimana 1 mangkuk mie kuah itu telah kosong dan 1 mangkuk lainnya masih diisi oleh setengah porsi mie kuah
“Iya…” jawab Isa seadanya sambil tersenyum lebar saat menatap wajah Margareth
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Luke dengan nada dinginnya
Margareth langsung mendengus kasar saat mendengar pertanyaan Luke tersebut. Dari nada bicara pertanyaanya itu, Margareth sudah dapat menebak jika sepupu lelakinya itu sangat sangat tidak mengharapkan kehadirannya disini
“Tentu saja aku berada disini karena tempat ini adalah kantin tempatku bekerja” ucap Margareth sambil mengangkat kalung dokter tanda pengenalnya ke hadapan Luke
“Benarkah? Siapa yang tau kalau kau bekerja sampai subuh seperti ini karena kau sedang menggoda Zen?” celetuk Luke sesaat sebelum dirinya menyesap caffe lattenya.
Isa mendengarkan percakapan antar sepupu itu dengan seksama. Dari percakapan yang didengarnya hari ini dan kemarin, Isa dapat menyimpulkan bahwa Margareth menyukai Zen namun Zen tidak menyukai Margareth. Meskipun begitu, Margareth tidak pantang menyerah. Dia mengerahkan segala cara yang dia bisa agar Zen menyukai dirinya.
“Enak saja! Kau kira aku ini apa?! Jika bukan karena kondisi pasienku yang memburuk, aku juga tidak ingin lama – lama berada disini” ucap Margareth yang merasa kesal dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Luke.
Memang, menjadi seorang dokter kandungan tak pernah ada di daftar hal yang ingin dilakukan oleh Margareth selama dirinya hidup. Daripada menjadi seorang dokter kandungan, Margareth lebih suka menjadi seorang pembalap mobil, yah… setidaknya itulah cita – citanya sebelum dirinya bertemu dengan Zen. Pria duda yang berhasil membuat Margareth merubah dirinya.
“… Lagipula… Zen sedang tidak lembur hari ini….” lanjut Margareth lagi dengan suara yang lebih pelan
Isa terkekeh kecil mendengar ucapan Margareth itu, sedangkan Luke hanya menggeleng pelan kepalanya. Kini, pria itu menyesal telah mengenalkan Zen kepada Margareth.
“Ah,,, iya… Apakah kondisi pasienmu itu memang sebegitu buruknya sampai kau harus lembur? Biasanya, kau jarang sekali mau lembur seperti ini” tanya Luke
__ADS_1
Margareth menghela napasnya kasar.
“Iya… Awalnya, aku sudah memperingatkannya bahwa hal yang dimintanya itu berbahaya. Namun dia tetap saja mengabaikanku dan berkata bahwa dirinya dan janinnya itu kuat, mereka akan baik – baik saja. Tetapi kenyataannya…. Look! Wanita itu bahkan pingsan karena mengalami pendarahan” ucap Margareth sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut saat mengingat pasien wanitanya itu.
Isa yang mendengar ucapan Margareth langsung mendongakkan wajahnya dan menatap Margareth. Kelihatannya, Isa sangat tertarik dengan ucapan Margareth itu.
“Kenapa wanita itu sampai mengalami pendarahan?” tanya Isa penasaran
“Ahh… Dia nekat melakukan tes DNA pada janinnya yang masih sangat muda”
“Uhuk!”
Luke yang mendengar ucapan Margareth itu langsung tersedak dengan coffe latte yang baru saja disesapnya
“Luke… kau baik – baik saja?” tanya Isa yang terlihat khawatir saat mendengar batuk Luke. Di dalam hatinya, Isa berpikir bahwa Luke batuk karena suaminya itu sudah terlalu lama terkena udara dingin… belum lagi suaminya itu hanya memakai kaus you can see yang sangat tipis.
“Ya… aku baik – baik saja” ucap Luke sambil tersenyum tipis dan mengangguk kikuk
Isa menghela napasnya lega saat melihat senyuman tipis itu. Setelah Isa merasa yakin bahwa Luke baik – baik saja, wanita itu kembali mengedarkan pandangannya ke arah Margareth yang sengaja berhenti bercerita
“Lalu… bagaimana keadaan wanita itu saat ini?” tanya Isa yang nampaknya masih penasaran dengan cerita Margareth tersebut
“Keadaanya tidak baik. Sesaat setelah kami melakukan tes itu, semuanya baik – baik saja. Hingga wanita itu mengalami pendarahan. Wanita itu kehilangan banyak darahnya, sehingga ia pingsan dan… jika dihitung – hitung, sudah 4 jam dia tidak sadarkan diri” ucap Margareth dengan raut sedihnya
“Ahh… aku turut kasihan. Kalau boleh tau, kenapa dia melakukan hal itu?”
“Jadi, wanita itu melakukan hal berbahaya seperti itu hanya untuk membuktikan pada pria itu bahwa dirinya memang benar – benar sedang mengandung benih pria itu?” tanya Isa terkejut
“Yup” jawab Margareth yang disertai dengan sebuah anggukan kecil
“Aku tidak habis pikir. Bagaimana pria itu dapat meminta hal gila seperti itu kepada wanita itu? Bagaimana jika wanita itu keguguran dan hasil tes DNA nya menunjukkan bahwa wanita itu benar – benar sedang hamil benih pria itu! Aku perlu melihat reaksi pria itu!” ucap Isa dengan nada bicaranya yang terdengar kesal
Luke menegak ludahnya dengan kasar. Entah kenapa, saat mendengar pembicaraan dua orang wanita yang sedang berada di hadapannya saat ini, pikiran Luke langsung melayang kepada Aurora.
Apakah wanita yang sedang dibicarakan oleh Margareth adalah Aurora?
Tapi, apa mungkin? Luke tau persis bagaimana sifat Aurora. Luke dapat menebak jika wanita itu akan menghubungi Luke dan memberitahukan bahwa dirinya akan melakukan tes DNA.
Tapi, bagaimana jika wanita yang sedang dibicarakan oleh Margareth adalah Aurora?
Jantung Luke langsung berdebar – debar kencang. Luke memang membenci Aurora, tapi Luke tak pernah sanggup untuk membenci sebuah janin.
“Luke!”
Suara Isa menyentak Luke dari segala spekulasi – spekulasi mengenai Aurora yang sedang dirancangnya di dalam pikirannya
__ADS_1
“Ya?” tanya Luke sambil menatap Isa yang tengah mentapnya dengan sebuah kernyitan di dahinya
“Apa yang terjadi padamu?” tanya Isa sambil menyipitkan matanya.
“Apa?” tanya Luke yang terdengar binggung
“Aku sudah memanggilmu berulang – ulang, tapi kau tidak mendengarkanku”
“Benarkah? Maaf…” ucap Luke sambil mengusap pelan tengkuknya yang tidak gatal
“Apa ada hal lain yang sedang kau pikirkan?” tanya Isa sambil menatap Luke dengan tatapan lekatnya
Luke menegak ludahnya dengan kasar.
Haruskah ia memberitahukan mengenai kehamilan Aurora kepada Isa? Bagaimana reaksi wanita itu saat mendengar hal itu?
“Aku hanya memikirkan pekerjaan…” jawab Luke ragu
“Benarkah?”
“Ya… Pekerjaanku di kantor menumpuk karena aku banyak mengambil cuti beberapa hari belakangan ini”
Isa menganggukkan kepalanya pelan dan menghembuskan nafasnya dengan lega.
“Jika ada sesuatu yang mengganjal hatimu, kau bisa mengatakannya kepadaku. Tak perlu ada rahasia diantara kita. Bukankah kita sepasang suami – isteri?” tanya Isa sambil tersenyum sumringah ke arah Luke.
Ucapan Isa itu dibalas dengan sebuah anggukan dari Luke
Maafkan, aku Isa!
“Ah, iya… Dimana Gareth?” tanya Luke saat mendapati bahwa kursi disamping Isa yang sejak tadi diduduki oleh Margareth kini telah kosong
“Oh… Dia baru saja pergi, pasien wanita yang tadi dibicarakannya telah sadar” ucap Isa sambil tersenyum kecil
Mendengar ucapan Isa, entah kenapa Luke merasa lega.
“Syukurlah…”
“Luke… ayo pulang” ajak Isa sambil mengulurkan tangannya ke depan wajah Luke
Luke tersenyum saat melihat uluran tangan itu. Luke berjanji, sampai kapanpun, Isa adalah tempatnya pulang. Tak akan ada wanita lain yang dapat menggantikan posisi Isa di hidupnya.
“Ayo…”
__ADS_1