
“Issabele Caroline Rose!”
Sebuah suara panggilan dengan nada yang sangat otoriter membuat Isa diam membeku di pintu masuk penthouse milik Luke.
Isa tau. Itu pasti suara Luke!
Sudah lama rasanya Isa tidak pernah melihat sosok otoriter dan dominan di dalam diri Luke.
“Darimana saja kau?” tanya pria itu dengan nada yang mencekam
Saat ini, Isa merasa dirinya benar – benar merinding. Suara Luke yang terdengar mencekam dan lampu remang – remang yang menghiasi ruang tamu penthouse Luke merupakan perpaduan sempurna untuk membuat Isa ketakutan.
“Apakah setelah menghabiskan waktu berjam – jam untuk bermain – main di luar, kau lupa bagaimana caranya berbicara, hah!” ucap pria itu dengan nada dingin sambil berjalan mendekati Isa yang masih diam membeku di tempatnya
Isa menelan ludahnya saat melihat tubuh Luke berjalan ke arahnya.
Saat Luke benar – benar sudah berada di hadapannya, Isa langsung menundukkan kepalanya. Dia terlalu takut.
“Kenapa kau menunduk eumh? Nampaknya, tadi siang kau sudah memperoleh banyak kekuatan untuk pergi dari penthouse ini tanpa sepengatahuanku dan kau juga sudah mulai berani untuk pulang malam – malam begini” ucap Luke sambil mengangkat dagu Isa agar Isa menatap dirinya
Meskipun dagunya telah diangkat, Isa tetap tidak mau melakukan kontak mata dengan Luke. Isa mengahlihkan pandangannya ke arah lain.
“Apakah aku harus menyematkan rantai anjing di lehermu? Agar kau tidak kabur lagi?” tanya Luke sarkas sambil meremas kuat dagu Isa.
Jantung Isa menjadi berdetak tidak beraturan saat mendengar perkataan Luke tadi. Apakah Luke menyamakan dirinya dengan seekor binatang? Seekor anjing?
“Let me go!” ucap Isa dengan nada yang getir saat dia merasa dagunya seperti akan remuk jika Luke tetap melanjutkan aksinya untuk meremas dagunya
Luke tidak mendengarkan ucapan Isa.
Kemarahan sudah menghinggapi dirinya. Bahkan ia tidak tau untuk membedakan apakah hal yang dilakukannya saat ini adalah hal yang benar atau salah. Matanya sudah gelap akan kemurkaan.
Baru saja ia mendapati sebuah masalah dari keluarga Smith gila itu dan kini, ia mendapati masalah baru dari Isa. Oh God! Kenapa wanita harus selalu menyusahkan seperti ini?
“Lukas… You hurt me” ucap Isa sambil meringis dan mulai menangis dalam diam
Melihat air mata yang jatuh dari kedua pelupuk mata hazel milik Isa membuat Luke langsung tersadar. Dengan perasaan terkejut, Luke langsung menarik tangannya.
“Isa… Plese, don’t cry” ucap Luke sambil mencoba untuk menghapus air mata Isa yang sudah membasahi pipinya
__ADS_1
Saat melihat tangan Luke hendak menggapai wajahnya, dengan refleks, Isa langsung menarik tubuhnya ke belakang.
Melihat reaksi takut milik Isa tersebut, Luke langsung menarik tangannya dan mengepalkan tangannya.
“Brengsek!” maki Luke sambil menendang salah satu koleksi vas antik mahalnya yang berada tidak jauh dari tempatnya berada.
Prank!
Kini, vas yang didapat Luke dengan harga US$ 600 ribu atau lebih dari Rp 8,4 miliar itu telah hancur berkeping – keping dan kepingan – kepingan itu menyebar ke sembarang arah.
Nampaknya, Luke tidak peduli dengan fakta bahwa harga vas itu sangat mahal. Luke hanya ingin melampiaskan kemarahannya
“Luke…” panggil Isa lirih saat melihat vas itu sudah hancur berkeping – keping.
Setau Isa, vas itu adalah vas kesukaan Luke. Karena semakin sukanya, Luke bahkan membeli vas tersebut di acara lelang dengan harga penawaran yang tinggi. Memang, vas itu adalah salah satu vas kuno yang langka. Menurut berita yang beredar, vas itu berasal dari China, lebih tepatnya dari Dinasti Qing pada abad ke 18 dan nama vas itu adalah Famile-Rose
Seketika, Luke langsung melemparkan tatapan tajamnya ke arah Isa. Tatapan tajamnya itu mampu membuat Isa diam dan tak berkutik.
“You changed” ucap Isa lirih
Tanpa memperdulikan apa pun, Isa langsung berlari menuju ke kamarnya.
Seakan – akan tersadar, Luke langsung menatap Isa dengan khawatir
“Isa” panggil Luke khawatir sambil mencoba berjalan mendekati Isa
“Menjauhlah! Don’t come near me!” ucap Isa lirih sambil menahan tangisannya. Sekarang, lengkap sudah rasa sakit Isa. Tak hanya hatinya saja yang sakit, tapi kini, fisiknya juga sakit
Tanpa memperdulikan keberadaan Luke, Isa langsung berlari kecil menuju kamarnya sambil menahan rasa sakit yang luar biasa saat telapak kaki kirinya tanpa sengaja menyentuh lantai penthouse Luke yang sangat dingin.
“Isa!” teriak Luke menggelenggar
Tak tinggal diam, Luke juga melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menggapai tubuh Isa. Namun, keberadaan kepingan – kepingan vas yang baru saja dihancurkannya membuat langkah Luke berhenti.
Luke menyesal menghancurkan vas itu. Jika saja dia tidak menghancurkan vas itu, pasti Isa tidak akan terluka dan pasti saat ini ia sudah berhasil membawa Isa ke pelukannya.
Tak habis akal, Luke berjalan dengan berjinjit saat dia melewati kepingan – kepingan vas tersebut. Ia tidak ingin telapak kakinya juga terluka. Jika ia terluka, maka siapa yang akan menjaga Isanya?
Setelah berhasil melewati kepingan kepingan vas keparat itu, Luke langsung mempercepat langkahnya menuju kamar Isa. Dan sesuai dengan dugaannya, Isa sudah menutup pintu kamarnya bahkan sudah mengunci pintu kamarnya dari dalam.
__ADS_1
“Isa… Buka pintunya…” ucap Luke sambil berulang – ulang memutar knop pintu kamar Isa sampai menimbulkan suara yang berisik.
Ck!
Jika tau seperti ini, seharusnya Luke menyediakan kunci cadangan untuk setiap ruangan di penthousenya ini. Sepertinya, Luke harus cepat – cepat memerintah Allexander untuk menempah kunci cadangan dari setiap ruangan di penthousenya ini sebagai bentuk antisipasi jika kejadian seperti ini akan terjadi lagi.
“Isa… Honey… tolong jangan seperti ini” ucap Luke dengan nada yang melemah
Meskipun Isa tidak membuka pintu kamarnya, Luke tetap setia menunggu Isa.
Kini, Luke sudah menghabiskan waktu selama 3 jam untuk menunggu Isa membukakan pintu kamarnya. Dan selama 3 jam pula, Luke tidak henti – hentinya memohon kepada Isa agar Isa mau membukakan pintu kamarnya, selain itu, tangan Luke juga tidak henti – hentinya untuk mengetuk pintu kamar Isa.
“Isa, kutau kau marah kepadaku. Maafkan aku! Aku hanya tersulut emosi. Rasanya, kepalaku hendak pecah tadi” ucap Luke lirih sambil menghentikan aksi mengetuk pintu kamar Isa yang sudah dilakukannya sejak tadi
Mendengar tidak ada sedikitpun sahutan dari Isa, Luke menghela napasnya. Dengan penuh tekanan yang menimpa dirinya, Luke memutuskan untuk duduk tepat di depan pintu kamar Isa. Kepalanya dan punggungnya disandarkannya di depan pintu kamar Isa
Luke merutuki dirinya yang bisa – bisanya kehilangan kontrol emosi dan melampiaskannya kepada Isa yang tidak tau apa – apa. Luke tidak pernah seemosi ini sejak bertahun – tahun lalu, sejak Aurora memutuskan untuk mengaborsi darah daging Aurora sendiri, Luke tidak pernah seemosi ini.
Malam itu, Luke menghabiskan waktunya untuk merenungkan segala kesalahan yang telah diperbuatnya dan menyalahkan dirinya atas kesalahan – kesalahan yang pernah diperbuatnya. Luke menghabiskan malamnya tanpa memejamkan matanya sedikitpun di atas lantai penthousenya yang sangat dingin.
Luke merasa bahwa malam itu adalah malam yang menyiksa dirinya. Dia tidak sadar, bahwa dibalik pintu tempat dia bersandar, masih ada wanita lemah yang lebih merasa tersiksa.
.
.
.
.
.
Hai... Apa kabar semua???
Salam sayang dari author, semoga tetap sehat selalu.
__ADS_1