
Sesampainya di kamar, Isa langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Entah kenapa, Isa merasa punggungnya sangat letih saat ini, mungkin hal itu karena Isa terlalu lama duduk tanpa sandaran.
Isa memukul – mukul kecil punggungnya hingga tulang ekornya yang terasa sangat tegang. Ah, andaikan Luke tadi tidak membuatnya kesal, pasti saat ini Isa sudah meminta Luke untuk memijat punggungnya.
Memikirkan Luke, Isa langsung teringat dengan Aurora. Lebih tepatnya, ia teringat dengan kotak kado dari Aurora yang semalam hampir dibukanya.
Dengan perlahan, Isa bangkit dari posisi rebahannya dan berjalan menuju meja riasnya.
“Eh?”
Isa langsung mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat meja riasnya hanya diisi dengan skin care serta peralatan makeupnya. Kedua netra Isa tak menangkap adanya keberadaan kotak kecil pemberian Aurora
“Sepertinya, semalam aku meletakkannya disini” gumam Isa
Yakin dengan pendiriannya, Isa memutuskan untuk mengobrak – abrik meja itu. Berbagai jenis skin care serta peralatan makeupnya kini sudah tidak tertata rapi lagi seperti sedia kala. Isa yakin, pasti kotak hadiah itu terselip, apalagi jika mengingat bahwa kotak hadiah itu berukuran kecil.
“Tidak mungkin, hilang ‘kan?” tanya Isa pada dirinya sendiri saat dia tidak menemukan kotak kecil itu.
Tak habis akal, kini, Isa menundukkan tubuhnya dan memeriksa bagian kolong meja riasnya. Siapa tau tadi malam ada binatang yang tanpa sengaja menyenggol kotak hadiah itu sehingga kotak hadiah itu terjatuh di bagian kolong meja riasnya. Yah… walaupun Isa tau bahwa hal itu tak mungkin. Tapi, apa salahnya berharap kan?
“Masa hilang, sih?” tanya Isa sambil meraba – raba lantai kolong meja riasnya dengan tangannya
“Isa!”
Duk!
“Aduh!”
Sial!
Karen panggilan tiba – tiba dari Luke, Isa tanpa sengaja mengangkat kepalanya dengan bebas seolah – olah ia tidak menyadari bahwa saat ini kepalanya sedang berada di bawah kolong meja riasnya
“Isa?!?” panggil Luke terkejut saat mendengar ucapan Isa
Saat Isa meninggalkannya tadi dengan perasaan dongkol, disitu Luke merasa bahwa dia memang sudah bersalah kepada Isa. Seharusnya Luke tau, bahwa menggoda ibu hamil bukanlah hal yang baik.
Niat awal Luke kembali ke kamar adalah untuk menemui Isa dan meminta maaf pada Isa, namun niatnya itu diurungkannya saat melihat Isa sedang berada di kolong meja riasnya. Aneh sekali. Apa yang sedang dilakukan istrinya itu?
“Apa kau tidak apa – apa?” tanya Luke khawatir saat melihat Isa kini telah menarik kepalanya dari bawah kolong meja riasnya
Isa menatap Luke dengan tatapan yang berkaca – kaca. Bibir mungil Isa yang telah menjadi bibir favorit Luke itu nampak bergetar.
Sadar akan apa yang terjadi selanjutnya, Luke langsung menarik tubuh Isa ke dalam pelukannya.
“Sssshhh… dimana yang sakit, eumh?” tanya Luke lembut sambil mengusap lembut punggung Isa yang mulai naik – turun akibat isakannya
“Hiks… disini…hiks…” ucap Isa ditengah – tengah tangisnya sambil memegang puncak kepalanya yang terasa berdenyut
Melihat hal itu, Luke langsung mengahlihkan usapannya di punggung Isa menuju ke puncak kepala istrinya itu.
“Cepat sembuh, ya….” Ucap Luke lembut
“Sakit….” Ucap Isa dengan nada manjanya
Jika Luke tidak sadar bahwa saat ini Isa sedang menangis, pasti dia sudah menggoda mati – matian sifat manja nan lucu milik istrinya itu.
Cup.
Luke mengecup lama puncak kepala Isa.
__ADS_1
“Udah dicium… cepat sembuh ya…” ucap Luke lembut sambil mempererat pelukannya pada Isa
“Thank you so much, Luke” ucap Isa
Nampaknya istrinya itu sudah mulai tenang, isakannya mulai tidak terdengar lagi. Namun, istrinya itu masih enggan melepaskan pelukannya dari tubuh Luke.
“Isa?” panggil Luke dengan hati – hati
“Eumh…”
“Lepas pelukannya ya? Kita pindah ke tempat tidur dulu, disini lantainya dingin, nanti kau bisa sakit” ucap Luke hati – hati
“Gak mau!” ucap Isa sambil mempererat pelukannya pada tubuh Luke
Kini, tak hanya kedua tangan Isa saja yang sudah melingkar erat di tubuh Luke. Namun, kedua kaki wanita itu juga sudah melingkar sama eratnya di tubuh Luke.
Luke menghela napasnya dengan kasar. Sepertinya tidak ada pilihan lain lagi.
Dengan posisi Isa yang masih memeluk tubuhnya dengan gaya koala, Luke berdiri dari posisi duduknya dan membawa Isa menuju tempat tidur mereka yang jauh lebih hangat daripada lantai kamarnya itu.
“Jangan lepas, ih…” ucap Isa saat Luke berniat untuk melepaskan tubuh Isa yang memeluk tubuhnya dengan sangat erat, seolah – olah Isa takut Luke akan meninggalkannya
“Eumh…” gumam Luke patuh. Menolak pun tak akan ada gunanya, bukan? Lagipula, jarang – jarang sekali Isa bertindak manja seperti ini.
Saat ini, Luke sedang duduk dan bersandar di kepala tempat tidur mereka dengan Isa yang masih setia memeluk tubunya dengan erat dan menyembunyikan kepalanya di dada bidang pria itu.
Karena merasa bosan dan tak tau hendak melakukan apa, Luke memutuskan untuk menonton salah satu film yang sedang ngetrend saat ini, eumh… apa ya judulnya? Ah, 365 days!
Sebenarnya, Luke tidak berniat untuk menonton film dark romance itu, namun karena rasa bosan menyerangnya, tak ada salahnya bukan jika dia menonton film itu? Meskipun sebenarnya Luke tidak pernah menonton film romance apapun… Jangankan film romance, untuk menonton film action seperti film – film keluaran Marvell, Dc, Luke pun sangat jarang melakukan itu. Sungguh, pekerjaan di kantornya selalu berhasil menyita seluruh waktunya.
Saat film itu dimulai, Luke menikmatinya dengan wajah datarnya. Tak ada yang menarik dari film itu. Kedua matanya terpatri pada film itu, sedangkan kedua tangannya merengkuh tubuh Isa dan mengusap – usap pelan punggung Isa.
Sebuah suara desahan seorang pria membuat Isa mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Luke. Apakah pria itu sedang menonton film biru? Tapi, kalau iya, kenapa wajahnya bisa sedatar itu?
“Luke, kau sedang menonton apa?” tanya Isa
“365 days”
“Blue film, ya?”
“Bukan”
Mendengar hal itu, Isa langsung melepaskan pelukannya dan memutar tubuhnya 180 derajat. Kini, punggungnya telah bersandar di dada bidang suaminya dan tatapannya telah terkunci pada film yang sedang ditonton oleh suaminya itu sedari tadi.
Film itu sedang menampilkan adegan seorang wanita yang sedang melakukan blow job pada seorang pria *na*d yang tengah duduk di hadapannya. Kedua alis Isa langsung tertaut saat melihat ada sosok wanita lain yang tengah berada di atas tempat tidur yang tidak jauh dari pasangan itu, namun, wanita itu nampaknya sedang diborgol.
Errrr…
Apakah itu adegan bdsm? Isa bergidik ngeri. Ia tidak tau kalau Luke akan menyukai hal seperti ini
“Apa kau suka film seperti ini?” tanya Isa tanpa memalingkan pandangannya dari film yang sedang ditontonnya.
Yah, walaupun Isa tidak suka dengan genre film seperti ini, namun Isa tak bisa menolak pesona ketampanan sang pria yang Isa yakini pemeran utama film itu. Pria itu tampan dan memiliki tubuh yang tak kalah atletis dari Luke, ah… sayang sekali jika Isa tidak menikmati pemandangan itu.
“Tidak”
“Jadi, kenapa kau menontonnya?”
“Aku bosan, jadi aku menontonnya. Selain itu, film ini lumayan populer di internet beberapa minggu belakangan ini”
__ADS_1
“Benarkah?”
“Eumh…” gumam Luke sambil mengecup pelan puncak kepala Isa
“Pantas saja sih, populer”
“Karena ada adegan itunya yah?” tebak Luke
“Bukan. Apa kau tidak lihat pemeran utama prianya begitu tampan dan menggoda? Aku yakin setiap wanita yang menonton film ini pasti rela diri mereka diculik asalkan bisa bersamanya” celetuk Isa panjang lebar
“Benarkah? Siapa yang lebih tampan dan menggoda, aku atau dia?” tanya Luke yang mulai merasa berang karena Isa secara terang – terangan memuji pria lain di hadapannya
“Tentu saja dia lah!” ucap Isa lancar
Luke mengeratkan rahangnya.
Sabar… ia tidak boleh marah kepada Isa.
“Apa kau juga mau diculik olehnya?” pancing Luke
“Mau!” jawab Isa semangat tanpa memperdulikan ekspresi Luke.
Cukup sudah!
Clik!
Jari Luke langsung menekan tombol off di ponselnya yang terhubung dengan televisinya itu.
“Lho? Kok mati?” tanya Isa binggung
Raut kecewa tak bisa dihindarkan dari wajah Isa. Baru saja ia menikmati alur cerita film itu, tapi tiba – tiba, layar televisi yang tadinya menampilkan wajah tampan si pria pemeran utama itu kini telah berubah warna menjadi hitam.
“Mungkin mati lampu!” ucap Luke asal sambil membalikan tubuh Isa untuk menghadapnya
“Kok bisa? Bukannya penthouse mu sudah ada generatornya?” tanya Isa binggung
“Generatornya lagi rusak” jawab Luke sambil mengeratkan pelukannya
Bibir Isa langsung cemberut saat mendengar jawaban Luke yang sungguh tak memuaskan itu.
“Tidur!” ucap Luke pendek sambil menepuk – nepuk pelan punggung Isa
“Kok tidur sih?” tanya Isa heran sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap Luke, bukankah tadi pagi pria itu yang telah membangunkannya dari tidur nyenyaknya? Kini, kenapa pria itu menyuruhnya untuk tidur kembali sih.
“Ibu hamil tidak boleh terlalu lelah”
“Tap—
“Tidur, Isa. Tidur”
.
.
.
.
.
__ADS_1
Siap nggak kalian kalau harus pisah dari Luke dan Isa?