Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 54


__ADS_3

Isa memiringkan kepalanya dan mengerjapkan matanya berulang – ulang


“Apakah kau belum mengingatku?” tanya Aurora sambil mengerucutkan bibirnya


“Belum… Maaf…” ucap Isa kikuk


“Ah, tak apa – apa. Kalau begitu, sekarang saja kita berkenalan” ucap Aurora sambil tersenyum manis


Elegan!


Isa tidak pernah menemukan wanita seelegan Aurora. Pasti, kekasihnya sangat beruntung.


“Perkenalkan, namaku Issabele Caroline Rose. Kau bisa memanggiku Isa” ucap Isa ramah sambil menyodorkan tangannya untuk dijabat


Dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya, Aurora membalas jabatan tangan Isa tersebut


“Perkenalkan, namaku adalah Aurora S---


“Issabele Caroline Rose!!!”


Belum sempat Aurora memperkenalkan dirinya, sebuah suara cempreng nan menggelegar mengintrupsi percakapan Aurora dan Isa


Isa yang sangat mengenal suara itu lantas terkejut dan tanpa sengaja menarik tangannya yang sedang digenggam oleh Aurora.


“Ah…” ucap Aurora lirih saat tangan Isa sudah tidak berada di genggamannya lagi. Sungguh, dia merasa kecewa.


“Debbie!” panggil Isa terkejut saat ia melihat Debbie tengah berjalan ke arahnya dengan langkah tergesa – gesa


Pletak!


Debbie menyentil dahi Isa dengan kukunya yang lentik


“Astaga!” ucap Isa yang diakhiri dengan sebuah ringisan


“Dasar karyawan nakal! Kenapa kau tidak pernah kembali datang ke kantor, hah? Tidak tau kah kau kalau desainer – desainer junior itu selalu membuatku terkena serangan jantung mendadak saat melihat hasil karya mereka!” omel Debbie sambil berkacak pinggang


“Sorry” ucap Isa dengan nada yang terdengar seperti mencicit


“Aku kira kau ada masalah pribadi yang sangat penting sekali, sehingga kau mengajukan cuti libur yang sangat panjang. Ternyata, kau malah sedang asyik – asyik ke pesta, makan dan bertemu orang baru. Apakah kau ingin mendepakku dari posisi sahabatmu, hah?” omel Debbie tanpa henti sambil menatap sinis ke arah Aurora secara terang – terangan


Aurora hanya tersenyum kecil saat mendapatkan tatapan sinis itu. Itu bukan kali pertamanya, ia mendapatkan sebuah tatapan sinis.


“Debbie, jangan berbicara seperti itu” sentak Isa sambil melayangkan tatapan tidak sukanya kepada Debbie


Debbie hanya mendengus dan memutar bola matanya dengan jengah


“Debbie…” panggil Isa dengan nada yang lembut


Debbie menatap Isa dengan tatapan datarnya, kemudian ia menghela napasnya. Tanpa diduga – duga, Debbie menarik Isa kedalam pelukannya


“Isa… aku sangat merindukanmu. Kukira kau akan kembali ke Roma.”


“Kau tau, aku tidak akan kembali lagi ke Roma” ucap Isa sambil terkekeh dan menepuk – nepuk pundak sahabatnya itu


Setelah dirasa cukup, Debbie menarik dirinya dari pelukannya.


“Kenapa selama ini kau tidak memberikan kabar kepadaku?” tanya Debbie penasaran


“Itu… Sebenarnya aku ingin mengabarimu, tapi…”

__ADS_1


Isa sengaja menggantungkan kalimatnya


“Ekhem” sebuah deheman kecil dari Aurora membuat Isa tersadar akan keberadaan Aurora


“Astaga, maaf sudah mengabaikanmu” ucap Isa yang merasa bersalah


Ucapan Isa hanya ditanggapi dengan sebuah anggukan samar dan senyuman oleh Aurora. Melihat hal itu, Debbie mendengus kesal.


“Oh iya, kalian pasti belum saling mengenal kan? Aku akan mengenalkan kalian” ucap Isa sambil tersenyum bahagia


“Ter---


“Nope, tidak perlu” tolak Debbie mentah – mentah


“Debbie…” ucap Isa yang kesal dengan perkataan Debbie


Sebenarnya, Isa sudah sering melihat sikap Debbie yang seperti ini, sulit bergaul dengan wanita yang baru saja dikenalnya. Namun, Isa tidak melihat bahwa Debbie akan bertindak seacuh ini.


“Ah, tidak apa – apa, Isa. Mungkin… lain kali, kami bisa saling berkenalan” ucap Aurora sambil tersenyum manis


Melihat senyuman manis Aurora, rasa bersalah Isa mulai menguap


“Maaf, Debbie memang seperti itu”


“Untuk apa kau meminta maaf?!?” ucap Debbie dengan kesal sambil memutar bola matanya dengan jengah untuk yang kesekian kalinya


Isa membalas perkataan Debbie tersebut degan menghadiahi Debbie sebuah sikutan di perut ratanya


“Sepertinya… aku akan menyapa tamu yang lainnya. Mohon kalian nikmati pesta ini” ucap Aurora yang seakan – akan tersadar bahwa keberadaannya tidak disukai oleh Debbie.


“Ah, baiklah” ucap Isa sambil tersenyum kikuk


Debbie menatap kepergian Aurora dengan tatapan jengahnya.


“Debbie, kenapa kau bertindak seperti itu?” tanya Isa


“Apa aku tidak boleh bertindak seperti itu?” tanya Debbie balik


“Setidaknya, kau tidak perlu seketus itu. Apa kau tidak lihat kalau dia merasa tidak nyaman? Padahal, kelihatannya, dia adalah wanita yang asyik” ucap Isa yang diakhiri dengan sebuah helaan napas kecewa


Debbie menatap sahabatnya itu dengan tatapan terkejutnya


“What the heck? Kenapa kau bisa menyimpulkan kalau dia adalah wanita yang asyik? Apakah kalian pernah bertemu sebelumnya?” tanya Debbie yang tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Isa


“Eumh… dia berkata kalau kami pernah bertemu sebelumnya, namun aku tidak terlalu mengingatnya dengan jelas”


“Jauhi wanita itu!” ucap Debbie tiba – tiba yang membuat Isa berhasil terperangah


“Jauhi? Kenapa?” tanya Isa binggung


“Apa kau tidak bisa melihatnya dengan mata kepalamu sendiri? Wanita itu terlihat memiliki 1001 rencana mematikan di dalam otaknya, namun dia bisa menyembunyikan rencana itu dengan baik. Sekarang, kau bisa menebak kan, tipe manusia seperti apa dia!” ucap Debbie


Isa hanya tersenyum kecil dan menggeleng – gelengkan kepalanya dengan pelan


“Debbie, kita tidak boleh menilai orang hanya dengan sekali pandang saja. Kau tidak boleh seegois itu untuk menilai seseorang” ucap Isa


“Isa! Percayalah kepadaku, aku sudah sering melihat tipe tipe manusia seperti wanita itu. Pokoknya, kau tidak boleh dekat dengannya, apalagi berteman dengannya”


“Apa kau takut posisimu sebagai sahabatku akan dilengserkan olehnya?” canda Isa

__ADS_1


Mendengar candaan Isa yang tidak ada mengandung unsur humor, Debbie hanya bisa menyipitkan kedua matanya dengan tajam


“Aku tidak sedang bercanda, Isa. Aku sedang memberikanmu sebuah nasihat, agar kau tidak menyesal di kemudian hari”


“Baiklah, baiklah… Aku akan menjaga jarak darinya” tandas Isa sambil tersenyum kecil


“Benarkah?”


“Iya”


“Syukurlah! Aku tidak ingin kau terluka karena wanita itu. Namanya boleh saja Aurora, tapi aku yakin jika perilakunya tidak mencerminkan namanya tersebut” ejek Debbie sambil menatap Aurora dari kejauhan


“Sudahlah… untuk apa kita membahas dirinya”


“Ah, benar juga. By the way, kau kemari dengan siapa?” tanya Debbie


“Aku dengan Luke”


“Luke? Jangan bilang jika Luke itu adalah Lukas Averanno Seranno?” tanya Debbie sambil memberikan tatapan horornya kepada Isa


“Bagaimana jika itu memang dia?” tanya Isa sambil tertawa kecil


“Oh my goodness! Isa, you are crazy!!! Sepertinya, baru kemarin kau menangis dan mendatangi rumahku karena Luke telah mengambil mahkotamu, namun sekarang… Oh my god! Jangan katakan kalau selama ini kau tinggal berdua bersama Luke?” tanya Debbie menggebu – gebu sambil memegang lembut kedua lengan Isa


Isa hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


Melihat reaksi Isa, Debbie sudah dapat menyimpulkan jawabannya.


“Oh my goodness!!! Oh my!!! Aku tidak menyangka kalian akan seserius ini dan seliar ini” ucap Debbie terkejut


Isa hanya meringis kecil


“Oh my goodness!! I still can’t believe it!”


“Aku juga tidak mempercayainya, tapi… ini semua nyata” ucap Isa sambil tersenyum lebar


“Aku turut senang! Akhirnya kau bisa melupakan si Sean Fu**ing Gardner itu” ucap Debbie sambil tersenyum lebar


“Pasti rasanya sangat menyenangkan bisa serumah dengan pebisnis tampan nan kaya seperti Luke” lanjut Debbie menggebu – gebu


Isa hanya tersenyum menanggapi ucapan Debbie.


“Kalau kau, kau dengan siapa disini?” tanya Isa penasaran


Mendengar pertanyaan Isa, senyum yang tadi menghiasi wajah Debbie langsung tergantikan dengan raut wajah kesal.


“Aku kemari dengan seseorang yang 5 menit lalu baru kuketahui kalau dia sudah bertunangan dengan orang lain” ucap Debbie yang diakhiri dengan sebuah dengusan kesal


“Eh?”


.


.


.


.


.

__ADS_1


Siapa disini yang rindu sama Debbie???


__ADS_2