Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 18


__ADS_3

HOT NEWS THIS DAY


Seorang pebisnis muda sekaligus pemilik bank terbesar di Paris, Lukas Averanno Seranno, terlihat menghabiskan malam bersama di sebuah hotel kelas atas dengan seorang super model yang tengah naik daun, Chienna Lyod. Mereka juga diketahui berciuman mesra di restaurant di hotel tersebut.


Debbie mengusap – ngusap matanya untuk memastikan berita sampah apa yang baru saja dibacanya. Bahkan karena sangking tidak percayanya Debbie dengan apa yang baru saja dibacanya, Debbie mencari sumber berita lain mengenai berita yang baru saja dibacanya itu. Namun, hasilnya tetap sama.


Dengan tergesa – gesa, Debbie bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangannya. Kini, Debbie ingin menemui Isa dan menanyakkan kebenaran mengenai berita yang baru saja dibacanya.


Kenapa harus Isa?


Karena Isa adalah kekasih Luke, pasti Isa dapat mengkonfirmasi berita yang sangat menyakitkan mata Debbie itu secara langsung kepada Debbie.


“Issabele Caroline Rose!!!” panggil Debbie heboh sesaat dia sudah memasuki ruangan Isa.


“Gosh…” ucap Isa pelan saat tangannya terkena tumpahan kopi panas yang berada di genggamannya. Suara cempreng Debbie memang terbukti dapat memengaruhi gaya gravitasi di lingkungan sekitarnya.


“Isa! Katakan padaku yang sejujurnya! Honestly!!!” sentak Debbie sambil menatap Isa dengan lamat – lamat. Isa yang tidak mengerti arah pembicaraan Debbie, hanya bisa mengerutkan dahinya.


Untuk meminimalisir terjadinya kejadian yang sama, Isa langsung meletakkan gelas kopinya ke mejanya dan menjauhkannya dari berkas – berkas penting yang sedang berserakan di atas meja Isa.


“Apa kau benar – benar tidak tau atau kau sedang berpura – pura tidak tau?” tanya Debbie sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Isa. Isa yang mendapat perlakuan seperti itu langsung menarik mundur kursinya agar tercipta jarak di antara kedua wajah mereka.


“What do you mean?” tanya Isa dengan rasa penasaran yang tinggi.


“This!!!” ucap Debbie lantang sambil menunjukkan berita Luke dan Chienna yang terpampang di layar ponsel Debbie.


Isa menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa apa yang sedang dilihatnya saat ini benar – benar nyata. Dengan gerakan pelan, Isa mengambil ponsel itu dari genggaman Debbie. Isa ingin memastikan bahwa orang yang sedang berciuman di gambar berita itu bukanlah Luke.


Dengan jantung yang berdegub dua kali lebih cepat dari biasanya, Isa membuka gambar itu dan memperbesar wajah pria yang sedang memeluk intim wanita di dekepannya, dimana bibir mereka saling bertautan.


Saat sudah memperbesar wajah pria itu, ingin rasanya Isa menangis.  Pria itu benar – benar Luke!


“Aku tidak tau apa – apa soal ini” ucap Isa dengan suaranya yang pelan sambil menyodorkan kembali ponsel Debbie kepada Debbie.


“Why? Seharusnya kau tau mengenai hal ini! Kau dan Luke adalah sepasang kekasih! Seharusnya kalian memiliki keterbukaan terhadap satu dengan yang lain!”


“Siapa yang mengatakan bahwa kami adalah sepasang kekasih?” tanya Isa dengan bibirnya yang sudah mulai bergetar.


Melihat Isa yang sepertinya akan menangis, membuat Debbie memilih untuk menutup mulutnya. Debbie tidak ingin, kata – kata yang akan diucapkannya dapat berakibat fatal untuk kondisi mental Isa.


“Kami bukanlah sepasang kekasih. Kami hanya memiliki hubungan yang sulit dijelaskan”  ucap Isa dengan kepalanya yang sudah menunduk.


“Isa… maaf jika aku membuatmu merasa sedih” ucap Debbie iba sambil mendekat ke arah Isa dan mengelus lembut kedua pundak Isa.


“Seharusnya, aku tidak perlu memberitahukan berita sampah ini kepadamu. Jika aku tidak memberitahukannya, mungkin saat ini kau tidak menangis”


“Meskipun kau tidak memberitahukannya… cepat atau lambat aku akan tau mengenai hal ini” ucap Isa sesenggukan


“Memang… semua pria di dunia ini sama. Mereka hanya tau bagaimana menghancurkan hati seorang wanita. Mereka selalu menganggap wanita sebagai boneka mainan yang bisa mereka campakkan di saat mereka sudah bosan” ucap Isa sambil menghapus jejak – jejak air matanya yang tersisa di pipinya.


“Lebih baik, kau pulang saja ke rumahmu. Kau butuh istirahat setelah menghadapi semua ini” ucap Debbie sambil merapikan anak – anak rambut Isa yang menutupi wajah Isa.


“Terimakasih, Debbie” ucap Isa dengan tulus


Setelah Debbie memberikan kesempatan kepada Isa untuk pulang ke rumah, Isa tidak menyia – nyiakan waktu itu. Dengan langkah pasti, Isa memutuskan untuk pergi ke tempat dimana dia bisa menyalurkan segala masalah yang dihadapinya saat ini, tempat favorit Isa, Sungai Seine.


Sungai Seine adalah sungai yang membelah kota Paris menjadi dua bagian yang dalam bahasa Prancis disebut dengan istilah la rive droite ("tepi kanan") dan la rive gauche ("tepi kiri"). Yang dimaksud dengan tepi kanan adalah Paris Utara dan tepi kiri adalah Paris Selatan. Menurut tingkat ekonominya, masyarakat yang tinggal di Paris Utara lebih makmur daripada Paris Selatan.


Sungai Seine menjadi salah satu tempat favorit Isa, karena dengan berada di sungai ini, Isa dapat merasakan ketenangan dari sebuah kehidupan. Suara semilir angin dan suara ombak yang memecah tembok jembatan sungai Seine merupakan sebuah alunan indah bak lagu aransemen karya maestro ternama yang mampu membuat siapapun merasa beban mereka hilang, walaupun hanya sesaat.


Biasanya, saat Isa sudah sampai di kawasan sungai Seine, Isa akan menuliskan segala keluh kesahnya pada sebuah kertas. Kemudian Isa akan menggulung kertas tersebut dan mencelupkannya ke air sungai Seine. Setelah Isa merasakan kertasnya sudah lembek, Isa akan mengangkat kertas itu dan meremasnya dengan kuat. Setelah kertas itu berubah menjadi bubur kertas, Isa akan membuang bubur kertas itu ke dalam keranjang sampah.


Memang, hal yang dilakukan oleh Isa itu buang – buang waktu. Namun, Isa sangat menyukai aktivitas itu saat dia mengunjungi sungai Seine.


“Isa??? Apa yang kau lakukan disini?”


Sebuah suara dan tepukan di bahu Isa membuat rasa keterkejutan dalam diri Isa muncul. Kertas yang baru saja ingin diakatnya ke permukaan, kini sudah terlepas dari tangannya dan melebur dengan air di sungai Seine.


Dengan rasa emosi yang memuncak, Isa langsung membalikkan badannya. Isa berniat untuk memaki dan memberikan sumpah serapahnya keapda orang yang sudah merusak ketenangannya.


“Kau!!!” ucap Isa setengah berteriak sambil menatap kesal ke arah pria yang sedang berada di hadapannya.


“Untuk apa kau kesini, hah?!! Kenapa kau selalu mengikutiku!!!” ucap Isa marah kepada Sean sambil memukul kuat dada Sean.


“Eh? Siapa yang mengikutimu? Aku juga tidak berniat untuk mengikutimu” ucap Sean dengan nada sombongnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

__ADS_1


“Kalau bukan untuk mengikutiku, lalu apa lagi yang mau kau lakukan disini!!!” ucap Isa geram sambil menatap Sean yang kini sedang berjalan mendahului Isa.


“Apa hakmu untuk mengetahui alasanku pergi ke sini?” tanya Sean dengan tajam tanpa menatap Isa.


Perkataan tajam Sean itu membuat Isa langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Kenapa pria selalu memiliki emosi yang labil dan tidak pernah tertebak?


“Jadi… kau memiliki masalah, ya? Oleh karena itu, kau mendatangi tempat ini”


“Jangan sok tau! Rasa keingintauan yang berlebihan akan membuatmu jatuh ke jurang yang dalam!” ucap Isa kesal sambil melipat kedua tangannya.


“Aku anggap jawabanmu itu adalah ya. Biar kutebak, pasti kau sudah membaca berita pagi ini kan?” tanya Sean sambil memalingkan wajahnya untuk menatap Isa.


Isa menghembuskan napasnya dengan pelan. Apakah wajahnya memancarkan aura kesedihan, sehingga Sean dapat memberi tebakan yang benar tentang masalah Isa?


“Sudahlah, lebih baik kau melupakan semua masalamu itu. Everything gonna be okay” ucap Sean sambil menyelipkan anak rambut Isa yang berantakan akibat hembusan angin.


“Kalau melupakan masalah semudah itu, mungkin kita tidak akan seperti ini” ucap Isa sambil menahan tangan Sean yang berniat mengelus puncak rambut Isa.


Lagi, Sean kembali menangkap raut wajah kesedihan di wajah Isa dan Sean sangat membenci raut wajah itu.


“Apakah kau ingin merasakan surga dunia?” tanya Sean dengan matanya yang berbinar


“Aku tidak tertarik untuk minum minuman alcohol” tolak Isa tanpa pikir panjang.


Mendengar jawaban spontan Isa, Sean tak sanggup menahan kekehannya.


“Siapa yang ingin mengajakmu minum minuman alcohol di siang hari yang sangat sejuk ini?”


“Bukannya kau…?”


“Maksudku bukan itu. Kau sudah salah pengertian” ucap Sean sambil tersenyum.


“Lalu, apa?” tanya Isa penasaran.


Dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya, Sean berjalan menuju ke belakang Isa.


“Sekarang, tutup matamu” perintah Sean dengan suaranya yang pelan.


Tanpa memberikan perlawanan, Isa menuruti perkataan Sean.


Dengan perlahan, Isa merentangkan tangannya. Saat Isa merentangkan tangannya, dia dapat merasakan dirinya seperti sedang terbang kea wan – awan. Isa merasakan bahwa beban yang berada di pundaknya sudah hilang seketika.


Isa tersenyum kecil.


“Apa kau belajar ini dari film titanic?” tanya Isa sambil tersenyum masih dengan kondisi kedua matanya yang tertutup rapat


“Tentu saja tidak! Perlu kau tau, sebenarnya aku lah orang dibalik pose romantis Rose dan Jack di atas kapal titanic. Aku lah yang sudah menyarankan pose itu, sehingga adegan itu terlihat lebih mengena di hati para penoton”


“Benarkah? Apa aku harus mempercayaimu?”


“Kau tidak perlu mempercayaiku. Aku cukup sadar diri atas hal itu”


Ucapan Sean membuat diri Isa merasa sedih. Andaikan si Adela Slosar itu tidak pernah hadir dalam hubungan mereka, mungkin sekarang keadaan mereka akan berbeda. Mungkin, Isa tidak akan pernah mengenal Luke, orang yang sudah memperkenalkan kenikmatan dunia kepadanya.


“Issabele, aku punya satu permintaan. Apakah kau mau mengabulkannya?”


Deg.


Dalam seketika, kenangan manis Sean dan Isa di masa lalu kembali terputar secara otomatis di otak Isa. Issabele. Sean sangat menyukai nama itu. Meskipun seluruh orang di sekitar Isa memanggil Isa dengan nama panggilannya, maka mereka berbeda dengan Sean. Sean sangat suka memanggil Isa dengan nama Issabele, nama lengkap pertama Isa, saat mereka sedang berdua.


“Kalau kau meminta permintaan yang aneh – aneh, tentu saja aku tidak akan mengabulkannya” ucap Isa dengan nada bicara yang terkesan jutek.


“Mana mungkin aku meminta permintaan yang aneh – aneh! Hubungan kita baru saja membaik, aku tidak ingin hubungan kita renggang lagi” ucap Sean sambil tersenyum.


Sean, kenapa kau bertingkah seperti ini? Dulu, kau mencampakkanku dengan sesuka hatimu dan kini, kau mengejarku dengan sesuka hatimu.


Sean, kenapa kau membuat hatiku menjadi terasa berat?


“Eumh… baiklah – baiklah! Apa permintaanmu?” tanya Isa dengan raut wajah galaknya.


“Bisakah kau memberikanku sebuah pelukan?” tanya Sean dengan nada yang ringan smabil tersenyum sangat manis, bahkan… kedua matanya yang bulat pun ikut menyipit akibat gerakan pipinya itu.


Isa mengedipkan matanya berulang – ulang untuk beberapa saat. Apakah orang yang berada di depannya ini memang benar – benar adalah Sean Gardner? Apakah Sean memiliki kepribadian ganda? Astaga! Semua spekulasi – spekulasi kurang masuk akal itu membuat Isa merasa binggung.


Isa menatap kedua tangan Sean yang sudah direntangkan oleh Sean selebar mungkin, pose Sean tersebut member persepsi, bahwa Sean sangat menginginkan sebuah pelukan dari Isa.

__ADS_1


Sebenarnya, Isa tidak masalah memberikan sebuah pelukan ringan kepada seorang pria. Namun, kini mereka sedang berada di tempat umum, mereka diperhatikan oleh banyak orang. Sangat tidak pantas rasanya bagi Isa untuk melakukan hal seperti itu di depan umum. Selain itu, perlu kalian garis bawahi, bahwa Sean adalah mantan kekasih Isa. Tentu saja ada sesuatu yang mengganjal di perasaaan Isa saat melihat tingkah Sean itu.


Isa mengedarkan pandangannya untuk melihat seluruh masyarakat yang sedang mengunjungi tempat itu.


Deg!


Pandangan Isa terpatri pada seorang pria berbalut jas dan celana berwarna senada, hitam, yang sedang menyandarkan punggung kokohnya di pinggiran mobilnya. Pria itu, Luke, memerhatikan Isa dengan tajam.


Tatapan yang tajam, wajah yang angkuh dan posisi tangan yang menyilang di dadanya, membuat Isa yakin bahwa saat ini, Luke berada di ambang emosinya.


Apa Luke cemburu?


Ingin rasanya Isa melompat – lompat kegirangan saat mengetahui bahwa Luke mencemburui Isa. Namun, Isa tidak ingin terlalu cepat merayakan euforianya itu. Isa cukup sadar diri, bahwa kini Luke sudah memiliki pacarnya yang sah.


“Baiklah” jawab Isa pelan sambil memajukan badannya untuk membalas pelukan Sean.


Glup!


Kini, Isa sudah berada di dalam pelukan Sean. Tentu saja, Sean merasa sangat senang. Sean merasakan bahwa kini dirinya sudah memenangkan sebuah lotre bernilai 1 juta dollar. Sungguh keajaiban!


Isa tidak membalas pelukan Sean.


Jika dulu, pelukan Sean selalu memberikan kenyamanan kepadanya, kini… entah kenapa Isa tidak dapat menemukan kembali kenyamanan itu.


“You dick!”


Bugh!


Dalam seketika, tubuh Sean terlepas dari tubuh Isa. Kini, tubuh Sean sudah terjatuh ke atas tanah akibat sebuah pukulan.


“Sean!!!” teriak Isa dengan panic


“What the hell, you’re doing!” maki Isa sambil memukul kuat dada Luke.


“Ayo pulang bersamaku!” titah Luke sambil menahan tangan Isa yang memukul dadanya.


“Pulang bersamamu?!? You’re insane!” ucap Isa sambil mencoba melepaskan tangannya yang dipegang erat oleh Luke.


“Let me go” ucap Isa setengah meringis karena tangannya yang terasa sakit. Isa yakin bahwa sebentar lagi, aka nada jejak – jejak biru di tangannya.


Bugh!


Kini, Sean melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah Luke dan berhasil membuat ujung bibir Luke mengeluarkan darah.


“Sean!!! Apa yang kau lakukan!!!”


“Kau bertanya apa yang ku lakukan? Tentu saja aku ingin melepaskanmu dari pria hypersex ini!!!” ucap Sean sambil membuang air ludahnya tepat di depan sepatu Luke.


“Sebelum kau menjudge orang lain, harap judge dirimu! Dasar pria sampah!” maki Luke


Tanpa menghiraukan keberadaan Sean, Luke langsung menggendong Isa di pundaknya, seperti saat sedang menggendong beras.


“Lukeee!!!” teriak Isa saat tubuhnya sudah berada di gendongan Luke


“Luke! Lepaskan aku! You such a bastard!” maki Isa sambil memukul – mukul punggung Luke dengan kuat


“Yes, I’m a bastard! Bastard adalah nama tengahku!” ucap Luke sambil mengambil langkah – langkah lebar menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini.


Sean yang melihat semua itu dari kejauhan, memilih untuk tidak melakukan apa. Sebuah senyum sinis timbul di wajahnya saat melihat pasangan itu.


“Pleasant spectacle. Pantas saja kau sangat ingin ke Paris”


.


.


.


Holaaa... I'm back dengan kisah cinta Luke, Isa dan Sean yang bikin kalian semua bosan :-D... Maafkan aku yang beberapa hari ini nggak ada update cerita ini... Kalau kalian sudah follow akun ig aku, @bulanyasinta95, kalian pasti tau apa alasan aku nggak ngeup cerita ini dalam beberapa hari ini... Untuk kedepannya, sekedar pemberitahuan... cerita ini bakal di update 1 x seminggu. 


Kenapa 1 x seminggu? Karena cerita ini maksa aku untuk ngeluarkan imajinasi - imajinasi liar ku yang sudah lama aku pendam. Semoga kalian dapat memakluminya ya... >_<


**Like dan komen adalah vitamin cerita ini**


 

__ADS_1


 


__ADS_2